4.4 Kebebasan Berpikir
4.4 Freedom Of Thought
Kebebasan berpikir adalah sesuatu yang diasumsikan setiap orang secara otomatis dimilikinya. Tidak ada seorang pun yang menganggap pikirannya bukan miliknya sendiri. Namun pada kenyataannya, sebagian besar pemikiran manusia sangat dibentuk dan bahkan dikendalikan sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat yang lebih besar. Bahkan para "pemikir bebas" masa kini yang lantang dan bangga (dan menyebalkan) pun tidak terkecuali.
Freedom of thought is something all people assume they have by default. No one thinks his thoughts are not his own. In reality, the vast majority of people’s thoughts are heavily dictated and outright controlled by larger societal forces. Today’s loud and proud (and obnoxious) “free thinkers” are no exception.
Tapi ini contoh yang lebih luas. Bagaimana jika saya katakan bahwa ada pertentangan yang jelas antara Islam dan nilai-nilai Amerika (dan Barat)?
But here is a broader example. What if I were to tell you that there are clear conflicts between Islam and American (and Western) values?
Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut klaim ini karena itu bukan intinya. Intinya adalah bahwa bahkan gagasan bahwa ada pertentangan antara menjadi seorang Muslim dan menjadi seorang Amerika dianggap hampir sama dengan penistaan oleh banyak Muslim Amerika.
I am not going to elaborate on this claim because that’s not the point. The point is that even the thought that there is a conflict between being Muslim and being American is considered all but blasphemy to many American Muslims.
Sekarang berhenti sejenak. Jika Anda membaca di atas lalu merasa kesal, marah, tidak percaya, atau sedang memikirkan semua cara bahwa pernyataan itu keliru, berhentilah dan tanyakan pada diri sendiri: Mengapa? Mengapa klaim sederhana ini harus menimbulkan begitu banyak ketidaknyamanan? Bukankah klaim itu sebenarnya tidak menghujat dan tidak berkaitan dengan teologi? Lagi pula, jika dipikirkan secara umum, klaim itu hampir tidak aneh atau layak dijadikan bahan kemarahan, meskipun ternyata salah. Untuk memahaminya, tanyakan pada diri sendiri: Apakah Islam bertentangan dengan nilai-nilai Vietnam? Apakah Islam bertentangan dengan nilai-nilai budaya Chile? Anda mungkin tidak tahu, tetapi hal itu mungkin saja, bukan? Mengapa tidak bisa? Jadi mengapa sensitivitas itu muncul terhadap Amerika atau Barat khususnya?
Now pause for a second. If you are reading the above and feel annoyance, anger, incredulity, or you’re just thinking about all the ways that that statement is wrong, stop and ask yourself: Why? Why should this simple claim cause you so much discomfort? It’s not like the claim is actually blasphemous or has anything to do with theology. Also, when you think about the claim in the abstract, it is hardly peculiar or worthy of outrage, even if it turns out to be wrong. To understand this, ask yourself: Does Islam conflict with Vietnamese values? Does Islam conflict with the cultural values of Chile? You probably don’t know, but it is possible, right? Why couldn’t it be? So why the sensitivity with America or the West in particular?
Saya menyadari hal ini pada diri saya. Saya merasa ragu bahkan untuk merumuskan dalam hati klaim bahwa Islam dan nilai-nilai Amerika berpotensi bertentangan. Saya merasakan sedikit rasa tidak nyaman dan kekhawatiran, dan hal itu mengganggu saya tentang diri saya sendiri. Itu merupakan petunjuk yang jelas betapa pemikiran saya sangat dipengaruhi oleh konteks saya, dengan cara-cara yang bahkan tidak saya sadari.
I noticed this in myself. I noticed that I hesitated in even articlating to myself the claim that Islam and American values could potentially ever be in conflict. I felt a tinge of discomfort and trepidation and that bothered me about myself. It was a clear indication of how my thoughts are deeply influenced by my context in ways that I am not even aware of.
Maksud saya bukan omong kosong relativistik dan pascamodern semacam "kita semua bias," dan sejenisnya. Bias-bias kognitif itu dapat diatasi. Caranya adalah dengan menyelaraskan pikiran dan keadaan batin kita dengan Kebenaran Yang Lebih Tinggi. Dan kita melakukannya dengan mengikuti Sunnah.
Now my point is not some relativistic, perspectival, postmodern nonsense about how “We are all biased,” etc. It is possible to transcend these cognitive biases. We do this by bringing our thoughts and inner states in conformity with the Higher Truth. And we do that by following the Sunnah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
The Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم is reported to have said,
"Tidak ada seorang pun di antara kalian yang benar-benar beriman hingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku bawa ﷺ."8
“None of you truly believes until his desires are subservient to that which I have brought.”8
8. Al-Arba'in karya Imam An-Nawawi
8. Al-Arba`in of Imam al-Nawawi