20.8 Bendera dan Panji
20.8 Flags And Banners
Perlu adanya bendera dan panji. Perbedaan antara bendera (liwa) dan panji (rayah) adalah bahwa liwa adalah kain yang diikatkan pada ujung tombak dan dilipat di sekelilingnya, dan disebut "al-'alam" (panji besar). Dikatakan bahwa disebut "liwa" karena ia dilipat akibat besarnya, sehingga tidak dibentangkan kecuali jika diperlukan. Ia merupakan panji besar dan tanda bagi amir pasukan, sehingga ia dikibarkan di mana pun amir tersebut berada. Adapun rayah (panji), ia adalah tanda yang diberikan kepada pasukan dan secara kiasan disebut "induk peperangan", dan bentuk jamaknya adalah "rayat". Panji diikatkan pada tombak atau tiang dan dibiarkan hingga angin mengibarkannya.
It is necessary to have the flags and banners. The difference between the flag and banner is that the flag (liwa) is what is tied at the edge of a spear and bent around it, and it is called “al-‘alam” (the standard). It is said it is called “liwa” because it is bent due to its largeness so it is not spread except when necessary. It is a large standard and a sign for the Amir of the army, so it is enacted wherever he is. As for the banner (rayah), it is a sign given to the army and is metaphorically called the “mother of war” and its plural is “rayat”. The banner is tied on a spear or a mast and is left until the wind swirls it.
Pasukan Islam pada masa Rasulullah ﷺ memiliki panji-panji dan bendera. Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa Nabi ﷺ mengumumkan kematian Zayd (ra), Ja’far (ra) dan Ibnu Rawahah (ra) kepada orang-orang sebelum kabar mereka sampai kepada orang-orang, dan beliau bersabda:
The Islamic army in the times of the Messenger (saw) had its banners and flags. Al-Bukhari narrated from Anas that the Prophet (saw) announced the death of Zayd (ra) , Ja’far (ra) and ibn Rawaha (ra) to the people before their news reached the people and said:
Zaid mengambil bendera dan terkena pukulan, lalu Ja'far mengambilnya dan terkena pukulan, kemudian Ibnu Rawahah mengambilnya dan terkena pukulan.
“Zayd took the banner and was struck, then Ja’far took (it) and was struck, then ibn Rawaha took (it) and was struck.”
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ menganjurkan orang-orang untuk memerangi Romawi pada akhir bulan Safar, lalu beliau memanggil Usamah. Kemudian beliau bersabda kepadanya:
It is narrated that the Prophet (saw) encouraged the people to fight Rome at the end of Safar, and he called Usamah. Then he said to him:
"Berangkatlah ke tempat di mana ayahmu terbunuh dan serang mereka dengan kuda-kuda yang ditambatkan. Aku telah memberimu wewenang atas pasukan ini. Serbulah penduduk Ibni secara mendadak pada pagi hari dan bakarlah mereka. Bergegaslah dalam perjalanan yang mendahului kabar. Jika Allah memberimu kemenangan, maka persingkatlah masa tinggalmu di tengah mereka."
“Travel to the place where your father was killed and mount (attack) them by tethered horses. I have given you command upon this army. Attack by surprise the people of Ibni in the morning and burn them. Hurry in a travel which precedes information. If Allah grants you victories then reduce your stay with them.”
Sakit Rasulullah (saw) dimulai pada hari ketiga, dan beliau mengikatkan bendera untuk Usamah dengan tangan beliau sendiri. Usamah mengambilnya dan memberikannya kepada Buraydah, lalu ia berkemah di Al-Jurf. Diriwayatkan dari Al-Harith bin Hasan Al-Bakri, yang berkata:
The illness of the Messenger of Allah (saw) began on the third day and he tied a flag for Usamah by his own hands. Usamah took it and gave it to Buraydah, and he encamped at Al-Jurf. It has been narrated from Al-Harith bin Hasan Al-Bakri who said:
"Kami tiba di Madinah, dan pada saat itu Rasulullah ﷺ sedang berada di atas mimbar, dengan Bilal berdiri di hadapannya sambil memegang pedang. Ada bendera-bendera hitam, dan aku bertanya: 'Untuk siapakah bendera-bendera ini?' Mereka menjawab: 'Untuk ‘Amru bin al-‘Aas, yang baru datang dari beberapa peperangan.'"
“We came to Madinah and at that time the Messenger of Allah (saw) was upon the minbar with Bilal standing in front of him holding a sword. There were black banners and I asked: For whom are these banners? They said: ‘Amru bin al-‘Aas who has come from some battles.”
Hal ini diriwayatkan dalam dua kitab Sahih (kitab hadis).
It came in the two Sahih (books of ahadith)
Bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Aku akan memberikan panji kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya mencintainya." Lalu beliau memberikannya kepada Ali.
“That the Prophet (saw) said: ‘I will give the banner to a man who loves Allah and His Messenger, and Allah and His Messenger loves him. So he gave it to Ali.”
Diriwayatkan dari Anas dalam An-Nisai
It has been narrated from Anas in An-Nisai
Bahwa Ibnu Umm Maktum pernah membawa bendera hitam bersamanya dalam beberapa peristiwa (peperangan) Nabi ﷺ.
“That ibn Umm Maktum used to have black banners with him in some of the scenes (wars) of the Prophet (SAW).”
Jelas dari hadis-hadis yang telah disebutkan di atas bahwa pasukan pada masa Nabi ﷺ memiliki panji-panji dan bendera. Penelitian yang cermat terhadap teks-teks tersebut menjelaskan bahwa panji lebih kecil daripada bendera, dan bendera lebih besar daripada panji. Bendera diikatkan untuk pemimpin pasukan, sedangkan panji diberikan kepada pasukan. Bendera diletakkan di perkemahan pasukan sebagai tanda bagi pemimpin pasukan, sementara panji-panji berada di tangan para pemimpin resimen dan ekspedisi, serta di tangan berbagai satuan pasukan. Pasukan memiliki banyak panji, sedangkan bendera hanya satu. Demikianlah hubungan antara keduanya.
It is clear from the aforementioned ahadith that the army in the time of the Prophet (saw) had its banners and flags. Close scrutiny of the texts clarifies that the banner is smaller than the flag and the flag is bigger than the banner. The flag is tied for the leader of the army and the banner is given to the army. The flag is located at the camp of the army as a sign for the army leader, and the banners are with the leaders of regiments and expeditions, and with different army units. The army has many banners for it whereas it has only one flag. This is the relationship of one with the other.
Adapun mengenai warna, telah ditetapkan bahwa panji Rasulullah ﷺ berwarna hitam dan benderanya berwarna putih. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas (ra) yang berkata:
As for the colour, it has been established that the Messenger (saw)’s banner was black and his flag was white. It has been narrated from ibn Abbas (ra) who said:
Panji Rasulullah ﷺ berwarna hitam dan benderanya berwarna putih.
“The banner of the Messenger of Allah (saw) was black and his flag was white.”
Telah diriwayatkan dari Jabir:
It has been narrated from Jabir:
Nabi ﷺ memasuki Makkah dan benderanya berwarna putih.
“The Prophet (saw) entered Makkah and his flag was white.”
Dalam hadis yang disebutkan sebelumnya dari Al-Harith bin Hasan, telah diriwayatkan
In the aforementioned hadith of Al-Harith bin Hasan it has been narrated
"Dan ada bendera-bendera hitam."
“And there were black banners.”
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa panji (*raayah*) berwarna hitam, sedangkan bendera (*liwaa'*) berwarna putih.
These ahadith indicate that the banner has a black colour whereas the flag is white.
Adapun bentuknya, yang diriwayatkan adalah bahwa panji itu memiliki empat sudut dan terbuat dari wol. Telah diriwayatkan dari Al-Bara bin Azib, yang ditanya tentang bagaimana panji Rasulullah ﷺ, lalu ia berkata:
As for its shape, what came is that the banner has four corners and it is made of wool. It has been narrated from Al-Bara bin Azib who was asked how was the Messenger (saw)’s banner? He said:
"Ia berwarna hitam, berbentuk segi empat dari (namirah)."
“It was black, four-cornered from (namirah).”
"Namirah" berarti "hibarah", yaitu "baradah" dari wol. Tertulis padanya "La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul-Allah." Ibnu Abbas (ra) meriwayatkan dalam kitab Abu Shaykh, dengan lafaz:
The meaning of “namirah” i.e. a “hibarah” i.e. “baradah” from wool. It is written upon it “La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul-Allah.” Ibn Abbas (ra) narrated in Abu Shaykh the words:
Tertulis pada panji Rasulullah ﷺ: La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul-Allah.
“It was written in the banner of the Messenger of Allah (saw): La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul-Allah.”
Apa yang dikatakan tentang panji (liwa') juga berlaku untuk bendera (raya). Bendera memiliki empat sudut (arkan), terbuat dari wol, dan di atasnya tertulis "La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul-Allah ﷺ", hanya saja ukurannya lebih besar daripada panji, dan tulisannya berwarna hitam, sedangkan panji memiliki tulisan berwarna putih.
What is said of the banner is also said of the flag. The flag has four corners (arkan), and is made of wool and “La ilaha illa Allah, Muhammad Rasul-Allah” is written upon it, except that it is bigger than the banner and the writing is black letters whereas the banner has white letters.
Menurut bentuk yang disebutkan dalam teks-teks dan sesuai dengan kenyataan standar, dicatat bahwa setiap liwa dan rayah memiliki empat sudut yang jelas (arkan) yang memanjang dalam panjang dan lebarnya. Ukuran lebarnya adalah dua pertiga dari panjangnya. Panjang bendera adalah 120 sentimeter dan lebarnya 80 sentimeter, dan panjang liwa adalah 90 sentimeter dan lebarnya 60 sentimeter. Diperbolehkan menggunakan bendera dan liwa dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil. Disukai agar setiap divisi dan satuan memiliki liwa sendiri dalam bentuk dan warnanya, yang dikibarkan bersama bendera Negara sehingga menjadi tanda khusus bagi divisi dan satuan tersebut.
According to the form which came in the texts and in conformity to the reality of the standards, it is noted that for each banner and flag are four clear corners (arkan) extended in its length and breadth. The measurement of its breadth is two-thirds its length. The length of the flag is 120 centimetres and its breadth 80 centimetres, and the banner’s length is 90 centimetres and its breadth is 60 centimetres. It is allowed to use flags and banners of greater or lesser measurement. It is preferred that each division and unit has its own banner in shape and colour, raised together with the State’s flag so as to be a specific sign for the division and unit.
Sebagaimana bendera dan panji digunakan untuk tentara, keduanya juga digunakan untuk struktur, departemen, dan fasilitas Negara. Bendera dikibarkan di kantor Khalifah, di atas tempat tinggal Khalifah, dan panji-panji dikibarkan di seluruh fasilitas Negara, departemen, administrasi, dan lembaganya. Warga negara secara perorangan juga diperbolehkan mengibarkannya di atas lembaga-lembaga, jalan-jalan, dan rumah-rumah.
Just as flags and banners are used for the army, they are also used for the State’s structures, departments and utilities. The flag is raised in the office of the Khalifah above the residence of the Khalifah, and the banners in all the utilities of the State, its departments, administration and institutions. It is also permitted for individual citizens to raise it over the institutions, roads and houses.