9.8 Arah Logis Moralitas
9.8 The Logical Direction Of Morality
Sering kita mendengar bahwa hukum Islam perlu menyesuaikan diri dengan zaman. Sering pula kita mendengar argumen bahwa dunia kita jelas berbeda dengan dunia Arab abad ketujuh pada masa datangnya Islam. Maka, jika zaman telah berubah, hukum dan etika juga harus berubah.
We often hear that Islamic law needs to get with the times. We often hear the argument that clearly our world differs from the world of seventh-century Arabia at the advent of Islam. So, if times have changed, then law and ethics must change.
Pertama-tama, keadaan sebenarnya tidak berubah sebanyak yang sering orang kira. Manusia tetaplah manusia. Hakikat dasar kita belum berubah secara drastis sehingga memerlukan jenis reformasi yang selama ini diserukan oleh sebagian kalangan progresif dan pembaharu Muslim.
First of all, things have not changed as much as people like to think they have. Human beings are still human beings. Our fundamental nature has not drastically transformed such as would require the kind of reforms some Muslim progressives and reformers have been calling for.
Kedua, sikap seperti ini secara keseluruhan menunjukkan kekeliruan mendasar tentang sifat logis dan arah hukum serta moralitas. Moralitas tidak mencerminkan bagaimana dunia itu, melainkan bagaimana dunia seharusnya. Ingin mengubah komitmen moral kita berdasarkan hal-hal yang terjadi di dunia adalah tidak logis. Memang, kita bisa mempelajari hal-hal baru yang mungkin memengaruhi cara kita menerapkan standar moral. Namun hal-hal baru semacam itu tidak akan mengubah prinsip moral yang sedang dibahas itu sendiri.
Second of all, this entire attitude belies a fundamental confusion about the logical nature and direction of law and morality. Morality does not reflect how the world is but how the world ought to be. To want to edit our moral commitments on the basis of things that happen in the world is logically unsound. Sure, we can learn new things that may affect how we apply our moral standards. But such new things are not going to modify the actual moral principle at hand.
Contoh: Sebagai umat Islam, kita mengetahui keburukan riba. Di dunia modern, riba ada di mana-mana. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa mengingat "realitas baru" ini, umat Islam sebaiknya meninjau ulang seberapa ketat mereka dalam hal riba. Mereka akan berargumen bahwa Islam membutuhkan "reformasi ekonomi", begitu istilahnya. Pada kenyataannya, tidak ada realitas baru yang revolusioner yang menuntut reformasi semacam itu. Dasar-dasar jual beli dan pengejaran keuntungan tetap pada dasarnya sama sepanjang peradaban manusia. Memang, setiap konteks memiliki rincian yang perlu diperhitungkan, dan secara historis keilmuan Islam tradisional sangat dinamis dalam menanggapi perubahan setiap zaman. Namun, prinsip-prinsip moral dasarnya tetap konsisten. Jika dunia kini tenggelam dalam riba, umat Islam seharusnya semakin waspada menentang kenormalan baru itu. Itulah arah normativitas: berdasarkan komitmen etis kita, kita ingin mengubah dunia menjadi lebih baik, bukan mengubah komitmen etis kita untuk mengakomodasi tuntutan dunia di sekitar kita.
Example: As Muslims, we know the immorality of riba. In the modern world, riba is everywhere. Some might say that given this “new reality,” Muslims should reconsider how strict they are about usury. They will argue that Islam needs an “economic reformation” so to speak. In actuality, there is no groundbreaking new reality that would require such a reformation. The basics of buying, selling, and the pursuit of profit has remained fundamentally the same for all of human civilization. Granted that there are details in every context that need to be accounted for, and historically traditional Islamic scholarship has been very dynamic in how it has spoken to the vagaries of every age. But, the basic moral principles are consistent. If the world is now drowning in usury, Muslims should be all the more vigilantly opposed to that new normal. That is the direction of normativity: On the basis of our ethical commitments, we desire to change the world for the better, not change our ethical commitments to accommodate the demands of the world around us.
Tentu saja, terkadang dunia tampak tidak dapat berubah. Terkadang kita terbebani oleh betapa jauhnya dunia menyimpang dari apa yang kita ketahui sebagai kebenaran dan keadilan. Namun kita tidak boleh pernah kehilangan harapan atau terjerumus ke dalam nihilisme dan kebencian terhadap saudara-saudari kita sesama manusia.
Of course, sometimes the world seems unchangeable. Sometimes we are overwhelmed by how drastically the world diverges from what we know to be truth and justice. But we should never lose hope or descend into a nihilistic loathing for our brothers and sisters in humanity.
Hadits yang paling memberi harapan dalam hal ini adalah: "Jika Hari Kiamat hampir terjadi dan salah seorang dari kalian sedang memegang tunas kurma, maka hendaklah ia memanfaatkan walaupun hanya satu detik sebelum Hari Kiamat terjadi untuk menanamnya."38
The most hopeful hadith in this regard is: “If the Hour [the day of Resurrection] is about to be established and one of you was holding a palm shoot, let him take advantage of even one second before the Hour is established to plant it.”38
Betapapun keadaan tampak suram dan tanpa harapan, adalah tanggung jawab moral kita untuk melakukan apa yang mampu kita lakukan.
No matter how dire and hopeless the circumstances may seem, it is our moral responsibility to do what we can.