9.3.1 Kurikulum Islam dalam Khilafah
9.3.1 Islamic Curriculum Within the Khilafah
Pendidikan dalam Kurikulum Islam dapat dibagi menjadi dua jenis: ilmu-ilmu dan budaya. Ilmu-ilmu eksperimental beserta cabang-cabangnya mencakup mata pelajaran seperti matematika dan kedokteran, sedangkan mata pelajaran budaya mencakup hal-hal seperti bahasa, sejarah, dan fiqh (yurisprudensi). Ilmu-ilmu eksperimental beserta cabang-cabangnya akan diadopsi dan dimasukkan ke dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan akan ilmu tersebut dan tanpa batasan apa pun. Adapun mata pelajaran budaya, mata pelajaran ini akan diajarkan pada jenjang dasar dan menengah dengan mengikuti kebijakan tertentu, yang tidak bertentangan dengan Islam dan aturan-aturannya. Adapun pendidikan tinggi, budaya-budaya ini akan diadopsi dan dipelajari seperti ilmu lainnya selama tidak menyebabkan penyimpangan dari kebijakan dan tujuan pendidikan. Adapun seni dan industri, seperti perdagangan dan ekonomi, pelayaran, dan sebagainya, hal-hal ini akan menjadi bagian dari ilmu-ilmu dan akan diajarkan sebagai ilmu. Adapun ilmu-ilmu yang berasal dari budaya tertentu yang dipengaruhi oleh sudut pandang khusus, seperti seni lukis dan seni patung makhluk bernyawa, ilmu-ilmu ini akan ditolak karena bertentangan dengan pandangan Islam (melukis dan memahat makhluk bernyawa hukumnya haram).
The education of the Islamic Curriculum can be divided into two types; the sciences and the culture. Experimental sciences and their branches include such subjects as mathematics and medicine, and cultural subjects include things such as languages, history and fiqh (jurisprudence). Experimental sciences and their branches would be adopted and included in the curriculum, according to the need for them and without any restrictions. As for the cultural subjects, these would be taught in the primary and secondary terms following a specific policy, which would not contradict Islam and its rules. As for the higher education, these cultures would be adopted and studied like any other science as long as they do not lead to a deviation from the policy and the aims of education. As for the arts and industries, such as commerce and economics, shipping etc... these would be part of the sciences and would be taught as such. As for the sciences which are derived from a certain culture when affected by a specific viewpoint such as painting and sculpture of animate objects, these would be rejected since they contradict the Islamic viewpoint (painting and sculpturing of any living soul being haram).
Para siswa akan mempelajari budaya Islam secara mendalam di semua jenjang, yaitu hadits, bahasa Arab beserta kesusastraannya, serta sejarah Islam. Mereka juga akan mempelajari ilmu alam, kimia, teknik sipil, kedokteran, biologi, farmasi, dan sebagainya. Perguruan khusus untuk tujuan ini akan didirikan di tingkat universitas. Mata pelajaran lain seperti filsafat, sosiologi, sejarah asing, bahasa asing dan kesusastraannya, akan dibatasi dan tidak diajarkan di tingkat sekolah dasar dan menengah, karena mengandung aspek-aspek budaya yang bertentangan dengan pandangan Islam. Namun, kajian-kajian tersebut, bersama dengan konsep-konsep Kapitalisme Barat, Komunisme dan Sosialisme, serta doktrin Ahlul Kitab, kaum Buddhis, kaum Hindu, kaum Qadiani, kaum Baha'i, dan konsep nasionalisme serta patriotisme, meskipun dibatasi, hanya akan dipelajari di tingkat universitas dengan satu-satunya tujuan untuk menunjukkan kebatilan dan kesia-siaannya. Dengan demikian, pikiran kaum Muslimin hanya akan dibina oleh budaya Islam dan ilmu-ilmu eksperimental, serta segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan 'aqidah Islam. Hal ini akan menjamin berkembangnya mentalitas dan watak Islami pada diri setiap Muslim, sehingga tercapai kepribadian Islami. Dengan demikian, masyarakat Muslim akan tetap berbeda dalam pemikiran dan perilakunya, serta terlindungi dari penyimpangan dan perpecahan.
Students would study the Islamic culture in depth at all levels, this the hadith and the Arabic Language and its literature, as well as the Islamic History. They would also study natural science, chemistry, civil engineering, medicine, biology, pharmacy etc... Special colleges would be set up for this purpose at university level. Other subjects such as philosophy, sociology, foreign history, foreign languages and their literature; these would be restricted and would not be taught at primary and secondary levels, for they contain aspects of cultures which contradict the Islamic viewpoint. However such studies, together with the Western Capitalist, Communist and Socialist concepts, as well the doctrines of the People of the Book, the Buddhists, the Hindus, the Qadianis, the Bahais and the concepts of nationalism and patriotism, although being restricted, would only be studied at university level with the sole aim of demonstrating their falsehood and triviality. Therefore, the minds of the Muslims would only be nurtured by the Islamic culture and the experimental sciences and whatever does not contradict the Islamic ‘aqeedah. This would ensure the development of the Islamic mentality and disposition in the Muslim individual, achieving therefore an Islamic personality. The Muslim society would therefore remain distinct in its thought and behaviour and protected against deviation and disintegration.