1. Hidup dalam dunia sekuler.
1. Lives in a secular world.
2. Pergi ke sekolah dengan kurikulum sekuler yang didasarkan pada filsafat sekuler, yang terus-menerus mempertanyakan dan mengkritik keimanan atas dasar "berpikir kritis".
2. Goes to schools with secular curricula based on secular philosophies that constantly question and critique faith on the basis of “critical thinking,”.
3. Berada dalam budaya sekuler elitis yang menganggap Islam sebagai sesuatu yang terbelakang dan teroristik.
3. Is embedded in an elitist secular culture that considers Islam retrograde and terroristic.
4. Setiap hari kita terpapar media, film, dan musik yang mengabaikan atau mempertanyakan keberadaan Tuhan, dan menyerang Islam secara khusus.
4. Is every day exposed to media, movies, and music that ignore or question the existence of God and attack Islam in particular.
5. Tinggal di lingkungan intelektual yang pada umumnya sekuler, di mana menjadi "religius" dianggap sama dengan kepolosan, bersikap skeptis terhadap agama dianggap sama dengan pencerahan, dan menjadi seorang Muslim dianggap sama dengan kesederhanaan berpikir paling ringan, atau barbarisme abad pertengahan paling buruk. Namun setelah semua itu, ia tetap memegang keyakinan dan kepercayaan diri pada keimanan Islamnya, dan bertahan meski tekanan yang menguasai segalanya, seperti menggenggam bara api yang membara.
5. Resides in an overall secular intellectual milieu where being “religious” is tantamount to naivety, being skeptical of religion is tantamount to enlightenment, and being Muslim is tantamount to simple-mindedness at best, medieval barbarity, at worst. And then, after all that, maintains conviction and confidence in his Islamic beliefs and holds firm despite the all consuming pressure, like clutching a burning ember?
Siapa yang benar-benar menentang arus dan mencari kebenaran di tengah kesulitan yang luar biasa?
Who has really gone against the tide and sought after the truth in the face of overwhelming adversity?