9.2 Apa yang Sedang Terjadi pada Anak-Anak Kita
9.2 What’s Happening to Our Children
Semua orang tua mengkhawatirkan masa depan anak-anak mereka. Kami memiliki harapan bahwa keturunan kami akan sukses dalam hidup dan memiliki karakter seorang yang baik. Kami berharap, di samping berhasil dalam karier mereka, mereka juga berbakti, taat, dan menghormati orang tua mereka.
All parents worry about their children’s future. We have a vision that our offspring will be successful in life, and will possess the characteristics of a good person. We hope they will, along with becoming accomplished in their careers, be dutiful, obedient and respectful of their parents.
Oleh karena itu, kami sangat memperhatikan kehadiran dan sikap mereka di sekolah. Selain itu, kami memastikan mereka mengikuti pelajaran tambahan sepulang sekolah di masjid. Kami melakukan semua ini karena secara alami kami merasa bahwa pendidikan anak-anak kami adalah hal yang paling utama.
Therefore, we are particular about their attendance and attitude towards school. As well as this we ensure that they attend after school lessons in the mosque. We do all this because naturally we feel that the education of our children is of the utmost importance.
Meskipun kami memiliki kekhawatiran, kami melihat semakin banyak generasi muda kita yang jauh dari harapan kami. Gaya hidup banyak dari mereka ditandai dengan perilaku buruk, kurang sopan, dan egois. Mereka hidup menurut aturan mereka sendiri, dengan sedikit atau tanpa pertimbangan terhadap orang lain. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Despite our concerns, we see more and more of our youth falling far short of our expectations. The lifestyles of so many are characterised by misbehaviour, disrespect and selfishness. They live by their own rules, with little or no consideration for others. Why has this happened?
Mari kita lihat dengan jelas apa yang sebenarnya dialami anak-anak kita dalam sistem pendidikan non-Islam. Bayangkan sehari dalam kehidupan seorang anak Muslim (mungkin anak Anda) di sekolah Barat. Anda mengantarnya, merasa puas karena ia akan memasuki lingkungan yang aman dan terlindungi. Apakah anggapan Anda itu benar? Benarkah kita tahu apa yang terjadi pada anak kita setelah pintu kelas tertutup?
Let us see exactly what your children are being exposed to under a non-Islamic education system. Consider a typical day in the life of a Muslim child (perhaps your child) in a western school. You drop off your child, feeling satisfied that they are about to enter an environment that is safe and secure. Is your assumption accurate? Do we really know what happens to our child once the classroom doors have been shut?
Mungkin pelajaran pertama adalah geografi. Anak Anda akan diajarkan tentang berbagai negara: sumber dayanya, penduduknya, bangsa dan budayanya, bahasanya, bendera nasionalnya, dan lain sebagainya. Dan banyak di antaranya pasti merupakan negara-negara Muslim. Semua ini tampak cukup tidak berbahaya, hingga Anda menyadari bahwa Islam tidak mengakui sebagian besar negara tersebut sebagai negara yang sah. Islam memandang kaum Muslimin sebagai satu umat, yang tidak terpisah oleh identitas-identitas nasional yang sengaja dirancang untuk menimbulkan perpecahan di antara kaum Muslimin. Allah (SWT) berfirman,.
Perhaps the first lesson is geography. Your child will be taught about the different countries : its resources, population, peoples and culture, language, its national flag etc.... And many of these will inevitably be of Muslim countries. It all seems quite harmless until you realise that Islam does not recognise most of these countries as legitimate countries. Islam looks to the Muslims as one nation not separated by these national identities which have been designed to cause disunity amongst the Muslims. Allah (swt) says,.
{Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.} [QS 3:103].
“And hold fast all of you together to the rope of Allah and do not be divided.” [TMQ 3:103].
Anak Anda mungkin mengembangkan identitas lain selain identitas Islam, seperti identitas Asia, Arab atau Kulit Hitam, atau identitas Bangladesh, Pakistan atau India, alih-alih menjadi Muslim, hamba Allah, yang disatukan oleh keyakinan kepada Allah.
Your child may develop an identity other than that of Islam - an Asian, Arab or Black identity, or a Bangladeshi, Pakistani or Indian identity, rather than being Muslim, slave of Allah, unified by the belief in Allah.
Mungkin pelajaran berikutnya dalam rutinitas harian adalah sains. Anda berharap anak Anda memperoleh pemahaman dalam sains yang akan mendukung karier masa depannya. Namun, mudah terlupakan bahwa banyak gagasan yang diajarkan dalam mata pelajaran ini bertentangan secara langsung dengan keyakinan Islam.
Maybe the next lesson in the daily routine will be science. You expect your child to gain an understanding in science that will further his/her future career. But it is easy to forget that many of the ideas taught in this subject are in direct contradiction to the Islamic belief.
Pada akhirnya, banyak teori, hipotesis, dan spekulasi yang tidak memiliki dasar bukti yang kuat dan masih diperdebatkan di kalangan para ahli, justru diajarkan seolah-olah merupakan fakta yang sudah mapan.
After all, many theories, hypotheses and speculations, which have no firm foundation on evidence and which are subject to dispute among experts are taught as if they are established facts.
Teori Evolusi menyatakan bahwa manusia berevolusi dari kera. Prinsip Kekekalan Energi mengemukakan bahwa energi bersifat abadi (tidak dapat dimusnahkan maupun diciptakan, melainkan hanya berubah bentuk). Manusia dimasukkan ke dalam kategori yang sama dengan hewan (berbeda hanya karena merupakan hewan yang lebih maju). Siklus air disajikan sebagai sistem yang berdiri sendiri. Semua gagasan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam, misalnya bahwa Allah (SWT) adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu.
The Theory of Evolution suggests that humans evolved from apes. The principle of Conservation of Energy proposes that energy is eternal (cannot be destroyed or created, but just transformed). Humans are put in the same category as animals (differing by being just a more advanced animal). The water cycle is presented as a self-subsisting system. All of these ideas contradict basic Islamic principles e.g. that Allah (swt) is the Creator and the sustainer of everything.
Sikap dalam ilmu pengetahuan Barat mengancam status Sang Pencipta itu sendiri. Dari gagasan-gagasan yang keliru dan tidak berdasar ini, manakah yang sekarang diajarkan kepada anak Anda? Bagaimana gagasan-gagasan ini akan memengaruhi keimanan anak Anda kepada Allah?
Attitudes in Western science threatens the very status of the Creator. Which of these false and baseless ideas is your child being taught today? How will these ideas affect your child’s belief in Allah?
Bagaimana dengan pelajaran sejarah anak Anda? Satu-satunya sejarah yang diajarkan adalah sejarah Barat: peperangannya, perkembangan politiknya, pencapaian, penemuan dan invensinya, dan sebagainya. Islam dianggap tidak memiliki sejarah yang penting, dengan sedikit pengaruh terhadap dunia. Kejayaannya digambarkan hanya sebagai sebuah episode dari sejarah dunia yang kini telah berakhir. Lebih dari itu, Islam diajarkan sebagai agama yang menindas dan menzalimi orang-orang yang tidak bersalah. Anak Anda akan lebih banyak belajar tentang bangsa Romawi daripada tentang kaum Muslimin. Mereka akan lebih banyak belajar tentang perang dan pertempuran yang dilakukan demi Kapitalisme daripada peperangan yang dilakukan kaum Muslimin di jalan Allah.
What about your child’s history lessons? The only history that is taught is that of the West; its wars, its political development, its achievements, discoveries and inventions etc... Islam is not considered as having any important history, having little effect on the world. Its glories are portrayed as just an episode of world history that is now over. Moreover it is taught as a religion that subjugates and oppresses the innocent. Your child will learn more about the Romans than of the Muslims. They will learn more about the wars and battles fought in the way of Capitalism rather than the wars fought by the Muslims in the way of Allah.
Bagaimana dengan Pendidikan Jasmani (pelajaran olahraga)? Islam mewajibkan kaum Muslimin untuk mengikuti tata cara berpakaian yang menjunjung kesopanan. Allah (SWT) berfirman dalam Al-Qur'an:
What about Physical Education (PE lessons)? Islam obliges Muslims to conform to a code of dress that proffers modesty. Allah (swt) says in the Qur’an :
{Wahai anak cucu Adam! Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik.} [QS. 7:26].
“O children of Adam! We have indeed sent down to you clothing to cover your shame and for beauty, and dress of piety - that is best.” [TMQ 7:26].
Anak Anda mungkin disuruh memakai pakaian yang tidak menutupi aurat mereka sebagaimana yang diwajibkan dalam Islam. Apakah Anda menyadari bahwa sebagian besar kamar mandi bersama, di mana anak-anak telanjang sepenuhnya?
Your child may be told to wear clothing that does not cover them adequately according to Islam. Are you aware that most of the showers are communal, where children are completely naked?
Dalam pelajaran pendidikan agama (RE) anak Anda, Islam dibandingkan dengan agama-agama seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Sikh, dan lain-lain. Keunikan keyakinan Islam tidak disajikan, melainkan direduksi. Bahkan menyebut Islam sebagai sebuah agama pun tidak tepat, karena Islam adalah cara hidup yang menyeluruh, yang mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari ibadah pribadi hingga pengaturan urusan kehidupan bernegara.
In your child’s religious education (RE) lessons Islam is compared to the likes of religions such as Christianity, Judaism, Hinduism, Sikhism etc. The uniqueness of the Islamic belief is not presented but is diminished. Even labelling Islam as a religion is not accurate since Islam is a comprehensive way of life, covering all aspects from personal worship to governing lifes affairs in a state.
Korupsi itu tidak berhenti di dalam kelas. Di antara jam pelajaran, anak Anda menghabiskan banyak waktunya di halaman bermain atau ruang bersama, tempat anak-anak membicarakan bintang pop, film, aktor dan aktris, serta pemain sepak bola yang sedang populer; mereka mengidolakan orang-orang itu sampai ke taraf meniru mereka. Muhammad ﷺ dan para Sahabat (ra) tidak lagi dipandang sebagai teladan, melainkan telah digantikan oleh orang-orang seperti Madonna, Michael Jackson, Take That, Gazza dan lainnya...
The corruption does not end in the classroom. In between lessons, your child spends much of his/her time in the playground or common room, where children discuss the latest pop-stars, films, actors and actresses, footballers; idolising them to the point of emulating them. No longer are Muhammad (saw) and the Sahabah (ra) seen as the role models, but they have been replaced by the likes of Madonna, Michael Jackson, Take That, Gazza etc...
Bahkan di ruang makan, makanan yang disiapkan tidak sesuai dengan ketentuan makanan dalam Islam (misalnya daging yang tidak halal, babi, dan sejenisnya).
Even in the dining rooms, the food that is prepared does not conform to the Islamic dietary requirements (e.g. non-halal meat, pork etc.).
Mungkin Anda sedang mempertimbangkan sekolah Muslim untuk anak-anak Anda. Apakah itu akan menyelesaikan masalah Anda? Apakah anak Anda akan dijamin terlindungi dari kerusakan (korupsi)? Sayangnya, Kurikulum Nasional wajib diajarkan di sekolah mana pun agar sekolah tersebut memperoleh izin untuk beroperasi. Sebagian besar bahaya di atas akan berlaku bagi sekolah mana pun yang mengajarkan kurikulum yang sama.
Perhaps you are considering a Muslim school for your children. Will this solve your problem? Will your child be guaranteed protection against corruption? Unfortunately the National Curriculum has by law to be taught in any school for it to gain permission to operate. Most of the above dangers will apply to any school that teaches from the same curriculum.
Selain itu, pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah. Masyarakat itu sendiri memainkan peran besar dalam mendidik anak Anda. Masyarakat dapat dipandang sebagai sekolah yang lebih besar: alih-alih menggunakan papan tulis, guru, dan ruang kelas, masyarakat memanfaatkan televisi, radio, iklan, papan reklame, atau majalah anak-anak untuk mendidik anak Anda dengan praktik-praktik yang tidak Islami. Anak Anda bisa semakin terasing dari Anda sebagai orang tua dan dari Islam. Ia bisa menjadi semakin sadar dan terbiasa dengan hal-hal non-Islam.
Moreover, education does not only happen in the school. Society itself plays a major role in educating your child. It can be thought of as a bigger school : instead of using blackboards, teachers and classrooms, society employs television, radio, advertising, billboards or children’s magazines to educate your child with un-Islamic practices. Your child may grow increasingly alienated from you, the parent, and Islam. He or she may become more aware and accustomed to non-Islam.
Islam
Islam
Bagaimana Negara Islam akan berbeda dalam pendidikan anak Anda? Apakah anak Anda akan tumbuh mengenal agamanya tanpa penyimpangan?
How will the Islamic State differ in the education of your child? Will your child grow to know his/her deen without corruption?
Pertama, pendidikan anak Anda akan gratis karena merupakan kewajiban Negara untuk menyediakan, sebagai kebutuhan dasar, pendidikan gratis bagi setiap laki-laki dan perempuan pada tingkat dasar dan menengah. Setiap warga Negara harus disediakan pendidikan mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan. Akan ada kurikulum Islam dengan tujuan membentuk mentalitas Islam dan watak Islam (yakni kecenderungan) dalam diri anak Anda. Jadi, bukan hanya perbuatan anak Anda yang akan dibentuk oleh Islam, tetapi juga kesukaan dan ketidaksukaannya akan sesuai dengan Islam. Akibatnya, setelah bersekolah, mereka seharusnya memahami halal dan haram dan mengikutinya dengan penuh semangat.
Firstly, your child’s education would be free since it is the State’s duty to provide, as a basic necessity, free education for every male and female at primary and secondary levels. Every citizen of the State must be provided with education of that which is needed in all aspects of life. There would exist an Islamic curriculum with the objective of building the Islamic mentality and Islamic disposition (i.e. inclinations) in your child. So not only would your child’s actions be shaped by Islam but also their likes and dislikes would be in accordance with Islam. They should as a result of school understand the halal and the haram and follow them with enthusiasm.
Misalkan kita membayangkan skenario yang serupa dengan di atas. Anak Anda tiba di sebuah sekolah di Negara Islam, dan memulai hari dengan mengucapkan salam Islam kepada teman-teman dan para gurunya. Anak Anda mengikuti pelajaran pertama, yang mungkin adalah pelajaran sains. Pelajaran itu bisa berupa pilihan antara ilmu eksperimental atau ilmu murni. Pelajaran tersebut akan diajarkan dengan 'aqidah Islam sebagai dasar dan pedoman utama. Sebagai orang tua, Anda dapat merasa yakin bahwa gagasan seperti Teori Evolusi tidak akan diajarkan; manusia tidak akan dianggap sebagai hewan yang lebih maju; Teori Dentuman Besar (Big Bang) tidak akan diajarkan sebagai fakta. Allah (SWT) berfirman, "Tetapi kebanyakan mereka hanya mengikuti persangkaan. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran." [TMQ 10:37].
Let us consider a similar scenario as above. Your child arrives at a school in the Islamic State, and begins the day by greeting his/her colleagues and teachers with the greeting of Islam. Your child has the first lesson, perhaps a science subject. It could be a selection of the experimental or pure sciences. It would be taught with the Islamic ‘aqeedah (belief) as the basis and an overriding guide. You as the parent, could rest assured that ideas such as the Theory of Evolution would not be taught; humans would not be considered as advanced animals; the Big Bang Theory would not be taught as fact. Allah (swt) says, “But most of them follow nothing but conjecture. Truly conjecture can be of no avail.” [TMQ 10:37].