8.5 Penipuan Terbesar Sekularisme Liberal
8.5 Liberal Secularism’s Biggest Deceit
Yang penting bukanlah apa yang kamu pilih, melainkan fakta bahwa kamu memiliki pilihan.
What matters is not what you choose but the fact that you have a choice.
Inilah cara sekularisme liberal berusaha meniadakan petunjuk Ilahi. Jika yang paling penting hanyalah pilihan, dan apa yang akhirnya kita pilih tidak lagi penting, maka untuk apa kita memerlukan petunjuk? Untuk apa kita memerlukan cahaya yang menunjukkan arah yang benar, yang menuntun kita kepada keputusan-keputusan yang akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan?
This is how liberal secularism attempts to nullify Divine guidance. If all that matters is choice and what you actually end up choosing is irrelevant, then what need do you have for guidance? What need do you have for light pointing you in the right direction, pointing you to the decisions that will bring you happiness and success?
Ada sistem filosofis atau etis yang sekosong liberal sekularisme? Sistem-sistem buatan manusia lainnya setidaknya berupaya membimbing umat manusia dengan nasihat praktis dan prinsip-prinsip yang, secara teori, seharusnya mengarah pada kebahagiaan individu dan kolektif. Namun liberal sekularisme tidak repot-repot melakukan hal itu. Menurutnya, yang kita butuhkan hanyalah membuat pilihan tanpa hambatan apa pun. Pilihan apa saja! Bahkan jika kita memilih yang paling merusak, hina, dan tidak masuk akal, selama kita "secara bebas" membuat pilihan itu, hal itu jauh lebih baik daripada tidak memiliki pilihan atau, lebih buruk lagi, memiliki Tuhan yang memberitahu kita apa pilihan yang benar lalu membuat kita merasa bersalah karena memilih yang salah.
Is there any philosophical or ethical system as vacuous as liberal secularism? Other man-made systems at least make an attempt to guide humanity with practical advice and principles that, in theory, should lead to individual and collective felicity. But liberal secularism doesn’t bother with that. All we need, according to it, is just to make a choice without any hindrance in doing so. Any choice! Even if you choose the most destructive, vile, nonsensical choice, as long as you “freely” made that choice, it is infinitely better than not having a choice or, worse, having God tell you what is the right choice and making you feel bad for making the wrong choice.
Tidak pernah ada cara berpikir yang lebih tidak koheren. Namun cara berpikir inilah yang menguasai hati manusia modern.
There never was a more incoherent way of thinking. But it is this thinking that rules the hearts of modern men.