3.4 Pelarangan Hijab di Jerman
3.4 Banning The Hijab In Germany
Ini adalah contoh sempurna dari kontradiksi yang melekat pada sekularisme. Pada tahun 2016, dilaporkan:
This is a perfect example of the contradictions inherent to secularism. In 2016, it was reported:
Dua asosiasi hukum Jerman yang berpengaruh menyerukan agar jilbab dilarang bagi hakim dan pengacara demi menjaga "netralitas" di pengadilan.
“Two influential German legal associations are calling for headscarves to be banned for judges and lawyers to uphold ‘neutrality’ in court.
“Robert Seegmüller, ketua Asosiasi Hakim Peradilan Tata Usaha Negara Jerman, mengatakan bahwa seragam wajib berupa jubah hitam, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu putih, kravat, atau syal leher itu penting untuk menunjukkan bahwa hasil suatu perkara ‘tidak bergantung pada pribadi seseorang, melainkan semata-mata pada apa yang ditetapkan oleh hukum.’”2
“Robert Seegmüller, chairman of the Association of German Administrative Judges, said the required uniform of black robes, white shirt and white bow tie, cravat or neckerchief is important to show that the outcome of a case ‘does not depend on the person, but solely on what the law says.’”2
Asal-usul jubah hitam itu sebenarnya masih belum pasti. Menurut peneliti di New York Times: "Meskipun asal-usul jubah peradilan masih belum pasti, sebagian orang meyakini bahwa jubah itu berasal dari gereja, pada masa ketika para rohaniwan dan lembaga peradilan merupakan satu dan orang yang sama. Jubah mulai muncul di lingkungan peradilan Inggris pada abad ke-14."3
What do you think are the origins of the black robe? According to reserchers at the NY Times: “Although the judicial robe’s origin remains uncertain, some believe it has its origins in the church, when the clergy and judiciary were one and the same. Robes appeared in the British judiciary in the 14th century.”3
Mungkinkah bahwa, berabad-abad silam, jubah itu dipinjam dari thawb Muslim, yang sendiri dipandang sebagai pakaian status, keilmuan, dan prestise keagamaan dalam tradisi kami?
Could it be that, centuries ago, the robe was borrowed from the Muslim thawb, which itself was considered a garment of status, erudition, and religious prestige in our tradition?
Terlepas dari itu, jelas bahwa jubah yang dituntut oleh kaum sekularis Jerman ini memiliki asal-usul keagamaan. Bahkan hingga hari ini, jubah panjang memiliki makna keagamaan bagi kaum Muslim, karena baik laki-laki maupun perempuan Muslim memakainya. Perempuan, khususnya, mengenakan jubah hitam, yaitu jilbab. Tokoh-tokoh agama Yahudi dan Kristen juga menggunakan jubah hitam. Baik di masa lalu maupun sekarang, jubah hitam sarat dengan makna keagamaan.
Regardless, it is clear that the robe which these German secularists are insisting on has religious origins. And even to this day, the long robe has religious significance for Muslims, as both Muslim men and women will wear it. Women in particular wear black robes, i.e., the jilbab. Jewish and Christian religious figures also utilize the black robe. Whether past or present, the black robe is permeated with religious significance.
Ada pihak-pihak yang mendesak pelarangan jilbab serta simbol-simbol keagamaan lainnya, dan mengklaim bahwa mereka sedang menjunjung "netralitas." Keberatan yang paling mendasar tentu saja adalah: siapa yang memutuskan pakaian mana yang "netral"?
There are those who are arguing for the ban of the hijab as well as other religious symbols and claim that they are upholding “neutrality.” The straightforward objection is, of course, who decided what is “neutral” dress?
Ini adalah gagasan inti sekularisme, yaitu bahwa jika seluruh unsur yang "religius" dikurangi, maka yang tersisa adalah sesuatu yang benar-benar netral, dan dari situlah sekularisme seharusnya bermula. Namun pada kenyataannya, tidak ada inti yang netral dan sepenuhnya bebas dari metafisika serta normativitas yang sama, yang justru dianggap begitu bermasalah pada agama.
This is the central conceit of secularism, namely that if you subtract everything that is “religious,” what you are left with is truly neutral and that is where secularism ought to begin. In reality, however, there is no neutral core that is completely free of the same metaphysicality and normativity that is supposedly so objectionable about religion.
Satu-satunya cara untuk sampai pada inti yang netral dan sekuler adalah dengan menciptakannya. Anda cukup menegaskan bahwa suatu adat, norma budaya, gaya berpakaian, komitmen normatif, dan sebagainya itu "sekuler" atau "netral", sementara selebihnya "religius." Proses pelabelan ini memperoleh legitimasi melalui asumsi budaya yang dipegang bersama. Praktik dan pakaian Muslim kebetulan relatif asing, sehingga dengan mudah dipandang semua orang sebagai sesuatu yang jelas-jelas "religius." Namun modus berpakaian Barat yang lebih familiar, yang banyak di antaranya juga secara teknis memiliki asal-usul dan makna keagamaan, dapat dianggap "budaya" dan karenanya "sekuler" dan karenanya "netral." Semua ini hanyalah permainan bahasa.
The only way to get to this neutral, secular core is to create it. You simply assert that a particular custom, cultural norm, style of dress, normative commitment, etc., is “secular” or “neutral” and everything else is “religious.” This labeling process gains legitimacy through shared cultural assumptions. Muslim practices and dress happen to be relatively foreign, so they are easily seen by all as distinctly “religious.” But more familiar Western modes of dress, many of which also technically have religious origins and significance, can be deemed “cultural” and hence “secular” and hence “neutral.” These are just language games.
Jadi, kegaduhan tentang jubah hitam dan kerudung ini adalah contoh sempurna bagaimana sekularisme menciptakan wilayah netral secara artifisial demi mempertahankan kesan kenetralan yang hampa.
So, this kerfuffle about black robes and the headscarf is a perfect example of secularism fabricating neutral ground in order to artificially maintain a hollow semblance of impartiality.
Saya juga ingin menyampaikan sesuatu tentang kebebasan beragama. Sebagai umat Islam, kita sebaiknya tidak mengandalkan argumen kebebasan beragama untuk membela diri dari serangan sekularisme. Sebaliknya, kita perlu menunjukkan kontradiksi internal dalam sekularisme (seperti yang telah dibahas di atas) dan memaksa para penganut sekularisme untuk mengakui bahwa masalah mereka dengan jilbab tidak lebih dari sekadar bias budaya. Jika mereka dapat mengakuinya, baiklah. Namun kita tidak boleh membiarkan mereka lolos dengan berpura-pura bahwa penentangan mereka terhadap hijab berasal dari komitmen rasional terhadap netralitas dan keadilan, karena, seperti yang telah kita lihat, hal itu jelas tidak benar.
I also want to mention something about religious freedom. As Muslims, we should not resort to freedom of religion arguments to defend ourselves against the secular assault. We should instead point out the internal contradictions of secularism (like the above) and force the secularists to admit that their problem with the Muslim headscarf is nothing more than a cultural bias. If they can admit that, fine. But we should not allow them to get away with pretending that their opposition to the hijab is due to some rational commitment to neutrality and even-handedness because, as we have seen, that is clearly not the case.
Pada akhirnya, jika mereka tetap bersikeras bahwa keberatan mereka terhadap hijab didasarkan pada bias budaya, kaum Muslimin dapat menerima hal itu. Sebab di tengah masyarakat Muslim, kita semestinya merasa nyaman menetapkan standar berpakaian kita sendiri, yaitu standar yang tidak bergantung pada selera budaya yang selalu berubah, melainkan didasarkan pada nilai-nilai agama dan standar kesopanan serta kesusilaan yang ditetapkan oleh Allah. Inilah titik akhir yang ingin kita capai dalam diskusi ini.
At the end of the day, if they want to insist that their objections to the hijab are due to cultural bias, Muslims can live with that. Because in Muslim societies, we should feel comfortable instituting our own standards of dress, standards which are not due to ever-changing cultural whims but based on our religious values and standards of decency and modesty set by Allah. This is where we want the discussion to end up.
2. https://www.independent.co.uk/news/world/europe/german-judges-call-for-headscarf-hijab-ban-in-court-lawyers-to-show-neutrality-a7180591.html 3. https://www.nytimes.com/2008/09/06/nyregion/06robes.html
2. https://www.independent.co.uk/news/world/europe/german-judges-call-for-headscarf-hijab-ban-in-court-lawyers-to-show-neutrality-a7180591.html 3. https://www.nytimes.com/2008/09/06/nyregion/06robes.html