12.2 Peran Akal
12.2 Role of „Aql
Bagi sebagian orang, pembahasan tentang peran akal dalam Islam tampak cukup janggal. Sayangnya, kurangnya pemahaman tentang Islam melahirkan pemahaman semacam itu. Dengan meneliti Al-Qur'an dan kehidupan Nabi ﷺ, tampak jelas bahwa wahyu memberi penekanan besar pada persoalan ini. Wajar jika wahyu membahas hal ini, sebab untuk membentuk perilaku tertentu, cara berpikir individu harus diarahkan. Ketika wahyu menyentuh persoalan krusial ini, ia melakukannya dengan cara yang sangat efektif, sehingga hanya dibutuhkan satu ayat bagi seluruh masyarakat untuk menjauhi minuman keras.
To some, the subject of the role of intellect in Islam seems quite bizarre. Unfortunately, the lack of awareness about Islam yields such an understanding. Through researching the Qur‟an and the life of the Prophet (saw) it is apparent that much emphasis was placed on this subject by the revelation. It is natural for the revelation to address this subject because in order to formulate a specific behaviour, the individual‟s way of thinking must be addressed. When the revelation addressed this crucial issue it did so in such an effective manner that it took only one Ayah for the entire society to abstain from alcohol.
Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia, tetapi juga mengarahkan akal mereka dan menjelaskan batas-batas kemampuannya ﷺ.
Prophet Muhammad (saw) not only clarified matters of law to the people that dealt with their actions but also directed their intellect and clarified its limitation.
Hal ini terlihat ketika matahari mengalami gerhana pada masa Nabi ﷺ, pada hari yang sama ketika putra beliau ﷺ, Ibrahim (ra), wafat. Ketika orang-orang menyatakan bahwa matahari mengalami gerhana karena kematian putra Nabi ﷺ, beliau ﷺ menjelaskan kepada mereka bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda dari Allah (SWT). Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang; oleh karena itu, tidak ada hubungan antara kedua peristiwa tersebut.
This is evident when the sun eclipsed during the time of the Prophet (saw) on the same day that his (saw) son Ibraheem (ra) died. When people suggested that the sun eclipsed because of the Prophet‟s (saw) son‟s death, he (saw) told them that the sun and the moon are signs from Allah (swt). They do not eclipse for someone‟s death or birth; therefore there is no relationship between the two events.
Metode pengarahan akal dan prinsip-prinsip nalar yang sehat turut bekerja ketika Nabi Muhammad ﷺ meluruskan kesalahpahaman sekelompok orang yang mengatakan bahwa hujan terjadi karena pengaruh bintang. Beliau memberi tahu mereka bahwa Tuhan bintang tersebut, yaitu Allah (SWT), yang menjadikan hujan itu turun. Ini hanyalah dua dari sekian banyak contoh yang menunjukkan peran akal.
The method of directing the intellect and sound principles of reason were at work when the Prophet (saw) cleared the misunderstanding of a group of people when they said that rain occurs due to the influence of the star, telling them that the Lord of the star, Allah (swt), causes the rain to occur. These are just two of the many examples addressing the role of the intellect.
Setelah memahami bahwa Islam mengarahkan akal manusia, pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apa sebenarnya kedudukan akal dalam Islam?
Having understood that Islam directed the people‟s intellect, the next question, which arises, is what exactly is the position of the intellect in Islam?
Dalam Islam, peran akal memiliki kedudukan yang sangat penting. Akal digunakan untuk memahami dan menerima ‘Aqidah (keyakinan) Islam, dan itu adalah satu-satunya cara yang dapat diterima untuk masuk Islam. Islam mewajibkan penggunaan akal untuk beriman kepada Allah (SWT) dan melarang taqlid dalam ‘aqidah.
In Islam the role played by the intellect is a very significant one. The intellect is used to understand and accept the Islamic „Aqeedah (doctrine) and is the only acceptable method to enter Islam. Islam compels the use of the intellect to believe in Allah (swt) and forbids imitation (Taqleed) in „Aqeedah.
Islam memberikan bukti-bukti rasional untuk membuktikan keberadaan dan keesaan Allah (SWT), kenabian Muhammad ﷺ, serta bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah (SWT). Dengan demikian, fondasi Islam dibangun di atas keyakinan melalui akal. Melalui bukti yang kuat ini, akal dan hati menjadi puas dan terbebas dari keimanan buta serta takhayul.
Islam provides rational evidences to prove the existence and the oneness of Allah (swt), the Prophethood of Muhammad (saw), and that the Qur‟an is the word of Allah (swt). Thus the foundation of Islam is built upon conviction through the intellect. Through this sound proof, the intellect and the heart are satisfied and devoid of any blind faith and superstitions.
Karena keotentikan Al-Qur'an dan kenabian Nabi ﷺ dibangun di atas akal, maka keyakinan terhadap makhluk-makhluk seperti malaikat dan jin, atau gambaran tentang surga dan neraka, didasarkan pada keotentikan Al-Qur'an dan kenabian Muhammad ﷺ.
Since the authenticity of the Qur‟an and Prophethood of Prophet (saw) is built upon the intellect, the belief in beings such as the angels and Jinns, or descriptions of heaven and hell are based upon the authenticity of the Qur‟an and the Prophethood of Muhammad (saw).
Setelah ‘Aqidah Islam dicapai secara intelektual, akal kemudian memainkan peran yang berbeda. Perannya hanya memahami persoalan dan wahyu, lalu menerapkan wahyu pada persoalan tersebut. Akal menggunakan wahyu sebagai sumber untuk menggali hukum atas setiap persoalan, mulai dari Wudhu (wudu) hingga politik luar negeri Negara Islam.
Once the „Aqeedah of Islam is arrived at intellectually, the intellect then plays a different role. It plays a role of only understanding the issue and the revelation and then applying the revelation to the issue. The intellect uses the revelation as a source to derive rulings on any issue, from Wudhu (ablution) to the foreign policy of the Islamic State.
Penting untuk disadari bahwa akal tidak dapat digunakan untuk mengarang alasan bagi suatu hukum, kecuali alasan tersebut disebutkan dalam nash. Mengklaim adanya alasan bagi hukum apa pun berarti mengandaikan bahwa kita dapat memahami apa yang dikehendaki Allah (SWT) dengan hukum tersebut, dan itu mustahil. Misalnya, kita tidak dapat menggunakan akal untuk menyimpulkan alasan mengapa kita berwudhu. Akal mungkin akan cenderung mengira bahwa wudhu dilakukan demi kebersihan pribadi.
It is important to realise that the intellect cannot be used to conjure up a reason for a ruling, unless the reason is mentioned in the text. Claiming a reason for any ruling implies that we can comprehend what Allah (swt) intended for that ruling, which is impossible. For example, we cannot use the intellect to infer a reason for why we perform Wudhu. The intellect would probably lead one to assume that it is for the sake of personal hygiene.
Namun, jika air tidak tersedia maka kita diwajibkan untuk melakukan Tayammum (serangkaian tindakan yang mengharuskan seseorang mengusapkan debu ke tubuhnya). Jika alasan di balik Wudhu adalah kebersihan, lalu mengapa Allah (SWT) memerintahkan kita untuk mengusap diri dengan debu ketika air tidak dapat diakses?
However, if water is not accessible then we are supposed to do Tayammum (a series of actions requiring one to wipe themselves with dust). If the reasoning behind Wudhu were cleanliness, then why would Allah (swt) order us to wipe ourselves with dust if water is inaccessible?
Penggunaan akal yang benar dapat dilihat dari perbuatan para Sahabat (ra). Pada Perang Badar, Nabi ﷺ telah menempatkan pasukan di suatu tempat tertentu. Habab bin al-Munthir (ra) bertanya kepada Nabi ﷺ apakah keputusan beliau itu berdasarkan wahyu atau keputusan strategis. Nabi ﷺ menjawab bahwa itu adalah keputusan strategis. Mendengar hal itu, Habab bin al-Munthir berkata bahwa tempat tersebut adalah tempat yang keliru. Dari peristiwa ini kita dapat melihat bahwa para Sahabat (ra) memahami dengan jelas batas tipis antara wahyu dan akal. Mereka tidak pernah menggunakan pemikiran mereka untuk menilai wahyu.
The proper use of the intellect can be seen in the actions of the Sahabah (ra). During the battle of Badr the Prophet (saw) had stationed the army at a certain location. Habab bin al-Munthir (ra) inquired from the Prophet (saw) whether his (saw)‟s decision was based on the revelation or a tactical decision. The Prophet (saw) replied by saying that it was a tactical decision. Upon this Habab bin al-Munthir said that the location was a wrong one. From this incident we can see that the Sahabah (ra) recognised the fine line between the revelation and the intellect. They never used their thinking to pass judgments on the revelation.
Dalam ideologi-ideologi lain, akal memainkan peran yang tidak dapat ia penuhi. Dalam demokrasi-demokrasi Barat, akal diberi peran tanpa batas untuk mengatur kehidupan manusia; padahal, akal rentan terhadap bias, perbedaan, pertentangan, kontradiksi, dan pengaruh lingkungan. Sebaliknya, dalam Islam, akal tidak digunakan untuk membuat hukum, melainkan untuk memahami wahyu dan menerapkannya.
In other ideologies the intellect plays a role that it cannot fulfil. In Western democracies, intellect is given the unlimited role of organising man‟s life; however, it is subject to biases, disparity, differences, contradictions, and the influence of the environment. However, in Islam the intellect is not used to legislate, but to understand the revelation and to apply it.
Sehubungan dengan akal, kaum Muslimin perlu memiliki kesadaran yang sama akan batas tipis antara wahyu dan akal sebagaimana yang dimiliki Habab bin al-Mundzir (ra). Sayangnya, kaum Muslimin mulai menggunakan akal mereka untuk menjelaskan hukum-hukum yang diberikan kepada kita oleh Allah (SWT), misalnya salat itu baik untuk olahraga, puasa itu baik untuk tubuh, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus kaum Muslimin mulai lebih mengutamakan hukum buatan manusia daripada hukum Pencipta alam semesta, Allah (SWT).
With regard to the intellect, Muslims need to have the same awareness of the fine line between revelation and „Aql that Habab bin al-Mundthir (ra) had. Unfortunately, Muslims have begun to exercise their intellect to pass on the rulings given to us by Allah (swt), e.g. Salah is good exercise, fasting is good for the body, etc. Furthermore, in some cases Muslims have started to prefer the ruling of man-made laws to those of the Creator of the Universe, Allah (swt).