11.6 Interaksi dengan Masyarakat
11.6 Interaction with Society
Tantangan terbuka terhadap sistem kufur yang dimulai oleh Nabi ﷺ berlangsung selama hampir 10 tahun hingga Negara Islam didirikan di Madinah. Lokasi Negara tersebut tidak diketahui oleh Nabi ﷺ, begitu pula waktu berdirinya; yang ada hanyalah penyerahan diri secara utuh terhadap tujuan ini dan metode yang jelas serta diikuti untuk meraih kemenangan yang telah dijanjikan Allah (SWT).
The open challenge to the kufr system that was initiated by the Prophet (saw) was waged for nearly 10 years until an Islamic State was established in Madinah. The location of the State wasn’t known to the Prophet (saw), nor was the time of it’s establishment, there was only a complete submission towards this goal and a clear cut method which was followed to achieve the victory that Allah (swt) had promised.
Doa yang masyhur yang dipanjatkan Rasulullah ﷺ ketika kembali dari Ta'if merangkum sikap dan komitmen beliau terhadap dakwah: "Ya Allah! Kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, sedikitnya daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang! Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada orang asing yang bermuka masam kepadaku? Ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan atas diriku? Asal Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Karunia-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, dan dengan itu urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar jangan Engkau turunkan murka-Mu kepadaku atau Engkau timpakan kemarahan-Mu atas diriku. Hanya Engkaulah yang berhak menuntut agar Engkau ridha, sampai Engkau ridha. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Engkau."
The famous du‘a that the Messenger of Allah (saw) made when returning from Ta‘if summarised his attitude and commitment to the call: “O Allah! To you I proclaim my weakness, little resource, and lowliness before man. O Most Merciful! You are the Lord of the weak, and You are my Lord. To whom would You confide me? To one afar who will misuse me? If You are not angry with me I care not. Your favour is wider for me. I take refuge in the light of Your countenance by which the darkness is illuminated, and the things of this world and the next are rightly ordered, lest Your anger descend upon me or Your wrath light upon me. It is for You to be satisfied until You are well pleased. There is no power and no might save in You.”.
Nabi ﷺ pernah pergi sendirian ke Ta'if untuk mengajak mereka masuk Islam dan meminta dukungan untuk menegakkan Negara Islam; beliau ditolak mentah-mentah, bahkan anak-anak disuruh melempari beliau dengan batu hingga darah mengalir ke kedua kakinya. Beliau ﷺ tidak mempedulikan hal itu; satu-satunya perhatian beliau adalah berpegang teguh pada metodologi yang telah digariskan bagi beliau dan kelompoknya (para sahabat) untuk menegakkan Islam. "Jika engkau tidak marah kepadaku, aku tidak peduli," yakni, apa pun yang dirasakan orang-orang kafir dan bagaimana pun tanggapan mereka, Nabi ﷺ semata-mata memperhatikan untuk mengikuti jalan Islam sebagaimana beliau dituntun oleh Allah (SWT). Namun, sebagian kaum Muslim hari ini, begitu menghadapi sedikit masalah, justru mundur ke rumah mereka dan enggan mengikuti Sunnah Nabi ﷺ dalam mendatangi orang banyak secara massal untuk mengajak mereka kepada agama dan menegakkan hukum Allah.
The Prophet (saw) had travelled alone to Ta‘if to invite them to Islam and to ask for support in establishing the Islamic State; he was rejected outright and even children were sent to stone him until the blood ran to his feet. He (saw) did not mind, his sole concern was to adhere to the methodology set out for him and his group (companions) to establish Islam. “If you are not angry with me I care not” - meaning no matter what the kuffar felt or how they responded, the Prophet (saw) was solely concerned with following the Islamic way as he was guided to by Allah (swt). And yet some Muslims today at the slightest problem retreat to their homes and refuse to follow the Sunnah of the Prophet (saw) in going to the people on mass to invite them to the deen and to establish Allah’s law.
Tahap terbuka ditandai oleh beberapa poin kunci tertentu:
The open stage was characterised by certain key points:
1. Kaum Muslimin bekerja keras untuk menyebarkan dakwah Islam secara terbuka. Seruan kepada suku-suku Quraisy di Bukit Safa merupakan salah satu contohnya, dan demonstrasi kelompok Nabi ﷺ yang mengelilingi Ka'bah setelah datangnya perintah Allah untuk "pergi dan sampaikan secara terang-terangan" merupakan contoh lainnya. Kaum Quraisy terkejut; Ibnu Abbas (ra) meriwayatkan bahwa mereka belum pernah menyaksikan demonstrasi semacam itu sebelumnya.
1. The Muslims worked hard to propagate the call of Islam publicly - the address to the tribes of Quraysh at Mount Safa was one example, and the demonstration of the Prophet’s group in encircling the Ka‘aba which came after Allah’s command to “go and proclaim openly” was another. Quraysh were shocked; Ibn Abbas (ra) narrated that they had never before seen such a demonstration.
2. Seruan itu kontroversial dan menantang. Sifat perubahan dalam masyarakat menuntut agar pemikiran-pemikiran yang bertentangan harus dibongkar dan dibantah secara menyeluruh, supaya jalan terbuka bagi pemikiran dan cara hidup Islam untuk tampil ke depan. Sifat ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan pada periode Makkah menunjukkan jalan sekaligus menantang pikiran-pikiran dangkal dan tidak berpikir dari kaum Quraisy agar bangun dan merenungkan apa yang mereka sembah, siapa yang mereka ikuti sebagai pemimpin, bagaimana mereka berjual beli, atau bagaimana mereka menikah. Singkatnya, seluruh cara hidup mereka diserang secara tajam. Lebih jauh lagi, kaum Muslimin masa kini keliru jika mengira bahwa perubahan akan datang tanpa adanya serangan intelektual yang tegas terhadap Kapitalisme, Komunisme, atau ideologi sesat lainnya.
2. The call was controversial and challenging. The nature of change in society requires that opposing thoughts must be broken down and thoroughly refuted in order that the way be cleared for the Islamic thought and way of life to come forward. The nature of the Qur’anic ayat that were revealed during the Makkan period pointed the way and challenged the shallow unthinking minds of Quraysh to wake up and consider what it was they worshipped, who they followed as leaders, how they bought, or how they married. In short the whole way of life was pointedly attacked, and furthermore the Muslims of today are mistaken if they think that change will come without there being a rigorous intellectual attack upon Capitalism, Communism, or any other false ideology.
Bukan hanya keyakinan mereka terhadap berhala yang diserang, tetapi Nabi ﷺ juga melancarkan serangan intelektual terhadap setiap aspek cara hidup mereka:
Not only was their belief in idols attacked, but the Prophet (saw) launched an intellectual onslaught on every aspect of their way of life:
Sistem politik dan para pemimpin mereka diserang:
Their political system and leaders were attacked:
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah dia! Hartanya dan apa yang dia usahakan tidak akan berguna baginya. Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak..." [TMQ 111:1-3].
“May the hands of Abu Lahab perish: Doomed he is. His wealth and his gains shall not avail him. He shall be plunged in a flaming fire...” [TMQ 111:1-3].
Sistem ekonomi mereka diserang:
Their economic system was attacked:
"Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menakar dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." [TMQ 83:1-2]. Bahkan adat kebiasaan sosial mereka pun dikecam.
“Woe to the defrauders, who take in full what they buy, and who reduce the weight when they sell.” [TMQ 83:1-2]. Even their social customs were attacked:
"Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu." {TMQ 17:31}
“You shall not kill your children for fear of want. We will provide for them and for you.” [TMQ 17:31].
Tantangan selalu mengaitkan masyarakat kembali kepada ‘aqidah, dengan menyeru mereka untuk memeluk Islam dan menolak kerusakan yang ada di sekeliling mereka. Ayat-ayat ini dan penyampaian dakwah Islam yang gigih menimbulkan kontroversi besar, penderitaan, dan pada akhirnya mengangkat profil kaum Muslimin di seluruh Semenanjung Arab. Tuhan-tuhan palsu, sistem, dan keyakinan masa kini juga harus diungkap, dan pesan Islam harus dikedepankan secara menonjol, terutama di dunia Muslim, tempat upaya untuk menegakkan kembali Khilafah sedang berlangsung.
Always the challenge linked the people back to the ‘aqeedah, imploring them to adopt Islam and reject the corruption around them. These ayat and the vigorous passing of the Islamic call created great controversy, hardship and ultimately raised the profile of the Muslims in the whole of the Arab peninsula. The false gods, systems and creeds of today must also be exposed and the message of Islam must be prominently brought forward, especially so in the Muslim world, where the work to re-establish the Khilafah is occurring.
Kaum Muslimin tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyampaikan budaya kepada masyarakat dan mengajak mereka kepada Islam. Seruan terbuka ini merupakan pendekatan utama bagi gerakan Islam saat ini, dan memang harus dilaksanakan di negeri-negeri Muslim, untuk menggerus sepenuhnya gagasan dan konsep keliru yang telah mencemari pikiran umat Islam yang tulus.
The Muslims didn’t lose any opportunity to pass culture to the people and invite them to Islam. This open call forms the main approach for the Islamic movement today, and indeed must be carried out in the Muslim countries, to undermine completely the false ideas and concepts which have polluted the minds of the sincere Islamic Ummah.