4.2 Islam Tidak Menghormati Kebebasan Beragama
4.2 Islam Does Not Respect Freedom Of Religion
Banyak (tetapi tidak semua) orang yang keberatan dengan klaim, "Islam tidak menghormati kebebasan beragama," sebenarnya keberatan dengan gagasan bahwa Tuhan tidak menghormati kebebasan beragama. Itulah sebenarnya inti dari keberatan mereka. Gagasan bahwa hanya ada satu agama yang diterima oleh Tuhan secara mendasar menjijikkan bagi mereka. Bagaimana mungkin Tuhan tidak menghormati kebebasan hati nurani manusia? Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Penyayang tidak menghormati kebebasan manusia untuk memilih?
Many (but not all) of those who have a problem with the claim, “Islam does not respect freedom of religion,” actually have a problem with the idea that God does not respect freedom of religion. That is really the core of their problem. The idea that there is only one religion acceptable to God is inherently repulsive to them. How could God not respect people’s freedom of conscience? How could a merciful God not respect people’s freedom of choice?
Inilah juga sebabnya kita melihat sebagian Muslim yang menganut nilai seperti kebebasan beragama akhirnya meninggalkan Islam karena nilai tersebut. Mengapa? Nah, mengapa toleransi terhadap keyakinan beragama harus berakhir ketika mati? Jika kita menuntut, sebagai prinsip, etika, dan keadilan, agar para penguasa duniawi menoleransi setiap dan semua keyakinan secara setara, lalu mengapa kita tidak menuntut hal yang sama dari Tuhan? Tetapi kemudian kita mempelajari bahwa, tidak, kenyataannya keyakinan seseorang memang penting. Ia penting bagi Allah sebagaimana Dia telah memberitahukan kepada kita, bukan hanya dalam wahyu terakhir, tetapi juga dalam semua wahyu sebelumnya! Mempertahankan prinsip seperti kebebasan beragama untuk dunia tetapi eksklusivitas keselamatan untuk akhirat adalah, paling tidak, ketegangan besar, jika bukan kontradiksi yang nyata. Banyak Muslim dewasa ini, karena hidup di bawah pengaruh hegemonik liberalisme sekuler, semakin memilih untuk meninggalkan eksklusivitas keselamatan dan berpegang pada pandangan bahwa keyakinan tidak penting baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang seperti itu berkata: "Semua agama pada dasarnya sama," "Semua agama adalah jalan menuju Tuhan," "Semua agama mengarah kepada kebaikan," dan sebagainya. Mungkin tampak bahwa menghormati nilai kebebasan beragama hanyalah persoalan politik dan pragmatis yang boleh diperselisihkan kaum Muslim. Padahal, cita-cita politik memiliki konsekuensi serius bagi iman rata-rata seorang Muslim. Begitulah liberalisme filosofis, yang darinya nilai kebebasan beragama berasal, mampu secara halus namun signifikan memutarbalikkan keyakinan Muslim dan menyesatkan orang-orang beriman. Semoga Allah melindungi kita semua.
This is also why we see some Muslims who adopt a value like religious freedom ultimately leave Islam because of that value. Why? Well, why should tolerance for religious belief end at death? If we demand, as a matter of principle, ethics, and justice, that worldly rulers tolerate every and all beliefs equally, then why wouldn’t we demand that of God as well? But then we learn that, no, the reality is that it does matter what a person believes. It matters to God as He has informed us, not only in the last revelation, but also in all previous revelations as well! To maintain a principle like religious freedom for dunya but salvific exclusivity for the akhira is, to say the least, a major tension, if not an outright contradiction. Many Muslims today, as they are living under the hegemonic influence of liberal secularism, increasingly have opted to abandon salvific exclusivity and to maintain that beliefs neither matter in dunya nor in akhira. Such people preach: “All religions are essentially the same,” “All religions are paths to God,” “All religions lead to good,” etc. It might appear that respecting the value of religious freedom is merely a political and pragmatic issue that Muslims can disagree about. In reality, political ideals have severe consequences for the iman of the average Muslim. This is how philosophical liberalism—from which the value of religious freedom originates—is able to subtly but significantly distort Muslim belief and misguide otherwise faithful believers. May Allah protect us all.