Kesimpulan
Conclusion
Saat ini, kemunduran umat Islam, baik di bidang politik, ekonomi, maupun intelektual, disebabkan oleh satu alasan saja: tidak hadirnya Islam dalam kehidupan kita sebagai sebuah ideologi yang menyeluruh.
Presently, the decline in the Muslim Ummah, whether it is political, economic, or intellectual, is due only one reason: the absence of Islam from our lives as a comprehensive ideology.
Masyarakat di dunia Muslim diatur oleh sistem-sistem yang tidak Islami, hanya ditaburi beberapa hukum Islam yang berkaitan dengan pernikahan, perceraian, warisan, dan ibadah; sedangkan undang-undang yang berkaitan dengan pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan hubungan luar negeri tidak memiliki orientasi Islam.
The societies in the Muslim world are organised by un-Islamic systems, sprinkled with a few Islamic rules related to marriage, divorce, inheritance, and „Ibadah; while, laws related to ruling, economics, education, and foreign affairs, have no Islamic orientation.
Sebagai contoh, kurikulum pendidikan, yang diterapkan atas kaum Muslimin, tidak dirancang untuk membentuk kepribadian Islam, yang dengannya seseorang menilai dan mengevaluasi persoalan-persoalan kehidupan berdasarkan Islam.
As an example, the educational curricula, to which the Muslims are subjugated, are not designed to create the Islamic personality, whereby the individual judges and evaluate issues of life according to Islam.
Sebaliknya, mereka yang lulus dari kurikulum pendidikan di Dunia Muslim membatasi keyakinan mereka hanya pada aspek spiritual Islam. Mereka memandang kehidupan berdasarkan pragmatisme atau manfaat, dan akibatnya melakukan tindakan-tindakan yang berakar pada pemikiran ini, padahal tindakan-tindakan tersebut seharusnya didasarkan pada Dalil dari Islam.
On the contrary, those who graduate from the educational curriculum in the Muslim World limit their belief only to the spiritual aspect of Islam. They view life based on pragmatism or benefit and consequently embark on actions rooted in these thoughts, while these actions should have been based on the Daleel from Islam.
Isu-isu yang berkaitan dengan 'Aqidah Islam itu sendiri, seperti sampai pada kesimpulan rasional tentang keberadaan Allah (swt), telah dihilangkan dari kurikulum masa kini. Hal ini mengancam untuk mencabik-cabik tatanan yang menyatukan Ummat Islam, yaitu 'Aqidah. Ancaman ini datang dalam bentuk pembahasan Islam sebagai gagasan filosofis atau dogma agama, yang tidak mampu menjawab permasalahan dan peristiwa kontemporer.
Issues related to the Islamic „Aqeedah itself, such as arriving at the rational conclusion in the existence of Allah (swt), are omitted from the present day curriculum. This threatens to rip apart the very fabric which binds the Muslim Ummah together; the „Aqeedah. This threat comes in the form of a discussion of Islam as a philosophical idea or a religion dogma, lacking the ability to address contemporary problems and occurrences.
Dampak dari semua ini telah menimbulkan efek yang melumpuhkan terhadap penyajian dan pemahaman Fiqih. Masyarakat di Dunia Muslim memandang Fiqih dengan cara pandang yang sama seperti masyarakat Barat memandang studi teologi atau ilmu ketuhanan, yaitu sebagai disiplin yang mudah, yang dipelajari oleh mereka yang cenderung "religius" atau oleh mereka yang tidak cukup pintar untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.
The impact of all this has resulted in a crippling effect on the presentation and comprehension of the Fiqh. People in the Muslim World view the Fiqh in the same light that people in the West view theological or divinity studies i.e. as an easy discipline, studied by either the “religiously” inclined or by those who are not smart enough to study the sciences or technology.
Pandangan terhadap Fikih ini merupakan hasil langsung dari kurikulum pendidikan yang menyimpang di dunia Muslim. Contoh-contoh ini tidak hanya berkaitan dengan sistem pendidikan; sebaliknya, hal tersebut meresap ke seluruh masyarakat, karena seluruh struktur masyarakat bersifat tidak Islami.
This view of the Fiqh is the direct result of the deviant educational curricula present in the Muslim world. These examples are not only related to the educational system; rather, they pervade throughout the entire society, since the entire structure of the society is un-Islamic.
Di tengah lingkungan seperti ini, bagaimana Ummat bisa kembali bangkit? Setelah menghancurkan Khilafah lalu memberi kita kemerdekaan semu, para penjajah memastikan bahwa negeri-negeri Muslim tetap dijajah secara ideologis dan intelektual. Mereka mencapai hal ini dengan menciptakan celah dalam kepribadian kita, yaitu kita tetap meyakini ‘Aqidah Islam namun tidak memandang kehidupan berdasarkan ‘Aqidah tersebut. Akibatnya, kita kehilangan kepercayaan dan keyakinan terhadap kemampuan Islam dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kita.
In the midst of this environment, how can the Ummah once again flourish? After destroying the Khilafah and then granting us pseudo-independence, the Imperialists made sure that the Muslim lands would remain ideologically and intellectually occupied. They achieved this by creating a gap in our personality whereby we would believe in the Islamic „Aqeedah yet not view life based on it. Thus, losing the trust and confidence in the ability of Islam to solve our problems.
Akibatnya, tidaklah mengherankan jika kurikulum pendidikan yang menghasilkan kaum Muslim yang bingung seperti itu disusun oleh alat internasional musuh kita, UNESCO, sebuah badan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Consequently, it is not surprising that the educational curricula producing such confused Muslims are written by the international tool of our enemy, UNESCO, an agency of the United Nations.
Menyadari hal ini, prioritas tertinggi Ummah harus mengembalikan Islam dalam kehidupan kita sebagai sebuah ideologi yang hidup dan menyeluruh. Penerapan dan pelaksanaan Islam secara total akan menghentikan kemunduran Ummah saat ini. Tugas ini tidak boleh diremehkan atau dianggap remeh oleh Ummah. Ini adalah persoalan hidup dan mati.
Realising this, the highest priority of the Ummah must be to bring Islam back in our lives as a vibrant and comprehensive ideology. The total application and implementation of Islam will stop the current decline of the Ummah. This task must not be undermined or underestimated by the Ummah. It is a matter of life and death.
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila Dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian; dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dengan hatinya, dan bahwa kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan." (QS. Al-Anfal: 24)
“O you who believe! Answer the call of Allah and His Messenger, when He calls you to that which will give you life; and know that Allah comes in between man and his heart, and that it is He to whom you shall return.” (TMQ Al-Anfal :24)
Seperti telah disebutkan sebelumnya, kita beruntung menjadi bagian dari Ummat Muhammad ﷺ. Kebanggaan dan kehormatan ini seharusnya membangkitkan, memotivasi, dan menggerakkan kita untuk berjuang mengembalikan kedudukan yang semestinya bagi Ummat Muhammad ﷺ, sebagai pemimpin dunia. Sebuah Ummat yang menghidupkan firman Allah:
As mentioned earlier, we are fortunate to be from the Ummah of Muhammad (saw). This pride and honour should stimulate, motivate, and mobilise us to work to regain the rightful status of the Ummah of Muhammad (saw), as leaders of the World. An Ummah, which brings to life the Ayah:
{"وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ}" (QS. Al-Anbiya: 107) Note: The source line is in English, so I'll translate the Qur'an verse with its Indonesian rendering. "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
“We have not sent you (O Muhammad) except as a Mercy to all the Worlds” (TMQ Al-Anbiya: 107)
Rahmat ini hanya dapat dihadirkan kepada umat manusia ketika Syari‘ah diterapkan secara menyeluruh, terwujud dalam sebuah negara.
This Mercy can only be presented to the humanity, when the Shari‟ah is implemented in totality, embodied in a state.