6.11 Memakai Hijab sebagai Bentuk Pembangkangan
6.11 Wearing Hijab As Disobedience
Dalam sebuah dokumenter BBC baru-baru ini tentang Islam dan perempuan, seorang perempuan Muslim muda (yang mengenakan hijab) ditanya apakah hijab merupakan bentuk penindasan.34 Jawabannya benar-benar mengerikan:
In a recent BBC documentary about Islam and women, a young Muslim woman (who wears hijab) was asked whether hijab is a form of oppression.34 Her response was absolutely chilling:
"Bagi seseorang untuk mengatakan kepadaku bahwa aku harus memakai hijab, jika ada yang menyuruhku melakukan itu, aku akan melepas hijabku. Jika kalian akan memaksaku memakai hijab, aku akan melepasnya. Aku memakainya karena cinta, ini identitasku, ini sesuatu yang aku cintai, dan aku bahkan tidak akan mengatakan bahwa aku melakukannya karena Tuhanku menyuruhku. Segala yang Tuhanku perintahkan kepadaku, Dia memberiku pilihan. Aku melakukannya karena aku ingin melakukannya dan aku mencintainya. Ini bagian dari agamaku dan aku memilikinya." "Yang menakutkan, banyak Muslim muda tidak akan memahami mengapa pernyataan ini begitu tercela. Mereka tidak akan mengenali kekufuran yang tersirat dalam pernyataan seperti ini. Inilah kekuatan korosif liberalisme yang halus, yang memengaruhi orang secara mendalam tanpa mereka sadari. Bagaimana mungkin seseorang berpikir, 'Jika Tuhan memerintahkan sesuatu kepadaku, aku tidak akan melakukannya'? Nah, itu masuk akal jika seseorang telah tertanam doktrin. Jika kamu dipaksa melakukan sesuatu, itu mengurangi 'otonomi' kamu. Itu mengurangi kemampuanmu untuk 'memilih dengan bebas'. Dan apa pun yang mengurangi kebebasan dan kemerdekaanmu dengan cara ini adalah kejahatan. Merampas kemampuanmu untuk memilih berarti merampas identitasmu, siapa dirimu. 'Dan apa yang bisa lebih buruk dari itu?' tanya Muslim muda yang tenggelam dalam politik identitas yang dipengaruhi aktivisme keadilan sosial di zaman ini, yang dipromosikan oleh Muslim maupun non-Muslim."
“For someone to tell me I have to wear the hijab, if someone tells me to do that, I’m taking my hijab off. If you’re going to force me to wear the hijab, I’m taking it off. I wear this out of love, this is my identity, this is something that I love and I wouldn’t even say that I do it because my God tells me to do it. Everything that my God tells me to do, He gives me a choice, I’m doing it because [I] want to do it and I love it. It’s part of my religion and I own it.” The scary thing is, many younger Muslims will not understand why this is so objectionable. They will not recognize the kufr implied in a statement like this. This is the subtle corrosive power of liberalism that deeply affects people without them even realizing it. How could you think, “If God tells me to do something, I won’t do it”? Well, it makes sense if you have been indoctrinated. If you are forced to do something, then that takes away from your “autonomy.” It takes away from your ability to “freely choose.” And anything that reduces your freedom and liberty in this way is evil. To take away your ability to choose is to take away from your identity, from who you are. “And what could be worse than that?” asks the young Muslim who is steeped in the social-justice-warrior infused identity politics of the age, promoted by Muslims and non-Muslims alike.
Titik permasalahannya ada di sini:
The sticking point is here:
Bukankah Tuhan memerintahkan kita untuk melakukan hal-hal tertentu dan melarang kita dari hal-hal lain? Dan bukankah ada konsekuensi berat bagi mereka yang tidak berserah diri dan taat kepada Tuhan? Inilah tepatnya yang dimaksud dengan paksaan dan pemaksaan! Melalui jalan pikir inilah umat Islam yang terpengaruh liberalisme dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan 1: Tuhan itu zalim (wa na`udhu billah), atau Pilihan 2: Tuhan tidak zalim, tetapi Tuhan juga tidak memerintahkan atau melarang kita dalam hal apa pun. Kedua pilihan itu adalah kufur.
But doesn’t God command us to do certain things and prohibit us from other things? And aren’t there steep consequences for not submitting and obeying to God? This is precisely what force and coercion are! It is through this line of reasoning that those Muslims affected by liberalism face two options. Option 1: God is evil (wa na`udhu billah) or, Option 2: God is not evil, but God doesn’t command us or prohibit us in anything either. Both options are kufr.
Jalan keluar dari dilema ini adalah dengan mengkritisi liberalisme dan membongkar (mendekonstruksi) konsep-konsep seperti kebebasan, otonomi, paksaan, dan lain sebagainya.
The way out of this dilemma is to critique liberalism and to deconstruct concepts like freedom, autonomy, coercion, etc.
34. https://www.bbc.co.uk/taster/pilots/my-hijab-and-me
34. https://www.bbc.co.uk/taster/pilots/my-hijab-and-me