9.7 Reimajinasi Identitas Teritorial Palestina dan Proto-nasionalisme di Palestina Akhir Masa Utsmani: Khalil Beidas dan Nasionalisme Budaya Palestina
9.7 The Reimagining Of Palestinian Territorial Identity And Proto-nationalism In Late Ottoman Palestine: Khalil Beidas And Palestinian Cultural Nationalism
Nasionalisme teritorial Palestina, seperti gagasan tentang Palestina itu sendiri, memiliki banyak awal dan banyak sumber. Dalam Palestinian Identity: The Construction of Modern National Consciousness (1998), Rashid Khalidi berpendapat bahwa identitas nasional Palestina yang khas, yang berakar pada tanah Palestina, muncul pada awal abad ke-20. Namun, pada saat yang sama, Khalidi dan beberapa sejarawan terkemuka tentang Palestina modern, termasuk Beshara Doumani (1995), Ilan Pappe (1999), Baruch Kimmerling dan Joel S. Migdal (1993, 2003), semuanya menyatakan bahwa sebelum munculnya Zionisme politik pada akhir abad ke-19, identitas nasional Palestina lokal sudah mulai terbentuk (Pappe 1999: 3). Identitas teritorial nasional Palestina lokal yang baru tumbuh di Palestina akhir masa Utsmani ini tidak berkaitan dengan Zionisme. Meskipun demikian, gerakan nasional Palestina lokal yang masih awal itu mendahului kedatangan Zionisme di Palestina, gerakan tersebut juga didorong oleh kegiatan permukiman dan pembelian tanah oleh Zionis pada periode sebelum Perang Dunia I.
Palestinian territorial nationalism, like the idea of Palestine, has multiple beginnings and multiple sources. In Palestinian Identity: The Construction of Modern National Consciousness (1998), Rashid Khalidi argues that a distinct Palestinian national identity grounded in the land of Palestine emerged in the early 20th century. But, at the same time, Khalidi and several prominent historians of modern Palestine, including Beshara Doumani (1995), Ilan Pappe (1999), Baruch Kimmerling and Joel S. Migdal (1993, 2003), all suggested that before the appearance of political Zionism in the late 19th century, a local Palestinian national identity had been in the making (Pappe 1999: 3). This nascent positive Palestinian national territorial identity in late Ottoman Palestine was not connected to Zionism. However, although an incipient local Palestinian national movement preceded the advent of Zionism in Palestine, this movement was also spurred on by Zionist settlement and land-purchasing activities in the period prior to the First World War.
Di Palestina akhir masa Utsmani, penduduk tiga distrik administratif Palestina (Yerusalem, Nablus dan Akka) didominasi secara luar biasa oleh warga Arab Muslim dan Kristen. Minoritas Yahudi berjumlah sekitar 25.000 orang; mayoritasnya sangat religius dan berbasis di perkotaan. Hingga munculnya Zionisme Eropa pada akhir abad ke-19, hubungan di antara warga Palestina (Muslim, Kristen dan Yahudi yang berbahasa Arab) berlangsung damai dan stabil, ditempa oleh berabad-abad hidup berdampingan, sejarah bersama dan negeri bersama (Khalidi, W. 1984). Memoar Wasif Jawhariyyeh (1897–1972), seorang warga Kristen Palestina dari Yerusalem, The Diaries of Wasif Jawhariyyeh, memberikan kesaksian yang meyakinkan tentang munculnya identitas teritorial Utsmani Palestina yang berlapis dua di Palestina akhir masa Utsmani, dan tentang koeksistensi, keragaman budaya serta percampuran di Yerusalem Utsmani, miniatur modernitas Utsmani akhir di Palestina. Di dunia Palestina masa muda Jawhariyyeh, batas-batas yang memisahkan kehidupan warga Palestina Kristen, warga Palestina Yahudi dan warga Palestina Muslim bersifat cair.
In late Ottoman Palestine, the population of the three Palestinian administrative districts (Jerusalem, Nablus and Acre) was overwhelmingly Muslim and Christian Arab. The Jewish minority numbered about 25,000; the majority was deeply religious and urban-based. Until the advent of European Zionism in the late 19th century relations among the Palestinians (Arabic-speaking Muslims, Christians and Jews) were peaceful and stable, forged by centuries of coexistence, shared history and shared country (Khalidi, W. 1984). The memoirs of Wasif Jawhariyyeh (1897– 1972), a Palestinian Christian citizen of Jerusalem, The Diaries of Wasif Jawhariyyeh, provide compelling testimony to the emergence of a two-tier Palestinian Ottoman territorial identity in late Ottoman Palestine and for the co-existence, cultural diversity and intermixing of Ottoman Jerusalem, a microcosm of late Ottoman modernity in Palestine. In the Palestinian world of Jawhariyyeh’s youth, boundaries separating the lives of Palestinian Christians, Palestinian Jews and Palestinian Muslims were fluid.
Modernitas Yerusalem merupakan ciri dari dinamika internal di Kota Utsmani, dan saya mengusulkan bahwa struktur sosial kota berdinding itu jauh lebih cair daripada yang umumnya dipercaya; selanjutnya saya menyarankan bahwa sistem perkampungan (quarter), yang menandai pembagian Kota Tua ke dalam wilayah-wilayah terbatas berdasarkan agama, diperkenalkan dan dipaksakan ke kota secara surut oleh peraturan kolonial Inggris. (Tamari 2006: 28)
Jerusalem’s modernity was a feature of internal dynamics in the Ottoman City and I propose that the social structure of the walled city was much more fluid than generally believed; further I suggest that the quarter system signalling the division of the Old City into confessional bounded domains was introduced and imposed retroactively on the city by British colonial regulations. (Tamari 2006: 28)
Di Palestina, revolusi percetakan dan penerbitan dimulai pada masa akhir Kekaisaran Ottoman dan berkembang dalam skala industri pada paruh pertama abad ke-20. Revolusi ini disertai dengan diperkenalkannya teknologi modern, pertumbuhan pendidikan sekuler dan melek huruf, serta urbanisasi yang pesat. Dalam waktu singkat, pada tahun 1948, lebih dari sepertiga masyarakat Arab Palestina tinggal di perkotaan. Bersamaan dengan lonjakan tajam jumlah sekolah sekuler modern di negeri itu, meningkatnya melek huruf memutus monopoli kecil kaum elite terpelajar yang berpandangan religius di kota-kota atas pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta memperkuat kelas menengah dan kaum profesional yang sedang muncul di kota-kota. Meningkatnya kesadaran budaya di kalangan orang-orang terdidik melahirkan proto-nasionalisme sekuler di Palestina akhir masa Ottoman. Nasionalisme budaya Palestina yang masih embrionik dan patriotisme teritorial mendahului nasionalisme politik Palestina, dan hal ini dipupuk di sekolah-sekolah serta seminari pendidikan guru di Palestina akhir masa Ottoman.
In Palestine the printing and publication revolution began in the late Ottoman period and developed on an industrial scale in the first half of the 20th century. This revolution was accompanied by the introduction of modern technologies, the growth in secular education and literacy and rapid urbanisation. Within a short period, and by 1948, more than one-third of Palestinian Arab society was urban-based. Together with the sharp rise in modern secular schools in the country, increased literacy broke the monopoly of the small, religiously minded, literate elites in the cities on education and learning and bolstered the emerging middle and professional classes in the cities. The increasing cultural self-awareness of educated people led to the rise of secular proto-nationalism in late Ottoman Palestine. Embryonic Palestinian cultural nationalism and territorial patriotism preceded Palestinian political nationalism and this was fostered in schools and teacher training seminaries in late Ottoman Palestine.
Pada paruh kedua abad ke-19, sekolah-sekolah dwibahasa Ortodoks Rusia dan pusat-pusat pelatihan guru di Palestina memainkan peran penting dalam mendorong kebangkitan budaya di negeri tersebut. Sekolah-sekolah ini kemudian menjadi salah satu yang terbaik di negeri itu, dan turut berkontribusi pada kebangkitan budaya nasional ini.
In the second half of the 19th century the bilingual Russian Orthodox schools and teacher training centres in Palestine played an important role in promoting cultural renaissance in the country. These schools subsequently came to be among the best in the country, contributing to this national cultural awakening.
Karya-karya Khalil Ibrahim Beidas, Ruhi al-Khalidi dan Khalil al-Sakakini merupakan puncak dari revolusi pendidikan, budaya dan sastra di Palestina pada akhir masa Utsmani – sebuah revolusi sipil modernis yang didedikasikan untuk pencerahan diri, peningkatan diri, pemberdayaan sosial dan – secara politik – representasi diri, kewarganegaraan yang setara, serta otonomi regional dalam negara Utsmani. Sebagai pelopor intelektual dan budaya, Beidas (1874–1949) adalah seorang cendekiawan, pendidik, novelis dan penerjemah karya-karya sastra Rusia yang sangat produktif, seorang Kristen Palestina. Lahir di Nazareth, di Galilea, pada tahun 1874, Beidas dididik di sekolah-sekolah Ortodoks dwibahasa yang didanai Rusia di Galilea dan belajar di Seminari Pelatihan Guru Rusia di Nazareth yang sangat dihormati,11 yang didirikan oleh Masyarakat Ortodoks Kekaisaran Rusia untuk Palestina pada tahun 1886, dan kemudian menempati sebuah bangunan yang terkenal di kalangan orang Palestina di seluruh Galilea sebagai al-Maskubiyyah (kompleks ‘Moskow’). Kompleks-kompleks Rusia lain yang dibangun di Palestina, termasuk di Yerusalem dan al-Khalil (Hebron), hingga kini masih disebut oleh warga Palestina setempat sebagai al-Maskubiyyah. Bangunan paling terkenal yang dibangun oleh Masyarakat tersebut di Palestina adalah Gereja Maria Magdalena, di Bukit Zaitun di Yerusalem, yang dibangun pada tahun 1886. Awalnya berkantor pusat di Nazareth (antara tahun 1882 dan 1884), Masyarakat ini membuka empat sekolah di Galilea dan mempekerjakan guru-guru Ortodoks Arab dan Rusia serta penerjemah bahasa Arab untuk menerjemahkan materi sekolah dari bahasa Rusia ke bahasa Arab.
The works of Khalil Ibrahim Beidas, Ruhi al-Khalidi and Khalil al-Sakakini were the high end of the educational, cultural and literary revolution of late Ottoman Palestine – a modernist civic revolution which was dedicated to self-enlightenment, self-improvement, social empowerment and – politically speaking – self-representation, equal citizenship and regional autonomy within the Ottoman state. An intellectual and cultural pioneer, Beidas (1874–1949), was a Palestinian Christian scholar, educator, novelist and prolific translator of Russian literary works. Born in Nazareth, in the Galilee, in 1874, Beidas was educated in Russian-funded bilingual Orthodox schools in the Galilee and studied at the highly regarded Russian Teacher Training Seminary in Nazareth,11 which was founded by the Imperial Russian Orthodox Palestine Society in 1886, and later housed in a building which became famously known to Palestinians throughout the Galilee as al-Maskubiyyah (‘the Moscovite’ compound). Other Russian compounds created in Palestine, including in Jerusalem and al-Khalil (Hebron), are still referred to by local Palestinians as al‑Maskubiyyah. The most famous building constructed by the Society in Palestine was the Church of Mary Magdalene, on Mount of Olives in Jerusalem, built in 1886. Initially headquartered in Nazareth (between 1882 and 1884), the Society opened four schools in the Galilee and employed Orthodox Arab and Russian teachers and Arabic translators to translate school material from Russian to Arabic.
Pada tahun 1899 Perkumpulan tersebut memiliki dua puluh tiga "Sekolah Maskob" modern di Palestina, serta dua Seminari Pelatihan Guru, termasuk satu untuk perempuan di Beit Jala yang dibuka pada tahun 1890. Desa dan kota diminta menyediakan gedungnya, sedangkan semua buku, buku catatan, pena dan pensil, peralatan, fasilitas olahraga, administrasi, dan pengajaran diberikan secara cuma-cuma.12 Sebagian besar sekolah juga bersifat koedukatif, yang menambah dimensi lain pada revolusi pendidikan yang diperkenalkan oleh Perkumpulan Kekaisaran Ortodoks Palestina.
By 1899 the Society had twenty-three modern ‘Maskob Schools’ in Palestine, and two Teacher Training Seminaries, including one for women in Beit Jala which opened in 1890; villages and towns were asked to provide the buildings, but all books, notebooks, pens and pencils, equipment, sport facilities, administration and teaching were free of charge.12 Most schools were also co-educational, which added another dimension to the educational revolution introduced by the Palestinian Orthodox Imperial Society.
Segera setelah kedatangannya di Palestina pada awal tahun 1880-an, terjemahan bahasa Arab dari nama Rusia (Russian Orthodox Palestine Society) pasti telah diajarkan di semua sekolah Ortodoks Rusia di Palestina, karena bahasa Arab merupakan bahasa pengantar, sementara bahasa Rusia bersifat wajib; bahasa lain seperti Prancis, Turki, dan Yunani bersifat sukarela. Setelah tahun 1889, terjemahan bahasa Arab dari nama Rusia tersebut berubah menjadi Palestinian Orthodox Imperial Society. Nama Arab Perkumpulan ini tidak hanya digunakan oleh Beidas selama pendidikan dasar dan menengahnya di Nazareth pada awal tahun 1890-an, tetapi juga terus digunakan dalam publikasi oleh umat Kristen Ortodoks Palestina selama lebih dari 135 tahun.13
Soon after its arrival in Palestine in the early 1880s the Arabic rendition of the Russian name (Russian Orthodox Palestine Society) would have been taught in all Russian Orthodox schools in Palestine as Arabic was the instruction language while Russian was compulsory; other languages such as French, Turkish and Greek were voluntary. After 1889 the Arabic rendition of the Russian name became the Palestinian Orthodox Imperial Society . This Arabic version of the Society’s name would have been used not only by Beidas throughout his primary and secondary schooling in Nazareth in the early 1890s, but has also continued to be used in publications by Palestinian Orthodox Christians for more than 135 years.13
Tidak hanya itu. Akhirnya pada 1 April 1902, setelah serangkaian perundingan antara para pemimpin Rusia dari Masyarakat Ortodoks Kekaisaran Rusia untuk Palestina dan otoritas Ottoman, mereka mengakui ketiga puluh tujuh sekolah dan seminari milik Masyarakat tersebut (sebagian besar berada di Palestina, sebagian lagi di Suriah dan Lebanon), dan peristiwa itu dirayakan secara terbuka di Palestina, Suriah, dan Rusia.14 Dampak pengakuan resmi Ottoman yang penting ini terhadap kegiatan Masyarakat Ortodoks Kekaisaran Palestina tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga mendorong ziarah massal orang Rusia ke Palestina, yang juga diselenggarakan oleh masyarakat yang sama. Pada awal abad ke-20, para peziarah Rusia mencakup hampir 80 persen dari seluruh peziarah Kristen asing ke Tanah Suci. Sebagaimana akan kita lihat di bawah, ziarah massal Rusia ini memaksa otoritas Ottoman untuk melakukan penyesuaian administratif lebih lanjut, dan pada 1906 distrik Nazareth dan Tiberias ditambahkan ke Mutasarrifat Yerusalem yang Mulia, terutama untuk menampung ziarah massal baru dari Rusia dan Barat, serta memfasilitasi penerbitan satu visa turis bagi peziarah dan pelancong Kristen di Palestina.
Not only that. Eventually on 1 April 1902, after a period of negotiations between the Russian leaders of the Imperial Russian Orthodox Palestine Society and the Ottoman authorities, they recognised all thirty-seven schools and seminaries of the Society (the majority of which were in Palestine, with some in Syria and Lebanon) and the occasion was marked by public celebrations in Palestine, Syria and Russia.14 The impact of this important official Ottoman recognition of the activities of the Palestinian Orthodox Imperial Society extended beyond education into the encouragement of Russian mass pilgrimage to Palestine, which was also organised by the same society. In the early 20th century Russian pilgrims constituted nearly 80 per cent of all foreign Christian pilgrims to the Holy Land. As we shall see below, this Russian mass pilgrimage forced the Ottoman authorities to make further administrative adjustments and in 1906 the districts of Nazareth and Tiberias were added to the Mutasarrifate of Noble Jerusalem, mainly to accommodate the new mass pilgrimage from Russia and the West in facilitating the issuance of a single tourist visa to Christian pilgrims and travellers in Palestine.
Beidas adalah hasil dari kebangkitan pendidikan dan intelektual di Palestina akhir masa Ottoman. Ia juga memanfaatkan sumber daya lokal dan kekaisaran, seperti yang disediakan oleh Masyarakat Ortodoks Kekaisaran Rusia di Palestina, untuk mengartikulasikan rasa identitas Palestina modern yang baru. Memang, banyak gagasan Beidas juga bersifat radikal bahkan revolusioner menurut ukuran Palestina akhir masa Ottoman. Setelah lulus dari Sekolah Seminari Pelatihan Guru di Nazareth, Beidas pindah ke Yerusalem, yang saat itu merupakan pusat intelektual dan budaya Palestina di masa akhir Ottoman. Ia bekerja sebagai guru bahasa Arab senior di Sekolah St George yang beraliran Anglikan di Yerusalem, dan sebagai penerjemah dari bahasa Rusia ke bahasa Arab untuk Masyarakat Ortodoks Kekaisaran Rusia di Palestina. Ia juga bepergian ke Rusia pada tahun 1892.
Beidas was a product of the educational and intellectual awakening of late Ottoman Palestine. He was also utilising local and imperial resources such as those made available by the Russian Palestinian Orthodox Imperial Society to articulate a new sense of modern Palestinian identity. Indeed, many of Beidas’ ideas were also radical and even revolutionary by the standards of late Ottoman Palestine. After graduating from the Teacher Training Seminary in Nazareth, Beidas moved to Jerusalem, then the Palestinian intellectual and cultural capital of late Ottoman Palestine. He worked as a senior Arabic teacher at the Anglican St George’s School in Jerusalem and as a translator from Russian to Arabic for the Imperial Russian Orthodox Palestine Society. He also travelled in Russia in 1892.
Beidas’ exceptional linguistic dan budaya dan terjemahannya dari bahasa Rusia ke bahasa Arab dipengaruhi oleh karya-karya novelis dan penyair Rusia terkemuka, termasuk Alexander Pushkin, Nikolai Gogol, Dostoevsky, Leon Tolstoy dan Maxim Gorky. Beberapa dari penulis ini telah mengembangkan kritik radikal terhadap autokrasi, pendekatan populer terhadap sejarah, identifikasi dengan kehidupan rakyat biasa, serta penekanan pada kebebasan dan keadilan sosial. Tolstoy memiliki pandangan idealis tentang pedesaan Rusia dan kaum tani Rusia, dan hal ini berpengaruh pada pandangan positif Beidas terhadap pedesaan dan kaum tani Palestina. Beidas telah menerjemahkan ke dalam bahasa Arab dan menerbitkan di Beirut pada tahun 1898 novel sejarah Pushkin, The Captain’s Daughter. Majalah mingguan Beidas, al-Nafais al-ʿAsriyyah (Permata Modern), didirikan sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1908, di Haifa, dan pada awalnya memuat secara bersambung novel-novel klasik Rusia yang sedang diterjemahkan Beidas. Beidas dianggap sebagai ‘pelopor cerita pendek Palestina’ (Raid al-Qissah al-Filastiniyyah) (Mazza 2015: 188).
Beidas’ exceptional linguistic and cultural talents and translations from Russian into Arabic were influenced by the works of leading Russian novelists and poets, including Alexander Pushkin, Nikolai Gogol, Dostoevsky, Leon Tolstoy and Maxim Gorky. Some of these authors had developed radical critiques of autocracy, popular approaches to history, identification with the lives of ordinary people and emphasis on freedom and social justice. Tolstoy had an idealistic view of the Russian countryside and Russian peasantry and this had an impact on Beidas’ positive views of the Palestinian countryside and peasantry. Beidas had already translated into Arabic and published in Beirut in 1898 Pushkin’s historical novel The Captain’s Daughter. Beidas’ weekly periodical, al-Nafais al-ʿAsriyyah (Modern Gems) was founded ten years later in 1908 in Haifa and it began by serialising the Russian classic novels Beidas was translating. Beidas is considered to be the ‘pioneer of the Palestinian short story’ (Raid al-Qissah al-Filastiniyyah) (Mazza 2015: 188)
dan pada tahun 1909 ia menerbitkan *Ahwal al-Istibdad* (Keadaan-Keadaan Tirani), salah satu catatan kritis paling awal tentang pemerintahan tiranik yang terbit dalam bahasa Arab. Edward Said, kerabat dekat Beidas, dengan cermat mengamati bahwa esai, cerita pendek, novel sejarah, dan karya terjemahan Beidas pada masa sebelum dan sesudah perang memainkan peran penting dalam pembentukan identitas nasional Palestina modern awal (Moore-Gilbert 2009: 182).
and in 1909 he published The Conditions of Tyranny (Ahwal al-Istibdad), one of the earliest critical accounts of tyrannical rule to appear in the Arabic language. Edward Said, a close relative of Beidas, astutely observed that Beidas’ essays, short stories, historical novels and works of translation in the pre- and post-war periods played an important role in the construction of early modern Palestinian national identity (Moore-Gilbert 2009: 182).
Kebangkitan besar sastra dan puisi Palestina serta Arab, terjemahan-terjemahan baru, jurnalisme, eksperimen pendidikan, dan koleksi perpustakaan pribadi pada masa akhir Utsmaniyah menciptakan ingatan yang hidup tentang periode itu di Palestina, ingatan yang jauh lebih kuat dalam budaya Arab yang masih hidup dibandingkan, misalnya, dengan masa al-Andalus abad pertengahan.
The great flowering of Palestinian and Arab literature and poetry, of novel translations, journalism, educational experiments and private library collections during the late Ottoman period created a living memory of the period in Palestine, one much stronger in living Arab culture, than that of the mediaval al-Andalus period, for example.
Perpustakaan pribadi Beidas di Yerusalem yang berisi lebih dari 6000 buku dijarah, bersama perpustakaan pribadi Palestina lainnya milik Khalil Sakakini dan warga Palestina Yerusalem lainnya, oleh orang-orang Israel selama Nakba 1948, dan peristiwa ini didokumentasikan dalam The Great Book Robbery.15 Koleksi perpustakaan Beidas dan perpustakaan Palestina lainnya dapat memberikan gambaran yang besar tentang kebangkitan intelektual dan kesadaran nasional Palestina pada akhir masa Utsmaniyah. Salah satu contoh dari kesadaran baru ini terdapat dalam Kata Pengantar geografis tahun 1898 untuk terjemahan Beidas atas karya Akim Aleksyeevich Olesnitsky, A Description of the Holy Land, Jilid 1.
Beidas’ own personal Jerusalem library of more than 6000 books was plundered, together with other Palestinian private libraries owned by Khalil Sakakini and other Palestinian Jerusalemites, by the Israelis during the 1948 Nakba and the episode was documented in The Great Book Robbery.15 Beidas’ and other Palestinian library collections can shed a great deal of light on the Palestinian intellectual renaissance and national consciousness in the late Ottoman period. An illustration of this new consciousness is found in the 1898 geographic Preface to Beidas’ translation of Akim Aleksyeevich Olesnitsky’s A Description of the Holy Land, Vol. 1
(juga Foster 2016c) – versi aslinya terbit dalam bahasa Rusia pada tahun 187516 – oleh Imperial Russian Orthodox Palestine Society (Masyarakat Ortodoks Palestina Kekaisaran Rusia). Beidas menggambarkannya sebagai terbitan Palestinian Orthodox Imperial Society (Masyarakat Kekaisaran Ortodoks Palestina). Beidas juga membahas minimnya karya geografis yang tersedia dalam bahasa Arab tentang negerinya 'Palestina', serta tentang 'putra dan putri Palestina' (Abnaa Filastin, أبناء فلسطين) yang merupakan penduduk asli, dan 'kebutuhan mereka akan karya geografis yang luas tentang negeri mereka'. Menulis kepada khalayak Palestina setempat, Beidas menyadari bahwa banyak orang Palestina akan sangat akrab dengan konotasi asli dari istilah أبناء فلسطين. Beidas menggambarkan karya Olesnitsky sebagai berikut: 'sebuah buku yang luas yang menjelaskan negeri Palestina beserta tempat-tempatnya, sungai-sungainya, danau-danaunya, gunung-gunungnya, dan lembah-lembahnya'. Ia juga berbicara tentang penggunaan bahasa Arab idiomatiknya dan pilihannya atas 'ungkapan sederhana yang sangat dekat dengan [pikiran] kita'.
(also Foster 2016c) – the original version appeared in Russian in 187516 – by the Imperial Russian Orthodox Palestine Society. Beidas describes this as a publication of the Palestinian Orthodox Imperial Society. Bei Beidas also talks about the inadequate geographical works available in Arabic on his country ‘Palestine’ and about the indigenous ‘sons and daughters of Palestine’ (Abnaa Filastin, أبناء فلسطين ) and ‘their need for an extensive geographic work on their country’. Writing to local Palestinian audiences, Beidas knew that many Palestinians would be closely familiar with the indigenous connotations of the term أبناء فلسطين . Beidas describes Olesnitsky’s work as follows: ‘an extensive book which describes the country of Palestine with its places, rivers, lakes, mountains and valleys’. He also talks about his use of idiomatic Arabic and his choice of ‘the simple expression which is closely related to [our] minds’.
Karya dan kegiatan Beidas merupakan tonggak penting dalam kemunculan nasionalisme Palestina modern, karena berbagai alasan. Sembilan faktor membedakan kontribusi keilmuan, budaya, dan geografis Beidas terhadap gagasan modern tentang Palestina dan munculnya kesadaran nasional-teritorial yang baru di Palestina pada akhir abad ke-19:
Beidas’ work and activities present a landmark in the emergence of modern Palestinian nationalism for a variety of reasons. Nine factors distinguish the scholarly, cultural and geographic contribution of Beidas to the modern notion of Palestine and the emergence of new a territorial national consciousness in late 19th century Palestine:
• Beidas, seorang penduduk asli Galilea, bekerja dengan konsep Palestina yang lebih luas dan modern, dan bukan semata-mata dari memori sosial Islam Arab abad pertengahan yang berkaitan dengan provinsi bersejarah Jund Filastin.
• Beidas, a native of the Galilee, was working from a modern wider concept of Palestine – and not just from medieval Arab Islamic social memory associated with the historic province of Jund Filastin.
• Beidas menggunakan istilah Palestinian dan Palestine secara bersamaan dan bergantian, yang merupakan ciri khas tulisan Palestina modern.
• Beidas uses the terms Palestinian and Palestine simultaneously and interchangeably, which is a hallmark of modern Palestinian writing.
• Pendahuluan dua halaman ini dimulai dengan ungkapan Arab al-Hamdu Lillah ("Segala puji bagi Allah", kata Arab untuk "Tuhan"), ungkapan yang sering diucapkan oleh umat Islam karena kedudukannya yang sentral dalam surah pertama Al-Qur'an serta dalam nama dan ucapan-ucapan Nabi Muhammad ﷺ.
• The two-page Preface begins with the Arabic expression al-Hamdu Lillah (‘Praise be to Allah’, the Arabic word for ‘God’), an expression frequently invoked by Muslims due to its centrality to the first chapter of the Quran and the name and sayings of the Prophet Muhammad.
Ungkapan ini juga digunakan oleh orang Kristen berbahasa Arab. Namun implikasinya adalah bahwa pekerjaan tersebut ditujukan kepada seluruh orang Palestina yang berbahasa Arab.
This expression is also used by Arabic-speaking Christians. But the implication is that work is aimed at all Arabic-speaking Palestinians.
• Tidak adanya sama sekali rujukan terhadap Zionisme – berbeda dengan tulisan-tulisan nasional Palestina satu dekade kemudian, yang contoh paling terkenalnya adalah surat kabar Falastin (1911) dan tulisan-tulisan Ruhi al-Khalidi (1913) (lihat di bawah) – dan hal ini menunjukkan munculnya identitas Ottoman Palestina dua tingkat serta awal mula kebangkitan kebudayaan Palestina di Palestina akhir masa Ottoman – sebuah kebangkitan yang mendahului kepedulian nasional berikutnya terhadap Zionisme.
• The complete absence of any reference to Zionism – in contrast with Palestinian national writings a decade later, the most famous examples of which are the newspaper Falastin (1911) and the writings of Ruhi al-Khalidi (1913) (see below) – and this points to the emergence of a two-tier Palestinian Ottoman identity and the beginnings of the Palestinian cultural renaissance in late Ottoman Palestine – a renaissance which preceded the subsequent national preoccupation with Zionism.
• Kemudahan Beisas dalam menggunakan istilah ‘Palestina’, ‘negeri kami’, dan ‘Masyarakat Kekaisaran Ortodoks Palestina’ tanpa perlu mendefinisikan atau menjelaskan istilah-istilah ini atau memperkenalkan Masyarakat tersebut. Hal ini menunjukkan dua hal: (1) Beisas berpikir bahwa para pembacanya yang berbahasa Arab akan sudah familiar dengan istilah-istilah ini dan memahami sepenuhnya apa yang ia maksud; (2)
• The ease with which Beisas uses the terms ‘Palestine’ and ‘our country’ and the ‘Palestinian Orthodox Imperial Society’ without the need to define or explain these terms or introduce this Society. This suggests two things: (1) Beisas thought that his Arab readers would be familiar with these terms and have a full understanding of what he meant; (2)
Istilah-istilah ini dan nama Arab Perkumpulan tersebut sudah umum digunakan dan dipahami.
these terms and this Arabic name of the Society were already commonly used and understood.
• Lembaga Penerbitan dan Penerjemahan Ortodoks Kekaisaran Palestina berkantor di Yerusalem dan sejak tahun 1889 beroperasi di Palestina sepanjang tahun 1890-an dengan nama Arab: الجمعية الإمبراطورية الأرثوذكسية الفلسطينية, nama yang digunakan Beidas dalam Prakatanya tahun 1898.
• The Palestinian Orthodox Imperial Society ran a translation and publishing house in Jerusalem and after 1889 it operated in Palestine throughout the 1890s under the Arabic name: الجمعية الإمبراطورية الأرثوذكسية الفلسطينية , the name Beidas uses in his 1898 Preface.
Konsep modern-geografis (teritorial) tentang Filastin ini, yang dikembangkan pada akhir abad ke-19 oleh seseorang yang berpendidikan di sekolah-sekolah modern di Galilea, menyimpang dari konsep regional Islam tradisional tentang Palestina yang digambarkan atau disebutkan oleh para ulama Muslim al-Maqdisi, Mujir al-Din, Khair al-Din al-Ramli dan Salih ibn Ahmad al-Tumurtashi, masing-masing pada abad ke-10, ke-15 dan ke-17. Konsepsi tentang Palestina yang dipahami oleh keempat penulis dan qadi Muslim ini berasal dari provinsi Muslim abad pertengahan Jund Filastin, yang ibu kotanya adalah al-Ramla, namun wilayahnya tidak mencakup Galilea.
• This late 19th century modern geographic (territorial) concept of Filastin advanced by someone educated in the modern schools of Galilee departed from the traditional regional Islamic concept of Palestine described or referred to by the Muslim scholars al-Maqdisi, Mujir al-Din, Khair al-Din al-Ramli and Salih ibn Ahmad al-Tumurtashiin in the 10th, 15th and 17th centuries respectively. The conception of Palestine understood by these four Muslim writers and qadis was derived from the medieval Muslim province of Jund Filastin, whose capital was al-Ramla, but whose territory did not include the Galilee.
• Secara historis, nama-nama tokoh terkemuka sebelum dan di bawah Islam di Palestina ditambahkan dengan nama kota pada nama pribadi mereka: contoh tokoh terkemuka atau terhormat Palestina yang dibahas di atas meliputi:
• Historically, names of distinguished individuals before and under Islam in Palestine were augmented by adding town names to individual names: examples of prominent or distinguished Palestinians discussed above included:
• Antiokhus dari Askalon, di Filistia pada abad ke-2 SM.
• Antiochus of Ascalon, in 2nd century BC Philistia.
Yesus dari Nazaret, pada abad ke-1 M.
• Jesus of Nazareth, in the 1st century AD.
• Eusebius dari Kaisarea Maritima, di Palaestina Prima pada abad ke-4.
• Eusebius of Caesarea Maritima, in 4th century Palaestina Prima.
• Prokopios dari Caesarea Maritima, di Palaestina Prima pada abad ke-6.
• Prokopios of Caesarea Maritima, in 6th century Palaestina Prima.
• Al-Maqdisi (dari ‘al-Quds’, ‘orang Yerusalem’) di provinsi Filastin pada abad ke-10.
• Al-Maqdisi (of ‘al-Quds’, the ‘Jerusalemite’) in the 10th century province of Filastin.
• Muhammad al-Yazuri: Muhammad Hassan ibn Ali al-Yazuri, dari Yazur, sebuah kota di sebelah timur Jaffa di provinsi Fatimiyah Jund Filastin, juga wazir negara Fatimiyah dari tahun 1050 hingga 1058.
• Muhammad al-Yazuri: Muhammad Hassan ibn Ali al-Yazuri, from Yazur, a town east of Jaffa in the Fatimid province of Jund Filastin, also vizier of the Fatimid state from 1050 to 1058.
• Ibn Hajar al-ʿAsqalani (1372–1449), seorang ulama Sunni Syafi'i terkemuka pada abad pertengahan yang keluarganya berasal dari ʿAsqalan, Palestina pada masa Mamluk.
• Ibn Hajar al-ʿAsqalani (1372–1449), a leading medieval Shafi’i Sunni scholar whose family originated in ‘Asqalan, Mamluk Palestine.
• Khair al-Din al-Ramli, "dari al-Ramla", di Palestina Utsmani pada abad ke-17.
• Kkair al-Din al-Ramli, ‘of al-Ramla’, in 17th century Ottoman Palestine.
• Di tingkat populer di Palestina, nama-nama individu juga dikaitkan dengan kota asal mereka, seperti ‘ibn Akka’, ‘putra Akka’, atau menurut klan mereka:
• On a popular Palestinian level, individual names were also linked to their home towns, such as ‘ibn Akka’, ‘son of Acre’, or after their clan:
Misalnya, Dhaher al-ʿUmar al-Zaydani ‘dari suku Zaydani’. Bentuk identifikasi tradisional (baik ‘Jesus of Nazareth’ maupun ‘Julian of Norwich’, sekitar 1342–sekitar 1416) lazim di seluruh dunia. Dalam Kata Pengantarnya tahun 1898, Beidas yang lahir di Galilea berbicara tentang ‘putra-putra Palestina’, istilah umum untuk ‘rakyat Palestina’. Bentuk identifikasi wilayah yang khas pada akhir abad ke-19 ini merupakan penyimpangan radikal dari semua bentuk identifikasi tradisional lainnya. Pada abad ke-20, bentuk-bentuk identifikasi tradisional tidak sepenuhnya lenyap, tetapi diperkaya oleh bentuk identifikasi wilayah dan kesadaran patriotik yang baru ini (‘putra-putra Palestina’). Pada beberapa dekade awal abad ke-20, kelompok ‘putra-putra Palestina’ ( أبناء فلسطين ) juga dikenal sebagai Sha’b Filastin ( شعب فلسطين , ‘rakyat Palestina’) dan ‘bangsa Palestina’ ( الشعب الفلسطيني ). Namun akar kesadaran nasional wilayah yang baru ini sudah ditemukan pada akhir abad ke-19.
for example, Dhaher al-ʿUmar al-Zaydani ‘of the Zaydani clan’. The traditional forms of identification (whether ‘Jesus of Nazareth’ or ‘Julian of Norwich’, c. 1342–c. 1416) were common throughout the world. In his 1898 Preface, the Galilee-born Beidas talks about the ‘sons of Palestine’, a generic term for the ‘people of Palestine’. This distinct territorial form of identification in the late 19th century is a radical departure from all other traditional forms of identification. In the 20th century the traditional forms of identification did not disappear completely, but they were augmented by this new form of territorial identification and patriotic consciousness (the ‘sons of Palestine’). In the early decades of the 20th century the collective ‘sons of Palestine’ ( أبناء فلسطين ) also became known as Sha’b Filastin ( شعب فلسطين , ‘people of Palestine’) and the ‘Palestinian people’ ( الشعب الفلسطيني ). But the roots of this new territorial national consciousness are found in the late 19th century.
Hari ini Masyarakat beroperasi secara terbuka dan menjalankan berbagai proyek sosial dan pendidikan di Palestina dan Timur Dekat dengan nama dalam terjemahan bahasa Arab yang disebutkan Bedas dalam Kata Pengantarnya tahun 1898: الجمعية الإمبراطورية الأرثوذكسية الفلسطينية. Pada Juni dan Juli 2012, untuk memperingati ulang tahun ke-130 pendirian Masyarakat dan dimulainya operasinya pada tahun 1882 di Palestina, Masyarakat membuka Pusat Sains dan Budaya Rusia di Betlehem serta menyelenggarakan berbagai perayaan di Moskow yang disponsori oleh pemerintah Rusia. Dua tahun kemudian, pada 3 September 2014, cabang Galilea dari Masyarakat Palestina Ortodoks Kekaisaran Rusia secara resmi diluncurkan di Pusat Ortodoks Arab di Nazareth, yang, meskipun keadaan Nazareth telah berubah, tetap mempertahankan nama "Palestina" yang telah berusia 132 tahun tanpa perubahan. Para pembicara dalam upacara resmi di Nazareth tersebut antara lain perwakilan resmi Rusia dan Hanna Abu Hanna dari Haifa, penulis karya terbaru berbahasa Arab tentang Awal Kebangkitan Palestina, yang memberikan ceramah tentang kegiatan budaya perintis Masyarakat di Palestina akhir masa Utsmani. Perlu juga dicatat bahwa sejumlah besar warga Palestina yang dididik di "sekolah al-Maskob" di Palestina akhir masa Utsmani kemudian bergabung dengan partai-partai nasional Palestina selama masa Mandat Inggris; sebagian juga bergabung dengan Partai Komunis Palestina (PCP) pada periode yang sama.
• Today the Society operates publicly and runs various social and educational projects in Palestine and the Near East under the Arabic rendition of the name cited by Bedas in his 1898 Preface: الجمعية الإمبراطورية الأرثوذكسية الفلسطينية . In June and July 2012, to mark the 130th anniversary of the Society’s foundation and start of its operation in 1882 in Palestine, the Society opened the Russian Centre for Science and Culture in Bethlehem and staged various celebrations in Moscow sponsored by the Russian government. Two years later, on 3 September 2014, a Galilee branch of the Imperial Russian Orthodox Palestinian Society was officially launched at the Arab Orthodox Centre in Nazareth which, despite the change in the circumstances of Nazareth, kept the 132-year-old ‘Palestinian’ name intact. Speakers at this official Nazareth ceremony included Russian official representatives and Hanna Abu Hanna, of Haifa – author of a recent work in Arabic on The Beginnings of the Palestinian Renaissance – who lectured on the seminal cultural activities of the Society in late Ottoman Palestine. It is also worth noting that a significant number of Palestinians educated in ‘al-Maskob schools’ in late Ottoman Palestine later joined Palestinian national parties during the British Mandatory period; some also joined the Palestine Communist Party (PCP) during the same period.