4.7 "Athens dari Asia" di Palaestina: Gaza sebagai Pusat Mediterania bagi Sastra dan Retorika Klasik
4.7 The ‘ Athens Of Asia’ In Palaestina: Gaza As A Mediterranean Centre Of Classical Literature And Rhetoric
Keaksaraan massal di Palestina, seperti di semua negara lain, merupakan fenomena modern.
Mass literacy in Palestine, as in all countries, is a modern phenomenon.
Namun, jika melihat pusat-pusat pembelajaran Palestina yang berkembang pesat pada abad ke-5 dan ke-6 Masehi, tampak jelas rasa identitas diri negeri itu, perekonomiannya yang semarak, pendidikan dan keaksaraan yang relatif meluas, serta kosmopolitanisme yang penuh percaya diri. Salah satu pusat pembelajaran terpenting di negeri ini pada masa tersebut adalah kota Gaza, yang tampil sebagai pusat sastra klasik dan retorika, dengan sejumlah cendekiawan terkemuka yang tinggal dan berkarya di sana, serta menjadi pusat kota Kristen yang semarak dan berbudaya di seluruh kawasan Mediterania.
However, looking at the thriving learning centres of Palestine in the 5th and 6th centuries AD, one gets a strong sense of the country’s sense of self-identity, its vibrant economy, its relatively widespread education and literacy and its overall confident cosmopolitanism. One of the most important centres of learning in the country during this period was the city of Gaza, which emerges as a seat of classical literature and rhetoric, with a number of famous scholars living and working there, a vibrant and cultured Christian urban centre of the whole Mediterranean region.
Sepanjang periode ini, kota-kota pelabuhan Gaza dan Caesarea-Palaestina, yang dihubungkan oleh transportasi laut dan jalan raya Via Maris, bersaing sekaligus bekerja sama sebagai dua pusat kota paling kosmopolitan di negeri itu, dan kedua kota tersebut memiliki komunitas Arab yang cukup besar. Juga penting adalah fakta bahwa pada tahun 451 M, di Konsili Ekumenis Chalcedon yang krusial, kota Gaza diwakili oleh seorang uskup Arab (Shahid 2006a: 523). Pada tahun 530-an M, Aratius, Dux Palaestina Prima, dan Archon Stephanus, prokonsul Palaestina Prima, dipuji dalam encomium20
Throughout this period the harbour cities of Gaza and Caesarea- Palaestina, linked by sea transport and the highway of the Via Maris, competed and worked together as the two most cosmopolitan urban centres in the country, and both cities had sizeable Arab communities. Also significant is the fact that in 451 AD, at the crucial ecumenical Council of Chalcedon, the city of Gaza was represented by an Arab bishop (Shahid 2006a: 523). In the 530s AD Aratius, Dux of Palaestina Prima, and Archon Stephanus, proconsul of Palaestina Prima are praised in the encomium20
Ditulis oleh sesama warga Provincia Palaestina, Choricius dari Gaza, seorang filosof dan retor (wafat tahun 518 M), untuk menjaga hukum dan ketertiban serta memperbaiki sistem pasokan air di Caesarea Maritima melalui pekerjaan pemeliharaan, dengan membersihkan sumbatan dari saluran air berketinggian tinggi (Patrich 2011: 109; juga 2001; Prummer 2002: 246). Encomium ini juga merujuk pada beberapa aspek retorika yang berbeda, yang karenanya Sekolah Retorika Gaza klasik menjadi sangat terkenal pada Akhir Zaman Kuno.
written by a fellow compatriot of Provincia Palaestina, Choricius of Gaza, a philosopher and rhetorician (died in 518 AD), for maintaining law and order and improving the water supply system of Caesarea Maritima by maintenance work, clearing obstructions from the high-level aqueducts (Patrich 2011: 109; also 2001; Prummer 2002: 246). Encomium also refers to several distinct aspects of rhetoric for which the classical Gaza School of Rhetoric became very famous in Late Antiquity.
Didirikan lebih dari 5000 tahun yang lalu, Gaza adalah salah satu kota tertua di dunia. Terletak secara strategis di antara Mesir dan Asia, di pusat jalan kuno Via Maris, dan di tepi pantai, Gaza tidak pernah berhenti menghadap Laut Mediterania. Gaza juga merupakan pelabuhan yang sangat kuno dan pintu keluar terdekat ke Arabia. Ia menjadikan Petra sebagai daerah pedalamannya, dan orang-orang Yunani kuno mengetahui bahwa melalui Gaza mereka dapat mencapai India (Humbert 2000).
Established more than 5000 years ago, Gaza is one of the oldest cities in the world. Located strategically between Egypt and Asia, at the centre of the ancient road of the Via Maris, and on a beachfront, Gaza has never stopped looking at the Mediterranean Sea. Gaza was also a very ancient port and the closest outlet for Arabia. It treated Petra as its hinterland and the ancient Greeks knew that it was through Gaza they could reach India (Humbert 2000).
Pada abad ke-12 SM, bangsa Filistin menjadikan Gaza sebagai kota terkemuka dari Pentapolis Filistia. Sebagaimana telah kita lihat di atas, Gaza selalu dikaitkan dengan kota-kota utama Filistia dan dengan bangsa Filistin kuno. Disebut dalam surat-surat Amarna sebagai 'Azzati', Gaza berfungsi sebagai pusat administrasi Mesir kuno di Palestina. Pada abad ke-5 dan ke-4 SM, kota-kota Filistia mempertahankan hubungan perdagangan internasional mereka dan mengembangkan koin Filisto-Arab yang khas; kota ini terus berkembang di bawah kekuasaan Romawi, dan pada abad ke-2 M koin perunggu Romawi kekaisaran dicetak di Gaza. Selama dua periode panjang Palestina di bawah kekuasaan Romawi dan Bizantium, Gaza berkembang dan pelabuhan Mediterraniannya yang strategis terus makmur. Pada tahun 635 M, Gaza menjadi salah satu kota pertama di Palestina yang ditaklukkan oleh tentara Muslim Arab, dan dengan cepat berkembang menjadi pusat utama ilmu fikih Islam. Kini kota Gaza, dengan jumlah penduduk lebih dari 500.000 jiwa, merupakan kota Arab terbesar di Palestina; mayoritas penduduk Gaza beragama Islam, tetapi terdapat pula minoritas Arab Kristen.
In the 12th century BC the Philistines made Gaza the leading city of the Pentapolis of Philistia. As we have seen above, Gaza was always identified with the key cities of Philistia and with the ancient Philistines. Mentioned in the Amarna letters as ‘Azzati’, Gaza served as ancient Egypt’s administrative capital in Palestine. In the 5th and 4th centuries BC the cities of Philistia maintained their international trading links and developed their distinct Philisto-Arabian coins; the city continued to flourish under the Romans and in the 2nd century AD imperial Roman bronze coins were struck in Gaza. In the course of the two long periods of Palestine under the Romans and Byzantines, Gaza expanded and its strategically located Mediterranean port continued to prosper. In 635 AD, Gaza became one of the first cities in Palestine to be conquered by the Arab Muslim army and it quickly developed into a major centre of Islamic jurisprudence. Today the city of Gaza, with a population of over 500,000, is the largest Arab city in Palestine; the majority of Gaza’s inhabitants are Muslims, but there is also a Christian Arab minority.
Di bawah pemerintahan Bizantium, masyarakat Palestina pada akhir Zaman Kuno umumnya merupakan masyarakat yang terdidik. Pendidikan dasar tersedia secara luas, kadang hingga tingkat desa, terutama bagi kaum laki-laki. Pendidikan tidak hanya didorong di ibu kota kekaisaran, Konstantinopel, tetapi juga di sekolah-sekolah yang beroperasi di pusat-pusat kota besar seperti Antiokhia, Aleksandria, Kaisarea Maritima, dan Gaza.
Under the Byzantines, Palestinian society of Late Antiquity was, on the whole, an educated one. Basic education was widely available, sometimes at village level, especially for men. Education was fostered not only in the imperial capital Constantinople but also in schools operating in major centres such as Antioch, Alexandria, Caesarea Maritima and Gaza.
Komponen utama pendidikan adalah retorika, filsafat, hukum, dan bahasa (Yunani dan Latin) dengan tujuan menghasilkan pemimpin dan pejabat terpelajar untuk negara dan gereja. Namun, partisipasi perempuan dalam masyarakat patriarkal tidak didorong di "Athena Mediterania" yang baru tersebut.
The main components of education were rhetoric, philosophy, law and languages (Greek and Latin) with the aim of producing educated leaders and officials for state and church. However, female participation in patriarchal society was not encouraged in the new ‘Athens of the Mediterranean’.
Misalnya, nasib perempuan di Gaza pada masa klasik tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan di Athена yang patriarkal pada abad ke-4 Masehi (Sivan 2008: 300).
For instance, the lot of women in classicising Gaza was not much better than the situation of women in the patriarchal classical Athens of the 4th century AD (Sivan 2008: 300).
Hari ini warisan klasik Palestina pada masa Akhir Zaman Kuno yang luar biasa tidak diajarkan di Palestina; warga Palestina yang berpendidikan lebih cenderung mengingat warisan klasik Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), pusat intelektual utama di Baghdad sepanjang Zaman Keemasan Islam dari abad ke-9 hingga ke-13, daripada Sekolah Retorika klasik di Gaza atau Perpustakaan klasik di Caesarea Maritima. Namun, disiplin retorika (seni wacana) dan filsafat merupakan pusat kehidupan intelektual kuno, klasik, dan pascaklasik, dan juga warisan klasik Palestina pada masa Akhir Zaman Kuno. Jika ibu kota Palaestina Prima, Caesarea, berkembang pada masa Akhir Zaman Kuno dan menjadi pusat Mediterania untuk klasikisasi, pembelajaran, teologi, dan penulisan sejarah, maka kota Mediterania Gaza pada akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6 menjadi rumah bagi Sekolah Retorika Kristen yang bersifat klasikis (Kennedy, G. 1994: 255). Di Sekolah Gaza, tradisi klasik telah terjalin erat dengan tradisi Kristen. Kota-kota lain di Palestina yang lebih luas, seperti Askelon (‘Asqalan) dan Skitopolis (Beisan), juga mengalami transformasi mendalam akibat kebangkitan Kristen pascaklasik pada Akhir Zaman Kuno ini.
Today the spectacular classical heritage of Late Antiquity Palestine is not taught in Palestine; educated Palestinians are more likely to recall the classical heritage of the ‘House of Wisdom’ (Bayt al-Hikmah), a major intellectual centre in Baghdad throughout the Golden Age of Islam from the 9th to the 13th centuries, than the classical Rhetorical School of Gaza or classical Library of Caesarea Maritima. Yet the disciplines of rhetoric (the art of discourse) and philosophy were central not only to ancient, classical and post-classical intellectual life but also to the classical heritage of Late Antiquity Palestine. If the capital city of Palaestina Prima, Caesarea, flourished in Late Antiquity, developing into a Mediterranean centre of classicising, learning, theologising and historical writings, the Mediterranean city of Gaza became in the course of the late 5th and early 6th centuries the home of a classicising Christian School of Rhetoric (Kennedy, G. 1994: 255). In the School of Gaza, the classical tradition had become deeply intertwined with the Christian one. Other cities of greater Palestine, such as Ascalon (‘Asqalan) and Scythopolis (Beisan), were also profoundly transformed by this post-classical Christian renaissance of Late Antiquity.
Dipengaruhi secara intelektual dan budaya oleh perpaduan berbagai tradisi Helenistik di Aleksandria, Kaisarea-Palestina, dan Athena, serta oleh Neoplatonisme Kristen, suasana Gaza yang sangat longgar dan lingkungan perkotaan yang kaya budaya dan intelektual, di tengah mayoritas penduduk Kristen, selama lebih dari dua abad di Akhir Zaman Kuno, melahirkan kebangkitan yang luar biasa dari Mazhab Retorika Gaza. Mazhab ini dipimpin oleh para filsuf dan ahli retorika Kristen, di antaranya Prokopius dari Gaza (sekitar 465–528
Intellectually and culturally influenced by a mix of diverse Hellenistic traditions of Alexandria, Caesarea-Palaestina and Athens, as well as by Christian Neo-Platonism, the extraordinarily relaxed setting and flourishing cultural and intellectual urban environment of Christian-majority Gaza for over two centuries in Late Antiquity brought about the spectacular rise of the Rhetorical School of Gaza, which was headed by Christian philosophers and rhetoricians including Procopius of Gaza (c. 465–528
AD) (Westberg 2009; Kennedy, D. 2008: 169) dan muridnya Choricius dari Gaza. Yang terakhir ini berkembang pada awal abad ke-6 M. Dalam tradisi klasik, kecintaan terhadap retorika dan kecintaan terhadap pertunjukan teater berjalan beriringan, dan di Gaza, serta di beberapa kota Palestina lainnya, tumbuh budaya teater yang subur. Ruang-ruang privat dan publik di Gaza yang mayoritas penduduknya Kristen menumbuhkan pertunjukan teater dan peragaan retorika di depan umum di sekolah-sekolah, "teater suci", dan bahkan "pemandian" umum (Champion 2014: 21‒51).
AD) (Westberg 2009; Kennedy, D. 2008: 169) and his disciple Choricius of Gaza. The latter flourished in the early 6th century AD. In the classical tradition, love for rhetoric and love for theatrical performance went hand in hand and in Gaza, as well as in several other Palestinian cities, a thriving theatre culture arose. The private and public spaces of Christian-majority Gaza nurtured theatrical performances and public rhetorical displays in schools, ‘holy theatres’ and even public ‘baths’ (Champion 2014: 21‒51).
Ruang budaya dan revolusi intelektual yang berkembang pesat di Gaza ini digambarkan oleh George A. Kennedy sebagai berikut:
This flourishing cultural space and indeed intellectual revolution in Gaza was described by George A. Kennedy as follows:
Gaza, di pesisir selatan Palestina, adalah sebuah kota yang indah dan makmur pada abad kelima, yang tetap berpegang teguh pada tradisi-tradisi lama.
Gaza, on the southern coast of Palestine, was a pleasant and prosperous city in the Fifth Century which clung to the old traditions.
Kemurtadan Julian disambut dengan antusias di sana. Gregorius dari Nazianzus ... dan Libanius menganggap baik sekolah-sekolah retorikanya ...
Julian’s apostasy was greeted there with enthusiasm. Gregory of Naziansus ... and Libanius thought well of its rhetoric schools ...
Kekristenan mungkin sempat menghambat studi klasik di Gaza, tetapi pada akhir abad kelima dan awal abad keenam, Gaza menjadi tempat lahirnya sejumlah sofis dan penulis bergaya Klasisis, yang bersama-sama dikenal sebagai Mazhab Gaza. Yang paling penting di antara mereka adalah Prokopius dan Khoriky, tetapi juga layak disebutkan beberapa tokoh lain secara singkat. Eneas dari Gaza adalah pengarang sebuah dialog yang masih bertahan hingga kini, berjudul Theophrastus. (Kennedy, G. 2008: 169)
Christianity may for a time have inhibited classical studies in Gaza, but in the late Fifth and early Sixth Centuries it was the home of a series of Classicizing sophists and writers who together constitute what is known as the School of Gaza. The most important of these are Procopius and Choricius, but brief mention may be made of several others. Aeneas of Gaza was the author of a surviving dialogue entitled Theophrastus. (Kennedy, G. 2008: 169)
Selama berabad-abad sebelum Akhir Zaman Kuno, Gaza serta para pelaut dan pedagang Arab telah memegang peran penting dalam jalur perdagangan rempah jarak jauh dari India ke Arab bagian selatan, lalu ke Mediterania Timur dan Mediterania Barat.
For many centuries prior to Late Antiquity, Gaza and Arab sailors and traders had been central to the long-distance spice trade route from India to southern Arabia and then to the Eastern and Western Mediterranean.
Gaza juga telah mencapai kemakmuran ekonomi dan sosial, berada di pusat Jalan Raja tradisional dari Mesir, dengan rute-rute yang melintasi Naqab dan Transyordania, sebuah jalan raya yang menegaskan statusnya sebagai kota pelabuhan utama. Pelabuhannya tidak hanya menjadi pintu gerbang menuju kota-kota dan desa-desa di Palestina selatan, tetapi juga bagi barang dagangan yang datang dari Arabia selatan dan India menuju Laut Tengah (Hirschfeld 2004: 63).
Gaza had also achieved economic and social prosperity, being at the centre of the traditional King’s Highway from Egypt, with routes running through Naqab and Transjordan – a highway which confirmed its status as a major port city. Its port was not only the gateway to the towns and villages of southern Palestine but also for trade goods arriving from southern Arabia and India to the Mediterranean (Hirschfeld 2004: 63).
Jennifer Hevelone-Harper, dalam *Disciples of the Desert: Monks, Laity, and Spiritual Authority in Sixth-Century Gaza* (2005), menggambarkan Gaza pada abad keenam sebagai pusat ekonomi, intelektual, dan budaya yang penting, tidak hanya bagi Palaestina Prima tetapi bagi seluruh kawasan Mediterania Timur.
Jennifer Hevelone-Harper, in Disciples of the Desert: Monks, Laity, and Spiritual Authority in Sixth-Century Gaza (2005), describes 6th century Gaza as a major economic, intellectual and cultural centre not only for Palaestina Prima but for the whole Eastern Mediterranean region:
Gaza pada masa Akhir Antik (Late Antiquity) merupakan pusat budaya dan ekonomi yang sangat penting. Kota pada abad keenam itu dikenal dengan pasar-pasarnya yang ramai, teater dan pemandiannya yang mewah, serta gereja-gereja megah yang dihiasi mosaik, dan segala fasilitas lain dari sebuah pusat kota yang makmur. Dengan pelabuhannya, Maiouma, yang terletak beberapa mil dari pantai, Gaza berfungsi sebagai pusat perdagangan utama, bukan hanya bagi provinsinya sendiri, Palestina I (Palaestina Prima), tetapi juga bagi seluruh wilayah Mediterania timur. Kota ini menjadi tujuan utama bagi rempah-rempah, sutra, dan barang-barang mewah yang datang melalui jalur darat dengan kafilah dari Timur; barang-barang tersebut kemudian disebarkan melalui laut ke seluruh bagian wilayah kekaisaran barat.
late antique [Antiquity] Gaza was a commanding cultural and economic center ... the sixth-century city was known for its bustling market-places, its lavish theater and baths, its resplendent churches adorned with mosaics and all the other amenities of a prosperous urban center. With its port, Maiouma, a couple of miles away on the coast, Gaza served as a key commercial center, not only for its own province, Palestine I [Palaestina Prima], but for the entire eastern Mediterranean. The city was a major destination for spices, silk and luxury goods coming overland by caravan from the East; these items would then be dispersed by sea to all parts of the western empire.
Produk lokal seperti anggur, buah kering21 dan rami diekspor dari Gaza ke seluruh dunia Romawi lainnya, sementara gandum didatangkan dari Mesir untuk memberi makan kota yang padat penduduknya. Selain itu, sebuah jalan di sebelah timur laut menghubungkan Gaza dengan Yerusalem, pusat utama ziarah Kristen, yang hanya berjarak empat puluh mil. Para pengunjung Tanah Suci dari seluruh kekaisaran biasanya menyertakan kunjungan ke Gaza dalam rencana perjalanan mereka untuk melihat kota Alkitab kuno tempat kemenangan terakhir Simson.
Local products such as wine, dried fruit21 and flax were exported from Gaza to the rest of the Roman world, while wheat was imported from Egypt to feed the crowded city. Moreover, a road to the northeast led to Jerusalem, the chief center for Christian pilgrimage, only forty miles away. Visitors to the Holy Land from all over the empire made sure to include a trip to Gaza in their itinerary to see the ancient biblical city of Samson’s last victory.
Selain memiliki fasilitas umum yang memadai, kemakmuran Gaza pada akhir masa Antik juga melahirkan perkembangan intelektual dan budaya yang luar biasa. Sekolah retorika di Gaza terkenal di seluruh dunia Mediterania. Para orator terkemukanya berperan penting dalam membangkitkan kembali retorika pada abad keenam. (Hevelone- Harper 2005: 3)
In addition to boasting local amenities, the prosperity of late antique Gaza nurtured remarkable intellectual and cultural developments. The school of rhetoric in Gaza was famous throughout the Mediterranean world. Its distinguished orators were instrumental in bringing about a revival of rhetoric in the six century. (Hevelone- Harper 2005: 3)
Peta Madaba – bukti material yang paling terkenal dan masih bertahan mengenai penggunaan resmi dan administratif nama Palaestina pada Akhir Zaman Kuno, yang menggambarkan Palestina yang lebih luas pada abad ke-6 M – memperlihatkan tujuh desa besar dan kota provinsi di antara Gaza dan Elusa (pada suatu masa menjadi ibu kota Palaestina Salutaris yang memiliki beberapa uskup Arab), berjarak 23 kilometer barat daya dari kota Beersheba. Selain itu, dua jalan penting melintasi wilayah tersebut pada periode Bizantium, termasuk rute "Jalan Rempah" yang digunakan bangsa Arab Nabataea untuk mengangkut muatan berharga dari Timur (Hirschfeld 2004: 63‒66).
The Madaba Map – the most famous surviving material evidence for the official and administrative use of the name Palaestina in Late Antiquity, which depicts greater Palestine of the 6th century AD – shows seven large villages and provincial towns between Gaza and Elusa (at one point the capital of Palaestina Salutaris which had several Arab bishops), 23 kilometres south-west of the city of Beersheba. Also, two important roads crossed the region in the Byzantine period, including the route of the ‘Spice Road’ along which the Nabataean Arabs transported precious cargoes from the East (Hirschfeld 2004: 63‒66).
Bahasa Yunani Koine dan Latin merupakan bahasa yang umum digunakan di Gaza pada masa Akhir Antik, meskipun bangsa Arab Ghassaniyah, yang bermukim di seluruh Palaestina dan di Gaza, berbahasa Arab, dan sebagian besar kaum tani Palestina berbahasa Aram. Prokopius (Procopios) dari Gaza – yang harus dibedakan dari sejarawan Palestina abad ke-6 yang termasyhur, Prokopius dari Kaisarea-Palaestina – adalah seorang sofis dan retor Kristen yang orisinal, serta salah satu tokoh terpenting dari Sekolah Retorika terkenal di kota asalnya, Gaza, di Palaestina Prima, sebuah sekolah yang memberikan pengaruh berkelanjutan pada disiplin retorika. Prokopius menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Gaza, mengajar serta menulis risalah-risalah filosofis dan retorika.
Koine Greek and Latin were the prevalent languages of Late Antiquity Gaza, although the Ghassanid Arabs, who resided throughout Palaestina and in Gaza, spoke Arabic and much of the Palestinian peasantry spoke Aramaic. Procopius (Procopios) of Gaza – who must be distinguished from the aforementioned renowned 6th century Palestinian historian Prokopios of Caesarea-Palaestina – was an original Christian sophist and rhetorician, and one of the most important representatives of the famous Rhetorical School of his native Gaza in Palaestina Prima, a school with a lasting impact on the discipline of rhetoric. Procopius spent nearly all of his life in Gaza teaching and writing philosophical and rhetorical tracts.
Namun, apa yang kita ketahui tentangnya terutama berasal dari surat-suratnya dan dari enkomion (bahasa Yunani: enkomion, secara harfiah berarti pujian terhadap seseorang) yang ditulis oleh muridnya sekaligus penerusnya, Chorikios dari Gaza. Chorikios sendiri adalah seorang ahli retorika Palestina terkemuka lainnya dan merupakan wakil dari Mazhab Retorika Gaza pada masa Kaisar Anastasius I (491–518 M). Enkomion tentang apa yang kemudian dikenal luas sebagai Mazhab Retorika Gaza juga mengacu pada aspek-aspek khas pedagogi retorika dan genre-genre retorika Akhir Zaman Kuno yang berkembang dan mencapai kejayaan. Karya-karya Chorikios dari Gaza yang masih bertahan, yang mencakup genre-genre utama retorika Yunani pascaklasik, disajikan dalam gaya yang elegan khas Mazhab Retorika Gaza, dengan ciri-ciri khusus dan kecenderungan yang gigih untuk menghindari hiatus. Karya Chorikios juga dikenal karena deskripsi panegiriknya tentang dua gereja di Gaza. Deskripsi tersebut merupakan beberapa contoh awal paling menonjol dari ekphrasis, yaitu deskripsi verbal yang grafis dan dramatis tentang sebuah karya seni visual, dalam hal ini bangunan gereja.22
However, what we know about him comes mainly from his letters and from the encomium (Greek: enkomion, literally the praise of a person) of his disciple and successor Chorikios of Gaza. The latter was another major Palestinian rhetorician and a representative of the Gaza School of Rhetoric in the time of Emperor Anastasius I (491–518 AD). The encomium of what became widely known as the Gaza School of Rhetoric also refers to the distinct aspects of rhetorical pedagogy and rhetorical genres of Late Antiquity that developed and flourished. The surviving works of Chorikios of Gaza, which encompass the main genres of post-classical Greek rhetoric, are represented in the elegant style of the Gaza School of Rhetoric with its special features and peculiarly persistent avoidance of hiatus. Chorikios’ work became also known for its panegyrical descriptions of two churches in Gaza, descriptions which consist of some of the most prominent early examples of ekphrasis – a graphic, dramatic, verbal description of a visual work of art – of church buildings.22
Palestina sepenuhnya masuk ke dalam Islam pada tahun 637‒638 oleh Khalifah ketiga, ‘Umar, yang memperluas khilafah dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya, menaklukkan Kekaisaran Sasaniyah dan sekitar dua pertiga Kekaisaran Bizantium. Pada tahun 690-an, para penguasa Marwaniyah dari Bani Umayyah memulai program pembangunan besar-besaran di Palestina pada umumnya dan di Iliya (Bayt al-Maqdis/Yerusalem) pada khususnya. Gaya arsitektur gereja di Palestina Bizantium dan Bilad al-Sham sangat memengaruhi arsitektur Islam di Palestina pada masa Bani Umayyah, dan contoh yang paling termasyhur adalah bangunan berbentuk segi delapan yang indah, yaitu Qubbat al-Sakhrah (Kubah Batu), yang didirikan atas prakarsa Khalifah ‘Abdel Malik ibn Marwan pada tahun 685‒691.
Palestine was brought fully under Islam in 637‒638 by the third Caliph ‘Umar, who expanded the Caliphate (khilafah) at an unprecedented rate, conquering the Sasanian Empire and about two-thirds of the Byzantine Empire. In the 690s the Umayyad Marwanid rulers embarked on a colossal building programme in Palestine in general and Iliya (Bayt al-Maqdis/ Jerusalem) in particular. The church architectural styles of Byzantine Palestine and Bilad al-Sham significantly influenced the Islamic architecture of Palestine under the Umayyads, the most celebrated example of which was the exquisite octagonal structure of the Dome of the Rock (Qubbat al-Sakhrah), sponsored by Caliph ‘Abdel Malik ibn Marwan in 685‒691
AD. Ini adalah monumen Muslim tertua yang masih ada di dunia, dan pengaruh Palestina Bizantium terlihat jelas dalam mosaiknya. Islam dan Palestina Muslim mewarisi warisan budaya, material, administratif, dan intelektual Palestina Bizantium. Penggalian arkeologis di al-Ramla, ibu kota Jund Filastin selama lebih dari tiga setengah abad, menemukan mosaik dengan hewan-hewan termasuk singa, burung, dan keledai (Petersen 2005). Islam juga menyerap dan lebih lanjut mengembangkan tradisi filsafat Aristotelian Yunani dan Neo-Platonisme Kristen, sebuah tradisi filsafat yang muncul pada abad ke-3 M dan bertahan hingga beberapa saat setelah ditutupnya Akademi Platonik di Athена pada tahun 529 M oleh Kaisar Justinianus I.
AD. It is the oldest extant Muslim monument in the world and Byzantine Palestine influences are evident in its mosaics. Islam and Muslim Palestine inherited the cultural, material, administrative and intellectual heritage of Byzantine Palestine. Archaeological excavations at al-Ramla, the capital of Jund Filastin for over three and a half centuries, discovered mosaics with animals including lions, birds and donkeys (Petersen 2005). Islam also absorbed and developed further the Greek Aristotelian philosophical traditions and Christian Neo-Platonism, a tradition of philosophy that arose in the 3rd century AD and persisted until shortly after the closing of the Platonic Academy in Athens in 529 AD by Emperor Justinian I.
Namun, Palestina Bizantium pada abad ke-4 hingga ke-6 M justru menghidupkan kembali dan mengembangkan lebih jauh tradisi Yunani di Gaza dan Caesarea-Palaestina.
However, Byzantine Palaestina of the 4th‒6th centuries AD recreated and developed further the Greek traditions in Gaza and Caesarea-Palaestina.
Kemudian Zaman Keemasan Islam juga menerjemahkan tradisi-tradisi ini ke dalam bahasa Arab dan mengembangkannya lebih lanjut secara intelektual dan ilmiah, pertama di ibu kota Abbasiyah, Baghdad (sejak akhir abad ke-7 dan seterusnya).
Subsequently the Golden Age of Islam also translated these traditions into Arabic and developed them further intellectually and scientifically, first in the Abbasid capital city of Baghdad (from the late 7th century onwards)
dan kemudian di ibu kota Umayyah Andalus, Cordoba (sejak abad ke-10). Tidak mustahil bahwa warisan intelektual, material, dan ilmiah yang luar biasa dari Palestina raya, yaitu Gaza, Caesarea-Palaestina, Asqalan (‘Asqalan), Yerusalem, dan Scythopolis (Beisan), menjadi salah satu dari banyak jalur budaya menuju Masa Keemasan Islam dari abad ke-8 hingga abad ke-13.
and later in the Andalus Ummayad capital city of Cordoba (from the 10th century onwards). It is not inconceivable that the extraordinary intellectual, material and scientific heritage of greater Palestine, that is, Gaza, Caesarea-Palaestina, Ascalon (‘Asqalan), Jerusalem, Scythopolis (Beisan), provided one of the many cultural routes to the Golden Age of Islam from the 8th to the 13th century.
Sekolah Retorika Gaza juga terlibat dalam pengumpulan pendapat para mufassir abad-abad sebelumnya, dan karyanya turut berkontribusi pada paleografi, yaitu studi tentang tulisan tangan kuno dan bersejarah serta bentuk dan proses penulisan. Perkembangan paling penting yang menjadi perhatian para paleografer adalah aksara (script). Persoalan ini juga berlaku bagi catenae (bahasa Latin untuk "rantai") dan hubungannya dengan scholia. Istilah catenae hanya digunakan untuk teks-teks Alkitab yang diberi anotasi, bukan untuk teks-teks klasik, dan perbedaan antara catenae dan scholia adalah bahwa yang pertama berupaya menyebutkan nama otoritas, biasanya sebelum kutipan. Dalam catenae, penulis lebih berperan sebagai kompilator dan editor dengan sedikit sekali tambahan dalam karyanya.
The Rhetorical School of Gaza was also involved in collating the opinions of commentators of preceding centuries and its work contributed to palaeography, the study of ancient and historical handwriting and of the forms and processes of writing. The most important development that concerned palaeographers was script. This issue is also applicable to the catenae (Latin for chain) and its relationship to scholia. The term catenae is reserved for annotated biblical texts rather than classical texts and the distinction made between catenae and scholia is that the former makes an attempt to cite the name of the authority, usually before the quotation. In catenae the author is more of a compiler and editor with very little to add to the work.
Sejarawan Bizantium N. G. Wilson adalah orang pertama yang menyatakan bahwa katena berasal dari Sekolah Palestina di Gaza pada abad ke-5.
Historian of Byzantuim N. G. Wilson was the first to suggest that catenae come from the Palestine School of Gaza in the 5th century.
Procopius dari Gaza menjelaskan metodenya dalam kutipan berikut dari sebuah hipotesis: ‘Setelah dianugerahi kemampuan oleh God, kami mengumpulkan penjelasan-penjelasan yang dituliskan oleh para Bapa Gereja dan yang lainnya ke dalam Octateuch, dengan memadukan hal-hal ini dari komentar-komentar dan berbagai pendapat’. Dari sini kita mengetahui bahwa Procopius mengambil pilihan-pilihan dari para otoritas dan menambahkannya ke dalam teks. Hal ini memperluas teks, tetapi membuat kumpulan pendapat para Bapa Gereja menjadi lebih mudah dikelola. Zosimus dari Gaza adalah seorang sofis pada masa Kaisar Anastasius. Ia menulis sebuah leksikon retorika menurut abjad serta sebuah komentar atas Demosthenes dan Lysias. Menurut sejarawan Bizantium abad ke-11, Georgius Cedrenus, Zosimus dari Gaza dihukum mati pada masa pemerintahan Zeno pada tahun 490 M.
Procopius of Gaza describes his method in the following excerpt from a hypothesis: ‘Having been supplied the ability before God, we collected the explanations which were put down from the Fathers and the others into the Octateuch, combining these things from commentaries and different sayings’. From this we learn that Procopius took selections from authorities and added them to the text. This expanded the text but made the corpus of opinions of the Church Fathers more manageable. Zosimus of Gaza was a sophist during the time of Emperor Anastasius. He wrote a rhetorical lexicon according to the alphabet and a commentary on Demosthenes and Lysias. According to 11th century Byzantine historian Georgius Cedrenus, Zosimus of Gaza was put to death during the reign of Zeno in 490 AD.
Di satu sisi, mungkin ada seorang Zosimus yang sezaman dengan Prokopius dan terlibat dalam penulisan skolia atas penulis-penulis klasik, atau di sisi lain, mungkin memang ada dua orang yang bernama demikian. Ada kemungkinan bahwa sang skoliast Zosimus dari Gaza hidup pada pertengahan abad ke-5. Dalam hal itu, ia mungkin bertanggung jawab memperkenalkan praktik penulisan skolia seperti yang dinisbatkan kepada seorang Zosimus (Wilson 1967: 254). Mazhab Gaza tidak membedakan antara skolia (komentar marginal atas teks-teks klasik) dan katena (komentar marginal atas teks-teks Alkitab). Berkomentar tentang awal mula katena di Gaza, Timothy Seid menulis: ‘Bukti-bukti menunjukkan bahwa komentar marginal atas teks-teks Alkitab [oleh para teolog Kristen] bermula pada abad kelima hingga keenam dan kemungkinan besar berasal dari Palestina, jika bukan dari Mazhab Gaza itu sendiri’.23
On the one hand, we may have a Zosimus contemporary with Procopius who was involved in scholia on classical authors or, on the other hand, there may have been two of that name. It is possible that the scholiast Zosimus of Gaza flourished in the mid-5th century. In that case, he may have been responsible for introducing the practice of entering scholia such as is attributed to a Zosimus (Wilson 1967: 254). The School of Gaza did not make a distinction between scholia (marginal commentary on classical texts) and catenae (marginal commentary on biblical texts). Commenting on the beginnings of catenae in Gaza, Timothy Seid writes: ‘The evidence suggests that marginal commentary on biblical texts [by Christian theologians] had a beginning in the fifth to sixth century and was probably of Palestinian origins if not the School of Gaza itself ’.23