Pasal 2
Article 2
Dar Al-Islam (Negeri Islam) adalah wilayah tempat hukum-hukum Islam diterapkan dan keamanannya dijaga oleh Islam. Dar Al-Kufr (negeri kekufuran) adalah wilayah tempat hukum-hukum kekufuran diterapkan atau keamanannya dijaga oleh selain keamanan Islam.
Dar Al-Islam (Islamic Abode) is the territory where the rules of Islam are implemented and its security is upheld by Islam. Dar Al-Kufr (abode of disbelief) is the territory where the rules of Kufr are implemented or its security is upheld by other than the security of Islam.
Dar memiliki beberapa makna: Secara bahasa: "tempat tinggal", seperti firman-Nya (SWT):
Dar has several meanings:Linguistically: “abode”, such as His (swt) words:
"Lalu Kami benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi." (QS 28:81) dan "tempat persinggahan", dan setiap tempat yang didiami suatu kaum adalah Dar mereka. Seperti firman-Nya:
“And We caused the earth to swallow him and his home.” (TMQ 28:81) and “way-station”, and every place that a people settle is their Dar. Such as His words:
Maka gempa bumi menimpa mereka, lalu mereka menjadi mayat-mayat yang tergeletak tersungkur di dalam rumah mereka. (QS. 7:91)
“So the earthquake seized them, and they became within their home [corpses] fallen prone.” (TMQ 7:91).
Ya, dan artinya: "kota". Sibawayh menyatakan: "Dār ini adalah sebuah kota yang indah", dan "abode and place" seperti firman-Nya:
, and it means: “city”. Sibawayh stated: “This Dar is a beautiful city and “abode and place” such as His words:
"Dan sungguh indah tempat tinggal orang-orang yang bertakwa." (TMQ 16:30). Demikian pula, kata itu secara kiasan bermakna "suku", seperti riwayat Abu Hamid Al-Sa'adi dalam Bukhari dari Rasulullah ﷺ yang bersabda:
“And how excellent is the home of the righteous.” (TMQ 16:30)”. In the same manner, it metaphorically means “tribe”, such as the narration of Abu Hamid Al-Sa’adi in Bukhari from the Messenger (pbuh) who said: .
.»... إِنَّ خَيْ رَ دُورِ الأَنْصَارِ دَارُ بَنِي النَّجَّارِ «.
.»... إِنَّ خَيْ رَ دُورِ الأَنْصَارِ دَارُ بَنِي النَّجَّارِ «.
"Sesungguhnya sebaik-baik perkampungan kaum Anshar adalah perkampungan Bani Najjar..." Dan kata "Dar" dapat disandingkan dengan nama-nama hal, seperti firman-Nya (SWT).
“Truly, the worthiest settlements of the Ansar are those of Banu Najjar.. ” And Dar can be adjoined to the names of things such as His (swt) words.
"Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." (TMQ 7:145),.
“I will show you the home of the defiantly disobedient.” (TMQ 7:145),.
"Dan sungguh indah negeri akhirat itu. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa." (TMQ 16:30),
“And how excellent is the home of the righteous.” (TMQ 16:30),.
"Tetapi mereka menyembelih unta itu, lalu (Shalih) berkata, "Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari. Itulah janji yang tidak akan didustakan."" (TMQ 11:65), dan firman-Nya (swt):
“But they hamstrung her, so he said, "Enjoy yourselves in your homes for three days. That is a promise not to be denied."” (TMQ 11:65), and His (swt) words:
“Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah, rumah, dan harta benda mereka.” (TMQ 33:27). Demikian pula dalam riwayat Buraydah dalam Shahih Muslim, di mana Rasulullah ﷺ bersabda,
“And He caused you to inherit their land and their homes and their properties.” (TMQ 33:27). And similarly in the narration of Buraydah in Muslim where the Messenger of Allah (pbuh) said,.
.» ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ ...«.
.» ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ ...«.
"…Kemudian ajaklah mereka untuk pindah dari wilayah mereka ke wilayah kaum Muhajirin," dan riwayat Salimah bin Nufail dari Ahmad, bahwa ia berkata:
“…Then invite them to move from their territory to that of the emigrants (Muhajirin)” and the narration of Salima Bin Nufail from Ahmad that he said:.
.» أَلاَ إِنَّ عُقْرَ دار المؤمنين الشام «.
.» أَلاَ إِنَّ عُقْرَ دار المؤمنين الشام «.
"Tempat tinggal terbaik bagi orang-orang beriman adalah Asy-Syam," dan hal ini dapat dihubungkan dengan makna-makna seperti firman-Nya (SWT): "Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjerumuskan kaum mereka ke dalam negeri kebinasaan?" (QS. Ibrahim: 28). Dan firman-Nya:
“the worthiest of the believers’ abode is as-Sham” And it could be adjoined to meanings such as His (swt) words: “Have you not considered those who exchanged the favor of Allah for disbelief and settled their people [in] the home of ruin?” (TMQ 14:28). And His words:
"Dia yang telah menempatkan kami di negeri yang kekal dengan karunia-Nya." (TMQ 35:35). Dan dalam riwayat Ali (ra) dari Ibnu Asakir dengan sanad Hasan Sahih, dan dalam At-Tirmidzi: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:
“He who has settled us in the home of duration out of His bounty.” (TMQ 35:35). And in the narration of Ali (ra) from Ibn Asakir with a Hasan Sahih chain, and in Tirmidhi: The Messenger of Allah (pbuh) said to me:
. » رَحِمَ اللَّهُ أَبَا بَكْرٍ زَوَّجَنِيَ ابْ نَتَهُ وَحَمَلَنِي إِلَى دَارِ الْهِجْرَة «.
. » رَحِمَ اللَّهُ أَبَا بَكْرٍ زَوَّجَنِيَ ابْ نَتَهُ وَحَمَلَنِي إِلَى دَارِ الْهِجْرَة «.
“May Allah have mercy upon Abu Bakr, he married his daughter to me and carried me to the land (abode) of migration (Dar-Al-Hijrah)”. And the narration of Ibn Abbas in Daraqutni saying: The Messenger of Allah (pbuh) said: . إِذَا خَرَجَ العَبْدُ مِنْ دَارِ الشِّرْكِ قَ بْلَ سَيِّدِهِ فَ هُوَ حُرٌ، وَإِذَا خَرَجَ مِنْ بَ عْدِهِ رُدَّ « إِلَيْهِ. وَإِذَا خَرَجَتِ المَرْأَةُ مِنْ دَارِ الشِّرْكِ قَ بْلَ زَوْجِهَا تَ زَوَّجَتْ مَنْ شَاءَتْ ، وَإِذَا خَرَجَتْ » مِنْ بَ عْدِهِ رُدَّتْ إِلَيْهِ .
“May Allah have mercy upon Abu Bakr, he married his daughter to me and carried me to the land (abode) of migration (Dar-Al-Hijrah)”. And the narration of Ibn Abbas in Daraqutni saying: The Messenger of Allah (pbuh) said: . إِذَا خَرَجَ العَبْدُ مِنْ دَارِ الشِّرْكِ قَ بْلَ سَيِّدِهِ فَ هُوَ حُرٌ، وَإِذَا خَرَجَ مِنْ بَ عْدِهِ رُدَّ « إِلَيْهِ. وَإِذَا خَرَجَتِ المَرْأَةُ مِنْ دَارِ الشِّرْكِ قَ بْلَ زَوْجِهَا تَ زَوَّجَتْ مَنْ شَاءَتْ ، وَإِذَا خَرَجَتْ » مِنْ بَ عْدِهِ رُدَّتْ إِلَيْهِ .
“Jika seorang budak meninggalkan negeri Syirik (Dar al-Syirk) sebelum tuannya, maka ia bebas, dan jika ia meninggalkannya setelah tuannya, maka ia dikembalikan kepadanya. Dan jika seorang wanita meninggalkan negeri Syirik sebelum suaminya, ia boleh menikah dengan siapa saja yang ia kehendaki, dan jika ia meninggalkannya setelah suaminya, maka ia dikembalikan kepadanya.”
“If the slave leaves the abode (land) of Shirk (Dar-Al- Shirk) before his master, then he is free, and if he leaves after him, then he is returned to him, and if a woman leaves the abode (land) of Shirk before her husband, she can marry whom she pleases, and if she leaves after him, then she is returned to him.”.
Dan Syariat menghubungkan istilah Dar dengan dua kata dari makna-makna: yaitu Islam dan Syirik. Ath-Thabarani memiliki riwayat dari hadits Salima bin Nufail yang disebutkan sebelumnya dalam Musnad Asy-Syamiyin dengan lafaz-lafaz berikut.
And the Shari’ah adjoined the term Dar to two words from meanings – being: Islam and Shirk. Tabarani has a version of the previously mentioned narration of Salima Bin Nufail in the Musnad Al-Shamiyin with the words.
.» أَلاَ إِنَّ عُقْرَ دَارِ الإسلام الشَّامُ «.
.» أَلاَ إِنَّ عُقْرَ دَارِ الإسلام الشَّامُ «.
“sebaik-baik tempat tinggal orang-orang beriman adalah Syam”. Maka, kata Dar di sini ditambahkan pada Islam. Demikian pula, Al-Mawardi meriwayatkan dalam Al-Ahkam Al-Sultaniyya dan dalam Al-Hawi Al-Kabir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda.
“the worthiest of the believers’abode (land) is as-Sham”. So, the word Dar here is added to Islam. And likewise, Al- Mawardi narrated in Al-Ahkam Al-Sultaniyya and in Al-Hawi Al-Kabir that the Messenger of Allah (pbuh) said.
. » مَنَ عَتْ دَارُ الإِسْلاَمِ مَا فِيهَا، وَأَبَاحَتْ دَارُ الشِّرْكِ مَا فِيهَا «.
. » مَنَ عَتْ دَارُ الإِسْلاَمِ مَا فِيهَا، وَأَبَاحَتْ دَارُ الشِّرْكِ مَا فِيهَا «.
"Negeri Islam (Dar Al-Islam) telah melarang segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan negeri kemusyrikan (Dar Al-Shirk) telah membolehkan segala sesuatu yang ada di dalamnya," sehubungan dengan kesucian darah dan harta di negeri Islam, kecuali dengan haknya sesuai dengan ketentuan syariah, dan sehubungan dengan tidak adanya kesucian negeri kemusyrikan (negeri perang, "Dar Al-Harb") dalam keadaan perang yang sebenarnya, seperti dalam ketentuan mengenai peperangan dan rampasan perang, sesuai dengan ketentuan syariah. Pembagian ini mencakup seluruh dunia, sehingga tidak ada satu bagian pun darinya yang berada di luar negeri Islam (Dar Al-Islam) maupun negeri kemusyrikan, atau dengan kata lain, negeri kekafiran atau negeri perang (Dar Al-Shirk, Dar Al-Kufr, Dar Al-Harb).
“The land of Islam (Dar-Al-Islam) has probibited whatever in it, and the land of polytheism (Dar-Al-Shirk) has permitted whatever in it.” in respect to the sanctity of blood and wealth in the abode of Islam…except by its right in agreement with the rules of the Shari’ah, and with respect to the absence of sanctity of the abode of Shirk (the abode of war “Dar Al-Harb”) in the sitution of actual war, as in the rules regarding fighting and booty….in agreement with the rules of the Shari’ah. This division encompasses the whole world, so there is not a part from it which falls outside of either the abode of Islam (Dar Al-Islam) or the abode of Shirk, or in other words, the abode of Kufr or abode of war (Dar Al-Shirk, Dar Al-Kufr, Dar Al-Harb).
Suatu negeri dianggap sebagai negeri Islam apabila memenuhi dua syarat:
The abode is considered an abode of Islam if it fulfils two conditions:
Pertama: bahwa keamanan dijaga oleh kaum Muslimin, sesuai dengan dalil bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabatnya di Makkah.
Firstly: that the security is upheld by the Muslims, according to the evidence that he said to his companions in Makkah.
.» إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ لَكُمْ إِخْوَاناً وَدَاراً تَأْمَنُونَ بِهَا «.
.» إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ لَكُمْ إِخْوَاناً وَدَاراً تَأْمَنُونَ بِهَا «.
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan saudara bagimu dan sebuah negeri (tempat tinggal) bagimu untuk merasa aman di dalamnya”. Tempat tinggal ini adalah Dar Al-Hijrah yang disebutkan dalam riwayat ‘Ali yang telah disebutkan sebelumnya dari Ibnu ‘Asakir, dan dalam riwayat ‘Aisyah (ra) dalam Al-Bukhari, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:
“Truly, Allah has made brothers to you anda land (an abode) for you to be safe in”. This abode is the Dar Al-Hijrah mentioned in the narration of ‘Ali already mentioned from Ibn ‘Asakir, and in the narration of 'Aisha (ra) in Al-Bukhari in which the Messenger of Allah (pbuh) said:
. » قَدْ أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ «.
. » قَدْ أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ «.
"Aku telah diperlihatkan tempat (negeri) hijrahmu." Dan dalil bahwa beliau dan para sahabatnya tidak berhijrah ke Madinah sampai beliau yakin akan adanya perlindungan dan keamanan, sebagaimana dikatakan Al-Hafiz dalam Al-Fath: Al-Baihaqi meriwayatkannya melalui sanad yang kuat dari Al-Sha'bi, dan Al-Thabarani menyambungkannya dari riwayat Abu Musa Al-Ash'ari yang berkata:
“I have been shown the land (abode) of your emigration”. And the evidence that he and his companions did not emigrate to Madinah until he was sure about the presence of protection and security; Al-Hafiz said in Al-Fateh, Bayhaqi narrated through a strong chain from Al-Sha’bi and Al-Tabarani connected it from the narration of Abu Musa Al-Ansari who said:
. وَمَعَهُ العَبَّاسُ عَمُّهُ إِلَى سَبْعِينَ مِنَ الأَنْصَارِ عِنْدَ انْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ « العَقَبَةِ، فَ قَالَ لَهُ أبو أُمامَة - يعني أسعد بن زُرَارة - سَلْ يا محمّد لِرَبِّكَ ولِنَ فْسِكَ ما شِئْتَ، ثُمَّ أَخْبِ رِِْنا ما لَنا من الثَّ وَابِ. قال: أَسْأَلُكُمْ لِ رَبِّي أنْ تَ عْ بُدُوهُ وَلا تُشْرِكُوا به شيئاً، وأَسْأَلُكُمْ لِنَ فْسِي ولأَصْحَابِي أنْ تُ ؤْوُونَا وتَ نْصُرُونَا وتَمْ نَ عُونَا مِمَّا تَمْ نَ عُونَ منه » أَنْ فُسَكُمْ. قالوا: فَما لَنا؟ قال: الْجَ نَّةُ. قالوا: ذلِكَ لَكَ.
. وَمَعَهُ العَبَّاسُ عَمُّهُ إِلَى سَبْعِينَ مِنَ الأَنْصَارِ عِنْدَ انْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ « العَقَبَةِ، فَ قَالَ لَهُ أبو أُمامَة - يعني أسعد بن زُرَارة - سَلْ يا محمّد لِرَبِّكَ ولِنَ فْسِكَ ما شِئْتَ، ثُمَّ أَخْبِ رِِْنا ما لَنا من الثَّ وَابِ. قال: أَسْأَلُكُمْ لِ رَبِّي أنْ تَ عْ بُدُوهُ وَلا تُشْرِكُوا به شيئاً، وأَسْأَلُكُمْ لِنَ فْسِي ولأَصْحَابِي أنْ تُ ؤْوُونَا وتَ نْصُرُونَا وتَمْ نَ عُونَا مِمَّا تَمْ نَ عُونَ منه » أَنْ فُسَكُمْ. قالوا: فَما لَنا؟ قال: الْجَ نَّةُ. قالوا: ذلِكَ لَكَ.
“Rasulullah ﷺ berangkat bersama pamannya, Al-‘Abbas, untuk menemui tujuh puluh orang dari kaum Anshar di Al-‘Aqabah. Abu Umamah, yaitu As’ad bin Zurarah, berkata kepadanya: ‘Wahai Muhammad, mintalah kepada Tuhanmu dan untuk dirimu sendiri apa pun yang engkau inginkan.’ Kemudian beliau ﷺ menjelaskan kepada kami balasan apa yang akan kami peroleh. Beliau ﷺ bersabda: ‘Aku meminta kepada Tuhanku agar Dia disembah dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, dan aku meminta untuk diriku dan para sahabatku agar kalian menampung kami, menolong kami, dan melindungi kami sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri.’ Mereka bertanya: ‘Apa yang akan kami peroleh?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Surga.’ Mereka berkata: ‘Apa yang engkau minta itu adalah milikmu.’”
“The Messenger of Allah (pbuh) set off with his uncle Al- ‘Abbas to meet seventy of the Ansar at Al-‘Aqabah, and Abu Umama said to him – Asad Bin Zurara – O Muhammad ask for your Lord and yourself whatever you want, then he informed us of what reward we will have. He said: I ask you for my Lord, to worship Him and do not associate anything else with Him, and I ask you for myself and my companions to accommodate us, and support us, and protect us from what you protect yourselves. They said: What is for us? He said: Paradise. They said: What you asked for is yours”.
Dan dalil yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ka'ab bin Malik melalui sanad yang sahih, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
And the evidence related by Ahmad from Ka’ab Bin M’alik through a Sahih chain, that the Messenger of Allah (pbuh) said:
. أُبَايِعُكُمْ عَلَى أَنْ تَمْنَ عُونِي مِمَّا تَمْنَ عُونَ مِنْهُ نِسَاءكَُمْ وَأَبْ نَاءكَُمْ قَالَ فَأَخَذَ « الْبَ رَاء بْنُ مَعْرُورٍ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ نَ عَمْ وَالَّذِي بَ عَثَكَ بِالْحَقِّ لَنَمْنَ عَنَّكَ مِمَّا نَمْنَعُ مِنْهُ أُزُرَنَا » فَ نَحْنُ أَهْلُ الْحُرُوبِ وَأَهْلُ الْحَلْقَةِ وَرِثْ نَاهَا كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ فَ بَايِعْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ.
. أُبَايِعُكُمْ عَلَى أَنْ تَمْنَ عُونِي مِمَّا تَمْنَ عُونَ مِنْهُ نِسَاءكَُمْ وَأَبْ نَاءكَُمْ قَالَ فَأَخَذَ « الْبَ رَاء بْنُ مَعْرُورٍ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ نَ عَمْ وَالَّذِي بَ عَثَكَ بِالْحَقِّ لَنَمْنَ عَنَّكَ مِمَّا نَمْنَعُ مِنْهُ أُزُرَنَا » فَ نَحْنُ أَهْلُ الْحُرُوبِ وَأَهْلُ الْحَلْقَةِ وَرِثْ نَاهَا كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ فَ بَايِعْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ.
"Aku berjanji kepadamu bahwa engkau akan melindungiku dari apa yang engkau lindungi bagi wanita dan anak-anakmu." Maka Al-Baraa bin Ma'ror memegang tangannya dan berkata: "Ya, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, kami pasti akan melindungimu dari apa yang kami lindungi bagi keluarga kami. Maka berikanlah baiat kepada kami, wahai Rasulullah ﷺ, kami adalah orang-orang yang ahli dalam peperangan dan persenjataan, yang telah kami warisi dari nenek moyang kami." Dan dalam riwayat Ahmad yang shahih dari Jabir, bahwa ia berkata tentang baiat 'Aqabah:
“I pledge to you that you protect me from that which you protect your women and children from. So Al-Baraa Bin Ma’ror took him by his hand and said: Yes, by the One who sent you with the Truth, we will most certainly protect you from that which we protect our people, and so give us the pledge- oh Messenger of Allah (pbuh) , we are people of wars and weaponry, which we have inherited from our forefathers”. And in a Sahih narration by Ahmad from Jaber that he said in the pledge of ‘Aqabah.
. وَعَلَى أَنْ تَ نْصُرُونِي فَ تَمْنَ عُونِي إِذَا قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ مِمَّا تَمْنَ عُونَ مِنْهُ ...« »... أَنْ فُسَكُمْ وَأَزْوَاجَكُمْ وَأَبْ نَاءكَُمْ، وَلَكُمُ الْجَنَّةُ.
. وَعَلَى أَنْ تَ نْصُرُونِي فَ تَمْنَ عُونِي إِذَا قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ مِمَّا تَمْنَ عُونَ مِنْهُ ...« »... أَنْ فُسَكُمْ وَأَزْوَاجَكُمْ وَأَبْ نَاءكَُمْ، وَلَكُمُ الْجَنَّةُ.
"…dan untuk memberikan dukungan kepadaku dan melindungiku dari apa pun yang kalian lindungi untuk diri kalian sendiri, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian (ketika aku datang kepada kalian), dan (jika kalian melakukan itu) balasan kalian adalah Surga". Dan dalam Dala'il Al-Nubuwwah karya Al-Bayhaqi, dengan sanad yang kuat dan baik, dari 'Ubadah bin Samit yang berkata:
“…and to give support to me and protect me from whatever you protect yourselves, your wives and your children (when I come to you), and (if you do that) your reward is Paradise”. And in the Dala’il Al-Nabuwa by Al-Bayhaqi, with a strong, good chain from ‘Ubadah Bin Samit who said.
. إِذَا قَدِمَ عَلَيْ نَا ي ثْرِبَ مِمَّا نَمْنَعُ أَنْ فُسَنَا وَعَلَى أَنْ نَ نْصُرَ رَسُولَ اللَّهِ « »... وَأَزوَاجَنا وَأَبْ نَاءَنَا وَلنَا الجَّنَّةَ.
. إِذَا قَدِمَ عَلَيْ نَا ي ثْرِبَ مِمَّا نَمْنَعُ أَنْ فُسَنَا وَعَلَى أَنْ نَ نْصُرَ رَسُولَ اللَّهِ « »... وَأَزوَاجَنا وَأَبْ نَاءَنَا وَلنَا الجَّنَّةَ.
"Dan untuk memberikan dukungan kepada Rasulullah ﷺ dari apa yang kami lindungi bagi diri kami, istri-istri kami dan anak-anak kami (ketika beliau datang kepada kami di Yatsrib), dan kami akan memperoleh Surga."
“And to give support to the Messenger of Allah (pbuh) from that which we protect ourselves, our wives and our children (when He arrives to us at Yathrib), and we will attain Paradise”.
Nabi ﷺ menolak untuk berhijrah ke tempat mana pun yang tidak memiliki keamanan, kekuatan, dan perlindungan. Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari ‘Ali bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada kabilah Syaiban bin Tsa’labah:
The Prophet (pbuh) (pbuh) refused to emigrate to any place which did not have security, power and protection. Al-Bayhaqi narrated through a Hasan chain from ‘Ali that the Messenger of Allah (pbuh) said to the Shayban b. Tha’labah tribe:
. مَا أَسَأْتُمْ فِي الرَّدِّ إَذْ أَفْصَحْتُمْ بِالصِّدْقِ، وَإِنَّ دِينَ اللَّهِ لَنْ يَ نْصُرَهُ إِلاَّ مَنْ « » حَاطَهُ مِنْ جَمِيعِ جَوَانِبِهِ .
. مَا أَسَأْتُمْ فِي الرَّدِّ إَذْ أَفْصَحْتُمْ بِالصِّدْقِ، وَإِنَّ دِينَ اللَّهِ لَنْ يَ نْصُرَهُ إِلاَّ مَنْ « » حَاطَهُ مِنْ جَمِيعِ جَوَانِبِهِ .
"Engkau tidak menjawab dengan buruk sejak engkau menyatakan kebenaran; agama Allah tidak mendapat pertolongan kecuali dari siapa pun yang mampu menolongnya, menolongnya dari segala penjuru." Ini terjadi setelah mereka menawarkan dukungan kepadanya dengan syarat terhadap bangsa Arab, sementara orang-orang Persia dikecualikan.
“You have not replied badly since you expressed the truth; the Deen of Allah is not given support (succor) except when who can help it –help it from all sides”. This was after they had offered to support him with respect to the Arabs while excluding the Persians.
Kedua: Bahwa aturan-aturan Islam diterapkan di dalamnya. Hal ini berdasarkan dalil riwayat Al-Bukhari dari Ubadah bin Ash-Shamit yang berkata:
Secondly: That the rules of Islam are implemented therein. This is from the evidence of Al-Bukhari from Ubada Bin Samit who said:
. فَ بَايَ عْنَاهُ، فَ قَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْ نَا أَنْ بَايَ عَنَا عَلَى السَّمْعِ دَعَانَا النَّبِيُّ « وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَ رَةً عَلَيْ نَا، وَأَنْ لاَ ن نَُازِعَ الأَمْرَ أَهْ لَهُ » إِلاَّ أَنْ تَ رَوْا كُفْ راً بَ وَاحاً عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ ب رُْهَانٌ .
. فَ بَايَ عْنَاهُ، فَ قَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْ نَا أَنْ بَايَ عَنَا عَلَى السَّمْعِ دَعَانَا النَّبِيُّ « وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَ رَةً عَلَيْ نَا، وَأَنْ لاَ ن نَُازِعَ الأَمْرَ أَهْ لَهُ » إِلاَّ أَنْ تَ رَوْا كُفْ راً بَ وَاحاً عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ ب رُْهَانٌ .
“Nabi ﷺ memanggil kami, lalu kami memberikan Bai'at kepada beliau untuk berislam, dan di antara syarat-syarat yang beliau ambil dari kami dalam Bai'at itu adalah bahwa kami harus mendengar dan taat (terhadap perintah beliau), baik ketika kami sedang giat maupun ketika kami sedang lelah, baik di saat sulit maupun di saat lapang, serta taat kepada penguasa dan memberikan haknya, meskipun ia tidak memberikan hak kami, dan tidak memerangi penguasa itu kecuali jika kami melihatnya melakukan kekufuran (kekafiran) yang nyata, yang mana kami memiliki bukti dari Allah.” Dan mendengar serta menaati Rasulullah ﷺ berkaitan dengan perintah dan larangan beliau, dengan kata lain, berkaitan dengan pelaksanaan hukum-hukum. Dalil lain adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, dan Abu 'Ubayd dalam Al-Amwal, dari 'Abdullah bin 'Amr, dari Nabi ﷺ, yang bersabda:
“The Prophet (pbuh) called us and we gave him the Pledge of allegiance for Islam, and among the conditions on which he took the Pledge from us, was that we were to listen and obey (the orders) both at the time when we were active and at the time when we were tired, and at our difficult time and at our ease and to be obedient to the ruler and give him his right even if he did not give us our right, and not to fight against him unless we noticed him having open Kufr (disbelief) for which we would have a proof with us from Allah”. And listening to and obeying the Messenger of Allah (pbuh) is with regards to his orders and prohibitions, in other words, in respect to the implementation of laws. Another evidence is what Ahmad narrated, Ibn Hibban in his Sahih collection and Abu ‘Ubayd in Al-Amwal by ‘Abd Allah b. Amr from the Prophet (pbuh) who said:
. وَالْهِجْرَةُ هِجْرَتَانِ هِجْرَةُ الْحَاضِرِ وَالْبَادِي فَأَمَّا الْبَادِي فَ يُطِيعُ إِذَا أُمِرَ « » وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَأَمَّ ا الْحَاضِرُ فَأَعْظَمُهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا .
. وَالْهِجْرَةُ هِجْرَتَانِ هِجْرَةُ الْحَاضِرِ وَالْبَادِي فَأَمَّا الْبَادِي فَ يُطِيعُ إِذَا أُمِرَ « » وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَأَمَّ ا الْحَاضِرُ فَأَعْظَمُهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا .
"Ada dua jenis hijrah: hijrahnya penduduk kota dan hijrahnya orang Badui. Adapun orang Badui, apabila ia diseru (untuk berjihad), ia wajib memenuhinya, dan ia wajib taat apabila diperintah. Adapun penduduk kota, dialah yang diuji lebih berat dan diberi pahala yang lebih besar." Sudut pengambilan dalilnya jelas dari sabdanya.
“There are two kinds of emigration, the emigration of the town dweller and the emigration of the Bedouin. As for the Bedouin, when he is called (to fight in Jihad) he must respond, and he must obey when he is commanded, and as for the town dweller, he is the one who is more severely tested and more greatly rewarded.”. The angle of inference is clear from his words.
. » فَ يُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ « .
. » فَ يُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ « .
"ia harus menanggapi dan wajib menaatinya ketika ia diperintah", karena padang pasir tersebut termasuk bagian dari negeri Islam (Dar Al-Islam) meskipun bukan negeri hijrah (Dar Al-Hijrah). Dan sesuai dengan dalil riwayat Watsilah bin Al-Asqa' dalam Al-Thabarani, Al-Haitsami mengatakan melalui sanad yang para perawinya semuanya terpercaya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya.
“he must respond and, must obey when he is commanded”, since the desert was part of the abode of Islam (Dar Al-Islam) even if it was not the abode of emigration (Dar Al-Hijrah). And accordingly with the evidence of the narration of Wathilah b. Al-Asqa’ in Al- Tabarani, Al-Haythami said through a chain whose people are all trustworthy that the Messenger of Allah (pbuh) said to him.
. وَهِجْرَةُ البَادِيَةِ أَنْ تَ رْجِعَ إِلَى بَادِيَتِكَ، وَعَلَيْكَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِي عُسْرِكَ « »... وَيُسْرِكَ وَمَكْرَهِكَ وَمَنْشَطِكَ وَأَثْ رَةٍ عَلَيْكَ .
. وَهِجْرَةُ البَادِيَةِ أَنْ تَ رْجِعَ إِلَى بَادِيَتِكَ، وَعَلَيْكَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِي عُسْرِكَ « »... وَيُسْرِكَ وَمَكْرَهِكَ وَمَنْشَطِكَ وَأَثْ رَةٍ عَلَيْكَ .
"Hijrah bagi orang badui adalah kembali ke padang pasirnya, dan mendengar serta taat pada masa sulit maupun mudah, baik engkau suka maupun tidak suka, dan ketika seseorang diberi keutamaan yang tidak semestinya atas dirimu…" dan dalil yang diriwayatkan Ahmad dengan sanad yang Sahih dari Anas:
“The migration of the nomad is to return to your wilderness, and to listen and obey in times of hardship and ease,whether you are willing or unwilling, and when someone is given undue preference to you…” and the evidence that Ahmad narrated with a Sahih chain from Anas:
. إِنّي لأَسْعَى في الغِلْمانِ يَقولونَ جاءَ مُحمّد، فَأَسْعَى فَلا أَرى شَ يئاً. ثُمَّ « وصاحِبُهُ يَقولونَ: جاءَ مُحمّد، فَأَسْعَى فَلا أَرى شَيْئ اً. قال: حتى جاءَ رَسولُ اللَّهِ أبو بَكْر، فَكُنّا في بَ عْضِ حِرارِ المدينة، ثُمَّ بَ عَثَا رَجُلاً مِنْ أَهْلِ المدينة لِيُ ؤْذِنَ بِهِما الأنصارَ، فَاسْتَ قْبَ لَهُمَا زُهَاءُ خَمْسِمائةٍ مِنَ الأَنْصَارِ حتى انْ تَ هَوْا إِلَيْهِمَا. فقالت الأنصارُ: وصاحِبُهُ بَ يْنَ أَظْهُرِهِمْ. فَخَرَجَ أَهْلُ انْطَلِقَا آمِنَ يْنِ مُطَاعَيْنِ. فَأَقْ بَلَ رسولُ اللَّهِ »؟ المدينةِ حتّى إِنَّ العَوَاتِقَ لَفَوْقَ البُ يُوتِ يَ تَ رَاءَيْ نَهُ يَ قُلْنَ أَي هُُّمْ هُوَ أَي هُُّمْ هُوَ .
. إِنّي لأَسْعَى في الغِلْمانِ يَقولونَ جاءَ مُحمّد، فَأَسْعَى فَلا أَرى شَ يئاً. ثُمَّ « وصاحِبُهُ يَقولونَ: جاءَ مُحمّد، فَأَسْعَى فَلا أَرى شَيْئ اً. قال: حتى جاءَ رَسولُ اللَّهِ أبو بَكْر، فَكُنّا في بَ عْضِ حِرارِ المدينة، ثُمَّ بَ عَثَا رَجُلاً مِنْ أَهْلِ المدينة لِيُ ؤْذِنَ بِهِما الأنصارَ، فَاسْتَ قْبَ لَهُمَا زُهَاءُ خَمْسِمائةٍ مِنَ الأَنْصَارِ حتى انْ تَ هَوْا إِلَيْهِمَا. فقالت الأنصارُ: وصاحِبُهُ بَ يْنَ أَظْهُرِهِمْ. فَخَرَجَ أَهْلُ انْطَلِقَا آمِنَ يْنِ مُطَاعَيْنِ. فَأَقْ بَلَ رسولُ اللَّهِ »؟ المدينةِ حتّى إِنَّ العَوَاتِقَ لَفَوْقَ البُ يُوتِ يَ تَ رَاءَيْ نَهُ يَ قُلْنَ أَي هُُّمْ هُوَ أَي هُُّمْ هُوَ .
"Aku mengikuti beberapa pemuda yang mengatakan bahwa Muhammad ﷺ telah datang, maka aku mengikuti dan tidak melihat apa pun. Kemudian mereka berkata – Muhammad ﷺ telah datang, maka aku mengikuti dan tidak melihat apa pun. Ia berkata: Hingga Muhammad ﷺ dan sahabatnya Abu Bakar datang, dan kami berada di suatu tempat di Harrah Madinah (tanah berpasir dan berbatu). Lalu mereka mengirim seorang laki-laki dari penduduk Madinah untuk memberitahukan kaum Anshar tentang kedatangan mereka, maka mereka disambut oleh sekitar lima ratus orang dari kaum Anshar yang menemui mereka. Kaum Anshar berkata: Silakan berjalan dengan aman dan berwibawa. Maka Rasulullah ﷺ dan sahabatnya datang di tengah-tengah mereka. Penduduk Madinah pun keluar, termasuk para wanita yang melihat dari rumah-rumah mereka sambil berkata: siapa dia, siapa dia?" "Riwayat ini menunjukkan adanya dalil untuk kedua kondisi, yaitu keamanan dan penerapan hukum. Mengenai keamanan, hal ini dibuktikan dengan adanya lima ratus orang dari kaum Anshar yang berkata: silakan berjalan dengan aman, dan Rasulullah ﷺ membenarkan ucapan mereka. Demikian pula beliau membenarkan ucapan mereka bahwa keduanya akan ditaati. Dengan demikian, keamanan dan ketaatan itu terwujud di Dar Al-Hijrah, dan seandainya keduanya tidak terwujud, niscaya Nabi ﷺ tidak akan berhijrah."
“I followed some youths saying that Muhammad has come, so I followed and did not see anything. Then they say – Muhammad has come, so I followed and did not see anything. He said: Until Muhammad and his companion Abu Bakr came, and we were at some Madinah Hirar (sandy and rocky land). Then they sent a man from the people of Madinah to make the Ansar aware of them, and so they were met by about five hundred from the Ansar reaching them. The Ansar said: Proceed in safety and with authority. And so the Messenger of Allah (pbuh) and his companion came from between them. And so the people of Madinah came out, including the women overlooking from their households saying who is he, who is he?”. This narration has the evidence for both of the two conditions of security and the implementation of the laws. With respect to the security – this is proven from the presence of five hundred from the Ansar saying proceed in safety and the Messenger (pbuh) confirmed their words. In the same manner he confirmed their words that the two of them would be obeyed. Accordingly the security and obedience were fulfilled in the abode of emigration (Dar Al-Hijrah) and if they had not been fulfilled the Prophet (pbuh) would not have emigrated.
Kedua syarat ini, yaitu terpenuhinya keamanan dan ketaatan dalam pelaksanaan hukum-hukum, telah diikrarkan oleh kaum Anshar di Al-'Aqabah. Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang kuat dari 'Ubadah bin Ash-Shamit yang berkata:
These two conditions, the fulfillment of security and obedience in the implementation of the laws, were pledged upon by the Ansar in Al-’Aqabah. Al-Bayhaqi narrated with a strong chian from ‘Ubadah b. Samit who said.
. عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ف ي النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ، إِنَّا بَايَ عْنَا رَسُولَ اللَّهِ ...« وَالنَّ فَقَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ، وَعَلَى الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّ هْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَعَلَى أَنْ نَ قُولَ إِذَا قَدِمَ عَ لَيْ نَا يَ ثْرِبَ فِي اللَّهِ لاَ تَأْخُذُنَا فِيهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ. وَعَلَى أَنْ نَ نْصُرَ رَسُولَ اللَّهِ الَّتِي بَايَ عْنَاهُ مِمَّا نَمْنَعُ أَنْ فُسَنَا وَأَزوَاجنَا وَأَبْ نَاءَنَا وَلَنَا الجَّنَّةَ. فَ هَذِهِ بَ يْ عَةُ رَسُولِ اللَّهِ » عَلَيْه .
. عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ف ي النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ، إِنَّا بَايَ عْنَا رَسُولَ اللَّهِ ...« وَالنَّ فَقَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ، وَعَلَى الأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّ هْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَعَلَى أَنْ نَ قُولَ إِذَا قَدِمَ عَ لَيْ نَا يَ ثْرِبَ فِي اللَّهِ لاَ تَأْخُذُنَا فِيهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ. وَعَلَى أَنْ نَ نْصُرَ رَسُولَ اللَّهِ الَّتِي بَايَ عْنَاهُ مِمَّا نَمْنَعُ أَنْ فُسَنَا وَأَزوَاجنَا وَأَبْ نَاءَنَا وَلَنَا الجَّنَّةَ. فَ هَذِهِ بَ يْ عَةُ رَسُولِ اللَّهِ » عَلَيْه .
"…Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat ketika kami sedang sibuk maupun tidak, untuk berinfak di waktu sulit maupun lapang, untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan untuk mengatakan kebenaran tentang Allah tanpa takut celaan, dan bahwa kami akan menolong Rasulullah ﷺ ketika beliau datang ke Yatsrib, terhadap apa pun yang kami lindungi dari diri kami, istri-istri kami, dan anak-anak kami, dan bahwa (jika kami melakukannya) balasan kami adalah Surga. Inilah baiat yang kami berikan kepada Rasulullah ﷺ." Ketaatan itu jelas dalam … «عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ بَايَ عْنَا رَسُولَ اللَّهِ» ….
“…We pledged allegiance to the Messenger of Allah (pbuh) to listen and obey when we were busy and inactive, and to spend in times of difficulty and ease, and upon enjoining the good and forbidding the evil, and upon saying the truth regarding Allah not fearing any blame, and that we support the Messenger of Allah (pbuh) when he comes to Yathrib against whatever we protect ourselves, our wives and our sons from, and that (if we do so) our reward is Paradise. This was the pledge that we gave to the Messenger of Allah (pbuh) ”. The obedience is clear in. .» عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ بَايَ عْنَا رَسُولَ اللَّهِ « .
Kami membaiat Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat, dan keamanan itu adalah milik kaum Muslimin, sebagaimana dijelaskan oleh sabda beliau.
“We took pledge of allegiance to Messenger of Allah (pbuh) to listen and obey.” and the security is that of the Muslims, as made clear by his words.
. إِذَا قَدِمَ عَلَيْ نَا يَ ثْرِبَ مِمَّا نَمْنَعُ أَنْ فُسَنَا وَعَلَى أَنْ نَ نْصُرَ رَسُولَ اللَّهِ « » وَأَرْوَاحَنَا وَأَبْ نَاءَنَا .
. إِذَا قَدِمَ عَلَيْ نَا يَ ثْرِبَ مِمَّا نَمْنَعُ أَنْ فُسَنَا وَعَلَى أَنْ نَ نْصُرَ رَسُولَ اللَّهِ « » وَأَرْوَاحَنَا وَأَبْ نَاءَنَا .
dan bahwa kami akan mendukung Rasulullah ﷺ ketika beliau datang ke Yathrib, terhadap apa pun yang kami lindungi bagi diri kami, istri-istri kami, dan anak-anak kami. Makna ini jelas dari surat yang beliau tulis antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan di dalamnya beliau mengadakan perdamaian dengan orang-orang Yahudi serta membuat perjanjian dengan mereka. Hal ini terjadi pada tahun pertama hijrah. Ini berasal dari riwayat Ibnu Ishaq, dan dinamakan sahifah. Di dalamnya disebutkan:
“and that we support the Messenger of Allah (pbuh) when he comes to Yathrib against whatever we protect ourselves, our wives and our sons.” This meaning was clear from the letter which he wrote between the Emigrants and the Ansar, and made peace with the Jews therein and made a convenant with them. This occurred in the first year of the emigration. This is from the account of Ibn Ishaq and it has been called the sahifa. It says:
. بَ يْنَ المُؤْمِنِينَ بِسْ مِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ « وَالمُسْلِمِينَ مِنْ قُ رَيْشٍ وَيَ ثْرِبَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَ لَحِقَ بِهِمْ وَجَاهَدَ مَعَهُمْ أَن هَُّمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُونِ النَّاسِ ... وَإِنَّ المُ ؤْمِنِينَ ب عَْضُهُمْ مُوَالِي ب عَْضٍ دُونَ النَّاسِ ... وَإِنَّ عَلَى اليَ هُودِ نَ فَقَتَ هُمْ وَعَلَى المُسْلِمِينَ نَ فَقَتُ هُمْ، وَإِنَّ بَ يْ نَ هُمْ النَّصْرَ عَلَى مَنْ حَارَبَ أَهْلَ هَذِهِ الصَّحِيفَةِ ... وَإِنَّهُ مَا كَانَ بَ يْنَ أَهْلِ هَذِهِ الصَّحِ يفَةِ مِنْ حَدَثٍ أَوْ اشْتِجَارٍ يُخَافُ »... فَسَادُهُ، فَإِنَّ مَرَدَّهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ .
. بَ يْنَ المُؤْمِنِينَ بِسْ مِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ « وَالمُسْلِمِينَ مِنْ قُ رَيْشٍ وَيَ ثْرِبَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَ لَحِقَ بِهِمْ وَجَاهَدَ مَعَهُمْ أَن هَُّمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُونِ النَّاسِ ... وَإِنَّ المُ ؤْمِنِينَ ب عَْضُهُمْ مُوَالِي ب عَْضٍ دُونَ النَّاسِ ... وَإِنَّ عَلَى اليَ هُودِ نَ فَقَتَ هُمْ وَعَلَى المُسْلِمِينَ نَ فَقَتُ هُمْ، وَإِنَّ بَ يْ نَ هُمْ النَّصْرَ عَلَى مَنْ حَارَبَ أَهْلَ هَذِهِ الصَّحِيفَةِ ... وَإِنَّهُ مَا كَانَ بَ يْنَ أَهْلِ هَذِهِ الصَّحِ يفَةِ مِنْ حَدَثٍ أَوْ اشْتِجَارٍ يُخَافُ »... فَسَادُهُ، فَإِنَّ مَرَدَّهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ .
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ini adalah dokumen dari Muhammad ﷺ, Nabi, antara orang-orang beriman dan kaum Muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, serta mereka yang mengikuti dan bergabung dengan mereka serta berjuang bersama mereka, bahwa mereka adalah satu umat (Ummah) dengan mengecualikan semua orang lain... Orang-orang beriman saling melindungi satu sama lain dengan mengecualikan orang luar... Orang-orang Yahudi harus menanggung biaya mereka dan kaum Muslimin menanggung biaya mereka. Masing-masing harus membantu yang lain melawan siapa pun yang menyerang orang-orang yang terikat dokumen ini... Jika terjadi perselisihan atau pertentangan yang kemungkinan akan menimbulkan kerusakan, maka hal itu harus dikembalikan kepada Allah dan kepada Muhammad ﷺ, Rasulullah."
“In the name of Allah the Compassionate, the Merciful. This is a document from Muhammad the Prophet (pbuh) between the believers and Muslims of Quraysh and Yathrib, and those who followed them and joined them and struggled alongside them that they are one community (Ummah) to the exclusion of all men…Believers are protectors of one another to the exclusion of outsiders…The Jews must bear their expenses and the Muslims their expenses. Each must help the other against anyone who attacks the people of this document…If any dispute or controversy likely to cause trouble should arise, it must be referred to Allah and to Muhammad the Messenger of Allah (pbuh) ”.
Berdasarkan hal ini, suatu negeri tidak dapat disebut Dar Al-Islam kecuali memenuhi dua syarat, yaitu keamanannya berada di tangan kaum Muslimin dan hukum-hukum Islam diterapkan. Jika salah satu dari dua syarat ini hilang atau tidak terpenuhi, seperti keamanan jatuh ke tangan orang-orang kafir atau hukum Al-Taghut diterapkan di tengah masyarakat, maka negeri tersebut berubah menjadi negeri syirik (Dar Al-Shirk) atau negeri kekafiran (Dar Al-Kufr). Tidak disyaratkan bahwa kedua syarat ini sama-sama hilang agar negeri itu berubah menjadi negeri syirik; cukup salah satunya tidak terpenuhi agar hal itu terjadi. Negeri yang berstatus kekafiran tidak berarti bahwa seluruh penduduknya adalah orang kafir, dan negeri yang berstatus Islam tidak berarti bahwa seluruh penduduknya adalah Muslim. Makna istilah negeri (Dar) di sini adalah makna syar'i, yakni Syariat-lah yang memberinya makna ini, sebagaimana istilah shalat (Salah) dan puasa (Sawm) serta hakikat-hakikat syar'i lainnya.
Based upon this, the abode cannot be an abode of Islam unless it fulfilled the conditions that the security was in the hands of the Muslims and that the laws of Islam were implemented, and if one of these two conditions ceased, or was not fulfilled, such as the security falling into the hands of the disbelievers or that the rule of Al-Taghut was implemented amongst the people, the abode would become an abode of polytheism (Dar Al-Shirk) or disbelief (Dar Al-Kufr). It is not a condition that both of these conditions are absent for the abode to transform to an abode of polytheism, rather it is sufficient that one of them is absent for that to occur. The abode being one of disbelief does not mean that all of its inhabitants are disbelievers and if the abode was one of Islam it does not follow that all of its inhabitants are Muslims. Rather the meaning of the term abode (Dar) here is the Shari’ah terminology (Shar’i real meaning) in other words, that the Shari’ah is what gives it this meaning, like the terms prayer (Salah) and fasting (Sawm) and similar from the Shar’i realities .
Berdasarkan hal ini, istilah tersebut dapat diterapkan pada suatu wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen misalnya, tetapi jika wilayah itu merupakan bagian dari Negara Islam, maka wilayah tersebut disebut sebagai negeri Islam (Dar Al-Islam). Hal ini karena hukum yang berlaku di dalamnya adalah hukum-hukum Islam, dan keamanan wilayah tersebut adalah dengan keamanan Islam selama wilayah itu tetap menjadi bagian dari Negara Islam.
Based upon this, the term could be applied upon a land where most of the inhabitants are Christians for example, but if it was part of the Islamic State it would be referred to as an abode of Islam (Dar Al-Islam). This is because the rules applied therein are the Islamic laws and the security of the land would be by the security of Islam as long as it remained part of the Islamic State.
Demikian pula, setiap negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi termasuk bagian dari suatu Negara yang tidak berhukum dengan Islam, dan tidak dijaga oleh tentara Muslim melainkan oleh tentara orang-orang kafir, maka negeri tersebut tetap disebut Dar Al-Kufr (negeri kekafiran), meskipun sebagian besar penduduknya adalah kaum Muslimin.
And in the same manner, any land where the majority of its inhabitants are Muslims but it was part of a State which did not rule by Islam, nor was it secured by a Muslim army but rather by that of the disbelievers, then the term abode of disbelief (Dar Al26 Kufr) would be applied to it despite most of its inhabitants being Muslims.
Jadi, makna negeri (Dar) di sini adalah realitas syar'i (makna legislatif), tanpa memperhatikan di mana kaum Muslimin menjadi mayoritas atau minoritas tempat istilah itu diterapkan; melainkan, yang diperhatikan adalah hukum-hukum yang diterapkan dan keamanan yang ditetapkan bagi penghuninya. Dengan kata lain, makna negeri diambil dari teks-teks syar'i (legislatif) yang menjelaskan makna ini, sebagaimana makna kata salat diambil dari teks-teks syar'i yang menjelaskan maknanya. Dan dengan cara yang sama, seluruh makna hakiki syar'i diperoleh dari teks-teks syar'i, bukan dari makna bahasa dari kata-katanya.
So, the meaning of abode (Dar) here is the Shar’i reality (legislative meaning) without regard to where the Muslims were a majority or minority where the term is applied; rather, it is with regard to the implemented laws and the established security for its inhabitants. In other words, the meaning of abode is taken from the legislative (Shar’i) texts which explained this meaning, in the same way that the meaning of the word Salah is taken from the legislative texts which explained its meaning. And in the same manner all the Shar’i real meanings have their meaning derived from the legislative texts and not from the linguistic meaning of the words.