3. Serangan Kaum Orientalis
3. The Orientalist Attack
Keadaan kaum Muslim saat ini sangat bertolak belakang dengan masa lalu mereka yang gemilang. Penting bagi kita untuk memahami bagaimana dan mengapa keadaan seperti ini bisa terjadi. Sesungguhnya, ini adalah kunci kebangkitan kita. Untuk itu, perlu dipelajari secara cermat sejarah Islam, mulai dari masa Negara Nabi ﷺ dan masa peradaban serta pengaruh Islam yang mengikutinya, hingga saat ini, agar kita dapat mengidentifikasi faktor-faktor utama kelemahan kita.
The situation of Muslims today lies in stark contrast with their glorious past. It is important for us to understand how and why such a state of affairs has arisen. Indeed this is a key to our revival. To this end, it becomes necessary to study carefully the history of Islam, from the time of the Prophet’s (saw) State and the period of Islamic civilisation and influence that followed it, until today, in order that we may identify the main factors of our weakness.
Hasil dari kajian semacam ini menunjukkan bahwa faktor utamanya adalah kemunduran intelektual yang berangsur-angsur dalam pemikiran kaum Muslimin terkait pemahaman mereka terhadap agama (dīn) mereka.
The result of such a study shows that the main factor is a gradual intellectual decline in the minds of the Muslims with regards to their understanding of their deen.
Dalam latar ini, musuh-musuh Islam mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka bagi mereka dalam pertempuran mereka melawan Negara Islam, dan mengerahkan segala sarana yang ada pada mereka untuk mengalahkannya serta menundukkannya beserta seluruh sumber dayanya di bawah kendali mereka. Dalam bagian ini, kami akan menguraikan sebagian sejarah di balik serangan orang-orang kafir terhadap Islam ini, serta cara-cara licik dan tipu daya yang mereka gunakan.
In this background, the enemies of Islam were able to exploit the oppportunity presented to them in their battle against the Islamic State, and utilised all the means at their disposal to overcome it and subjugate it and all its resources to their control. In this section, we will outline some of the history behind this attack of the kuffar against Islam, and the devious means and machinations they employed.
Kekuatan dan pengaruh Islam yang luar biasa, baik secara militer, budaya, maupun keagamaan, sejak awal kemunculannya adalah sesuatu yang belum pernah dipahami sepenuhnya oleh Barat; pertanyaan tentang bagaimana, dalam waktu yang begitu singkat, Islam mampu menaklukkan wilayah-wilayah dunia yang sangat luas telah mengusik pemikiran Barat selama berpuluh-puluh tahun. Sejak tahun 632 M, Persia, Suriah, Mesir, Turki, dan Afrika Utara jatuh ke tangan pasukan Muslim pada abad ke-8 dan ke-9. Islam berkuasa hingga ke timur sampai India, Indonesia, dan Cina. Bagi Barat yang beragama Kristen, Khilafah senantiasa merupakan bahaya dan ancaman, dan pada abad ke-15 menjadi jelas bagi para pemikir Eropa bahwa sesuatu harus dilakukan terhadap Islam.
The enormous power and influence of Islam, militarily, culturally, and religiously since its beginning is something that the West has never fully understood; the question of how, in so short a time, Islam could conquer such vast areas of the world has troubled the Western mind for decades. From 632 CE onwards Persia, Syria, Egypt, Turkey and North Africa fell to the Muslim armies, in the 8th and 9th centuries. Islam ruled as far east as India, Indonesia and China. To the Christian West the Khilafah represented a constant danger and threat and by the 15th century it became apparent to European thinkers that something would have to be done about Islam.
Untuk menghadapi ancaman Islam dan para pemeluknya, para pemikir Eropa menyadari bahwa Islam pertama-tama perlu dipahami. Segera menjadi jelas bagi mereka bahwa kekuatan kaum Muslimin terletak pada organisasi mereka sebagai sebuah negara, yang mempersatukan mereka, melindungi mereka, dan mengoordinasikan upaya mereka untuk menguasai dunia. Mereka menyimpulkan bahwa Negara Islam harus diserbu, dikuasai, dan akhirnya diciptakan kembali dalam bentuk yang kurang menyerang. Pembenaran yang diberikan atas sikap agresif ini, baik kepada orang Barat maupun kepada kaum Muslimin, adalah bahwa Islam merupakan versi Kristen yang salah arah, yang telah menyebabkan suatu wilayah yang pernah besar jatuh ke dalam kebiadaban, dan yang perlu dihidupkan kembali melalui pengaruh peradaban Barat modern.
To overcome the threat of Islam and its adherents the European thinkers recognised that it first needed to be understood. It soon became clear to them that the strength of the Muslims lay in their organisation as a state, which unified them, protected them and co-ordinated their efforts to dominate the world. They concluded that the Islamic State must be invaded, possessed and finally re-created in a less offensive form. The justification that was provided for this aggressive stance, to both the Westerner and the Muslim, was that Islam was a misguided version of Christianity which had caused a once great region to fall into barbarism and which needed to be revived through the civilising influences of the modern West.
Pada awalnya, Barat berusaha mengalahkan Islam secara militer, dengan melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap tentara Khilafah Muslim yang dikenal sebagai Perang Salib. Namun bagi orang Barat pada Abad Pertengahan, segera menjadi jelas bahwa harapan untuk mengalahkan Islam secara militer adalah sia-sia. Kaum Muslimin berperang di jalan Allah; mereka berperang demi Islam, dan dengan pemahaman mereka tentang Islam sebagai sebuah ideologi, mereka tidak mungkin dikalahkan oleh kekuatan pedang. Setiap Muslim mengetahui bahwa hasil pertempuran melawan orang-orang kafir hanya ada dua kemungkinan: kemenangan atau syahid dan surga. Oleh karena itu, rasa takut akan kematian tidak berpengaruh pada mereka, dan mereka dengan senang hati akan mengorbankan nyawa demi Islam. Ketika hal ini menjadi jelas bagi tentara orang-orang kafir, yang dibandingkan dengan mereka tidak begitu rela mengorbankan diri demi suatu tujuan yang pada umumnya tidak memiliki makna yang sebenarnya bagi mereka, maka mereka berkomplot untuk mengalahkan kaum Muslimin melalui kampanye intelektual terhadap mereka, dengan menyerang konsep-konsep kunci Islam dan menanamkan gagasan-gagasan palsu sebagai penggantinya.
Initially, the West attempted to defeat Islam militarily, with the launching of a vast military campaign against the Muslim army of the Khilafah known as the Crusades, yet for the medieval Westerner it soon became clear that any hope of defeating Islam militarily was fruitless. The Muslims were fighting in the way of Allah; they were fighting for Islam and with their understanding of Islam as an ideology they simply could not be defeated by the power of the sword. Every Muslim knew that there could only be two results of a battle with the kuffar : victory or martyrdom and paradise. Fear of death therefore had no sway on them, and they would gladly give up their lives for the sake of Islam. As this became obvious to the armies of the kuffar, who in comparison were not so willing to sacrifice themselves for a cause which by and large had no real meaning for them, they conspired to defeat the Muslims through the waging of an intellectual campaign against them by attacking the key Islamic concepts and implanting false ideas in their place.
Rencana ini dilaksanakan dengan efisiensi yang menghancurkan, dengan secara langsung menyerang keyakinan dan praktik kaum Muslimin, dengan tujuan menanamkan keraguan dalam benak kaum Muslimin tentang cara hidup Islam dan kemampuannya untuk diterapkan sepanjang masa di dunia yang berubah dengan cepat. Selain itu, ditegaskan terus-menerus bahwa siapa pun yang meyakini Islam sebagaimana adanya harus terbelakang, merosot, dan lebih rendah dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Barat.
This plan was carried out with devastating efficiency, directly attacking the Muslim beliefs and practices with the aim of casting doubt into the minds of the Muslims about the Islamic way of life and its ability to be implemented for all time in a rapidly changing world. Furthermore it was constantly emphasised that anyone who did believe in Islam as such must be backward, degenerate and inferior to their Western counterparts.
Serangan itu dilancarkan di segala lini di seluruh Ummah; di negeri-negeri berbahasa Turki dan Arab, di anak benua India, dan di Asia Tenggara; dan ia menyasar banyak perkara. Khilafah digambarkan sebagai pemerintahan yang sewenang-wenang dan kediktatoran; Jihad digambarkan sebagai agresi terhadap semua orang; poligami digambarkan sebagai hal yang tidak beradab atau biadab, atau sebagai penghinaan terhadap perempuan; perceraian digambarkan sebagai pengkhianatan; keyakinan terhadap takdir dan qadar Ilahi ditolak sebagai fatalisme yang tidak rasional; Al-Qur'an dianggap sekadar karya sastra puitis yang brilian yang hanya mempromosikan nilai-nilai moral tertentu, bukan landasan hukum dan aturan bagi umat manusia; Muhammad ﷺ digambarkan sebagai seorang jenius licik yang telah menipu orang-orang, bukan seorang nabi ﷺ; Muslim yang saleh digambarkan sebagai orang yang sangat rendah hati, miskin, tidak terlibat dalam urusan duniawi, dan hanya berdiam di masjid.
The attack was waged on all fronts throughout the Ummah; in the Turkish and Arab speaking lands, through the sub-continent and South East Asia; and it came on many matters. The Khilafah was portrayed as despotic and a dictatorship; Jihad an aggression against all people; polygamy was portrayed as uncivilised or savage, or an affront against women; divorce was a betrayal; belief in divine fate and destiny was dismissed as irrational fatalism; the Qur’an was a brilliant piece of poetic writing merely promoting certain moral values, not a basis of rules and laws for mankind; Muhammad (saw) was portrayed as a devious genius who had fooled the people, not a prophet; the pious Muslim was a man of great humbleness, poor and not involved with worldly matters, and the inhabitant of the mosque.
Gagasan-gagasan seperti itu terlalu sering memperoleh bobot karena para ulama dan cendekiawan Islam berhasil dirangkul oleh orang-orang kafir; salah satu contohnya adalah Napoleon ketika menyerbu Mesir pada akhir abad kedelapan belas. Melalui pemanfaatan para ulama, Napoleon mampu melancarkan kampanye melawan Islam yang secara unik bersifat jinak dan selektif. Ketika menjadi jelas baginya bahwa pasukannya terlalu kecil untuk memaksakan kehendak atas rakyat Mesir, ia berusaha agar para imam, qadi, mufti, dan ulama setempat menafsirkan Al-Qur'an demi kepentingan "Grande Armée", dengan menipu mereka mengenai maksudnya di wilayah itu. Hal ini, bersama dengan sanjungan dan bujukan terhadap para ulama Al-Azhar, berhasil, dan segera penduduk Kairo tampak telah kehilangan kecurigaan mereka terhadap para penguasa pendudukan. Napoleon kemudian memberikan instruksi tegas kepada wakilnya setelah ia pergi, agar Mesir selalu diatur melalui para Orientalis dan para pemimpin agama Islam yang dapat mereka rangkul; strategi lain dianggap terlalu mahal dan bodoh. Kebijakan semacam itu terus berlanjut hingga hari ini, dengan adanya apa yang disebut "ulama pemerintah" di negeri-negeri Muslim, yang secara konsisten mengeluarkan putusan yang disebut "Islami" sesuai dengan keinginan Barat, sehingga memudahkan tujuan Barat untuk membuat Islam hanya berada di latar belakang kehidupan kaum Muslimin.
Such ideas were all too often given weight by the winning over of scholars and learned men of Islam by the kuffar; one such example being that of Napoleon when he invaded Egypt in the late eighteenth century. Through his use of the scholars Napoleon was able to wage a uniquely benign and selective campaign against Islam. When it became obvious to Napoleon that his force was too small to impose itself on the Egyptians he tried to make the local imams, qadis, muftis and ulema interpret the Qur’an in favour of the ‘Grande Armée,’ by deceiveing them about his intentions in the area. This along with the flattering and cajoling of the scholars of al-Azhar worked, and soon the population of Cairo seemed to have lost its distrust of the occupiers. Napoleon later gave his deputy strict instructions after he left always to administer Egypt through the Orientalists and religious Islamic leaders whom they could win over; any other strategies were seen as too expensive and foolish. Such policies continue to this very day with the likes of ‘government scholars’ in the Muslim countries, who consistently produce so-called ‘Islamic’ judgements in accordance with the wishes of the West, thereby facilitating the West’s objectives of keeping Islam only in the backgrounds of Muslim’s lives.
Untuk mendorong melemahnya keyakinan dan pemahaman kaum Muslim terhadap Islam ini, negara-negara Eropa, dengan Inggris memainkan peran utama, berupaya mendirikan gerakan-gerakan di dalam dunia Islam yang dapat bekerja untuk menjatuhkan Islam dan memecah belah kaum Muslim. Sebuah perangkat yang kompleks untuk melayani tujuan ini pada awalnya dibentuk dalam bentuk lembaga misionaris, seperti Society for Promoting Christian Knowledge (1698), Society for the Propagation of the Gospel in Foreign Parts (1701), Church Missionary Society (1799), British and Foreign Bible Society (1804), dan sebagainya.
To encourage this weakening of the Muslims’ belief and understanding of Islam, the European states, with Britain playing a leading role, worked to establish movements within the Muslim world which could work to bring down Islam and divide Muslims. A complex apparatus for tending this purpose was established initially in the form of missionaries such as the Society for Promoting Christian Knowledge (1698), the Society for the Propagation of the Gospel in Foreign Parts (1701), the Church Missionary Society (1799), the British and Foreign Bible Society (1804) and so on.
Selain itu, akan terjadi arus masuk berbagai perkumpulan dagang, perkumpulan ilmiah, dana eksplorasi geografis, dana penerjemahan, serta pendirian sekolah-sekolah asing, kantor konsulat, pabrik, dan kadang-kadang bahkan komunitas besar warga Eropa. Semua itu membuat Barat semakin berkepentingan di kawasan tersebut, yang pada akhirnya memberi legitimasi bagi kehadiran fisik mereka di negeri-negeri ini, karena adanya kebutuhan untuk melindungi kepentingan-kepentingan tersebut. Sementara itu, lembaga-lembaga semacam itu menjadi tempat berlindung bagi orang-orang seperti Muhammad ‘Ali di Kairo dan Ibrahim Pasha di Suriah, yang direkrut untuk kepentingan Barat.
In addition there was to be an influx of trading societies, learned societies, geographical exploration funds, translation funds, as well as the implantation of foreign schools, consular offices, factories and sometimes even large European communities. All gave the West increasing interests in the area which would eventually gain legitimacy for their more physical presence in these lands, due to the need to protect such interests. In the meantime such institutions were havens for men like Muhammad ‘Ali in Cairo and Ibrahim Pasha in Syria who were recruited to the Western cause.
Di level lain, terus-menerusnya didorong gagasan tentang keunggulan Barat dan inferioritas kaum Muslim mendorong banyak Muslim untuk berziarah ke Eropa, duduk di hadapan orang-orang kafir dan dididik oleh mereka, lalu kembali ke negeri mereka untuk mengajari sesama mereka bagaimana menjadi "beradab" dan "modern", meskipun itu berarti mengadopsi ideologi Barat, termasuk penerimaannya terhadap gagasan-gagasan seperti demokrasi, sekularisme, percampuran bebas, kebebasan dan lain-lain, yang semuanya bertentangan dengan pandangan Islam.
On another level the constant pushing of the idea of Western superiority and Muslim inferiority encouraged many Muslims to make a pilgrimage to Europe to sit at the feet of and be educated by the kuffar, then return to their homelands in order to teach their fellows how to become ‘civilised’ and ‘modern’, even though it meant adopting the ideology of the West, including its acceptance of ideas like democracy, secularism, free mixing, freedom etc., which all contradict the Islamic viewpoint.
Gagasan-gagasan ini memberikan pengaruh yang dramatis terhadap pola pikir kaum Muslimin, sehingga banyak dari kalangan Ummah terpikat oleh cara hidup non-Islam. Bahkan hingga hari ini, sikap ini masih tampak nyata di sebagian kalangan Ummah.
These ideas had a dramatic affect on the Muslim mindset, causing many in the Ummah to be enchanted by non-Islamic ways of life. Even today this attitude is manifest in some sections of the Ummah.
Namun tidak ada yang lebih berhasil dalam upaya memecah belah kaum Muslim satu sama lain dan menjauhkan mereka dari Islam selain penanaman ashabiyah (nasionalisme). Perasaan nasionalisme dan patriotisme inilah yang begitu menghancurkan hubungan kaum Muslim satu sama lain dan pada akhirnya menyebabkan runtuhnya Khilafah. Ide dan perasaan seperti itu didorong melalui pendudukan dan pembagian Negara Islam secara bertahap menjadi negara-negara terpisah, masing-masing dengan kepentingan dan tujuan nasionalnya sendiri, sehingga memperbesar perpecahan di antara kaum Muslim, hingga hari ini ketika kita memiliki setidaknya 55 negara berbeda, dan kita memandang diri kita sebagai orang Pakistan, Yordania, dan Mesir, bukan sebagai Muslim. Konsep-konsep seperti itu masih tertanam di benak banyak orang di tengah umat hari ini, bertahan seperti penyakit yang hanya layak dijauhi; Muhammad ﷺ bersabda, "Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah." (HR. Abu Dawud) Setelah berhasil melumpuhkan kaum Muslim dengan melancarkan serangan terhadap pemahaman mereka tentang Islam dan memperkenalkan konsep-konsep yang rusak dan keliru, kekuatan imperialis lama Inggris, Prancis, dan Rusia kemudian berkonspirasi untuk memberikan pukulan terakhir kepada kaum Muslim dengan menghancurkan Negara Islam: memecah wilayahnya, menghapuskan Khalifah dan sistem yang ia wakili, menciptakan negara-negara buatan, serta menempatkan sumber daya besar milik umat ke tangan segelintir keluarga kecil yang pro-Barat.
However nothing has been more successful in the work to bring Muslim against Muslim and distancing them from Islam than the implantation of assabiyah (nationalism). It was such feelings of nationalism and patriotism that so devastatingly severed the Muslims from each other and eventually led to the destruction of the Khilafah. Such ideas and feelings were encouraged through the gradual occupation and division of the Islamic State into separate states, each with their own individual national interests and objectives thereby increasing the disunity amongst the Muslims, until today when we have at least 55 different states, and we see ourselves as Pakistani, Jordanian and Egyptian rather than Muslims. Such concepts remain amongst many in the Ummah today, lingering like a disease fit only to be kept at a distance; Muhammad (saw) said, “He is not one of us who calls for assabiyah, and he is not one of us who fights for assabiyah, and he is not one of us who dies for assabiyah.” Abu Daud Having successfully crippled the Muslims by waging such an attack upon their understanding of Islam and the introduction of corrupted and false concepts, the old imperialist powers of Britain, France and Russia went on to conspire to strike the final blow against the Muslims by destroying the Islamic State; to break up its territories, to abolish the Khaleefah and the system he represented, to create artificial states and to place the enormous resources of the Ummah into the hands of tiny pro-Western families.
Faktanya, sepanjang abad ke-19 kaum kafir terus mengikis persatuan Negara dengan merebut wilayah-wilayah dan menghasut perpecahan di antara rakyat yang tinggal di dalamnya. Pada saat yang sama, mereka berjuang keras untuk menghapus segala jejak Hukum Islam dari pemerintahan di Turki. Pada tahun 1855, tekanan dilancarkan dari Inggris dan dijalankan oleh agen-agen seperti Rasheed Pasha untuk membentuk konstitusi baru yang di dalamnya Islam tidak lagi menjadi hukum Negara, melainkan hanya menjadi 'agama resmi' Negara.
In fact, throughout the 1800’s the kuffar chipped away at the unity of the State by taking territories, and inciting division amongst the people that lived within it. At the same time they fought hard to remove all traces of Islamic Law from ruling in Turkey. In 1855 pressure was applied from Britain and carried by agents like Rasheed Pasha for the establishment of a new constitution in which Islam would no longer be the code of the State but simply the ‘official religion’ of the State.
Menjelang pergantian abad, Khilafah telah dikenal sebagai ‘orang sakit dari Eropa’, dan negara-negara Eropa menyusun rencana untuk menghancurkan Negara ini secara permanen. Banyak negara bersekongkol untuk menjatuhkannya, misalnya sebagaimana telegram dari duta besar Rusia di London kepada Menteri Luar Negeri Rusia pada tahun 1915 memaparkannya:
By the turn of the century, the Khilafah had become known as the ‘sick man of Europe’, and the European powers laid plans to kill the State off irrevocably. Many countries conspired to bring its downfall, for example as this telegram from the Russian ambassador in London to the Russian Foreign Minister in 1915 details :
“Pemerintah Italia mendukung pendapat pemerintah Rusia tentang perlunya memisahkan pemerintahan Islam yang akan didirikan di Hijaz dari Khilafah, dan menempatkannya di bawah kendali mutlak Inggris. Pemerintah Italia dengan sepenuh hati mendukung upaya merebut Khilafah dari tangan Turki dan menghapuskannya jika diperlukan.” Dengan bantuan boneka-boneka Barat, seperti Mustafa Kamal - sang bapak kehinaan - di Turki, Islam secara sistematis disingkirkan dari seluruh urusan kehidupan di negeri-negeri Muslim: Khilafah dihancurkan; bahasa Arab diganti dengan bahasa dan dialek daerah; masjid-masjid ditutup dan hijab (pakaian Islami bagi wanita) dilarang; dan negara adidaya global yang dahulu menerapkan din Allah (SWT) direduksi menjadi sekadar negara lemah di pinggiran Eropa. Sementara itu, mayoritas kaum Muslimin hanya diam menyaksikan pengkhianatan ini, menunjukkan keberhasilan kelompok-kelompok nasionalis dan sekuler dalam membengkokkan pemahaman kaum Muslimin tentang akidah mereka dan kewajiban-kewajiban yang dituntut oleh keimanan kepada Allah (SWT).
“The Italian government supports the Russian government’s opinion of the necessity of separating the Islamic government, which is to be established in Hijaz, from the Khilafah, and to put it under the absolute control of Britain. The Italian government wholeheartedly supports wresting the Khilafah from the Turks and abolishing it if necessary.” With the help of the Western puppets, like Mustafa Kamal - the father of humiliation - in Turkey, Islam was systematically removed from all of lifes affairs within the Muslim lands - the Khilafah was destroyed; Arabic was replaced with regional languages and dialects, mosques were closed and the hijab (Islamic dress for women) was forbidden; the once global superpower of the Khilafah, implementing the deen of Allah (swt) was reduced to simply a weak country on the periphery of Europe. All the while the majority of the Muslims sat by in silence as they watched this treachery, indicating the success that the nationalist and secular groups enjoyed in warping the understanding of the Muslims of their creed and the duties that belief in Allah (swt) demand.
Keberhasilan serangan intelektual terhadap kaum Muslimin ini sungguh luar biasa, jauh lebih ampuh daripada serangan militer mana pun. Dewasa ini banyak kaum Muslimin yang terpecah oleh penyakit nasionalisme; mereka menggantungkan pengetahuan mereka kepada Barat dan membiarkan Islam hanya berada di ranah masjid. Rahasia di balik keberhasilan itu adalah kemampuan orang-orang kafir untuk membentuk kembali pemahaman kaum Muslimin tentang Islam sebagai agama yang sederhana, bukan sebagai suatu cara hidup, yaitu sekularisme. Kunci dari semua ini adalah menurunnya pengetahuan tentang bahasa Arab klasik, yang juga menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, dan karenanya terhadap hukum-hukum Islam mengenai seluruh urusan kaum Muslimin. Akibatnya, Islam pun direduksi hanya menjadi sajadah shalat.
The success of this intellectual attack upon the Muslims has been staggering, much more potent than any military attack could have been. Today so many Muslims are divided by the disease of nationalism; they turn to the West for their knowledge and they have left Islam to the realm of the mosque. The secret behind such success has been the ability of the kuffar to re-create the Muslims understanding of Islam as a simple religion and not a way of life, i.e. secularism. The key to this has been the decline in the knowledge of the classical Arabic language which ensured also the lack of understanding of both the Qur’an and the Sunnah, and hence the rules and laws of Islam regarding all affairs of the Muslim. The result has been the relegation of Islam to the prayer mat.
Bersamaan dengan kemunduran dahsyat umat Islam ini, terjadi pula serangan terus-menerus dari kaum kafir berupa citra negatif tentang Islam dan kaum Muslimin; kaum Muslimin digambarkan sebagai teroris penunggang unta, pelaku keji yang biadab, yang tidak sepenuhnya beradab bahkan tidak benar-benar manusia, sehingga mereka ditampilkan sebagai penghinaan terhadap dunia Barat yang beradab. Hasil akhirnya, dunia Islam saat ini menjadi satelit intelektual, politik, ekonomi, dan budaya dari kekuatan-kekuatan Barat. Semenanjung Arab dipandang oleh kekuatan-kekuatan Barat sebagai "sumber kekuatan strategis yang luar biasa dan hadiah material terbesar dalam sejarah dunia." Amerika Serikat sangat menyadari bahwa penguasaan atas pasokan minyak kawasan ini adalah tuas untuk mengendalikan dunia, dan saat ini, dengan pengecualian beberapa negara saja, sebagian besar rezim di kawasan ini berada di bawah kendali langsung Amerika Serikat atau Inggris.
Alongside this devastating decline of the Muslims came the constant bombardment by the kuffar of negative images of both Islam and Muslims; Muslims were camel riding terrorists, barbaric lechers who were not completely civilised nor indeed human, and they were thus shown to be an affront to the civilised west. The ultimate result is that the Islamic world is today an intellectual, political, economic and cultural satellite of the Western powers. The Arabian peninsula is considered by the Western powers to constitute “A stupendous source of strategic power and the greatest material prize in the world’s history.” The United States is especially aware that the control of the region’s oil supplies is a lever to control the world, and today with the exception of all but a few states most of the regions regimes are under direct US or British control.
Sayangnya, dampak dari konspirasi dan serangan ini bukanlah sesuatu yang sudah berlalu. Hari ini umat dalam keadaan sakit dan lemah. Konsep-konsep yang keliru, yang telah merasuk ke dalam keyakinan dan amal kita akibat kelalaian kita dalam memahami Islam, bagaikan kanker ganas yang terus melemahkan kita dan membuat orang-orang kafir bergembira melihat penderitaan kita. Kita telah melupakan bahwa kita adalah umat terbaik, kita telah melupakan kekuatan dan kedayaan Islam sebagai agama. Kita telah lupa bahwa orang-orang yang tidak beriman tidak akan pernah puas terhadap kita sampai mereka menghancurkan agama kita. Kita seharusnya ingat bahwa Islam adalah karunia dari Pencipta seluruh alam semesta, yang seharusnya membawa martabat dan keadilan bagi umat manusia, bukan kehinaan.
Unfortunately the effects of these conspiracies and attacks are not a thing of the past, today the Ummah is disease ridden and weak, the corrupt concepts which have filtered into our belief and action through our neglect of understanding Islam are like an all-consuming cancer which keeps us weak and fills the kuffar with delight at our suffering. We have forgotten that we are the best Ummah, we have forgotten the strength and power of Islam as a deen. We have forgotten that the non-believers will never be satisfied with us until they have destroyed our deen. We should remember that Islam is a gift from the Creator of all the universe which should bring dignity and justice to mankind, not humiliation..
Saat ini, satu-satunya faktor di balik banyaknya persoalan yang dihadapi Ummat, baik berupa peperangan, kelaparan, korupsi, maupun penindasan, adalah ketiadaan cara hidup Islam yang diwujudkan dalam Khilafah. Tanpa Khilafah, kehidupan dan kehormatan kita tidak memiliki perlindungan, dan orang-orang kafir dapat menyiksa, memperkosa, dan membunuh tanpa rasa takut akan pembalasan. Sumber daya dan tanah kita menjadi mangsa empuk bagi siapa pun yang ingin mencuri dan mengeksploitasinya. Pikiran kita dijejali dengan kebohongan, distorsi, dan fitnah terhadap agama, tanpa ada suara kebenaran yang mampu berdiri menghadapinya dengan wibawa dan kekuatan. Dengan semua persoalan ini, kita dapat melihat dengan jelas bahwa penegakan kembali Khilafah merupakan persoalan yang vital bagi Ummat Islam.
Today, the sole factor behind the many problems faced by the Ummah, whether it is wars, famine, corruption and oppression, is the absence of the Islamic way of life, manifested by the Khilafah. Without the Khilafah, our lives and honour have no protection, and the kuffar can torture, rape and kill, without any fear of retribution. Our resources and lands are easy prey for all who want to steal and exploit them. Our minds are subjected to lies, distortion and slander of the deen, with no voice of truth that can stand up in the face of this with authority and force. With all of these problems we can see clearly that the re-establishment of the Khilafah the vital issue for the Muslim Ummah.
Kita harus melepaskan diri dari pengaruh kerusakan dan kekafiran yang telah menjerumuskan kita akibat kebodohan kita, dan kembali kepada Islam, menanamkannya dengan kokoh di dalam seluruh hati dan pikiran kita, dengan mendidik diri kita sendiri tentang hukum-hukum dan sistemnya yang sempurna secara keseluruhan, sebagai karunia dari Allah (SWT).
We must shake off the influence of corruption and disbelief which our ignorance has caused us to fall into and turn once again to Islam, planting it firmly in all our hearts and minds, by educating ourselves as to its laws and systems which are perfect in their entirety, a blessing from Allah (swt).