9.9 Pengantar tentang Mazhab Imam Zayd dan Imam Ja'far
9.9 Introduction to Madhab of Imam Zayd and Imam Jafar
Rasulullah ﷺ wafat tanpa menunjuk secara khusus seseorang untuk menggantikan beliau ﷺ sebagai Khalifah. Setelah para Sahabat (ra) bertemu dan bermusyawarah, mereka memutuskan untuk memilih Abu Bakar (ra) sebagai Khalifah. Seluruh Sahabat (ra), termasuk Ali (ra), memberikan Bai'ah kepada Abu Bakar (ra). Sebelum wafat, Abu Bakar (ra) menunjuk Umar bin Al-Khattab (ra) sebagai penggantinya, setelah berkonsultasi dengan penduduk Madinah. Umar (ra) menjadi Khalifah; namun, hanya setelah diberikan Bai'ah. Di ranjang kematiannya, Umar (ra) menunjuk 6 orang dan menyarankan agar Khalifah dipilih dari antara mereka.
The Messenger of Allah (saw) died without appointing a specific person to succeed him (saw) as a Khaleefah. After the Sahabah (ra) met and deliberated, they decided to select Abu Bakr (ra) as the Khaleefah. All the Sahabah (ra), including Ali (ra), gave the Bay‟ah to Abu Bakr (ra). Before he died, Abu Bakr (ra) nominated Umar bin Al-Khattab (ra) to be his successor, after consulting with the people of Madinah. Umar (ra) became the Khaleefah; however, only after being given the Bay‟ah. On his deathbed, Umar (ra) nominated 6 people and suggested that the Khaleefah be chosen from among them.
Di antara daftar calon ini termasuk Ali bin Abi Thalib (ra) dan Utsman bin Affan (ra). Setelah wafat dan dimakamkannya Umar, kelompok yang telah ditunjuk oleh Umar berkumpul, kecuali Thalhah yang sedang bepergian. Diriwayatkan bahwa pertemuan mereka berlangsung di rumah Aisyah (ra), dan Abdullah bin Umar bersama mereka. Mereka meminta Abu Thalhah Al-Anshari untuk menjaga mereka. Setelah mereka duduk, Abdurrahman bin Auf berkata: "Siapakah yang mau mengundurkan diri dari urusan ini (khilafah) dan memimpin pertemuan dengan syarat ia menyerahkannya kepada yang terbaik di antara kalian?" Maksudnya, siapa yang mau melepaskan haknya atas khilafah, dengan syarat semua orang menjadikannya hakim (penengah), untuk memilih sendiri seorang khalifah dari antara mereka sebagaimana yang ia anggap pantas. Setelah mengatakan hal ini, Abdurrahman bin Auf menunggu jawaban, tetapi tidak ada seorang pun yang menjawabnya, lalu ia melanjutkan: "Aku sendiri melepaskan hakku atas khilafah." Mendengar itu, Utsman berkata: "Aku yang pertama menerimanya, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:"
Included in this list of nominees were Ali bin Abi Talib (ra) and Uthman bin al-Affan (ra). After Umar's death and his burial, the group which Umar had nominated gathered except for Talha who was in travel. It is reported that their meeting took place in Aisha‟s (ra) house, and Abdullah b. Umar was with them. They asked Abu Talha Al Ansari to shield them. Once they settled, Abdul-Rahman b. Awf said: "Who would take himself out of it (the Khilafah) and preside over the meeting on condition that he gives it to the best among you?" That is, who would renounce his right to the Khilafah, on condition that everyone makes him judge (arbitrator), to choose by himself a Khaleefah from amongst them as he deemed fit." Having said this, Abdul-Rahman b. Awf waited for an answer but no one answered him, so he went on saying: I myself renounce my right to the Khilafah. Upon this Uthman said: "I am the first to accept, for I heard the Messenger of Allah (saw) say:
"Seorang amanah di bumi adalah amanah di langit," Az-Zubair dan Sa'ad juga berkata: "Kami setuju." Ali diam; maka Abdurrahman bertanya kepadanya: "Apa pendapatmu, wahai Abul Hasan?" Ali menjawab: "Berikan kepadaku sumpah bahwa engkau akan memilih kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu, tidak memihak kepada salah seorang dari keluargamu, dan tidak mengabaikan kepentingan umat." Abdurrahman menjawab: "Berikan kepadaku (kalian semua) sumpah bahwa kalian akan berdiri bersamaku melawan siapa pun yang mengubah keputusan, dan bahwa kalian akan menerima siapa pun yang kupilih untuk kalian (atas nama kalian). Dan aku memberikan sumpahku kepada kalian bahwa demi Allah, aku tidak akan memihak kepada kerabat dan tidak akan mengabaikan kepentingan umat." Ia mengambil sumpah dari mereka dan memberikan sumpah kepada mereka. Kemudian ia mulai bermusyawarah dengan masing-masing dari mereka secara pribadi seraya berkata: "Selain dirimu sendiri, siapa menurutmu yang layak memegang kekuasaan ini dari kelompok ini?" atau kata-kata yang semakna. Ali berkata: "Utsman." Utsman berkata: "Ali." Sa'ad berkata: "Utsman," begitu pula Az-Zubair. Kemudian Abdurrahman meminta pendapat para tokoh terkemuka di Madinah, dan menanyai seluruh kaum Muslimin di Madinah satu per satu, laki-laki dan perempuan. Ia tidak meninggalkan seorang pun tanpa menanyainya tentang siapa, di antara kelompok itu, yang ingin ia jadikan Khalifah. Sekelompok dari mereka memilih Utsman dan kelompok lain memilih Ali.
“A trustee on earth is a trustee in the heveans,” Al-Zubayr and Sa‟ad also said: "We agree". Ali kept silent; so Abdul-Rahman asked him: "What do you say O Abul Hassan!" Ali replied: "Give me an Oath that you would prefer the truth and not to follow the whims and not to favour any member of your family and not neglect the interest of the Ummah". Abdul-Rahman replied: "Give me (all of you) your Oaths that you would stand with me against whoever changes, and that you would accept whoever I choose for you (on your behalf) and I give you my Oath that By Allah, I shall not favour a relative nor shall I neglect the interest of the Ummah." He took an Oath from them and gave them an Oath himself. Then he started to consult each one of them individually saying: "Apart from yourself, who do you think is worthy of this authority from among this group?" or words to that effect. Ali said: "Uthman." Uthman said: "Ali." Sa‟ad said: "Uthman," so did Al-Zubayr. Then Abdul-Rahman sought the opinion of the prominent figures in Madina, and asked all the Muslims in Madina one by one, men and women. He left no one without asking him about whom, he or she, would like to be the Khaleefah from amongst that group. A group of them chose Uthman and another group chose Ali.
Setelah Abdul-Rahman menyelesaikan misi pencarian faktanya dan berkonsultasi dengan semua orang, laki-laki maupun perempuan, ia mengumpulkan kaum Muslimin di masjid dan naik ke mimbar dengan pedang tergantung di badannya serta serban (penutup kepala) yang diberikan Rasulullah ﷺ kepadanya. Ia berdiri cukup lama, lalu berbicara:
Once Abdul-Rahman completed his fact finding mission and consulted all the people, men and women, he summoned the Muslims to the mosque and went up the Minbar (podium) with his sword on and his "Amama" (head-dress) which the Messenger of Allah (saw) gave him: He stood for a long while then spoke:
"Wahai manusia! Aku telah bertanya kepada kalian secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi tentang imam kalian, dan aku mendapati bahwa kalian tidak dapat menempatkan seorang pun setara dengan dua orang ini: Ali dan Utsman". Kemudian ia menoleh kepada Ali dan berkata kepadanya: "Kemarilah kepadaku wahai Ali!" Ali berdiri dan berjalan menuju mimbar hingga ia berada di bawahnya. Abdurrahman memegang tangannya dan berkata: "Maukah engkau memberikan bai'atmu kepadaku sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ serta (tindakan) Abu Bakar dan Umar?" Ali menjawab: "Demi Allah tidak, tetapi berdasarkan ijtihadku sendiri dalam hal itu dan pengetahuanku" — yakni, aku akan memberikan bai'atku kepadamu sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ menurut ijtihadku sendiri dan pengetahuanku tentangnya. Adapun tindakan Abu Bakar dan Umar, aku tidak mengikatkan diri padanya, melainkan berijtihad dengan pendapatku sendiri." Abdurrahman kemudian melepaskan tangannya dan memanggil: "Kemarilah kepadaku wahai Utsman!" Ia memegang tangannya ketika Utsman berdiri di tempat yang tadi ditempati Ali, lalu berkata kepadanya: "Maukah engkau memberikan bai'atmu kepadaku sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ serta tindakan Abu Bakar dan Umar?" Utsman menjawab: "Demi Allah, ya." Atas hal itu, Abdurrahman menengadah ke atap masjid dengan tangannya masih menggenggam tangan Utsman dan berkata: "Ya Allah, dengarkanlah dan saksikanlah; ya Allah, aku telah meletakkan apa yang ada di pundakku dalam urusan ini ke pundak Utsman." Maka orang-orang bergegas memberikan bai'at kepada Utsman hingga mereka berdesakan atasnya. Kemudian Ali datang dengan menerobos orang banyak untuk mencapai Utsman dan memberikan bai'atnya kepadanya. Dengan demikian, bai'at kepada Utsman pun sah.
"O people! I have asked you openly and secretly about your Imam, and I found that you cannot place anyone on the same level as these two men: Ali and Uthman". Then he turned to Ali and said to him. "Come to me O Ali!" Ali stood and walked to the Minbar until he came underneath it. Abdul-Rahman took his hand and said: Would you give me your Bay‟ah according to the Book of Allah and the Sunnah of His Messenger and the (actions) of Abu Bakr and Umar?" Ali replied: By Allah no, but on my own exertion of that and my knowledge" - i.e. I would give you my Bay‟ah according to the Book of Allah and the Sunnah of His Messenger according to my own exertion of that and my knowledge of them. As for the actions of Abu Bakr and Umar, I do not adhere myself to them but exert my own opinion." Abdul-Rahman then released his hand and called: "Come to me O Uthman!" He took his hand as he stood on the spot where Ali stood earlier and said to him: "Would you give me your Bay‟ah according to the Book of Allah and the Sunnah of His Messenger as well as the actions of Abu Bakr and Umar?" Uthman replied, "By Allah yes. Upon this Abdul-Rahman looked up to the roof of the mosque with his hand clutching that of Uthman and said: "O Allah! Hear and witness; O Allah, I have put what was in my neck of that (matter) in the neck of Uthman". Then people rushed to give their Bay‟ah to Uthman until they overwhelmed him. Then Ali came pushing his way through to reach Uthman and gave him his Bay‟ah. Thus Bay‟ah was concluded to Uthman.
Pada masa Khilafah Umar (ra), beliau membatasi para Sahabat (ra) untuk meninggalkan Madinah, tetapi pada masa Khilafah Utsman (ra), para Sahabat (ra) diizinkan untuk menyebar dari Madinah. Ada beberapa keputusan yang diambil oleh Khalifah Utsman (ra) yang diperdebatkan oleh sebagian Sahabat (ra). Sekelompok orang dari Mesir dan wilayah-wilayah terpencil lainnya, yang digerakkan oleh Abdullah bin Saba, bergerak menuju Madinah untuk membunuh Khalifah Utsman (ra). Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi, yang konon telah masuk Islam.
During Umar‟s (ra) Khilafah, he restricted the Sahabah (ra) from leaving Madinah, but in Uthman‟s (ra) Khilafah, the Sahabah (ra) were allowed to disperse from Madinah. There were some decisions made by Khaleefah Uthman (ra) that were debated by some of the Sahabah (ra). Some people from Egypt and other out-lying territories orchestrated by Abdullah bin Saba, advanced to Madinah in order to kill the Khaleefah Uthman (ra). Abdullah bin Saba was a Jew, who supposedly converted to Islam.
Seluruh Sahabat (ra), termasuk Ali (ra), berusaha sekuat tenaga untuk bernegosiasi dengan orang-orang tersebut, namun mereka tidak berkenan mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ali (ra). Permasalahan semakin memanas dan berujung pada pembunuhan Utsman (ra). Mereka yang menjaga Utsman (ra) pada saat pembunuhannya adalah orang-orang yang sangat terhormat, dan di antaranya terdapat putra-putra Ali (ra), yaitu Hasan (ra) dan Husain (ra); namun para penjaga itu akhirnya dikalahkan dan Utsman (ra) pun dibunuh.
All of the Sahabah (ra), including Ali (ra), tried their best to negotiate with those people, but they were not inclined to listen to what was being presented by Ali (ra). The issue escalated and led to the assassination of Uthman (ra). Those who were guarding Uthman (ra) at the time of his assassination were extremely honourable people and included Ali‟s (ra) sons Hasan (ra) and Hussein (ra); however, the guards were eventually overwhelmed and Uthman (ra) was assassinated.
Ketika Utsman bin Affan (ra) dibunuh oleh para pemberontak, Madinah tetap tanpa khalifah selama lima hari setelah kematiannya. Amir Madinah selama masa itu adalah Al-Ghafiqi bin Harb, salah seorang pemimpin pemberontak. Para pemimpin tersebut meminta Ali bin Abi Thalib (ra) untuk mengambil alih jabatan khilafah. Beliau menghindar dari mereka, lalu para sahabat Rasulullah ﷺ datang kepadanya dan berkata: "Orang ini, yakni Utsman, telah terbunuh, dan manusia harus memiliki seorang imam. Saat ini kami tidak melihat seorang pun yang lebih layak untuk jabatan ini selain engkau; tidak ada yang lebih utama darimu dan tidak ada yang lebih dekat darimu kepada Rasulullah ﷺ." Beliau berkata, "Janganajukan aku untuk jabatan ini, sebab aku lebih baik menjadi pembantu daripada menjadi amir." Mereka berkata, "Tidak, demi Allah, kami tidak akan melakukannya sampai kami membaiat engkau." Beliau berkata, "Kalau begitu, hal ini harus dilakukan di masjid, sebab aku tidak ingin baiatku dilakukan secara diam-diam, dan tidak pula diambil kecuali dengan persetujuan kaum Muslimin." Abdullah bin Abbas kemudian berkomentar: "Aku khawatir ketika beliau datang ke masjid, sebab aku takut sebagian orang akan membuat kekacauan, namun beliau bersikeras untuk pergi ke masjid. Ketika beliau masuk ke masjid, kaum Muhajirin dan Anshar mengikutinya masuk dan memberikan baiat kepadanya. Kemudian orang-orang juga membaiatnya, begitu pula mayoritas kaum Muslimin, meskipun Bani Umayyah dan sebagian sahabat tidak hadir." Pada masa Ali (ra), beliau berselisih dengan sebagian sahabat (ra). Sesungguhnya Ali (ra) mendapati dirinya menghadapi berbagai persoalan kritis, seperti pendapat beliau (ra) bahwa konspirasi terorganisir yang berujung pada pembunuhan Utsman (ra) merupakan kekacauan internal yang terorganisir, bukan usaha satu orang. Terdapat perbedaan dengan para sahabat (ra) seperti Thalhah, Zubair, dan Aisyah binti Abu Bakar (ra); Muawiyah (ra) dan kegigihannya agar para pembunuh Utsman (ra) diserahkan kepadanya; serta sebagian orang yang disebut "pendukung" Ali (ra) mulai mengemukakan klaim bahwa Ali (ra) adalah Tuhan yang menjelma.
When Uthman b. Affan (ra) was killed by the rebels Madina remained without a Khaleefah for five days after him. Its Ameer during that time was Al-Ghafiqi b. Harb, one of the rebel's leaders. Those leaders requested Ali b. Abi Talib (ra) to take over the post of Khilafah. He used to avoid them, then the companions of the Messenger of Allah (saw) came to him and said: "This man - meaning Uthman - has been killed and people must have an Imam and nowadays we do not see anybody more worthy of the post than yourself, no one is of more precedence than you and no one is nearer than you to the Messenger of Allah". He said, "Do not put me forward for this post, for I would be a better assistant than an Ameer". So they said, "No, by Allah we should not do this until we give you our Bay‟ah". He said, "Then this has to take place in the mosque, for I do not wish for my Bay‟ah to be secret, nor to be taken except with the consent of the Muslims". Abdullah b. Abbas later commented: “I was apprehensive about him coming to the mosque for I feared that some people would stir up trouble, but he insisted to go to the mosque. When he entered the mosque, the Muhajireen and the Ansar followed him in and gave him their Bay‟ah. Then the people gave him also their Bay‟ah as well as the majority of the Muslims despite the absence of Banu Umayyah and some of the Sahabah.” During the era of Ali (ra), he had differences with some of the Sahabah (ra). Actually Ali (ra) found himself facing a variety of critical issues, such as his (ra) opinion that the organised conspiracy, which led to Uthman‟s (ra) assassination, was an organised internal disruption rather than a one-man effort. There were differences with Sahabah (ra) such as Talha, Zubair, and Aisha bint Abu Bakr (ra); Mu‟awiyyah (ra) and his persistence in having Uthman‟s (ra) killers handed over to him; some of Ali‟s (ra) so-called “supporters” began evoking claims that Ali (ra) was God incarnate.
Dari pihaknya, Ali (ra) memilih untuk menangani semua krisis ini sekaligus; ia membunuh orang-orang yang mengaku bahwa dirinya adalah tuhan; bergerak ke Kufah untuk menangani persoalan Thalhah, Zubair, dan Aisyah binti Abu Bakar (ra); dan ia mampu mengatasi hal ini meskipun mengakibatkan terbunuhnya Thalhah dan Zubair (ra); kemudian ia (ra) bergerak menuju Syam untuk menangani Mu'awiyah (ra). Semua kegiatan ini menyebabkan Ali (ra) terus-menerus terlibat dalam satu konflik atau lainnya. Akhirnya konflik itu berakhir dengan pembunuhan dirinya (ra).
From his side, Ali (ra) chose to handle all of these crises at once; he killed those who claimed that he was god; moved to Kufah to deal with Talha, Zubair and Aisha bint Abu Bakr (ra) issue; and was able to overcome this although it led to the killing of Talha and Zubair (ra); and then he (ra) moved towards Syria to deal with Mu‟awiyyah (ra). All of these activities caused Ali (ra) to be continuously engaged in one conflict or another. Finally the conflict ended in his (ra) assassination.
Dalam lingkungan inilah benih-benih Syi'ah ditanam dan mulai tumbuh. Pada awalnya ia berawal sebagai gerakan politik dengan dalih mengembalikan Khilafah kepada Ali (ra) dan keturunannya. Kemudian, gerakan ini diberi konteks intelektual. Syi'ah terpecah menjadi banyak kelompok. Sebagian berlebihan hingga mengklaim bahwa Ali (ra) adalah tuhan. Yang lain mengklaim bahwa kenabian ditujukan kepada Ali (ra) dan bukan kepada Muhammad ﷺ. Kedua kelompok ini tidak dianggap sebagai Muslim. Bahkan kalangan Syi'ah sendiri menyebut kelompok-kelompok ini sebagai non-Muslim. Selain itu, ada pula kelompok lain seperti Zaidiyah dan Ja'fariyah yang sama sekali tidak sampai pada ekstremisme tersebut.
It is within this environment that the seeds of the Shi‟a were sown and started growing. In the beginning it started as a political movement working under the pretext of getting the Khilafah back to Ali (ra) and his descendants. Later on, it was given an intellectual context. The Shi‟a were divided into many groups. Some went to the extreme claiming that Ali (ra) was god. Others claimed that the Messengership was meant for Ali (ra) and not for Muhammad (saw). These two groups were not considered Muslims. Even the Shi‟a label these groups as non-Muslims. In addition to this, there were others like the Zaydis and the Jafaris who did not at all go to these extremes.
Sebagian orang saat ini menggeneralisasi dan melabeli seluruh Syi'ah sebagai non-Muslim. Generalisasi ini sama sekali tidak tepat, karena tidak semua Syi'ah meyakini bahwa Ali (ra) berhak atas kenabian, atau bahwa Ali (ra) adalah tuhan yang menjelma, atau bahwa Al-Qur'an telah diubah dan tidak sempurna. Kaum Zaydiyah dan Ja'fariyah tidak dapat dilabeli sebagai non-Muslim karena mereka tidak menganut keyakinan kufur tersebut. Namun, jika seseorang memegang keyakinan atau gagasan semacam itu, maka orang itu layak disebut non-Muslim, baik ia Syi'ah maupun Sunni. Siapa pun yang memegang gagasan dan konsep kufur, meskipun lahir dari orang tua Sunni, tidak akan dianggap sebagai Muslim.
Some people presently generalise and label all of the Shi‟a as Non-Muslims. This generalisation is not at all correct, since not all of the Shi‟a believe that Ali (ra) deserved the Messengership or that Ali (ra) was god incarnate, or that the Qur‟an was changed and is imperfect. The Zaydis and the Jafaris cannot be labelled as non-Muslims since they do not subscribe to such Kufr beliefs. However, if an individual carries such beliefs or ideas then that individual deserves the label as being non-Muslim, whether he is Shi‟a or Sunni. Anyone who carries Kufr ideas and concepts even if he was born to Sunni parents will not be considered as Muslims.
9.9.1 Mazhab Imam Zaid
9.9.1 Madhab of Imam Zayd
Imam Zayd bin Ali (lahir tahun 80 H - wafat tahun 122 H) lahir di Madinah. Ayahnya, Ali, putra Al-Hussein bin Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, termasuk di antara sedikit keturunan Hussein yang selamat di Karbalah. Ayah Imam Zayd sangat dihormati dan berilmu tinggi, serta menolak sikap ekstrem dari mereka yang mengaku sebagai Syi'ah.
Imam Zayd bin Ali (80 AH - 122 AH) was born in Madinah. His father Ali, son of Al-Hussein bin Ali bin Abi Talib the fourth Khaleefah, was one of the few descendants of Hussein that were spared at Karbalah. Imam Zayd‟s father was highly respected and highly educated, and rejected the extremism of those who claimed themselves to be Shi‟a.
Dalam lingkungan inilah Imam Zayd dilahirkan. Ayahnya wafat ketika ia berusia 14 tahun, dan kakaknya yang sulung, Muhammad al-Baaqir, mengasuhnya. Pendidikan awalnya ia peroleh dari kakaknya yang sulung, Muhammad al-Baaqir, yang pada masa itu dianggap sebagai seorang ulama besar. Ia juga belajar kepada ulama besar lainnya, Abdullah bin Hasan bin Ali. Baik Al Baaqir maupun Abdullah bin Hasan adalah guru dari banyak ulama besar dan imam, seperti Abu Hanifah dan Imam Malik, yang meriwayatkan hadis dari keduanya. Zayd juga belajar kepada para Tabi'in lainnya yang tinggal di Madinah.
It was in this environment that Imam Zayd was born. His father died when he was 14 years old and his elder brother Muhammad al-Baaqir took care of him. His early education was taken from his elder brother Muhammad al-Baaqir, who was considered at that time as a great scholar. He also studied with another great scholar, Abdullah bin Hasan bin Ali. Both Al Baaqir and Abdullah bin Hasan were teachers of many great scholars and Imams like Abu Hanifah and Imam Malik, who took Hadith from them. Zayd also studied under other Tabi‟een who were residing in Madinah.
Kemudian Imam Zayd pindah ke Basrah, di sana ia bertemu dengan Waasil bin „Ataa, pendiri Mu‟tazilah. Ia terus berpindah-pindah antara Irak dan Hijaz untuk mencari ilmu. Abu Hanifah pernah berkata tentang Imam Zayd, "Aku bertemu dengan Zayd dan aku tidak pernah melihat di generasinya seseorang yang lebih berilmu, lebih cepat berpikir, atau lebih fasih darinya. Ia berada dalam kelasnya sendiri." Imam Zayd berselisih dengan Khalifah Abdul Malik, bahkan memberontak kepadanya. Ia pergi ke Kufah, dan Syi‟ah Irak bergabung dengannya. 15.000 orang memberikan Bay‟ah kepadanya di sebuah masjid, namun hanya sekitar 400 orang dari mereka yang tetap berdiri bersamanya ketika ia menghadapi pasukan Khalifah. Imam Zayd berpendapat bahwa konfrontasi militer adalah cara terbaik menghadapi Khalifah, dan ia merasa kecewa setelah para pendukung yang disebut-sebut itu meninggalkannya, sebagaimana para pendukung kakeknya, Husain, dahulu meninggalkan Husain.
Later on Imam Zayd moved to Basra where he met Waasil bin „Ataa, the founder of the Mu‟tazilah. He kept moving between Iraq and Hijaz seeking knowledge. Abu Hanifah once said about Imam Zayd, “I met with Zayd and I never saw in his generation a person more knowledgeable, as quick a thinker, or more eloquent than him. He was in a class by himself.” Imam Zayd had differences with Khaleefah Abdul Malik, and even rebelled against him. He went to Kufah where Shi‟a of Iraq joined him. 15,000 people gave him the Bay‟ah in a Masjid, but only about 400 of them stood with him when he faced the army of the Khaleefah. Imam Zayd felt that a military confrontation was the best way to deal with Khaleefah, and felt let down after his so-called supporters abandoned him in the same way that his supporters abandoned his grandfather Hussein.
9.9.1.1 Imam Shawkani
9.9.1.1 Imam Shawkani
Salah satu ulama paling terkenal dari Mazhab Imam Zayd adalah Imam Syaukani. Imam Syaukani wafat pada tahun 1250 H di Yaman. Tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa beliau menentang taqlid. Tulisan-tulisan tersebut juga menunjukkan bahwa beliau memperlakukan semua mazhab secara sama, termasuk mazhab Zaidiyah, dan dalam masalah akidah beliau sama sekali tidak menyelisihi akidah Salaf. Kitab-kitab Imam Syaukani antara lain Nailul Authar dalam bidang hadis, Irsyadul Fuhul dalam bidang ushul, dan Fathul Qadir dalam bidang tafsir.
One of the most famous scholars of the Madhab of Imam Zayd is Imam Shawkani. Imam Shawkani died in 1250 AH in Yemen. His writings show that he was against Taqleed. They also show that he treated all Madhabs equally, including the Zaydis, and in the issues of the „Aqeedah he did not go against that of the Salaf at all. Imam Shawkani‟s books include Nayl al Awtaar in Hadith, Irshad ul-Fuhool in Usul and Fathul-Qadeer in Tafseer.
9.9.1.2 Imam Muhammed Bin Isma‟eel As-Sana‟anee
9.9.1.2 Imam Muhammed Bin Isma‟eel As-Sana‟anee
Imam Muhammad bin Isma‟eel as-Sana‟anee (1059 H - 1182 H) lahir di Yaman dan pindah ke Makkah, tempat ia berkembang menjadi seorang Mujtahid yang sangat cakap. Ia menolak taqlid, dan mendapat tantangan keras dari mereka yang menolak konsep ijtihad; namun ia tetap teguh pada pendiriannya dan tidak pernah memperhatikan para penentangnya. Salah satu dari banyak kitabnya adalah Subul-us-Salaam, dalam bidang Hadits.
Imam Muhammad bin Isma‟eel as-Sana‟anee (1059 AH - 1182 AH) was born in Yemen and moved to Makkah, where he developed to be an extremely capable Mujtahid. He rejected Taqleed, and was severely challenged by those who refused the concept of Ijtihad; however, he held his ground and never paid attention to his objectors. One of his many books is Subul-us-Salaam, in Hadith.
Subul-us-Salaam dan Nayl al-Awtar sama-sama dianggap sangat penting saat ini karena sumbangsihnya yang besar di bidang Fiqih dan Hadits.
Both Subul-us-Salaam and Nayl Awtaar are considered presently to be extremely essential for their contributions in the area of Fiqh and Hadith.
9.9.2 Mazhab Imam Ja'far
9.9.2 Madhab of Imam Jafar
Meskipun Syi'ah Imamiyah juga disebut Ja'fariyah, hal itu tidak berarti bahwa satu-satunya sumber fikih Syi'ah adalah Imam Ja'far. Fikih tersebut bercampur dengan pendapat-pendapat lain. Madzhab Ja'fariyah tersusun dari fikih yang berasal dari tokoh-tokoh lain, seperti al-Qummi, al-Thusi, dan al-Qulani. Oleh karena itu, sangat sulit untuk memverifikasi apa yang diriwayatkan dari Imam Ja'far. Di antara klaim-klaim Ja'fariyah adalah:
Though the Shi‟a Imamia is also called Jafariah, this does not mean that the sole source of the Shi‟a Fiqh is Imam Jafar. It is mixed with others. The Jafariah Madhab is composed of Fiqh from other people such as Qumi, Tousi and Qulani. Thus, it is very hard to verify what was reported by Imam Jafar. Among the Jafariah claims are:
A. Para Imam ditunjuk oleh Nabi ﷺ, yaitu Ali (ra) dan keturunannya. Dua belas Imam tersebut adalah sebagai berikut:
A. The Imams were appointed by the Prophet (saw), namely Ali (ra) and his descendants. The twelve Imams are as follows:
1. Ali (ra).
1. Ali (ra).
2. Hasan bin Ali (ra).
2. Hasan ibn Ali (ra).
3. Husain bin Ali (ra).
3. Hussein ibn Ali (ra).
4. Ali Zain-ul-aabideen.
4. Ali Zain-ul-aabideen.
5. Muhammad al-Baaqir.
5. Muhammed al-Baaqir.
6. Ja'far as-Shadiq.
6. Ja‟far as-Saadiq.
7. Musa al-Kazim.
7. Musa al-Kazim.
8. Ali al-Rida.
8. Ali al-Rida.
9. Muhammad al-Jawad.
9. Muhammad al-Jawad.
10. Ali al-Hadi.
10. Ali al-Hadi.
11. Al-Hasan al-Askari.
11. Al Hasan al-Askaree.
12. Muhammad bin al-Hasan.
12. Muhammad bin al-Hasan.
The user's message is a heading: "9.9.3 Imam Jafar and Public Life". Translate it. 9.9.3 Imam Jafar dan Kehidupan Publik
9.9.3 Imam Jafar and Public Life
Ja'far menyaksikan, sejak usia dini, langkah pamannya melawan Khalifah Umayyah. Ia menyadari bagaimana para pengikutnya telah mengecewakan dirinya. Oleh karena itu, ia mampu membentuk gambaran yang utuh tentang orang-orang yang menyebut diri mereka Syi'ah. Kemudian, pada masa Khilafah Abbasiyah, karena mereka juga berasal dari Bani Hasyim, diharapkan keadaan akan berubah menjadi lebih baik bagi Ahlul Bait.
Jafar witnessed at an early age, his uncle‟s move against the Umayyad Khaleefah. He realised how his followers had let him down. Therefore, he was able to develop a complete image about the people who were calling themselves the Shi‟a. Later on, in the Abbasid Khilafah, since they were also from Bani Hashim, it was expected that the situation would change for the better with Ahl ul-Bayt.
Namun, ketika sebagian dari Ahl ul-Bayt memberontak terhadap Bani Abbasiyah, pembantaian lain terjadi, dan Imam Ja'far menyaksikan masa penindasan yang lain. Maka kita dapati beliau berusaha menjauhkan diri dari kehidupan politik sebisa mungkin, dan beliau tidak pernah menuntut Bay'ah untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa beliau tidak memiliki maupun tidak mengembangkan pandangan politik. Pada masanya muncul pandangan-pandangan ekstrem dalam kalangan Syi'ah. Di antara gagasan tersebut adalah anggapan bahwa para Sahabat (ra) adalah kafir, celaan terhadap Abu Bakar dan Umar (ra), serta klaim bahwa gagasan-gagasan semacam itu berasal dari Ja'far dan Imam Al Baaqir. Juga pada masanya muncul Khattabiyyah, kelompok menyimpang lainnya.
However, when some of Ahl ul-Bayt rebelled against the Abbasids, another massacre occurred and Imam Jafar witnessed another era of persecution. So we find him trying to keep away from the political life as much as possible, and he never claimed the Bay‟ah for himself. However, this does not mean that he did not have nor develop political opinions. In his era, the extremist opinions of Shi‟a appeared. Such ideas included that the Sahabah (ra) being Kuffar, the slandering of Abu Bakr and Umar (ra), and claims that such ideas were from Jafar and Imam Al Baaqir. Also in his era, the Khattabiyyah, another deviant group, emerged.
Seorang Persia bernama Abul Khattab, yang mengaku sebagai nabi, mengembangkan gerakan Khattabiyyah. Imam Ja'far mengambil tanggung jawab untuk membersihkan kekacauan yang disebarkan oleh kaum Khattabiyyah, dan hal ini menyebabkan beliau banyak menderita dalam perjuangan tersebut. Sebagai contoh, dilaporkan bahwa Khalifah Al Mansur memanggil Imam Ja'far kepadanya, berdasarkan laporan bahwa Imam Ja'far mengumpulkan zakat atas kemauannya sendiri. Kemudian ia mendapati bahwa tuduhan ini tidak benar dan kemungkinan disebarkan oleh musuh-musuh Imam Ja'far.
A Persian named Abul Khattab, who claimed Prophethood, developed the Khattabiyyah movement. Imam Jafar took the responsibility of clearing the mess being purported by the Khattabiyyah, which caused him to suffer a lot in this cause. For example, it was reported that the Khaleefah Al Mansoor summoned Imam Jafar to him, based on reports that Imam Jafar was collecting Zakah on his own. He later found that this claim was false and was probably spread by the enemies of Imam Jafar.
9.9.4 Fikih Imam Ja'far
9.9.4 Fiqh of Imam Jafar
Selain perjuangannya membersihkan kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang menyimpang, Imam Ja'far juga memberikan kontribusi besar bagi Fiqih dan Hadits. Fiqih Imam Ja'far dianggap sebagai salah satu fiqih dari kalangan Sunnah. Namun, ada sebagian orang yang mengaku sebagai pengikut Ja'fari berusaha menampilkan gambaran yang berbeda tentang Imam Ja'far.
Beside his struggle to clean up the mess of the deviant people, Imam Jafar also made great contributions to Fiqh and Hadith. The Fiqh of Imam Jafar is considered to be one of the Fiqh from the Sunnah. However, there are some people who claim themselves to be Jafaris try to present a different picture of Imam Jafar.
Al Kulaynee, dalam kitabnya Al Kafee, mengklaim bahwa Imam Jafar memiliki „ilmu khusus yang dibawa dari sumur Nabi ﷺ kepada Ali (ra), lalu kepada Imam-Imam lainnya, hingga sampai kepada Imam Jafar, yang kemudian mewariskannya kepada para Imam Jafari sesudahnya. Ilmu khusus ini disebut Al Kulaynee sebagai Al Jafr. Jafr ini memberikan kepada Imam yang membawanya atau memilikinya pengetahuan tentang Al Ghayb, atau hal-hal yang tidak tampak, dan tampaknya klaim ini sebenarnya berasal dari Al Khattabiyyah.
Al Kulaynee, in his book Al Kafee, claims that Imam Jafar has a special „Ilm which was carried from the well of the Prophet (saw) to Ali (ra), and then to other Imams, arriving to Imam Jafar, who then transferred it to the remaining Jafari Imams. This special knowledge Al Kulaynee called Al Jafr. This Jafr gives to the Imam who carries or has it, knowledge of the Ghayb or the unsensed, and it seems as if this claim actually came from Al Khattabiyyah.
Tuduhan-tuduhan semacam itu tidak sepatutnya diharapkan atau dicurigai berasal dari Imam Jafar yang mulia dan terpercaya, terlebih lagi ketika kita menyadari bahwa perawinya, Al Kulaynee, menyampaikan klaim bahwa Al-Qur'an telah diselewengkan. Sudah jelas bahwa pendapat-pendapat sesat yang dinisbatkan kepada Imam Jafar dan Imam Zayd itu adalah dusta, dan bahwa kedua imam yang mulia dan terpercaya ini tidak mungkin mengatakan hal-hal seperti itu.
Such claims are not at all expected or suspected to be from the honourable and trustworthy Imam Jafar, especially when we realise that the reporter, Al Kulaynee, purports claims that the Qur‟an was tampered with. It is clear that these heretic claims attributed to Imam Jafar and Imam Zayd are false, and that these honourable and trustworthy Imams would not have said such things.
Akhirnya, Umat Islam sepanjang sejarahnya telah menyaksikan berbagai kekacauan. Kini kita harus menyadari bahwa saling menyalahkan atas perpecahan Umat bukanlah jalan keluar dari persoalan kita saat ini. Umat Islam harus bersepakat dalam perkara-perkara Islam yang tidak dapat diperdebatkan, dan harus menyadari bahwa ada perkara-perkara yang wajar menimbulkan perbedaan pendapat, sehingga ruang harus diberikan bagi perbedaan-perbedaan tersebut.