11.5 Mengubah Masyarakat yang Rusak Menjadi Islam
11.5 Changing a Corrupt Society to Islam
Untuk mengubah suatu kaum diperlukan peningkatan intelektual; manusia bertindak berdasarkan keyakinan yang mereka pegang. Untuk mengubah suatu masyarakat diperlukan perubahan pada keyakinan, hubungan, dan sistem yang mengaturnya. Nabi ﷺ dan para sahabatnya menargetkan hal ini secara khusus, namun untuk meraih kemenangan diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dalam menghadapi kesulitan yang besar. Gugurnya banyak kaum Muslimin awal akibat siksaan dan penindasan menjadi bukti nyata dari berbagai kesulitan yang mereka hadapi.
To change a people requires an intellectual elevation; people act based upon the beliefs they carry. To change a society requires a change in their beliefs, relations and the system governing them. The Prophet (saw) and his companions targeted this specifically, but to achieve the victory would require a supreme effort against great difficulty. The loss of many early Muslims through torture and oppression bears testimony to the difficulties they faced.
Untuk mempersiapkan mereka menghadapi perjuangan, Nabi ﷺ membina para sahabatnya secara mendalam; hal ini membentuk apa yang dikenal sebagai tahap budaya atau tahap pertama. Mereka biasa mempelajari hingga larut malam bukan hanya akidah, tetapi juga cara belajar dan berpikir yang khas. Yaitu merujuk semata-mata kepada Islam dalam segala urusan, serta mengembangkan mentalitas politik yang sangat kreatif. Bahwa Nabi ﷺ mampu membina begitu banyak sahabat besar dengan kualitas kenegarawanan yang kuat merupakan bukti besar atas komitmen dan pendekatan mereka terhadap Islam.
To prepare them for the struggle, the Prophet (saw) cultured his companions deeply; this formed what was known as the cultural or first stage. They used to study late into the night not only the belief but also a unique way of learning and thinking. To refer solely to Islam for all matters and to develop a deeply creative political mentality. That the Prophet (saw) could develop so many great companions with such strong statesmanlike qualities was a great tribute to their commitment and approach to Islam.
Mus‘ab ibn ‘Umayr hanyalah satu contoh dari mereka yang berkembang dengan sangat pesat dan memberikan pengaruh yang luar biasa di Madinah hanya dalam waktu satu tahun, sebelum berdirinya Negara di sana. Setelah suatu masa di mana budaya Islam telah tertanam kuat dalam diri kaum Muslimin dalam kelompok tersebut, dan kepribadian mereka sepenuhnya Islami, datanglah perintah agar mereka menyampaikan dakwah secara terbuka dan dengan cara yang menantang. Hal ini sangat penting untuk menghadapi sistem dan pemikiran yang rusak yang mendominasi masyarakat pada masa itu, yaitu pemikiran kufur yang sama yang mendominasi dunia saat ini. Allah (SWT) berfirman: “Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami cukup bagimu terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan.” [TMQ 15:94-95]
Mus‘ab ibn ‘Umayr was just one example of those that were so developed and had such a startling affect in Madinah in only one short year, prior to the establishing of the State there. After a period in which the culture was well ingrained within the Muslims of the group and the personality was totally Islamic, the command came that they should approach the da‘wah in a most public and challenging manner. This was critical in order to confront the corrupt systems and thoughts dominating the society of the time, the same kufr thoughts dominating the world today. Allah (swt) says,: “Therefore, proclaim that which you are commanded, and turn away from the polytheists. Verily, We are sufficient unto you against those that scoff.” [TMQ 15:94-95]