6.4.2 Asisten Eksekutif
6.4.2 Executive Assistant
Khalifah diperbolehkan terlibat dalam urusan administrasi. Nabi ﷺ pun terlibat dalam urusan administrasi ketika beliau menghancurkan berhala, mengatur jihad, dan menghapus gelar beliau dari Perjanjian Hudaibiyah. Untuk memudahkan urusan, beliau boleh mengangkat pembantu pelaksana (Mu‘awin Tanfeedh) untuk membantunya mengelola administrasi Negara. Berbeda dengan pembantu delegasi, pembantu pelaksana hanyalah pelaksana perintah Khalifah. Mereka bukan penguasa. Mereka juga boleh ditugaskan pada satu bidang kerja atau administrasi tertentu.
The Khaleefah is allowed to engage himself in administrative matters. The Prophet (saw) did engage in administrative matters when he broke idols, organised the Jihad, and erased his title from the Treaty of Hudaybiyah. To facilitate matters, he may appoint executive assistants (Mu‘awin Tanfeedh) to help him manage the administration of the State. Unlike delegated assistants, the executive assistants are only executors of the directives of the Khaleefah. They are not rulers. They may, also, be assigned to one specific area of work or administration.
Sebagaimana wewenang Mu‘awin Tanfeedh dibatasi, demikian pula syarat-syarat pengangkatannya. Mu‘awin tanfidz melaksanakan perintah dan hukum Khalifah yang akan diterapkan, kemudian menyampaikan laporan kepada Khalifah mengenai pelaksanaannya.
Just as the authority of the Mu‘awin Tanfeedh is limited so are the conditions for his appointment. The executive assistant carries out the orders and rules of the Khaleefah which are to be implemented, and then brings feedback to the Khaleefah, regarding the execution.