8.3 Toleransi Palsu Liberalisme
8.3 The Fake Tolerance of Liberalism
Tuduhan Liberal: "Kamu tidak toleran." Terjemahannya: "Kamu tidak menoleransi hal-hal yang persis saya toleransi." Salah satu definisi "tolerance" (toleransi) dalam bahasa Inggris adalah: "Batas variasi yang diizinkan dari suatu besaran tertentu, terutama pada dimensi sebuah mesin atau komponen." Komponen manufaktur tidak pernah benar-benar sama persis. Jika sebuah pabrik memproduksi, katakanlah, 100.000 piston, tidak ada dua piston yang akan benar-benar sama. Selalu ada variasi, tetapi variasi itu harus berada dalam batas toleransi tertentu. Jika sebuah piston melampaui batas toleransi, piston tersebut dianggap tidak berfungsi dan harus dibuang.
The Liberal Charge: “You are not tolerant.” The Translation: “You do not tolerate the precise things that I tolerate.” One of the definitions of “tolerance” in the English language is: “An allowable amount of variation of a specified quantity, especially in the dimensions of a machine or part.” Manufactured parts are never exactly the same. If a factory produces, say, 100,000 pistons, no two pistons will be exactly equal. There is always variation but that variation has to be within a specific tolerance. If a specific piston is beyond tolerance, it is deemed dysfunctional and has to be trashed.
Kaum liberal berpura-pura sangat toleran tanpa batas dan menuduh pihak lain sebagai intoleran, padahal kenyataannya toleransi mereka memiliki batas. Toleransi tanpa batas, tentu saja, adalah oxymoron, sebuah kontradiksi dalam istilah. Perbedaannya, toleransi liberal pada akhirnya didasarkan pada kehendak sesaat dan keyakinan budaya yang serampangan, sedangkan toleransi Islam didasarkan pada hikmah dan petunjuk.
Liberals pretend to be infinitely tolerant and accuse others of being intolerant when in reality their tolerance has limits. Infinite tolerance, of course, is an oxymoron, a contradiction in terms. The difference is liberal tolerance is ultimately based on whims and haphazard cultural beliefs whereas Islamic tolerance is based on hikma and guidance.
Jika kita kembali ke contoh bagian mekanis hasil pabrikan, apabila tingkat toleransinya tidak dikalibrasi dengan benar, maka bagian-bagian yang dihasilkan akan tidak berfungsi dan tidak berguna. Demikian pula dengan manusia. Variasi yang tepat masih dapat ditoleransi, tetapi tidak semua jenis variasi dapat menghasilkan manusia yang berfungsi dan sehat. Dan siapa yang lebih mengetahui tentang kesehatan, fungsi, dan kesejahteraan manusia — dalam arti yang sebenarnya dari kata-kata tersebut — selain Sang Pencipta dan Pemelihara umat manusia?
If we go back to the example of the manufactured mechanical part, if the tolerance levels are not correctly calibrated, the resulting parts will be dysfunctional and useless. Similarly for human beings. The right kind of variation is tolerable, but not all kinds of variation can lead to a functioning, healthy human being. And who would know better about human health, function, and well-being — in the truest sense of those words — than the Creator and Maintainer of humankind?