12.7 Islam dan Peradilan
12.7 Islam and the Judiciary
Dalam tampilan publik, seseorang dapat menyaksikan hukuman-hukuman yang mengerikan, seperti pemotongan tangan pencuri, atau eksekusi para pembunuh. Ini memang pemandangan yang mengerikan, dan akan berlangsung di area terbuka, meninggalkan kesan yang mendalam pada hati dan pikiran masyarakat; sebab masyarakat akan menyaksikan penderitaan hebat yang dialami sang pelaku kejahatan.
One can expect to see some horrendous punishments in a public display, like cutting the hand of the thief, or the execution of murderers. These indeed are terrible sights, and will take place in open areas, leaving a lasting effect on the hearts and minds of the society; for society will witness the intense suffering of the criminal.
Dengan demikian, di masa mendatang siapa pun yang sekadar berniat melakukan kejahatan semacam itu akan berpikir dua kali. Bahkan mereka yang tidak menyaksikan peristiwa itu, di generasi-generasi mendatang, akan berpikir dua kali. Sebenarnya, hukuman semacam ini tidak dijatuhkan dengan sering, karena sifatnya yang memiliki efek pencegah yang sangat kuat. Selain itu, memotong tangan pencuri sangatlah sulit, sebab bukti keadaan (bukti tidak langsung) tidak cukup. Maka, peradilan memastikan bahwa tidak akan ada vonis yang keliru, yang tampaknya semakin menjadi tanda zaman kita.
So in future anyone even thinking of committing such a crime will think twice. Even those who did not witness the event in future generations will think twice. For in fact such punishments are not meted out frequently at all, as by their nature they have such a powerful deterrent effect. Furthermore, it is extremely difficult to cut the hand of the thief, for circumstantial evidence is not sufficient. Thus, the judiciary ensures that there would be no wrongful convictions, which seem more and more to be a sign of our times.
Hukuman yang berat bukanlah satu-satunya sarana untuk mencegah kejahatan. Islam menangani permasalahan dari segala sisi. Sistem ekonomi menjamin kebutuhan masyarakat dan mengurangi keinginan untuk mencuri. Sistem pendidikan, dengan mengingatkan masyarakat akan pertanggungjawabannya kepada Sang Pencipta, memangkas hasrat untuk mencuri. Maka seluruh sistem bekerja secara selaras. Alasan mengapa rezim seperti Arab Saudi dan Sudan gagal adalah karena mereka hanya menerapkan sebagian dari Islam berdampingan dengan hukum buatan manusia, sehingga mereka menghukum berdasarkan Islam namun tidak menjamin kebutuhan berdasarkan Islam.
Severe punishments are not the only means to deter crime. Islam tackles the problems from all angles. The economic system secures the needs of people and cuts the want for stealing. The education system, through reminding society of accountability to the Creator, cuts the desire for stealing. So all the systems work in harmony. The reason why regimes like Saudi Arabia and Sudan fail is because they only implement parts of Islam side by side with man-made law, such that they punish by Islam but do not secure the needs by Islam.
Bayangkanlah sebuah masyarakat yang di dalamnya terdapat rasa aman. Tidak perlu menoleh ke belakang ketika berjalan di jalanan pada malam hari karena takut diserang, dan tidak perlu membeli kunci pintu, kunci jendela, dan kunci kotak surat tambahan karena takut dirampok. Ini bukan khayalan, sebab hal itu memang terjadi selama berabad-abad di bawah Negara Islam.
Imagine a society where there is a sense of security. There would be no need to turn over your shoulder when walking the streets at night for fear of being assaulted, and no need to buy extra door locks, window locks and letterbox locks for fear of being burgled. This is no fantasy - indeed it was the case for centuries under the Islamic State.
Selain itu, Islam dalam sistem peradilannya menjunjung nilai-nilai yang terabaikan dalam masyarakat, misalnya kehormatan. Dalam Islam, menuduh seseorang berzina adalah perbuatan yang dapat dihukum, sedangkan bagi surat kabar masa kini, hal itu justru menjadi sumber pendapatan.
Furthermore, Islam in its judiciary upholds values that are downtrodden in society, for example honour. In Islam accusing someone of adultery is a punishable offence, whereas for newspapers today it is a source of revenue.
Atau ambil contoh lain, yaitu persoalan keyakinan. Dalam Islam, siapa pun yang menghina salah seorang nabi Allah (SWT) dapat dijatuhi hukuman mati. Hal ini mungkin tampak keras. Namun tentu saja keyakinan setidaknya layak dilindungi sebagaimana harta benda, karena pada hari kiamat yang akan menyelamatkan kita adalah keyakinan kita, bukan harta kita.
Or take as another example the issue of belief. In Islam if anyone insults any prophet of Allah (swt) they are subject to be killed. This may appear harsh. But surely belief is at least as worthy of protection as property, for on the day of Judgement it is our belief that will save us, not our property.