8.2 Al-Dawlah Al-Qutriyyah: Kenegaraan Palestina dan Rezim Dhaher Al-'Umar serta Ahmad Pasha Al-Jazzar pada Abad Ke-18
8.2 Al-dawlah Al-qutriyyah: Palestinian Statehood And The Regimes Of Dhaher Al-ʿumar And Ahmad Pasha Al-jazzar In The 18th Century
Para sarjana Timur Tengah modern sering kali terpaku pada sejarah dan politik kalangan elite perkotaan, serta pada nasionalisme dan modernitas yang diimpor dari Eropa pada abad ke-19. Pendekatan ini cenderung berfokus pada pusat-pusat perkotaan dan mereproduksi narasi elite, sembari mengabaikan masyarakat petani dan "masyarakat perbatasan", serta kaum subaltern dan kelompok yang terpinggirkan. Pendekatan ini juga turut membungkam sebagian besar sejarah Palestina dan mencabut dari rakyat Palestina rasa identitas serta agensi kolektif mereka sendiri. Palestina dan rakyat Palestina jarang diberi kesempatan untuk berbicara atas nama mereka sendiri, demikian argumen Edward Said; mereka harus diwakili oleh para sarjana Barat atau Israel yang dianggap berwibawa – kaum Orientalis, arkeolog Alkitab, ahli geografi Kitab Suci (Said 1980) – atau mereka harus dipandang melalui prisma konfigurasi kekaisaran dan sistem patron‒klien perkotaan (kosmopolitan) (Mamluk, Ottoman, Inggris).
Scholars of the modern Middle East are often preoccupied with the history and politics of urban elites and with nationalism and modernities imported from Europe in the 19th century. This approach tends to focus on urban centres and reproduce elite narratives, while ignoring peasant and ‘frontier societies’ and the subaltern and marginalised. This approach also contributes to the silencing of much of Palestinian history and divesting the Palestinians of their own sense of identity and collective agency. Palestine and the Palestinian people are rarely allowed to speak for themselves, argued Edward Said; they have to be represented by authoritative Western or Israeli scholars – Orientalists, biblical archaeologists, scriptural geographers (Said 1980) – or they have to be viewed through the prism of imperial configurations and urban (cosmopolitan) patron‒client systems (Mamluk, Ottoman, British).