13.3 Mata Tunggal Politik Modern
13.3 The Single Eye Of Modern Politics
Jika Anda pernah bertanya-tanya bagaimana Dajjal, yakni Al-Masih ad-Dajjal, bisa memiliki pengikut yang begitu banyak di antara manusia, termasuk kaum Muslim, meskipun ia memiliki cacat fisik, bersikap zalim, dan kata kafir tertulis secara harfiah di wajahnya, jangan mencari jauh-jauh. Lihatlah politik modern.
If you have ever wondered how the prophesied Dajjal, i.e., the anti-Christ, could have such a large following among people, including Muslims, despite his physical disfigurement, his tyranny, and the word kafir literally spelled out on his face, look no further than modern politics.
Saya selalu bertanya-tanya tentang hal ini. Mengapa ada orang yang mau mengikuti makhluk yang jelas-jelas jahat? Jawabannya ada di sekitar kita. Kita melihat bentuk-bentuk dari hal yang sama terjadi hari ini, di Timur maupun di Barat. Ada politisi yang secara terbuka melakukan segala macam kekejaman terhadap umat manusia. Mereka melakukan pembantaian, serangan drone, pencurian, korupsi, dan peracunan, semuanya di hadapan pengawasan publik. Namun tampaknya tidak ada yang peduli. Maksud saya, apakah seseorang benar-benar peduli terhadap pembunuhan dan penindasan yang dilakukan oleh tangan orang seperti Presiden Obama, jika pidatonya yang manis dan penuh pencitraan sudah cukup untuk membuat orang itu memuji dengan air liur menetes dan pengabdian yang ternganga?
I always wondered about this. Why would anyone follow such a clearly evil being? The answer is all around us. We see shades of the same thing happening today, in the East and West. You have politicians that openly commit all manner of atrocity against the human race. They massacre, drone strike, steal, corrupt, poison — all in full view of public scrutiny. But no one seems to care. I mean, does a person really care about the murder and oppression wrought by the hands of someone like a President Obama if him making a sappy, pandering speech is enough to elicit drooling praise and slack-jawed devotion from that person?
Banyak kejahatan dibersihkan dalam benak orang. Pengeboman, invasi, pendudukan — semua ini tak lebih dari "geopolitik" atau "kebijakan luar negeri yang tegas." Membunuh orang tak bersalah tak lebih dari "korban sampingan." Memiliterisasi kepolisian yang kemudian meneror masyarakat dan bertanggung jawab atas rentetan kebrutalan dan kematian tanpa henti tak lebih dari "keras terhadap kejahatan" dan "serius soal keamanan." Apakah kata-kata yang dipoles saja sudah cukup membuat kalian semua tunduk? Hanya dengan memilih istilah yang cermat, lalu tiba-tiba kalian tak lagi melihat pisau jagal yang memutilasi mayat? Apakah terminologi yang dipintal dengan apik itu seperti ramuan ajaib yang tak mampu ditolak oleh pikiran kalian?
So many crimes are whitewashed in the minds of people. Bombing, invading, occupying — these are nothing more than “geopolitics” or “hawkish foreign policy.” Killing innocent people is nothing more than “collateral damage.” Militarizing a police force that then terrorizes society and is responsible for an endless stream of brutality and death is nothing more than being “tough on crime” and “serious about security.” Is creative wording all it takes for you people to fall in line? Just some carefully chosen terms and suddenly you can’t see the butcher’s knife mutilating the corpse? Is well-spun terminology like a magic elixir that your mind cannot resist?
Jika memang demikian, cukup pegang satu hal: Tuhan tidak bermata satu.
If so, just try to hold on to one thing: God is not one-eyed.