14.2 Menyucikan Jiwa
14.2 Purifying The Mind
Sebagaimana seseorang dapat menderita penyakit hati, demikian pula ia dapat menderita penyakit akal. Namun dalam pemikiran Islam, hati dan akal saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan, sehingga keduanya memiliki pengaruh langsung satu sama lain.
Just as one can suffer from diseases of the heart, so too can one suffer from diseases of the intellect. But in Islamic thought the heart and the intellect are intimately linked and inseparable such that they have a direct impact on each other.
Kesombongan, misalnya, umumnya dipahami sebagai penyakit hati, namun kesombongan juga memengaruhi akal seseorang, yaitu kemampuannya untuk memahami dan menangkap kebenaran. Kesombongan bahkan dapat memengaruhi penglihatan sehingga seseorang menjadi buta terhadap kebenaran yang berada tepat di depan matanya. Ini adalah hal yang sehari-hari kita saksikan pada orang-orang di sekitar kita, ketika kita heran mengapa sebagian orang tidak bisa melihat sesuatu yang begitu jelas. Demikian pula dengan penyakit-penyakit seperti iri hati, kebencian yang dengki, dan ketamakan. Penyakit-penyakit seperti ini begitu parah sehingga tidak hanya merusak jiwa, tetapi juga menjangkiti seluruh tubuh, hingga sampai pada titik mengaburkan kemampuan seseorang untuk berpikir jernih. Ketika kita menganalisis karya sebagian pembaharu Muslim, kita dapat melihat tanda-tanda khas dari penyakit-penyakit ini dalam argumen yang mereka ajukan dan kesimpulan yang mereka tarik. Semoga Allah (SWT) menjaga kita dari keadaan yang demikian.
Arrogance, for example, is typically understood as a disease of the heart, but arrogance also affects one’s intellect, i.e., one’s ability to understand and grasp truth. Arrogance can even affect the eyes such that one is blinded from truths that are right before one’s eyes. And this is an everyday thing that we can observe with people around us, where we wonder why some cannot see something so obvious. Same goes for maladies such as jealousy, malicious hate, and greed. Such diseases are so severe that they not only lay waste to the soul but also infect the entire body, up to the point of clouding one’s ability to think clearly. When you analyze the work of some Muslim reformers, you can see the telltale signs of these diseases in the arguments they make and the conclusions they draw. May Allah spare us from such a condition.
Menyucikan hati dari penyakit-penyakitnya memungkinkan hati menjadi lebih siap menerima petunjuk dan cahaya. Namun, akal dan kemampuan berpikir seseorang juga dapat terkena penyakit. Dengan mengatasi penyakit-penyakit intelektual ini dan menyucikan akal darinya, daya nalar menjadi lebih siap menerima petunjuk dan cahaya.
Purifying the heart of its diseases allows the heart to be more receptive to guidance and light. But the mind and one’s ability to think can also be diseased. By addressing these intellectual diseases and purifying the mind of them, the intellect is more receptive to guidance and light.