10.2 Islam Komunis – Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Penyelewengan Itu
10.2 Communist Islam – What We Can Learn From That Travesty
Pada abad kedua puluh, komunisme sangat populer di kalangan sekelompok cendekiawan Muslim. Bagi mereka, komunisme mewakili puncak keadilan. Komunisme juga mewakili puncak peradaban duniawi, karena Uni Soviet pada masa itu sedang berjaya. Maka para cendekiawan Muslim ini menulis dengan penuh semangat bahwa umat Islam perlu mengadopsi komunisme, dan bahwa Islam yang sejati pada hakikatnya bersifat komunis. Mereka menafsirkan Al-Qur'an dan hadis dengan sudut pandang tersebut, dengan menunjuk ayat-ayat tentang zakat dan sedekah sebagai perintah ilahi yang menentang kepemilikan pribadi.
In the twentieth century, communism was very popular with a group of academic Muslims. For these Muslims, communism represented the peak of justice. It represented the peak of worldly civilization, as the USSR at that time was ascendant. So these Muslim academics wrote fervently about how Muslims needed to adopt communism and how true Islam was communist at its heart. They interpreted the Quran and hadith in that light, pointing to verses about zakat and sadaqa as divine directives against private property.
Tentu saja, banyak bagian hukum Islam yang mengandaikan hubungan kepemilikan tertentu sebagai sesuatu yang sudah berlaku. Namun karena hal-hal tersebut bertentangan dengan komunisme, para komunis Muslim menyerang fiqh, menyebutnya terbelakang dan tidak adil, serta tidak lain hanyalah distorsi kapitalistik atas agama Tuhan yang sejati. Menurut mereka, para ulama klasik jelas hanya melayani kepentingan mereka sendiri sebagai pemilik harta, sehingga mereka menyusun fiqh untuk memajukan agenda borjuis mereka dan menindas kelas pekerja.
Of course, there were many parts of Islamic law that take certain property relations for granted, but since these conflicted with communism, the Muslim communists attacked the fiqh, called it backwards, unjust, and nothing but a capitalistic distortion of God’s true religion. According to them, the classical ulama were obviously just serving their own interests as property owners, so they created fiqh to advance their bourgeois agenda and oppress the working class.
Muslim lain pada masa itu menentang pandangan ini, membantah argumen-argumennya, dan membela para ulama dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada mereka. Setelah ditolak secara intelektual dan dalam komunitas, Muslim-Muslim ini semakin lama semakin ekstrem hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Islam sama sekali. Bukankah Marx pernah mengatakan bahwa agama adalah candu rakyat? Bukankah Muslim tradisional ini menolak keadilan yang jelas dari komunisme dan wawasan materialisme historis? Pasti Islam itu sendiri yang menjadi masalahnya.
Other Muslims of the day pushed back against this, poked holes in their arguments, and defended the ulama from their smears. Having been rebuffed intellectually and communally, these Muslims became more extreme little by little until they decided to leave Islam entirely. Didn’t Marx say that religion was the opiate of the people? Didn’t these traditional Muslims reject the clear justice of communism and the insights of historical materialism? It must be Islam itself that is the problem.
Maka mereka menjadi murtad dan mengingkari Islam bersama domba-domba Muslim yang mengikutinya secara membabi buta. Meski demikian, mereka memiliki harapan besar bahwa dalam waktu dekat cahaya komunisme akan mengalahkan kegelapan tradisi Islam, dan seluruh dunia Muslim akan mengikuti mereka menuju pencerahan.
So they became apostates and denounced Islam along with the Muslim sheep who followed it blindly. Despite it all, they had high hopes that in the near future the light of communism would overcome the darkness of the Islamic tradition and the entire Muslim world would follow them into enlightenment.
Tak lama kemudian, komunisme tidak lagi menjadi tren. Uni Soviet runtuh. Pada akhir abad kedua puluh, tidak ada yang mengingat lagi apa pun yang telah ditulis atau diperjuangkan orang-orang ini. Gerakan mereka lenyap begitu saja ke dalam lubang pembuangan sejarah.
Soon thereafter communism went out of vogue. The USSR fell. By the end of the twentieth century, no one remembered anything these people had written or advocated for. Their movement was flushed down the toilet of history.
Dewasa ini, kaum Muslim liberal yang berpaham keadilan sosial — yang secara terbuka dan militan menyeru orang kepada fahisha (perbuatan keji) dan pembangkangan, yang dengan terang-terangan memfitnah para ulama dan menebarkan benih kebingungan di dalam hati kaum Muslimin — berada di jalur yang persis sama. Semoga Allah mempercepat balasan atas mereka!
Today’s social justice, liberal Muslims — openly, militantly calling people to fahisha and disobedience, brazenly slandering the ulama and sowing the seeds of confusion in Muslims’ hearts — are on the exact same path. May Allah expedite their fate!