5.6 Tantangan Al-Qur'an
5.6 The Challenge of the Qur’an
Sebagaimana telah terbukti secara rasional bahwa ada Pencipta, demikian pula harus diverifikasi bahwa mereka yang mengaku sebagai nabi dan pembawa petunjuk dari Pencipta memang benar demikian. Bahkan dalam persoalan ini, tidak boleh ada ruang bagi iman buta atau keyakinan yang didasari emosi.
Just as it is rationally proved that there is a creator, so it must be verified that those who claim to be prophets and bringers of guidance from the creator, are indeed so. Even in this issue, there should be no room for blind faith or emotional belief.
Setiap nabi yang diutus oleh Allah (swt) datang dengan sebuah tantangan kepada umat manusia sebagai bukti kenabiannya. Misalnya, Musa (as) datang dengan tongkat yang berubah menjadi ular ketika dilemparkan ke tanah, dan Isa (as) diberi kemampuan, dengan izin Allah (swt), untuk menghidupkan kembali orang mati. Perbuatan-perbuatan semacam ini melanggar hukum-hukum alam semesta, dan berada di luar kemampuan manusia mana pun, atau apa pun juga, kecuali Dia yang menciptakan alam semesta dan menetapkan hukum-hukum yang mengaturnya. Dengan demikian, dibuktikan kepada kaum mereka bahwa sesungguhnya mereka diutus dari Allah (swt).
Every prophet sent by Allah (swt) came with a challenge to mankind as a verification of his prophethood. For example, Moses (as) came with a staff that turned into a snake when it was thrown to the floor, and Jesus (as) was given the ability, by the permission of Allah (swt), to bring back the dead to life. These types of actions defy the laws of the universe, and are beyond the capability of any human being, or indeed anything, except for the one who created the universe and placed these very laws which govern it. Thus, it was proved about them to their people that indeed they were sent from Allah (swt).
Namun, bagi kita hari ini, hal-hal ini mungkin dianggap sekadar kisah dari masa lampau. Untuk memiliki keyakinan yang sejati, kita perlu menyaksikan tantangan seperti itu dengan mata kepala kita sendiri. Memang, bukti semacam itu ada hari ini, dan ia terdapat dalam Al-Qur'an yang mulia. Allah (SWT) berfirman,
However, for us today, these may be considered as mere stories from the past. To have real conviction, we need to see such a challenge for ourselves. Indeed, such a proof exists today, and it is found in the Holy Qur’an. Allah (swt) says,.
"Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) ﷺ, maka datangkanlah satu surah yang semisal dengannya dan panggillah saksi-saksi kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar." [TMQ 2:23].
“And if you are in doubt concerning that which We have sent down to Our slave (Muhammad), then produce a surah (chapter) of the like thereof and call your witnesses besides Allah, if you are truthful.” [TMQ 2:23].
Dengan demikian, tantangan itu menjadi jelas: keabsahan Al-Qur'an sebagai kitab wahyu dan petunjuk dari Sang Pencipta menjadi nyata. Sebab, seandainya Al-Qur'an ditulis oleh manusia, tentu manusia lain akan mampu meniru gayanya, bahkan dalam surah terpendek (‘Al-Kautsar’, yang hanya terdiri dari tiga baris). Namun, sejak Al-Qur'an diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu hingga hari ini, tidak ada seorang pun di muka bumi yang mampu menghasilkan satu surah pun yang serupa dengannya. Sesungguhnya, ia adalah Kitab Allah (SWT).
Thus, the challenge is made plain - the validity of the Qur’an as a book of revelation and guidance from the Creator is apparent. For if a human being had written it, then certainly other human beings would be able to imitate its style - even in the length of the shortest surah (‘al- Kawthar’, which is only three lines long). However, from the time of the revelation of the Qur’an, over 1400 years ago, until today, no one on the face of the earth has produced a chapter of its like. Indeed, it is the Book of Allah (swt).