12.2 Islam - Obat bagi Perpecahan Umat
12.2 Islam - a Cure for Community Strife
Nasionalisme telah begitu mengakar dalam dunia kita, sehingga ia bahkan menimbulkan penderitaan di dalam sebuah negara bangsa. Sistem yang berlaku saat ini menegakkan bias warna dengan membagi masyarakat menjadi mayoritas dan minoritas etnis. Dengan menyediakan layanan masyarakat, seperti pusat-pusat berdasarkan ras dan kebangsaan, atau dengan menyelenggarakan acara seperti festival Asia dan malam budaya Kulit Hitam, perpecahan semakin tertanam dalam pikiran orang. Lagi-lagi hal ini diterima begitu saja, tetapi mengapa kita perlu menyatakan asal etnis kita ketika mengisi formulir? Bahkan, hal ini mendorong bentuk rasisme yang halus, baik dalam bentuk diskriminasi maupun apa yang disebut diskriminasi positif, karena hal itu menciptakan masyarakat yang sadar akan warna kulit.
Nationalism is so deeply etched into our world, that it even causes suffering within a nation state. The present system enforces colour bias by dividing the community into an ethnic majority and minority. By offering community services, like centres on the basis of race and nationality or by organising events like Asian festivals and Black cultural evenings, divisions are further ingrained into the thoughts of people. Again this is accepted blindly, but why should we need to state our ethnic origin when filling in forms? In fact, this encourages a subtle form of racism, whether in the form of discrimination or so-called positive discrimination, as it creates a colour conscious society.
Dalam Islam, apartheid semacam ini dicegah. Sebab dalam Khilafah, begitu kewarganegaraan diberikan, seorang Muslim maupun non-Muslim tidak dipandang sebagai kelompok minoritas atau mayoritas. Seluruh sistem Islam akan memastikan hal ini. Maka pekerjaan ditawarkan berdasarkan kelayakan, bukan etnisitas. Sekolah-sekolah akan berupaya agar rasisme dihentikan. Organisasi yang menyerukan ras atau kebangsaan akan dilarang.
In Islam such apartheid is prevented. For in the Khilafah, once citizenship is granted, the Muslim or non-Muslim is not viewed as a minority or a majority. All the systems of Islam will ensure this. So jobs are offered on suitability not ethnicity. Schools will work to ensure racism is put to rest. Organisations calling to race or nationality will be illegal.
Ini sangat berbeda dengan mitos pemenggalan kepala orang kafir, karena di bawah Islam, non-Muslim sebagai dhimmi (warga negara non-Muslim dari Negara Islam) adalah warga yang dilindungi, yang keyakinan, harta, dan kehormatannya dijamin. Muhammad ﷺ bersabda dalam salah satu hadits, "Barangsiapa menyakiti seorang dhimmi, sungguh ia telah menyakitiku."
This is a far cry from the myth of beheading of infidels, for under Islam the non-Muslim as a dhimmi (a non-Muslim citizen of the Islamic State), is a protected citizen, whose belief, property and honour is secured. Muhammad (saw) said in one hadith, “Whosoever harmed a dhimmi has harmed me.”