7.3 Tidak Ada "Pluralisme" dalam Ilmu Pengetahuan
7.3 There Is No “pluralism” In Science
Dalam bidang-bidang tertentu, tidak ada konsep pluralisme. Dalam sains, misalnya, diasumsikan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Memang bisa saja ada beberapa teori yang saling bersaing, tetapi pada akhirnya diasumsikan bahwa salah satu teori itulah yang benar, dan tugas para ilmuwan adalah meneliti, berdebat, menganalisis, mempertimbangkan dengan cermat, dan berupaya mencapai jawaban tersebut.
When it comes to certain fields, there is no such concept as pluralism. In science, for example, it is assumed that there is only one right answer. Sure, there can be multiple competing theories, but ultimately one theory is assumed to be the correct one and it is the job of scientists to investigate, to debate, to analyze, to carefully consider, and to work to come to that answer.
Sebaliknya, dewasa ini kita tidak diajarkan untuk menganggap agama mana pun benar atau salah. Sebaliknya, agama dipandang sebagai persoalan identitas pribadi, perasaan pribadi, dan apa yang secara subjektif dirasakan seseorang sebagai kebenaran. Agama tidak berkaitan dengan fakta dan ilmu pengetahuan; oleh karena itu, menurut logika ini, bagaimana mungkin agama mana pun dapat dianggap "benar" atau "sahih"? Jika seseorang berangkat dari pandangan "subjektivis" tentang agama ini, ia mungkin cenderung berpikir bahwa, dalam arti tertentu, "semua agama itu benar" dalam satu dan lain cara.
In contrast, today we are not taught to think of any given religion as being right or wrong. Rather religion is about personal identity, personal feelings, what you subjectively feel to be the case. Religion is not about facts and knowledge, therefore, the reasoning goes, how can any given religion be considered “correct” or “true”? If you are coming from this “subjectivist” view of religion, then you might be prone to think that, in a sense, “all religions are true” in one way or another.
Namun secara historis, orang tidak memandang agama seperti ini. Agama dipahami dengan cara yang mirip dengan cara orang masa kini memandang ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa memahami realitas berarti memahami Tuhan, dan memahami Tuhan berarti memahami apa yang telah Dia firmankan. Maka tidak mengherankan bahwa orang-orang yang paling berpengetahuan dan terdidik dalam masyarakat pada masa lampau umumnya juga yang paling dalam ilmu agamanya. Tidak pula kebetulan bahwa perdebatan antaragama di masa lalu berlangsung pada tingkat teologis, misalnya umat Kristen dan Muslim berdebat tentang hakikat Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan sebagainya, sedangkan saat ini sebagian besar dari sedikit perdebatan antaragama yang terjadi berfokus pada persoalan moral seperti hak asasi manusia, hak perempuan, toleransi, dan sejenisnya.
But historically, people did not have this view of religion. Religion was thought of in a similar way to how people today think of science in the sense that understanding reality means understanding God and understanding God means understanding what God has said. It was no coincidence, then, that typically the most knowledgeable and educated people in society in the past were also the most religiously learned. It is also not a coincidence that inter-religious debates in the past happened on the theological level, e.g., Christians and Muslims debating about the nature of God, His attributes, etc., whereas today, most of the handful of inter-religious debates that happen focus on moral concerns like human rights, women’s rights, tolerance, etc.
Penting untuk dicatat bahwa memiliki pandangan "objektivis" tentang agama tidak dengan sendirinya bertentangan dengan toleransi. Misalnya, masyarakat sekuler saat ini memiliki pandangan objektivis dalam hal sains, namun tetap memberikan toleransi kepada orang-orang yang tidak melek sains atau bahkan keliru dalam keyakinan ilmiahnya. Akan tetapi, masyarakat saat ini menarik batas ketika keyakinan ilmiah yang keliru itu membahayakan orang lain, di mana bahaya itu sendiri didefinisikan berdasarkan paradigma ilmiah yang dianggap benar.
It is important to note that having an “objectivist” view of religion does not in itself contravene tolerance. For example, our present secular society has an objectivist view when it comes to science, but there is still tolerance for people who are scientifically illiterate or who may even be downright wrong about what they scientifically believe. However, present society draws the line when it comes to people’s incorrect scientific beliefs harming others, where harm itself is defined according to what is considered to be the correct scientific paradigm.
Contoh sederhana adalah seluruh perdebatan tentang vaksinasi. Orang boleh percaya apa pun yang mereka inginkan tentang dampak vaksin terhadap anak-anak, tetapi pada suatu titik, pemerintah diberi mandat untuk ikut campur dan menyatakan bahwa anak-anak harus divaksinasi, dan seterusnya. Hal ini terjadi karena ada keyakinan bahwa jika orang dibiarkan mengikuti keyakinan mereka yang keliru melewati batas tertentu, hal itu akan membawa dampak negatif yang lebih luas.
A simple example is the whole vaccination debate. People can believe whatever they want about the impact of vaccines on children, but at some point, the government was given the mandate to intervene and say that children must be vaccinated, etc. This is because there was a belief that if people were allowed to pursue their incorrect beliefs past a certain point, that would have wider negative ramifications.
Mungkin kita perlu memahami toleransi dalam Islam dengan cara yang sama. Di masyarakat Islam pada masa lalu, toleransi semacam ini juga ada. Toleransi hukum Islam dan kaum Muslim terhadap umat Kristen, Yahudi, serta praktik keagamaan mereka sudah dikenal luas dan terdokumentasi dengan baik. Dengan kata lain, ada ruang bagi orang untuk dianggap keliru menurut paradigma yang dominan, tetapi toleransi tersebut memiliki batas. Hal ini juga kita lihat dalam masyarakat sekuler masa kini, meskipun hal itu tidak selalu dipahami demikian.
Perhaps we should understand Islamic tolerance in the same light. In past Islamic societies, this kind of tolerance also existed. Muslim and Islamic law’s tolerance for Christians, Jews, and their respective religious practices are well known and documented. In other words, there was room for people to be wrong from the perspective of the dominant paradigm but there were limits to that tolerance. This is something we see in present secular society as well, though things are not conceived as such.