4. Sunnah
4. Sunnah
Sunnah, secara bahasa, berarti jalan atau cara. Sebagai istilah fikih, "Sunnah" memiliki makna yang berbeda-beda dalam berbagai disiplin ilmu dalam budaya Islam.
Sunnah, linguistically, means a path or a way. As a juristic term “Sunnah” has different meanings to various disciplines of the Islamic culture.
• Kepada Ulama Hadis:
• To the Ulema of Hadith:
Sunnah merujuk kepada segala yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ, baik perbuatan, ucapan, maupun ketetapan (taqrir) beliau, serta seluruh riwayat yang menggambarkan sifat fisik dan akhlak beliau ﷺ.
Sunnah refers to all that is narrated from the Prophet (saw), his acts, his sayings, whatever he has tacitly approved, and all the reports that describe his physical attributes and character.
• Kepada Para Ulama Fiqh (Yurisprudensi Islam):
• To the Ulema of Fiqh (Jurisprudence):
Sunnah merujuk pada kategori Mandub atau Nafilah. Dalam pengertian ini, Sunnah digunakan secara sinonim dengan Mandub. Sebagai contoh, shalat sunnah tambahan atau berpuasa sunnah beberapa hari di luar bulan Ramadhan termasuk Mandub atau Nafilah.
Sunnah refers to the category of Mandub or Nafilah. In this sense, Sunnah is used synonymously with Mandub. As an example, praying extra prayers or fasting extra days other than in Ramadan is Mandub or Nafilah.
Kepada para ulama Ushul al-Fiqh:
• To the Ulema of Usul al-Fiqh:
Sunnah merujuk pada sumber syariat lain selain Al-Qur'an. Maka, dalam penggunaan Ushul al-Fiqh, seseorang dapat mengatakan bahwa puasa pada hari-hari selain bulan Ramadan berasal dari Sunnah, yang menunjukkan bahwa Sunnah telah menetapkan hukum ini.
Sunnah refers to another source of Shari‟ah along with the Qur‟an. Thus, in the usage of Usul al-Fiqh, one might say that fasting days other than in Ramadan is from Sunnah, denoting that the Sunnah has validated this ruling.
Penggunaan istilah Sunnah dalam Ushul al-Fiqh tidak boleh dikacaukan dengan Sunnah dalam Fiqh. Dalam Fiqh, istilah Sunnah bersinonim dengan Nafilah atau Mandub, yaitu perbuatan yang dianjurkan. Dalam Ushul al-Fiqh, Sunnah merupakan sumber untuk menggali hukum-hukum, dan ia menetapkan jenis-jenis Hukum Syar'i berikut:
The usage of Sunnah in Usul al-Fiqh should not be confused with the Sunnah in Fiqh. In Fiqh, the term Sunnah is synonymous to Nafilah or Mandub, meaning a recommended act. In Usul al-Fiqh, it is a source for extracting rulings, and it establishes the following types of Hukm Shar‟i:
• Fardu: (فشض) Misalnya, tata cara shalat ditetapkan berdasarkan Sunnah, bukan Al-Qur'an. Al-Qur'an hanya memerintahkan untuk shalat.
• Fard: (فشض ) For example, the method of praying the Salah is established from the Sunnah and not the Qur‟an. The Qur‟an issues the command to pray.
• Haram: (قشجَ ) Berpuasa pada hari raya Idul Fitri adalah haram dan hal ini ditetapkan berdasarkan Sunnah.
• Haram: (قشجَ ) Fasting on the day of Eid is Haram and is established from the Sunnah.
• Mandub / Sunnah: ( ذِٕٚخ/ع ٕس ) Puasa pada hari Senin adalah mandub dan ditetapkan berdasarkan Sunnah.
• Mandub / Sunnah: ( ذِٕٚخ/ع ٕس ) Fasting on Monday is Mandub and is established from the Sunnah.
• Makruh: (ِىشٖٚ) Memakan bawang putih sebelum pergi ke masjid hukumnya makruh dan hal ini ditetapkan berdasarkan Sunnah.
• Makruh: (ِىشٖٚ ) Eating garlic before going to masjid is Makruh and is established from the Sunnah.
• Mubah: Terkadang Nabi ﷺ minum air sambil duduk atau berdiri.
• Mubah: (رِح ) At times the Prophet (saw) drank water while sitting or standing.