1.2 Pembentukan Kepribadian
1.2 The Formation Of Personality
Ketika manusia memahami atau menangkap sesuatu dengan cara tertentu, ia memperoleh suatu ‘aqliyya (pola pikir) yang khas. Ketika dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan yang telah terbentuk melalui keterkaitannya yang tak terhindarkan dengan mafahīm (konsep-konsep) tentang berbagai hal dihubungkan oleh manusia dengan konsep-konsep tertentu tentang kehidupan, ia memperoleh suatu nafsiyya (kejiwaan) yang khas. Dan ketika konsep-konsepnya tentang kehidupan menyatu dalam menilai berbagai hal, baik ketika ia menangkapnya maupun ketika ia condong kepadanya, ia memperoleh suatu shakhsiyya (kepribadian) yang khas. Dengan demikian, shakhsiyya (kepribadian) adalah penetapan arah yang diambil seseorang dalam menangkap sesuatu dan dalam condong kepadanya, dengan arah yang jelas dan dibangun di atas satu dasar. Maka, pembentukan shakhsiyya (kepribadian) adalah penetapan satu dasar bagi pemikiran dan kecenderungan pada diri manusia. Dasar tersebut bisa tunggal atau jamak. Jika jamak, yakni jika beberapa standar dijadikan dasar bagi pemikiran dan kecenderungan, maka seseorang memang memiliki shakhsiyya (kepribadian), tetapi kepribadian itu tidak memiliki warna. Jika standarnya tunggal, yakni jika satu prinsip dijadikan dasar bagi pemikiran dan kecenderungan, maka seseorang memiliki kepribadian yang unik dengan warna yang khas. Inilah yang seharusnya dimiliki setiap manusia, dan inilah yang seharusnya ia upayakan untuk dicapai dalam proses pendidikan dan pembinaan individu.
When man recognises or comprehends things in a particular manner, he acquires a specific ‘aqliyya (mentality). When the drives for satisfaction which have crystallised through their inevitable association with the mafahīm (concepts) about things are linked by man with specific concepts about life, he achieves a specific nafsiyya (disposition). And when his concepts about life unite in judging things when he cognises them as well as when he inclines towards things, he achieves a specific shakhsiyya (personality). Thus shakhsiyya (personality) is the setting of the direction one takes in cognising things and in inclining to them in a clear direction built on one basis. Thus the formation of the shakhsiyya (personality) is the establishment of one basis for both thinking and inclinations in man. Such a basis may be one or multiple. If it is multiple, that is, if multiple guidelines were made the basis for thinking and inclinations, one would have a shakhsiyya (personality) but it would have no colour to it. If the standard was singular, that is, if one principle was made the basis for thoughts and inclinations, one would have a unique personality with a specific colour. This is what every human being should be like, and this is what he should endeavour to achieve in the process of teaching and culturing individuals.
Meskipun setiap gagasan umum dapat menjadi dasar bagi pemikiran dan kecenderungan, gagasan semacam itu hanya dapat menjadi dasar bagi sejumlah hal yang terbatas, bukan bagi segala hal. Tidak ada yang layak menjadi dasar menyeluruh bagi segala hal kecuali sebuah gagasan yang komprehensif tentang Alam Semesta, Manusia, dan Kehidupan. Hal ini karena gagasan tersebut merupakan landasan intelektual tempat setiap pemikiran dibangun; ia menentukan setiap sudut pandang dalam kehidupan. Dan karena hanya akidah intelektual semacam itulah yang pantas dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran yang mengatur urusan-urusan kehidupan dan memengaruhi perilaku manusia dalam kehidupan.
Although any general idea can be a basis for thinking and inclinations, such an idea can only be a basis for a limited number of things, not for all things. Nothing qualifies to be a complete basis for all things except a comprehensive idea about the Universe, Man and Life. This is because it is the intellectual basis upon which every thought is built; it determines every viewpoint in life. And because it is the intellectual creed only which is fit to serve as a basis upon which thoughts which regulate life’s matters and affect man’s conduct in life.
Meskipun demikian, fakta bahwa gagasan yang menyeluruh, yaitu akidah intelektual, dapat diterima sebagai satu-satunya dasar umum dan menyeluruh bagi pemikiran dan kecenderungan, tidak berarti bahwa dasar itu benar. Yang dimaksudkan hanyalah bahwa dasar itu layak dijadikan dasar, terlepas dari apakah ia benar atau keliru. Faktor penentu apakah dasar ini benar atau salah adalah tingkat kesesuaiannya dengan fitrah (naluri dasar) manusia. Jika akidah intelektual sesuai dengan fitrah manusia, ia adalah akidah yang benar, dan karenanya merupakan dasar yang benar bagi pemikiran dan kecenderungan, yakni bagi pembentukan syakhsiyyah (kepribadian). Jika tidak sesuai dengan fitrah manusia, maka ia merupakan dasar yang keliru dan akidah yang salah. Ketidaksesuaian akidah semacam itu dengan fitrah manusia berarti pengabaian terhadap kelemahan alami manusia dan kebutuhannya untuk bergantung kepada Sang Pencipta, yang terdapat dalam fitrah manusia, yakni kesesuaiannya dengan gharīzat at-tadayyun (naluri pengagungan/kesucian dalam diri manusia).
Nonetheless, the fact that the comprehensive idea, that is, the intellectual ‘aqīdah (creed), is acceptable as the only general and comprehensive basis for thinking and inclinations does not mean that it is the correct basis. What it means is that it is fit to be a basis, irrespective of whether it is correct or incorrect. The determining factor of whether this basis is right or wrong is its degree of compatibility with man’s fitrah (innate nature). If the intellectual creed is compatible with man’s fitrah (innate nature) it would be a correct creed and consequently it would be a correct basis for thinking and inclinations, that is, for the formation of shakhsiyya (personality). If incompatible with man’s fitrah, this represents an incorrect basis and would be a false creed. The incompatibility of such an ‘aqīdah (creed) with the human fitrah means recognition of the natural impotence of man and the need of dependency on the Creator that lies within man’s fitrah, meaning its compatibility with the ghareezat at-tadayyun ((human) instinct of sanctification).
Akidah Islam adalah satu-satunya akidah intelektual yang mengakui apa yang ada dalam fitrah manusia, yaitu gharīzat at-tadayyun (naluri pengagungan/pensakralan). Semua akidah lain, entah sesuai dengan gharīzat at-tadayyun (naluri pengagungan/pensakralan) melalui emosi, bukan melalui rasio, sehingga menjadi akidah non-intelektual, atau akidah tersebut bersifat intelektual namun tidak mengakui apa yang ada dalam fitrah manusia, yaitu gharīzat at-tadayyun (naluri pengagungan/pensakralan).
The Islamic ‘aqīdah (creed) is the only intellectual creed that acknowledges what is in man’s fitrah, namely the ghareezat at-tadayyun (instinct of sanctification). All other creeds are either compatible with the ghareezat at-tadayyun (instinct of sanctification) through emotion not ration, thus being non-intellectual creeds or they are intellectual creeds but do not acknowledge what is in man’s fitrah, the ghareezat at-tadayyun (instinct of sanctification).
Oleh karena itu, ‘aqīdah Islam adalah satu-satunya ‘aqīdah yang benar. Ia merupakan satu-satunya ‘aqīdah yang layak menjadi landasan yang benar bagi pemikiran dan kecenderungan. Maka, wajib hukumnya pembentukan syakhsiyyah (kepribadian) oleh manusia dilakukan dengan menggunakan ‘aqīdah yang rasional sebagai landasan pemikiran dan kecenderungannya. Karena ‘aqīdah Islam adalah satu-satunya ‘aqīdah rasional yang benar dan dengan demikian satu-satunya landasan yang benar, maka wajib hukumnya pembentukan syakhsiyyah (kepribadian) dilakukan dengan menjadikan ‘aqīdah Islam saja sebagai satu-satunya landasan pemikiran dan kecenderungan manusia, hingga ia mencapai syakhsiyyah Islam, yakni syakhsiyyah yang luhur dan khas. Dengan demikian, pembentukan syakhsiyyah Islam hanya tercapai dengan membangun pemikiran dan kecenderungan individu di atas ‘aqīdah Islam. Namun, pembentukan ini tidak bersifat abadi, ia hanyalah pembentukan syakhsiyyah. Tidak ada jaminan bahwa syakhsiyyah ini akan tetap berlandaskan ‘aqīdah Islam, karena penyimpangan dari ‘aqīdah dapat terjadi dalam pemikiran manusia maupun dalam kecenderungannya. Penyimpangan ini dapat berupa dhalaal (kesesatan) atau berupa fisq (kefasikan). Oleh sebab itu, diperlukan pengawasan yang terus-menerus di setiap saat dalam kehidupan seseorang untuk menjaga ‘aqīdah Islam sebagai landasan tempat pemikiran dan kecenderungan dibangun, agar ia tetap menjadi syakhsiyyah Islam. Setelah pembentukan kepribadian ini, pekerjaan difokuskan pada pengembangan dan penguatannya dengan membina ‘aqliyyah (pola pikir) dan nafsiyyah (watak). Adapun nafsiyyah (watak) dibina melalui ibadah kepada Al-Khaliq dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan, serta dengan senantiasa membangun setiap kecenderungan terhadap segala sesuatu hanya di atas ‘aqīdah Islam. Pembentukan ‘aqliyyah (pola pikir), di sisi lain, dicapai dengan menjelaskan pemikiran dan gagasan yang dibangun di atas ‘aqīdah (keyakinan) Islam serta menyampaikannya melalui budaya Islam.
Therefore, the Islamic ‘aqīdah is the only correct ‘aqīdah (creed). It is the only ‘aqīdah (creed) that is fit to be the correct basis for thinking and inclinations. Hence, it is imperative that the formation of shakhsiyya (personality) by man be done through the use of the intellectual ‘aqīdah (creed) as the basis for his thought and inclinations. Since the Islamic ‘aqīdah (creed) is the only correct intellectual ‘aqīdah (creed) and thus the only correct basis, it is imperative that the formation of shakhsiyya (personality) be done by making the Islamic ‘aqīdah (creed) alone the sole basis for man’s thought and inclinations until he achieves an Islamic shakhsiyya (personality), a lofty and distinct shakhsiyya (personality). Thus, the formation of the Islamic shakhsiyya (personality) is only accomplished by building both thought and inclinations of the individual upon the Islamic ‘aqīdah (creed). Yet this formation is not ever lasting, it is merely the formation of the shakhsiyya (personality). There is no guarantee that this shakhsiyya (personality) will remain based on the Islamic ‘aqīdah (creed) since deviation from the ‘aqīdah (creed) may occur in man’s thinking or in his inclinations. This deviation may be in the form of dhalaal (misguidance) or in the form of fisq (transgression). Therefore, constant observance at every moment in one’s life is required in maintaining the Islamic ‘aqīdah (creed) as the basis upon which thought and inclinations are built in order for one to remain an Islamic shakhsiyya (personality). After the formation of this personality, work is focused on developing and strengthening it by developing the ‘aqliyya (mentality) and nafsiyya (disposition). As for the nafsiyya (disposition), it is developed through worshipping the Creator and drawing nearer to Him through acts of obedience and by constantly building every inclination towards anything only on the Islamic ‘aqīdah (creed). Development of the ‘aqliyya (mentality) on the other hand is achieved by the explanation of thoughts and ideas built on the Islamic ‘aqīdah (creed) and conveying them through the Islamic culture.
Ini adalah metode untuk membentuk syakhsiyah (kepribadian) Islam dan metode untuk mengembangkannya. Ini adalah metode yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau menyeru manusia kepada Islam dengan mengajak mereka untuk menerima akidah Islam. Setelah mereka memeluk Islam, beliau menguatkan akidah ini dalam diri mereka dan memastikan bahwa mereka berkomitmen untuk membangun pemikiran dan kecenderungan mereka di atas dasarnya. Hal ini telah diriwayatkan dalam hadis,
This is the method for forming the Islamic shakhsiyya (personality) and the method for developing it. It is the method employed by the Messenger ﷺ. He would call the people to Islam by calling them to (adopt) the Islamic ‘aqīdah (creed). Once they had embraced Islam he strengthened this ‘aqīdah (creed) in them and ensured that they were committed to building their thinking and inclinations on its basis, This has been reported in the hadīth,
“Tidaklah seorang dari kalian beriman hingga hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang aku bawa” ﷺ, [Diriwayatkan oleh Abu Nu'aym dan Nasr ibn Ibrahim al-Maqdisi, dan dinilai sahih oleh keduanya, begitu pula oleh al-Nawawi]
“None of you shall believe until his desires become in accordance with that which I have brought you”, [Narrated by Abu Nu’aym and Nasr ibn Ibrahim al-Maqdisi and rigourously authenticated by them, as well as by al-Nawawi]
Dan,
And,
"Tidak ada seorang pun di antara kalian yang beriman hingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." [Narrated by the two Shaykhs]
“None of you shall believe until I become more beloved to him than his father, his son and all the people”, [Narrated by the two Shaykhs]
Kemudian beliau menyampaikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang diturunkan kepadanya dari Al-Qur'an, serta mengajarkan Islam dan hukum-hukumnya (ahkam) kepada kaum Muslimin. Berkat usaha beliau ﷺ, dan melalui pengikutan serta keteguhan terhadap apa yang beliau sampaikan, terbentuklah pribadi-pribadi Islam yang luhur, yang kedudukannya hanya di bawah para nabi.
He الله سبحانه وتعالى then proceeded to convey the ayāt of Allah الله سبحانه وتعالى that were being revealed to him from the Qur’ān and and to teach Islam and its ahkām (rules) to the Muslims. As a result of his efforts, and through following him and adhering to what he conveyed, lofty Islamic personalities second only to those of prophets were formed.
Sebagai kesimpulan, titik awal dalam membimbing setiap manusia adalah menegakkan ‘aqīdah (keyakinan) yang benar.
In conclusion, the starting point with any human being is establishing the correct ‘aqīdah (creed)
di dalam dirinya, kemudian dibangun di atasnya pemikiran dan kecenderungan, dan akhirnya mengerahkan usaha untuk memeliharanya melalui pelaksanaan amal ketaatan dan dengan memperoleh pemikiran-pemikiran (Islam).
within him followed by the building of thought and inclinations upon it and finally exerting effort in maintaining it through the performance of acts of obedience and by acquiring (Islamic) thoughts