4. Kesalahpahaman
4. Misconceptions
Dunia telah hidup tanpa Negara Islam sejak tahun 1924, ketika Khilafah ‘Utmaniyyah dihancurkan. Hal ini, bersama dengan aparat media yang dikuasai oleh orang-orang kafir dan rezim-rezim kejam di negeri-negeri Muslim, mencegah pemahaman dan pengajaran Islam yang benar beserta konsep-konsepnya tentang kehidupan sampai kepada dunia. Akibatnya, kita mendapati kebanyakan orang memegang berbagai salah paham dan gagasan keliru yang digambarkan sebagai bagian dari Islam. Bagian ini berupaya menjelaskan sebagian dari salah paham tersebut, yang telah disinggung dalam bab sebelumnya, serta memperjelas pemahaman Islam yang benar mengenainya.
The world has been living without the Islamic State since 1924 when the ‘Uthmani Khilafah was destroyed. This together with a media apparatus controlled by the kuffar and ruthless regimes in Muslim countries, prevented the proper understanding and teaching of Islam and its concepts about life from reaching the world. Thus, we find most people carrying a plethora of misconceptions and false ideas which are being portrayed as part of Islam. This section seeks to describe some of these misconceptions, alluded to in the previous chapter, and to clarify the correct understanding of Islam regarding them.
LIE: Islam adalah agama seperti agama lainnya; ia hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan dari sudut pandang spiritual dan pribadi. Oleh karena itu, Islam dapat hidup berdampingan dengan sekularisme.
LIE :Islam is a religion just like any other religion; it only governs the relationship between man and God from a spiritual, personal point of view. Therefore it can co-exist with secularism.
FAKTA: Kenyataannya, Islam, berbeda dengan banyak agama yang ada di dunia seperti Hinduisme atau Yudaisme, tidak datang untuk kaum tertentu. Islam datang untuk seluruh umat manusia sebagai sistem kehidupan yang memiliki pedoman umum dan terperinci untuk mengatur urusan manusia. Ini berarti Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, baik berupa:
FACT : The fact of the matter is that Islam, unlike many religions which exist in the world such as Hinduism or Judaism, did not come for a particular people. It came for all humanity as a system for life that has both general and detailed guidelines for running the affairs of the people. This means that Islam encompasses all aspects of life whether they be:
i) Yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (misalnya salat, puasa, dan sebagainya), ii) yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (seperti makanan atau minuman yang halal, jenis pakaian, kepribadian, dan aspek akhlak dan moral, dan sebagainya), atau iii) yang mengatur hubungan antara dirinya dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya (seperti transaksi ekonomi, pernikahan, perceraian dan hubungan keluarga, pemerintahan, hubungan dengan pemimpin, dan sebagainya).
i) Those that govern the relationship of man with God (for example praying, fasting etc.), ii) Those that govern the relationship of man with himself (like permissible food or drink, types of clothes, personality and moral aspects etc.) or iii) The ones that govern the relationship between him and other people and the environment around him (like economic transactions, marriage, divorce and family relationships, government, relationship with the leader etc.).
Nabi Muhammad ﷺ, ketika menyampaikan Risalah dari Sang Pencipta, Allah (SWT), kepada manusia di Makkah, menyeru mereka bukan hanya untuk menyembah satu Tuhan, tetapi juga untuk mengubah kehidupan dan masyarakat mereka agar berlandaskan pada penyembahan kepada satu Tuhan, Allah (SWT). Maka dalam Islam, Allah (SWT) adalah Pembuat Hukum dan Pemberi Perintah bagi seluruh perbuatan manusia, baik yang bersifat individual maupun sosial. Allah (SWT) semata yang menetapkan apa yang halal dan apa yang haram; Allah (SWT) adalah Tuan dan manusia adalah hamba. Dan karena Allah (SWT) adalah Pencipta segala sesuatu, hanya Dia (SWT) yang mengetahui apa yang terbaik bagi manusia, berbeda dengan manusia yang lemah, terbatas, dan membutuhkan. Dengan demikian, Islam unik baik dalam pesan maupun isinya; menurut hakikatnya, Islam adalah doktrin politik, dan tidak dapat dipisahkan dari urusan pemerintahan sebagaimana halnya dalam sekularisme.
The Prophet Muhammad (saw), when he delivered the Message from the Creator, Allah (swt) to the people in Makkah, called them not just to worship one God but also to transform their lives and society to be based on the worship of one God, Allah (swt). Thus in Islam, Allah (swt) is the Legislator and Commander for all the actions of human beings, be they individualistic or societal. Allah (swt) alone decides what is permissible and what is prohibited, Allah (swt) is the Master and man is the slave. And since Allah (swt) is the Creator of everything, He (swt) alone knows what is best for people rather than humans who are weak, limited and needy. Thus Islam is unique in both its message and its content - by its nature it is a political doctrine, and cannot be separated from the affairs of government as would be the case in secularism.
Islam menyebar ke berbagai negeri dengan menggunakan pedang. Orang-orang dipaksa untuk masuk Islam.
LIE :Islam spread throughout the lands by use of the sword. People were forced to convert to Islam.
FAKTA : Di antara prinsip terpenting Islam mengenai penerimaan manusia terhadap keyakinannya adalah firman Allah dalam Al-Qur'an yang berbunyi, “Tidak ada paksaan dalam agama (Islam).” [TMQ 2:256] Ini berarti tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memeluk Islam dalam keadaan apa pun. Sekilas tinjauan atas sejarah Negara menunjukkan bahwa sejak awal, Islam bersikap adil dan jujur terhadap orang-orang dari agama lain, apa pun agama mereka. Nabi ﷺ setelah mendirikan Negara Islam pertama di Madinah memiliki kekuasaan untuk memaksa orang-orang Yahudi di sekitar Madinah untuk memeluk Islam, tetapi beliau ﷺ tidak melakukannya. Setelah membuka Makkah, Nabi ﷺ membiarkan penduduk di sana pergi dengan bebas, meskipun mereka memiliki sejarah panjang penganiayaan terhadap kaum Muslim. Sikap seperti ini adalah fakta yang seharusnya diakui oleh seluruh kaum Muslim, karena ia merupakan aspek fundamental dari ajaran Islam.
FACT : Among the most important principles of Islam regarding the issue of the acceptance of its belief by people is the verse in the Qur’an which states, “There is no compulsion in the deen (of Islam).” [TMQ 2:256] This means no-one is to be forced to accept Islam under any circumstances. A quick look at the history of the State reveals that since the beginning, Islam was just and fair towards people of other religions, whatever they were. The Prophet (saw) after establishing the first Islamic State in Madinah had the power to force the Jews around Madinah to accept Islam, but he did not. After opening Makkah, the Prophet (saw) allowed the people there to go free despite their history of extensive persecution of the Muslims. This kind of attitude is a fact that all Muslims should acknowledge because it is a fundamental aspect of the Islamic doctrine.
Fakta bahwa di wilayah-wilayah luas yang pernah diperintah oleh Islam, hingga kini masih banyak berdiri gereja, sinagoga, dan tempat-tempat ibadah milik penganut agama lain, merupakan bukti akan toleransi Islam.
The fact that in large areas of lands which have been ruled by Islam there still exist now many Churches, synagogues and shrines belonging to worshippers of other religions, is a testimony to the forbearance of Islam.
Kenyataannya, banyak orang yang hidup di bawah sistem kehidupan Islam dalam Negara Islam menyaksikan sendiri keadilan dan cara yang efisien dengan mana Islam mengurus urusan rakyat. Hal ini, ditambah dengan landasan intelektual keyakinan Islam yang sangat kuat, membuat orang-orang dengan sukarela menerima Islam dalam jumlah besar. Bahkan hingga hari ini, laju orang-orang yang memeluk Islam lebih tinggi daripada keyakinan mana pun yang lain.
The fact of the matter is that many people living under the Islamic system of life in the Islamic State witnessed for themselves the justice and efficient manner with which Islam ran the affairs of the people. This, coupled with the profoundly strong intellectual basis of the Islamic belief caused people to voluntarily accept Islam in droves. Indeed, even today, the rate at which people are embracing Islam is greater than that of any other belief.
DUSTA: Umat Islam mengikuti agama secara membabi buta, agama yang tidak memiliki dasar yang nyata dan yang menjerumuskan kepada sikap berlebihan serta kekerasan.
LIE : Muslims are blindly following a religion that has no real basis and which leads to excesses and violence.
FAKTA: Islam adalah pandangan hidup yang berlandaskan fondasi intelektual yang sangat kokoh. Al-Qur'an menekankan poin tentang keyakinan yang bersifat intelektual. Bahkan, Al-Qur'an menegur siapa pun yang menerima 'taqlid buta' dalam urusan akidah. Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menegaskan hal ini, misalnya, "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangka. Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikit pun berguna terhadap kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." [TMQ 10:37] Allah (SWT) juga berfirman, "Ingatlah! Sesungguhnya milik Allah-lah semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Dan apa yang mereka sembah selain Allah itu sebenarnya tidak mengikuti sekutu-sekutu (Allah). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah berdusta." [TMQ 10:66-67] Oleh karena itu, kaum Muslimin meyakini keberadaan satu Tuhan, yaitu Allah (SWT), berdasarkan pertimbangan akal, setelah merenungkan realitas mereka sebagai manusia, tentang kehidupan, dan tentang alam semesta secara keseluruhan. Satu-satunya kesimpulan adalah bahwa pasti ada Sang Pencipta.
FACT : Islam is a way of life based on a very solid intellectual foundation. The Qur’an stresses this point about the intellectual belief. In fact it admonishes anyone who accepts ‘blind following’ when it comes to the issue of belief. Many verses in the Qur’an assert this, for example, “But most of them follow nothing but conjecture : Truly conjecture can be of no avail against the truth. Verily Allah is well aware of what they do.” [TMQ 10:37] Allah (swt) also says, “Behold! Verily to Allah belong all creatures, in the heaven and the Earth; what do they follow, who worship as His (partners) other than Allah? They follow nothing but conjecture and they do nothing but lie.” [TMQ 10:67] Therefore the Muslims believe in the existence of one God, Allah (swt) based on intellectual consideration - after thinking about their realities as human beings, about life and about the whole of the universe. The only conclusion is that there has to be a Creator.
Adapun Al-Qur'an, ia membuktikan dirinya sebagai firman Allah (SWT). Ia ditulis dalam bahasa Arab klasik, dan diturunkan pada masa ketika orang-orang berada di puncak kefasihan dalam bahasa ini, melalui seorang Nabi ﷺ yang tidak pandai membaca maupun menulis, dan ia pun tidak dikenal sebagai seorang penyair. Al-Qur'an memuat tantangan yang sederhana bagi mereka: datangkanlah satu surah (bab) yang serupa dengannya. Ketika kita melihat bahwa surah terpendek dalam Al-Qur'an hanya terdiri dari tiga kalimat, kita menyadari betapa mudahnya tantangan itu dapat dijawab seandainya kitab ini benar-benar ditulis oleh manusia. Kenyataannya, meskipun banyak orang telah mencoba menjawab tantangan tersebut, hingga saat ini tidak seorang pun berhasil mendekati keaslian Al-Qur'an. Inilah mukjizat Al-Qur'an, yang diketahui dan dipahami oleh kaum Muslimin.
As for the Qur’an it proves itself to be the word of Allah (swt). It is in the classical Arabic language, and it came at a time when the people were the best ever in this language by a Prophet who did not know how to read or write, nor was he known as a poet. It contained a simple challenge to them : bring a single surah (chapter) like it. When we see that the smallest surah in the Qur’an is only three sentences in length, we realise how simple it would have been to beat the challenge if indeed this book was written by humans. The fact of the matter is that although many people have tried to take on the challenge, even until now no-one has managed even to come close to the original. This is the miracle of the Qur’an, which Muslims know and understand.
Keyakinan yang kokoh seperti ini membuat seorang Muslim menganggap serius petunjuk tersebut sebagai sumber utama dalam menetapkan hukum untuk mengatur urusannya, baik secara pribadi maupun pada tingkat masyarakat.
Such a firmly based belief causes the Muslim to take this guidance very seriously as the main source for legislation regarding the running of his or her affairs whether on a personal or on a societal level.
Adapun tuduhan tentang kekerasan dan tindakan berlebihan, itu adalah gambaran yang keliru tentang Islam. Ini adalah penggambaran terhadap kaum Muslimin yang dimunculkan oleh media yang dikendalikan oleh establishment untuk mendiskreditkan Islam dan kaum Muslimin, agar masyarakat tidak mempertimbangkan kenyataannya sebagai solusi bagi problem mereka, dan dengan demikian mempertahankan status quo.
As for the accusations of excesses and violence these are a false representation of Islam. This is a portrayal of Muslims which is being put forward by the establishment controlled media to discredit Islam and the Muslims, so as to keep the people from considering its reality as a solution for their problems, and thus maintaining the status quo.
LIE: Rezim-rezim yang berkuasa saat ini di negara-negara Muslim seperti Arab Saudi, Pakistan, Iran, dan Sudan adalah contoh penerapan Islam, karena negara-negara tersebut adalah Negara Islam. Oleh karena itu, tindakan mereka harus dianggap mewakili ideologi Islam.
LIE :The current regimes in Muslim countries in places like Saudi Arabia, Pakistan, Iran and Sudan are examples of implementation of Islam, as they are Islamic States. Therefore their actions are to be taken as representative of the Islamic ideology.
FAKTA: Agar sebuah negeri dianggap sebagai Negara Islam, setiap pasal konstitusi negara tersebut, setiap aturan dan setiap undang-undang harus bersumber dari Syari'ah. Dalam setiap kasus negara-negara yang disebutkan di atas, bagaimanapun, kriteria tersebut jauh dari terpenuhi. Di tempat-tempat ini, hukum Islam hanya dicantumkan secara tertulis sebagai sumber legislasi negara, sementara segala jenis legislasi sekuler dan adat istiadat berjalan beriringan dengannya, sedangkan konstitusi-konstitusi tersebut memberikan bobot jauh lebih besar kepada demokrasi, sosialisme, kapitalisme, dan sejenisnya. Padahal semua konsep ini berakar pada kekafiran, yaitu bukan Islam.
FACT : For a land to be considered an Islamic State, every single article of the country’s constitution, every rule and law, must emanate from the Shari‘ah. In every case of the above mentioned countries however, these criteria are far from being met. In these places, Islamic law is only by writing the source of the country’s legislation, with all types of secular legislation and customs playing along side it, while the constitutions give much more weight to democracy, Socialism, Capitalism and the like. But these are all concepts which have their roots in unbelief, i.e. not Islam.
Sebagai contoh, di Arab Saudi kedaulatan berada pada raja, bukan pada Allah (swt). Di Pakistan, kedaulatan berada pada senat. Di Iran, konsep negara modern dan bangsa ala Barat mendominasi doktrin pemerintahan. Sementara di Sudan, berbagai contoh hukum yang bersifat semi-Islam, seperti kewajiban memakai hijab dan pemotongan tangan pencuri, gagal menutupi sistem pemerintahan yang sebagian besar sekuler, yang tunduk kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan kepada Allah (swt). Sayangnya, contoh-contoh di atas tidak terbatas pada negara-negara tersebut saja, melainkan tetap berlaku bagi setiap satu dari sekitar 55 negara terpisah lainnya yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
As examples, in Saudi Arabia sovereignty is for the king not for Allah (swt), in Pakistan sovereignty is with the senate, and in Iran the Western concepts of modern state and nation dominate the doctrine of the government. Whilst in Sudan, numerous examples of semi-Islamic laws, like the wearing of hijab and the cutting of the hands of thieves, fail to camouflage the predominantly secular system of government which bows to the United Nations rather than to Allah (swt). Sadly the examples above are not confined to these countries alone, but they remain true of every single one of the 55 or so separate nations where the majority of the population is Muslim.
Dengan demikian, tidak mungkin diklaim bahwa salah satu negara Muslim saat ini mewakili Islam dan sistem pemerintahan Islam.
Thus it can, in no way, be claimed that any of the current Muslim countries are representative of Islam and the Islamic System of government.
DUSTA: Islam tidak terbuka bagi orang kulit putih; seseorang hanya bisa menjadi Muslim jika ia orang Arab atau Asia.
LIE :Islam is not open for white people, someone can only be a Muslim if he or she is Arab or Asian.
FAKTA: Islam adalah sebuah ideologi (yaitu pandangan hidup) yang berlandaskan keyakinan yang telah terbukti secara intelektual bahwa hanya ada satu Tuhan yang menciptakan bumi, langit, seluruh kehidupan, dan segala makhluk serta ciptaan. Ini mencakup seluruh manusia, baik yang berkulit hitam, putih, kuning, maupun lainnya.
FACT : Islam is an ideology (i.e. a way of life) based on an intellectually proven belief that there is one God who created the earth, the heavens, the whole of the life and all creatures and creation. This includes all humans, whether they are black, white, yellow or otherwise.
Sebelum Nabi Muhammad (saw) diutus dengan risalah Islam, Allah (swt) telah mengutus banyak rasul ke dunia, tetapi para rasul tersebut hanya diutus kepada kaum tertentu pada waktu tertentu. Nabi Musa (as) diutus kepada Bani Israil, begitu pula Isa (as). Islam, di sisi lain, diturunkan untuk seluruh umat manusia, dan karena itu ia merupakan risalah terakhir dari Sang Pencipta kepada umat manusia.
Before Prophet Muhammad (saw) was sent with the message of Islam, Allah (swt) sent many messengers to the world, but these messengers were only sent to specific peoples at specific times. The prophet Moses (as) was sent to the people of Israel, and so was Jesus (as). Islam on the other hand was sent for all humanity and as such, it is the final message of the Creator to mankind.
Satu-satunya perbedaan antara manusia di mata Allah (swt) adalah dalam hal kesadaran mereka terhadap Allah (swt) dan ketakwaan mereka. Setiap manusia membutuhkan suatu sistem untuk menjalankan kehidupan mereka yang menjamin keadilan dan menciptakan keharmonisan di antara berbagai anggota masyarakat. Sistem itu tidak akan pernah bisa berupa sistem buatan manusia, karena manusia terbatas kemampuannya, lemah, membutuhkan, dan tidak memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang kehidupan dan alam semesta. Rancangan manusia akan selalu tunduk pada hawa nafsu dan keinginan, dan tidak pernah bisa mencapai keadilan yang sejati. Sepanjang sejarah, bahkan jika kita melihat berbagai budaya dan peradaban yang ada dan menjalankan urusan mereka dengan hukum dan peraturan buatan manusia, kita pasti menemukan penindasan dan ketidakadilan di muka bumi. Contohnya adalah peradaban Mesir kuno, di mana para Firaun dipandang sebagai tuhan, atau Kekaisaran Romawi, di mana Kaisar dianggap memiliki sifat-sifat ketuhanan. Dalam kedua kasus ini, para pemimpin memiliki keputusan akhir tentang hukum apa yang harus mengatur rakyat. Hasilnya adalah ketidakadilan, tirani, dan diskriminasi antara berbagai kelas dan ras manusia. Bahkan di zaman modern, konsep seperti ‘kelompok minoritas etnis’ dan ‘negara bangsa’ mengakui bahwa orang-orang memiliki status yang secara inheren berbeda; hal-hal ini menjadi sumber banyak diskriminasi. Namun, doktrin Islam, ketika diterapkan, adalah satu-satunya doktrin yang mampu menyatukan manusia tanpa memandang ras, warna kulit, atau kebangsaan mereka. Allah (swt) mewajibkan semua manusia untuk berhukum dengan hukum-hukum-Nya. Dia (swt) berfirman dalam Al-Qur’an, “Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” [TMQ 5:44] Doktrin ini berhasil karena ia memperlakukan manusia sebagai manusia dan hanya sebagai manusia, dan karena sumber-sumber hukumnya bukan berasal dari manusia. Allah (swt) berfirman, “Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” [TMQ 30,22] LIE : Dalam Islam, perempuan tidak diberi hak yang setara dengan laki-laki. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua, dianiaya, dan dihalangi untuk ikut menentukan urusan mereka sendiri maupun urusan publik.
The only difference between people as far as Allah (swt) is concerned is with regard to their awareness of Allah (swt) and their piety. All human beings need a system to run their lives that ensures justice and establishes harmony between the different members of the society. That system can never be a man-made system, since man is limited in his capability, weak, needy and lacks a comprehensive understanding of life and the universe. Man’s designs will always be subject to whims and desires and can never achieve true justice. Throughout history, even if we look at the different cultures and civilisations that existed and ran their affairs by man-made laws and regulations, we definitely find oppression and injustice in the land. Examples include the ancient Egyptian civilisations where the Pharaohs were seen as gods, or the Roman Empire, where the Caesar was ascribed the attributes of divinity. In both these cases the leaders had the final say in what laws should govern the people. The result was injustice, tyranny and discrimination between different classes and races of people. Even in the modern day, concepts such as ‘ethnic minority’ and ‘nation state’ recognise people to be of inherently different status - these are a source of much discrimination. The Islamic doctrine, however, when it was implemented, was the only doctrine that managed to unite people together without any consideration of their race, colour or nationality. Allah (swt) obliges all people to rule according to His laws. He (swt) states in the Qur’an, “Whoever does not rule by whatever Allah reveals, they are the disbelievers.” [TMQ 5:44] This doctrine works because it treats people as human beings and just that, and because its sources of law are not from man. Allah (swt) says, “And among His signs is the creation of the heavens and the earth, and the variations in your languages and your colours : verily in that are signs for those who know.” [TMQ 30,22] LIE :In Islam women are not given equal rights to men. They are considered as second rate, abused, and prevented from having a say in their own affairs and public affairs.
FAKTA: Islam memandang perempuan sebagai suatu kehormatan yang harus dilindungi dan ditempatkan pada tingkat penghormatan yang paling tinggi. Islam memandang bahwa Allah (SWT) menciptakan laki-laki dan perempuan untuk beribadah kepada-Nya. Di hadapan Allah (SWT), tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kedudukan mereka, kecuali dalam hal ketakwaan. Dalam hal ini, seorang perempuan yang bertakwa dianggap lebih baik daripada laki-laki yang tidak bertakwa, dan sebaliknya.
FACT : Islam considers women to be an honour that should be protected and held in the highest level of esteem. Islam considers that Allah (swt) created both men and women to worship him. In the eyes of Allah (swt), there is no difference between men and women with regards to their status, except in piety. In this respect, a pious woman is deemed better than an impious man, and vice versa.
Namun, Islam tidak berbicara tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ketika Islam datang dengan hukum-hukum Syari'ah dari Allah (SWT) bagi laki-laki maupun perempuan, Islam sama sekali tidak meninjau persoalan kesetaraan dari sudut pandang apa pun. Islam hanya mempertimbangkan bahwa ada persoalan-persoalan tertentu yang perlu dipecahkan, terlepas dari apakah persoalan tersebut menyangkut laki-laki atau perempuan. Oleh karena itu, hukum-hukum yang dibawa Islam adalah solusi bagi persoalan yang berkaitan dengan perbuatan manusia, bukan ditujukan kepada laki-laki dan perempuan secara terpisah.
However, Islam does not speak of equality between men and women. When Islam came with the Shari‘ah rulings from Allah (swt) for both men and women, it did not look at the question of equality from any angle at all. It only considered that there were particular problems which needed to be solved, regardless of whether these problems affected men or women. Therefore the rulings which Islam brought were solutions to the problems affecting the actions of human beings, not addressing men and women separately.
Itulah sebabnya kata "kesetaraan" tidak memiliki tempat dalam syariat Islam - hal itu bukan persoalan. Ia menjadi persoalan di Barat karena sifat dasar peradaban Barat itu sendiri, yang memberikan keunggulan kepada laki-laki atas perempuan - sejak zaman dahulu, laki-laki-lah yang mengambil alih kewenangan membuat undang-undang dan memerintah. Dan karena sistem tersebut dahulu dan hingga kini masih didasarkan pada hukum buatan manusia, perempuan dahulu dan hingga kini sangat tertindas. Pada masa lalu, keadaan ini melahirkan gerakan-gerakan perempuan yang harus benar-benar berjuang untuk mendapatkan hanya sebagian kecil hak.
That is why the word equality has no place in the Islamic Shari‘ah - it is not an issue. It became an issue in the West due to the very nature of Western civilisation, which gives man superiority over women - since from ancient times he is the one who took charge of legislation and ruling. And because the system was and is still based on man-made laws, women were and still are very much oppressed. In the past, this led to womens’ movements that had literally to fight to get just a handful of rights.
Sementara Eropa hidup dalam Zaman Kegelapan, dengan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan terhadap perempuan yang menyertainya; dan sementara perdebatan berlangsung untuk memutuskan apakah perempuan memiliki jiwa atau tidak, di bawah Islam dan dalam Negara Islam, perempuan menikmati kedudukan yang belum pernah dikenal oleh umat manusia sebelumnya. Islam memberikan perempuan hak untuk mewarisi, bekerja, memiliki harta, memberikan suara dalam pemilihan negara, berpartisipasi dalam kehidupan publik, menjadi anggota majelis syura, menuntut ilmu dan menjadi terdidik, serta banyak lagi. Semua ini telah ditetapkan dengan benar oleh sistem Islam lebih dari 1400 tahun yang lalu, tanpa sedikit pun kebutuhan akan gerakan perempuan atau semacamnya.
While Europe was living in the dark ages, with all which that entailed of oppression and injustice towards women; and while debates were taking place to decide whether women had souls or not, under Islam and in the Islamic State, women were enjoying such a position never before known to humanity. Islam gave the women the right to inherit, work, own property, vote in state elections, participate in public life, become members of the consultative council, to study and become educated and much more. All of this was properly laid down by the Islamic system more than 1400 years ago, without any need whatsoever for womens’ movements or the like.
BOHONG: Islam dan kaum Muslim merupakan ancaman nyata bagi Barat karena, jika mereka mewujudkan keinginan dan mendirikan negara mereka, mereka akan melancarkan 'Perang Suci' melawan semua bangsa lain karena mereka adalah kaum fundamentalis dan teroris. FAKTA: Istilah fundamentalis adalah istilah yang telah diberi makna khusus oleh mesin media Barat. Makna sebenarnya dari seorang fundamentalis adalah 'orang yang selalu merujuk kepada hal-hal pokok dan prinsip-prinsip dasar.' Dilihat dari sudut ini, semua orang adalah fundamentalis dalam satu dan lain cara. Ketika John Major berbicara tentang 'Kembali ke Dasar', ia adalah seorang fundamentalis, dan ketika orang bersikeras untuk tunduk pada hukum sekuler buatan manusia, mereka adalah fundamentalis.
LIE : Islam and Muslims are a definite threat to the West because, if they have their way and establish their state, they are going to go on a ‘Holy War’ against all other people because they are fundamentalists and terrorists. FACT : The term fundamentalist is one which has been given a special meaning by the Western media machine. The true meaning of a fundamentalist, is ‘one who always refers to the fundamentals and basic principles.’ Taken from this angle, all people are fundamentalists one way or another. When John Major talks about ‘Back to Basics’ he is a fundamentalist and when people insist on abiding by a man-made secular law, they are fundamentalists.
Memang benar bahwa kaum Muslim kini menginginkan berdirinya satu Negara Islam yang bersatu, yang mencakup seluruh negeri Muslim. Hal itu disebabkan mereka menyadari bahwa tanpa terwujudnya hal tersebut, Islam dalam kenyataannya akan memiliki sedikit makna, karena Islam bukan sekadar kumpulan ritual dan ibadah pribadi, melainkan suatu cara hidup yang utuh. Selain itu, Allah (SWT) memerintahkan kaum Muslim agar menerapkan Islam, dan hal ini hanya dapat terwujud dalam satu negara; jika tidak, mereka berdosa dan akan mendapat hukuman Allah (SWT) di kehidupan dunia ini dan di Akhirat.
It is true that Muslims now want to establish a united, single Islamic State which encompasses all the Muslim lands. That is because they realise that without that happening Islam in reality will have little meaning, because it is not just a set of personal rituals and worships, but a whole way of life. Also, Allah (swt) commands the Muslims that they have to implement Islam and that this can only be realised in a single state, otherwise they are sinful and will deserve Allah’s (swt) punishment in this life and in the Hereafter.
Adapun anggapan bahwa kaum Muslim pergi ke bangsa-bangsa lain dengan pekik perang untuk memaksa mereka masuk Islam, hal itu sama sekali tidak benar. Faktanya, kaum Muslim tidak mengenal apa yang disebut "Perang Suci". Islam adalah sebuah ideologi yang memiliki pandangan yang jelas tentang kehidupan dan sistem-sistem yang seharusnya mengaturnya, yaitu sistem yang mengurus urusan-urusan manusia. Islam juga memiliki metode untuk menyebarkan sistem dan cara hidup tersebut kepada orang lain. Salah satu bagian dari metode ini adalah Jihad, yang tidak berarti perang suci.
As for going to other nations with a war cry to forcibly convert them, this is completely untrue. The fact of the matter is, that the Muslims have nothing called a ‘Holy War’. Islam is an ideology which has a clear cut view about life and the systems which should regulate it - one which takes care of the affairs of the people. It also has a method to spread that system and way of life to others. A part of this method is Jihad, which does not translate as holy war.
Islam menyebar terutama melalui kekuatan pemikiran. Setelah seruan dakwah Islam tersebar di tengah suatu bangsa, maka bangsa itu diberi pilihan: menerima Islam sebagai jalan hidup dan menjadi Muslim, atau menerima sistem pemerintahan (Islam) sambil tetap memeluk agama mereka sendiri dan membayar pajak yang menjamin keamanan, kehormatan, harta, dan keyakinan mereka. (Pajak ini jauh lebih ringan daripada pajak yang dikenakan kepada kaum Muslim di Negara Islam.) Jika para pemimpin bangsa itu menolak kedua pilihan tersebut, maka mereka dan orang-orang yang secara nyata mendukung mereka akan diperangi hingga tunduk kepada otoritas Negara Islam. Peperangan itu tidak ditujukan kepada warga sipil, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak; melainkan hanya kepada mereka yang benar-benar menghalangi rakyat untuk berada di bawah perlindungan dan keadilan Islam.
Islam spreads by the force of the thought first. Once the call of the Islamic da‘wah has spread amongst a nation, then that nation is given the choice of either accepting Islam as a way of life and becoming Muslims, or accepting the system of government, while keeping to their own religions and paying a tax which guarantees their security, honour, property and belief. (This tax is much less than the taxes which are levied upon the Muslims of the Islamic State.) If the leaders of that nation refuse these, they and those who tangibly support them are fought until they submit to the authority of the Islamic State. The fighting is not directed against civilians, whether they are men, women or children; rather it is only against those who are actually preventing the people from coming under the protection and justice of Islam.
Kenyataannya, dan sebagaimana terbukti dari sejarah, kekuatan pemikiran Islam menyebabkan banyak orang meninggalkan konsep-konsep rusak tentang kehidupan yang sebelumnya mereka anut. Mereka berpaling kepada satu-satunya kebenaran, yaitu Islam. Contohnya adalah penyebaran Islam ke seluruh Afrika Utara, yang memakan waktu kurang dari 50 tahun! Dan orang-orang yang pergi membuka wilayah Spanyol dan Portugal sepenuhnya berasal dari mereka yang telah menjadi Muslim dari penduduk asli Afrika Utara. Selain itu, jika kita mempertimbangkan bahwa pada masa itu Islam juga menyebar dengan kecepatan yang sama ke banyak bagian dunia yang dikenal, tidak mungkin hal ini terjadi tanpa antusiasme dan partisipasi aktif dari penduduk wilayah-wilayah yang dibuka.
As it happens, and as proven from history, the force of the thought of Islam caused many people to leave the corrupt concepts about life that they had carried before. They turned to the only truth - Islam. An example is the spread of Islam into the whole of northern Africa, which took less than 50 years to achieve! And the people who went to open the lands of Spain and Portugal were entirely from those who had become Muslims from the indigenous residents of North Africa. Also, if we consider that at the time, Islam was spreading throughout large parts of the known world at the same pace, there is no way this could happen without the enthusiasm and active participation of the people of the lands opened.
Faktanya, Barat penjajah itulah yang sebenarnya fundamentalis dan penindas. Di setiap tempat yang pernah dijajah Inggris atau Prancis (baik di anak benua India, Jazirah Arab, maupun Afrika), penduduk negeri-negeri tersebut mencaci dan mengutuk para penjajahnya. Di negeri-negeri yang pernah diperintah oleh Islam, rakyatnya tidak hanya merindukan kembalinya Islam, bahkan mereka siap mati dalam perjuangan untuk menegakkannya kembali.
In fact, it is the colonialist West that are the real fundamentalists and oppressors. In every place once occupied by the British or the French (whether within the Indian sub-continent, Arabia or Africa), the people of those lands revile and curse their conquerors. In countries which were ruled by Islam, the people not only long for its return, they are prepared to die in the way of struggling to re-establish it.
Sebagai penutup, inilah sebagian konsep dan gagasan keliru yang telah beredar luas di kalangan kaum Muslimin maupun non-Muslim tentang Islam dan sejarahnya. Islam memiliki kedalaman, baik dari sisi akidahnya yang rasional maupun dari sistem kehidupan yang lahir dari keyakinan ini. Bahkan studi singkat tentang Islam akan menunjukkan secara meyakinkan bahwa sikap apologetik dan mental pesimis yang dimiliki banyak Muslim dalam menghadapi cara hidup yang indah dan paling sempurna ini tidaklah beralasan.
In conclusion, these are just some of the erroneous concepts and ideas that have gained currency among Muslims and non-Muslims alike about Islam and its history. Islam has depth both in terms of its rational creed, and the systems of life that this belief gives rise to. Even a brief study of Islam will demonstrate conclusively that the apologetic and defeatist mentality that many Muslims have when it comes to addressing this beautiful and most perfect way of life is unfounded.
Sesungguhnya, Islam adalah jalan kebenaran, karena ia datang dari Allah (SWT), Pencipta alam semesta. Islam datang untuk menyelesaikan persoalan umat manusia dan membimbingnya menuju keadilan dan kemuliaan.
Indeed, Islam is the way of Truth, because it comes from Allah (swt), the Creator of the universe. It comes to solve the problems of humanity, and lead her into justice and dignity.