9.8 ‘Menjadi Palestina, Mewujudkan Palestina’ dalam Puisi Mahmoud Darwish
9.8 ‘being Palestine, Becoming Palestine’ In Mahmoud Darwish’s Poetry
Saya lahir di dekat laut dari ibu seorang Palestina / dan ayah seorang Aram, dari ibu seorang Palestina dan ayah seorang Moab, dari ibu seorang Palestina / dan ayah seorang Arab. (Darwish 1994: 69)
I was born close to the sea to a Palestinian mother / and an Aramaic father, to a Palestinian mother and a Moabite father, to a Palestinian mother / and Arab father. (Darwish 1994: 69)
Penyair "nasional" Palestina Mahmoud Darwish (1941–2008) terinspirasi oleh kenangan sosial dan budaya Palestina bersejarah yang sangat kaya. Puisinya memberikan rasa mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan identitas Palestina serta pembentukan dan transformasinya yang terus berlangsung. Sementara banyak nasionalis Arab modern berupaya meraih keunikan dan eksklusivitas serta terus mencari kemurnian dan kejelasan dalam membangun identitas nasionalis mereka, Darwish justru mencari bentuk identitas yang halus, campuran, dan tersamar, yang diwakili oleh penghargaan terhadap warisan Palestina yang samar-samar dan inklusif. Warisan yang halus dan kaya ini terjalin dalam tenunan identitas nasional Palestina modern, dan cara identitas ini dibingkai secara khusus oleh Darwish. Darwish dibesarkan sebagai pengungsi internal di Galilea setelah desanya, al-Birwa, dihancurkan oleh Israel pada 1948. Kemudian ia menjalani sebagian besar kehidupan dewasanya dalam pengasingan. Seperti banyak intelektual Palestina modern, Darwish tidak lahir dari elit perkotaan atau keluarga bangsawan negeri itu, melainkan berasal dari pedesaan dan pinggiran Palestina (Galilea). Namun, Darwish menjadi perwujudan identitas nasional Palestina yang berlapis-lapis dan produsen memori linguistik serta budaya paling termasyhur di Palestina modern. Bagi Darwish, konsepsi identitas Palestina yang berlapis-lapis tampak dari kenyataan bahwa identitas itu merupakan hasil dari semua budaya besar yang pernah melintasi tanah Palestina:
Palestinian ‘national’ poet Mahmoud Darwish (1941‒2008) was inspired by the incredibly rich social and cultural memories of historic Palestine. His poetry gave a deep sense of such questions of Palestinian identity and its continued formation and transformation. While many modern Arab nationalists strive for uniqueness and exclusivity and continuously search for purity and clarity in constructing their nationalist identities, Darwish, by contrast, searched for the subtle, mixed and subdued forms of identity represented by an appreciation of the shadowy and inclusive heritage of Palestine. This subtle and rich heritage was woven into the fabric of modern Palestinian national identity and the way this identity was particularly framed by Darwish. The latter was brought up an internal refugee in the Galilee after his village, al-Birwa, was destroyed by Israel in 1948. He later lived much of his adult life in exile. Like many modern Palestinian intellectuals, Darwish did not emerge from the urban metropolitan elite or aristocratic families of the country, but came from the countryside and the periphery of Palestine (Galilee). However, Darwish became the embodiment of multi-tiered Palestinian national identity and the most celebrated producer of linguistic and cultural memory in modern Palestine. For Darwish, the multi-layered conception of Palestinian identity is evident by the fact that it is the product of all the powerful cultures that have passed through the land of Palestine:
Helenistik, Persia, Romawi, Bizantium, Aram, Arab, Yahudi, Muslim, Yahudi Arab, Utsmani, Inggris.
the Hellenistic, the Persian, the Roman, the Byzantine, the Aramaic, the Arab, the Jewish, the Muslim, the Arab Jewish, the Ottoman, the British.
Namun, sejarah lisan serta warisan visual dan material Palestina, beserta latar alamnya, juga memainkan peran besar dalam puisi "nasional" Darwish. Bagi Darwish, representasi modern tentang identitas Arab Palestina berakar kuat pada sejarah, geografi, dan batas-batas alam negeri itu, toponimi, bahasa Arab, serta budaya Palestina dan perkembangannya dalam lingkungan Arab yang lebih luas. Menurut seorang sejarawan kunci, Being Palestine, becoming Palestine 277
However, the oral history and visual and material heritage of Palestine and their natural settings have also figured hugely in Darwish’s ‘national’ poetry. For Darwish, modern representations of Palestinian Arab identity were deeply rooted in the history, geography and natural boundaries of the country, the toponymy and Arabic language and cultures of Palestine and its evolution within the wider Arab environs. According to a key historian Being Palestine, becoming Palestine 277
Tentang nasionalisme modern, Benedict Anderson (1991) menyatakan bahwa bahasa-bahasa vernakular Eropa (yang menggantikan bahasa Latin) serta peredaran massal gambar oleh pers dan kapitalisme cetak memainkan peran penting dalam cara "bangsa modern" sebagai komunitas yang terbayangkan dibentuk dan disebarluaskan di Eropa.
of modern nationalism, Benedict Anderson (1991), European vernacular languages (replacing Latin) and the mass circulation of images by the press and in print capitalism played important roles in the way the ‘modern nation’ as an imagined community has been constructed and spread in Europe.
Dalam kasus Palestina modern, pengenalan kapitalisme cetak pada akhir abad ke-19, penyebaran pendidikan modern, serta ingatan linguistik, budaya, dan keagamaan, menjadikan bahasa Arab standar dan bahasa Arab Palestina vernakular (sehari-hari) sebagai penanda identitas yang khas. Mungkin tidak mengherankan jika surat kabar nasional Palestina paling berpengaruh pada era modern dinamakan Falastin (1911–1967) – bukan Filastin – yang menegaskan nama lokal negeri itu dalam bahasa Arab sehari-hari, Falastin, sebagai cara untuk membentuk identitas nasional Palestina yang berbeda dan terpisah. Selain vernakularisasi identitas nasional yang baru tumbuh, pengalaman geografi yang khas, sejarah yang hidup, serta ingatan budaya, linguistik, dan keagamaan tentang Palestina modern menjadi pusat dalam pembentukan identitas nasional Palestina modern. Bahasa vernakular Palestina tentu penting dalam memvisualisasikan Palestina modern. Pada tahun 1909, sebuah Manual Bahasa Arab Palestina, untuk Belajar Mandiri diterbitkan oleh H. H. Spoer (Fellow of the American School of Archaeology and Oriental Research in Jerusalem) dan E.
In the case of modern Palestine, the introduction of print capitalism in the late 19th century, the spread modern education, linguistic, cultural and religious memories, standard Arabic and vernacular (colloquial) Palestinian Arabic all became markers of a distinct identity. Perhaps it is not surprising that the most influential Palestinian national newspaper of the modern era was called Falastin (1911–1967) – not Filastin – emphasising the local colloquial Arabic name for the country, Falastin, as a way of forging a distinct or separate Palestinian national identity. In addition to the vernacularisation of a nascent national identity, the experience of distinct geography, living history and cultural, linguistic and religious memories of modern Palestine were central to the construction of modern Palestinian national identity. The Palestinian vernacular was certainly important in the visualisation of modern Palestine. In 1909 a Manual of Palestinian Arabic, for Self-instruction was published by H. H. Spoer (Fellow of the American School of Archaeology and Oriental Research in Jerusalem) and E.
Nasrallah Haddad (guru bahasa Arab di Seminari Pendidikan Guru di Syrisches Waisenhaus di Yerusalem,17 yang juga dikenal sebagai Panti Asuhan Schneller). Nasionalisme lokal yang baru tumbuh ini disertai dengan vernakularisasi dan minat terhadap cerita rakyat Palestina setempat, dan hal ini tampak jelas terutama dalam karya perintis Tawfiq Cana'an (1882–1964), seorang dokter, etnografer, antropolog, penulis yang sangat produktif, dan nasionalis Palestina.
Nasrallah Haddad (teacher of Arabic at the Teacher Training Seminary at the Syrisches Waisenhaus in Jerusalem,17 also known as the Schneller Orphanage). This incipient local nationalism was coupled with vernacularisation and interest in local Palestinian folklore, and this was particularly evident in the pioneering work of Tawfiq Cana’an (1882–1964), a physician, ethnographer, anthropologist, prolific author and Palestinian nationalist.
Lahir di Beit Jala, Cana'an bertugas sebagai perwira medis dalam tentara Ottoman selama Perang Dunia Pertama dan kemudian menjabat sebagai Presiden pertama Asosiasi Medis Arab Palestina yang didirikan pada tahun 1944.
Born in Beit Jala, Cana’an served as a medical officer in the Ottoman army during the First World War and would later serve as the first President of the Palestine Arab Medical Association founded in 1944.
Tentu saja, pada abad ke-19 Palestina telah berabad-abad berada di bawah Islam sebagai negeri Arab dan negara Arab (balad, bilad), dengan bahasa Arab (dialek dan bahasa baku) sebagai penanda utama identitas budayanya. Di bawah pengaruh modernisasi, vernakularisasi, dan kebangkitan budaya di Palestina akhir masa Utsmaniyah pada paruh kedua abad ke-19, bahasa Arab klasik juga mengalami pembaruan dan penyederhanaan dalam kurikulum sejumlah sekolah. Pada tahun 1909, pendidik Palestina Khalil Sakakini (1878–1953)
Of course, by the 19th century Palestine had been for many centuries under Islam an Arab land and an Arab country (balad, bilad) with Arabic (vernacular and standard) being a key marker of its cultural identity. Under the impact of modernisation, vernacularisation and cultural awakening in late Ottoman Palestine during the second half of the 19th century, literary Arabic also went through updating and simplification in the curricula of some schools. In 1909, Palestinian educator Khalil Sakakini (1878–1953)
…mendirikan Sekolah Dusturiyyah di Yerusalem dan memelopori sistem pendidikan progresif modern yang tidak hanya menjadikan bahasa Arab, bukan bahasa Turki, sebagai bahasa utama pengajaran, tetapi juga memperkenalkan metode baru dalam mengajarkan bahasa Arab dengan memperbarui tata bahasa Arab dan menyederhanakan kaidah-kaidah umumnya dasarnya (Tamari 2003). Kemudian, tradisi progresif ini dalam menyederhanakan, memperbarui, dan mendekatkan bahasa Arab klasik kepada bahasa Arab vernakular Palestina berlanjut dalam puisi "nasional" Mahmoud Darwish.
founded the Dusturiyyah School in Jerusalem and pioneered a modern progressive education system which not only made the primary language of instruction Arabic instead of Turkish but also introduced new methods of teaching Arabic by updating Arabic grammar and simplifying its basic general rules (Tamari 2003). Later this progressive tradition of simplifying, updating and bringing literary Arabic closer to vernacular Palestinian Arabic continued in the ‘national’ poetry of Mahmoud Darwish.
Dengan menggemakan gagasan Heidegger tentang ‘menjadinya ada’ (becoming of being), representasi diri dan ‘menjadinya seorang Palestina’, menurut Darwish, berkaitan dalam suatu makna dengan cara identitas Palestina modern secara bertahap disingkapkan, dialami, divisualisasikan, dan dikonfigurasi ulang.
Echoing the Heideggerean notion of the ‘becoming of being’, self-representation and the ‘becoming of being Palestinian’, according to Darwish, are related in some sense to the way modern Palestinian identity was progressively being uncovered, experienced, visualised and reconfigured.
18 Bagi Darwish, bahasa Arab dan puisi, serta ingatan kolektif dan sosial tentang Palestina, khususnya, sangat mendasar bagi pengungkapan dan pembentukan identitas Palestina lokal. Metrum puisi Arab yang berirama dikenal dalam bahasa Arab sebagai 'lautan' (buhur). Puisi Darwish yang sangat evokatif juga menggambarkan Palestina modern sebagai ruang di antara (Laut Tengah)
18 For Darwish, the Arabic language and poetry and collective and social memories of Palestine, in particular, were fundamental to the uncovering and construction of local Palestinian identity. The metres of the rhythmical Arabic poetry are known in Arabic as ‘seas’ (buhur). Darwish’s highly evocative poetry also visualised modern Palestine as a space between the (Mediterranean)
Laut dan Gurun (Arab), sebuah gagasan yang berakar kuat dalam konsepsi Arab-Islam abad pertengahan dan dalam ingatan sosial masyarakat Palestina. Namun bagi Darwish, "Pedalaman Palestina" (bar Filastin) dan "Laut Palestina" (bahr Filastin) – yang disimbolkan secara harfiah maupun metaforis oleh Laut Mediterania dan Gurun Arab – merepresentasikan Palestina secara utuh. Keduanya juga merupakan ruang pengalaman, kesadaran batin dan alam bawah sadar, serta identitas pribadi dan kolektif yang secara sadar tersingkap.
Sea and the (Arabian) Desert, an idea which is deeply rooted in the medieval Arab Islamic conception and social memories of Palestine. But for Darwish the ‘Hinterland of Palestine’ (bar Filastin) and the ‘Sea of Palestine’ (bahr Filastin) – symbolised literally and metaphorically by the Mediterranean Sea and the Arabian Desert –represent Palestine as a whole. They are also spaces of experiences, of inner consciousness and subconsciousness and of consciously unveiled personal and collective identities.