4.5 Alkohol dan Kebebasan
4.5 Alcohol And Freedom
Salah satu pendapat yang sering terdengar adalah bahwa Islam tidak menghormati kebebasan memilih. Hal ini disorot oleh larangan Islam terhadap minuman keras, konsumsinya, dan penjualannya. Di Barat yang menjunjung kebebasan, alkohol mengalir dengan bebas. Jika Anda ingin meminumnya, Anda memiliki kebebasan untuk memilih. Jika tidak, Anda dapat memilih untuk menahan diri. Pada akhirnya, alkohol hanya memengaruhi tubuh Anda sendiri dan tidak menimbulkan bahaya bagi orang lain. Jadi, sebagai orang dewasa, Anda dapat membuat keputusan itu untuk diri sendiri, dan akan menjadi penindasan bagi seseorang atau suatu agama untuk menghalangi Anda menjalankan pilihan tersebut.
One of the common lines you hear is that Islam does not respect freedom of choice. This is highlighted by Islam’s prohibition of alcohol, its consumption and sale. In the freedom-loving West, alcohol flows freely. If you wish to partake, you have that freedom of choice. If not, you can choose to abstain. Ultimately, alcohol just affects your own body and doesn’t cause anyone else any harm. So as an adult, you can make that decision for yourself and it would be oppressive for a person or a religion to prevent you from exercising that choice.
Mari kita selidiki hal ini.
Let’s investigate this.
Semua sistem hukum membatasi pilihan dalam bentuk tertentu, dan ada alasan-alasan yang diberikan untuk hukum-hukum dalam sistem tersebut. Misalnya, hukum Amerika Serikat mewajibkan seseorang memiliki surat izin mengemudi untuk mengoperasikan mobil. Hukum itu sangat membatasi kebebasan orang untuk bepergian, tetapi dipandang perlu karena alasan praktis. Jika orang diperbolehkan mengemudi tanpa surat izin, jumlah kecelakaan lalu lintas akan melonjak. Jumlah korban jiwa akibat kecelakaan mobil akan membengkak. Kerusakan harta benda masyarakat akan meningkat secara eksponensial. Jadi, inilah alasan-alasan praktis mengapa kita menginginkan hukum seperti itu diberlakukan. Hukum itu mencegah bahaya.
All legal systems constrain choice in one shape or another and there are justifications that are given for the laws of that system. For example, US law requires a person to have a driver’s license in order to operate an automobile. That law severely constrains people’s freedom of mobility, but it is seen as necessary for practical reasons. If people are allowed to drive without a license, the number of car accidents will skyrocket. Car accident fatalities will balloon. Damage to people’s property will increase exponentially. So, these are all practical reasons why we would want to have such a law in place. It prevents harm.
Sekarang, satu poin teoretis yang selalu dapat ditelusuri adalah: apa yang dianggap "mudharat" dan apa yang dianggap "maslahat" bergantung pada asumsi yang kita buat tentang dunia serta keyakinan dan komitmen yang lebih luas. Tetapi mari kita kesampingkan hal itu untuk sementara.
Now, one theoretical point that can always be pursued is: What is considered “harm” and what is considered “practical” depend on the assumptions you make about the world and your broader beliefs and commitments. But let’s bracket that for now.
Mari kita anggap saja standar praktis dan bahaya yang umum di Barat, lalu kita lihat lebih dekat konsumsi alkohol. Menurut penelitian terbaru, Fetal Alcohol Spectrum Disorder (FASD) memengaruhi setidaknya 5% populasi di Amerika Serikat, dan di sebagian komunitas angkanya mencapai 40%. FASD menyebabkan berbagai gangguan psikologis dan kesulitan belajar, serta dapat berujung pada perilaku antisosial yang parah. Banyak anak yang terdampak harus menjalani pendidikan khusus, banyak yang berakhir di penjara, banyak yang sulit mendapat pekerjaan, dan tidak sedikit yang terjerumus ke narkoba dan kejahatan. Semua ini adalah akibat dari gangguan yang disebabkan oleh ibu hamil yang minum alkohol. Bahkan jumlah alkohol yang sedikit pun dapat cukup untuk membuat bayi berada pada spektrum ini. Masalahnya, terkadang perempuan tidak menyadari dirinya hamil dan terus melanjutkan kebiasaan minumnya, tanpa tahu bahwa mereka berpotensi memberikan FASD kepada janin yang dikandungnya.
Let’s just assume common Western standards of practicality and harm and take a closer look at alcohol consumption. According to the most recent research, Fetal Alcohol Spectrum Disorder (FASD) affects at least 5% of the population in the US and in some communities affects 40%. FASD causes all kinds of psychological and learning disabilities and can result in severe anti-social behavior. A lot of the kids affected by this have to go through special education, many end up in prison, many are unemployable and end up falling into drugs and crime. All of this is the result of a disorder caused by pregnant women who drink. Even a small amount of alcohol consumption can be enough to cause an infant to be on this spectrum. The thing is, sometimes women don’t realize they are pregnant and continue their drinking habits not knowing that they are potentially giving their unborn child FASD.
Bagaimanapun juga, bahaya yang ditimbulkan kepada anak sangatlah besar. Tidak banyak bahaya yang lebih besar daripada menyebabkan seseorang mengalami keterbelakangan mental. Dan di luar bahaya yang menimpa anak itu, ada pula bahaya yang ditimbulkan kepada masyarakat secara keseluruhan. Anak-anak ini menjadi tanggungan negara. Lembaga-lembaga negaralah yang harus mengurus anak-anak tersebut atau membereskan akibat yang ditimbulkan mereka, mengawasi mereka, dan sebagainya. Ini adalah beban publik yang sangat besar, yang dibayar dengan uang pajak kita yang berasal dari penghasilan kita. Semua hal ini membatasi dan mengurangi kebebasan yang begitu gigih diklaim oleh budaya Barat untuk dimilikinya.
In any case, the harm that is caused to a child is astronomical. There are fewer harms greater than causing a person to have mental retardation. And beyond the harm caused to the child, there is also the harm caused to society overall. These children become wards of the state. It is state institutions that have to take care of these kids or clean up after them, police them, etc. This is a gigantic public cost that is paid for with our tax dollars coming from our income. All of these things restrict and attenuate the freedom that Western culture so ardently claims to covet.
Mengingat semua fakta ini dan dari perspektif ini, hukum AS tidak secara jelas lebih "cinta kebebasan" dan "menjaga pilihan" daripada hukum Islam dalam hal alkohol. Penalaran seperti inilah yang menunjukkan kepada kita betapa hampa dan pada akhirnya tidak bermaknanya seruan-seruan kepada kebebasan dan pilihan itu. Namun, justru seruan-seruan inilah yang seharusnya membuat kita menyadari betapa membatasi, terbelakang, dan bertentangan dengan kemajuan manusia hukum Islam itu, dan betapa memberdayakan, berpikiran maju, serta kondusif bagi kemajuan manusia hukum sekuler itu. Jangan mudah percaya begitu saja.
Given all these facts and from this perspective, US law is not clearly more “freedom-loving” and “choice-preserving” than Islamic law as far as alcohol is concerned. It is reasoning like this that shows us how vacuous and ultimately meaningless these appeals to freedom and choice really are. Yet, it is precisely these appeals that are supposed to get us to realize how restrictive, backwards, and contrary to human progress Islamic law is and how empowering, forward-thinking, and conducive to human progress secular law is. Don’t be a sucker.
Dan dampak alkohol terhadap manusia paling baik digambarkan melalui kisah-kisah manusia. Sebuah artikel berita membagikan yang berikut:
And the human cost of alcohol is best illustrated with human stories. One news article shared the following:
Susan Earl masih berusaha menerima kenyataan atas pesta-pesta yang ia jalani di usia pertengahan 20-an, sebelum ia menjadi seorang ibu. Pada masa itu, ia biasanya menghabiskan sebagian besar akhir pekan di klub bersama teman-temannya. Ia biasanya minum beberapa gelas. Kekasihnya saat itu mendorongnya melakukan hal tersebut karena membuatnya lebih santai. Ia sekitar enam minggu hamil ketika mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung. "Saya berhenti minum begitu tahu," kata Earl. Namun itu tidak cukup cepat.
Susan Earl is still coming to terms with the partying she did in her mid-20s, before she became a mother. Back then, she used to spend most weekends at clubs with friends. She usually had a few drinks. Her boyfriend at the time encouraged her because it loosened her up. She was about six weeks into a pregnancy when she learned she was expecting. “I stopped drinking as soon as I found out,” Earl said. It wasn’t soon enough.
Quinton Mills, putranya, lahir empat minggu lebih awal, memiliki ciri-ciri wajah khas sindrom alkohol janin. Bicaranya terlambat berkembang, dan ketika di taman kanak-kanak ia mulai menggigit, menendang, dan berteriak. Ia di-bully oleh teman-teman sekelasnya. Ia mengompol hingga usia 12 tahun.9
Quinton Mills, her son, born four weeks early, had the characteristic facial features of fetal alcohol syndrome. His speech was delayed, and in kindergarten he started biting, kicking, and screaming. He was bullied by classmates. He wet his bed until he was 12.9
Saya menantang Anda untuk tidak merasa sedih setelah membaca tentang anak yang tidak bersalah ini. Siapa pun yang memiliki sedikit saja akal sehat dan kasih sayang akan tahu bahwa perlu ada tindakan untuk membatasi lebih jauh akses masyarakat terhadap alkohol dan membiasakan orang untuk tidak minum. Islam dan budaya Islam telah berhasil mempertahankan masyarakat yang hampir bebas alkohol selama berabad-abad. Mengapa dunia lain tidak bisa belajar dari keberhasilan Islam?
I challenge you not to be heartbroken after reading about this innocent child. Anyone with the slightest amount of sense and compassion would know that something needs to be done to further restrict people’s access to alcohol and condition people not to drink. Islam and Islamic culture have successfully maintained virtually alcohol-free societies for centuries. Why can’t the rest of the world learn from Islamic success?
Bagaimanapun juga, baru relatif belakangan, setelah masa kolonisasi, racun ini tidak hanya diperkenalkan kembali ke tengah masyarakat Muslim, tetapi juga dimuliakan oleh media dan hiburan Barat, sehingga kaum Muslim dari Teheran hingga Karachi hingga Rabat memandang minum-minuman keras sebagai bentuk kebebasan dan tanda kecanggihan.
In any case, it wasn’t until relatively recently after colonization that this poison has been not only reintroduced into Muslim societies but has been glamorized by Western media and entertainment, such that Muslims from Tehran to Karachi to Rabat see drinking as a form of liberation and a mark of sophistication.
Betapa membebaskan dan canggihnya sebuah masyarakat yang secara aktif menyebabkan keterbelakangan mental pada anak-anaknya yang berharga? Apakah itu yang kalian inginkan? Jika kalian tidak cukup manusiawi untuk tunduk kepada Penciptamu, setidaknya bersikaplah cukup manusiawi untuk menyelamatkan anak-anak yang tidak bersalah.
How liberating and sophisticated is a society actively inducing mental retardation in its precious children? Is that what you want? If you are not human enough to submit to your Maker, at least be human enough to spare innocent children.
9. "Dokter di Chicago ini tanpa sengaja menemukan wabah tersembunyi kerusakan otak janin." https://www.pbs.org/newshour/health/this-chicago-doctor-stumbled-on-a-hidden-epidemic-of-fet
9. “This Chicago doctor stumbled on a hidden epidemic of fetal brain damage.” https://www.pbs.org/newshour/health/this-chicago-doctor-stumbled-on-a-hidden-epidemic-of-fet