9.3 Perolehan Budaya (Tsaqafah) dan Ilmu Pengetahuan
9.3 Acquisition Of Culture (thaqafa) And Sciences
Mendorong studi tentang budaya Islam tidak berarti membatasi kaum Muslim hanya pada studi tersebut. Justru yang dimaksud adalah agar budaya Islam dijadikan landasan dalam membina, mengajarkan, dan menjadi dasar kebolehan mempelajari budaya dan ilmu-ilmu lain. Seorang Muslim berhak mempelajari apa pun yang ia inginkan dari berbagai budaya dan mendalami ilmu-ilmu yang menarik minatnya. Namun, kepribadian Islam (shakhsiyya islamiyya) harus menjadi premis dasar yang menjadi poros bagi penyerapan budaya apa pun. Kaum Muslim berupaya mengajarkan budaya Islam kepada anak-anak mereka terlebih dahulu, dan hanya setelah mereka yakin bahwa budaya ini telah mengakar kuat dalam pikiran mereka, barulah mereka membuka pintu bagi studi budaya-budaya lain. Dan hanya dengan metode belajar seperti inilah kepribadian Islam tetap menjadi Islami dan tidak yang lain, memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dari kepribadian manusia lainnya.
Encouraging the study of Islamic culture does not mean restricting the Muslims to its study alone , infact, what is meant is that it should be made the basis for culturing, teaching, and the basis for the permissibility of studying other cultures and sciences. The Muslim has the right to learn whatever he wants from the cultures and learn the sciences that appeal to him. However, the Islamic personality (shakhsiyya islamiyya) must be the basic premise around which the acquisition of any culture revolves. The Muslims endeavoured to teach their sons the Islamic culture first and only after they were assured that this culture was consolidated in their minds did they open the doors to the study of other cultures. And it is only this method of learning which keeps the Islamic personality Islamic and none other, having specific attributes which distinguish it from the other human personalities.
Ketika mengambil dari budaya non-Islam, disyaratkan bahwa hal itu tidak dilakukan kecuali setelah yakin bahwa budaya Islam telah kokoh dan mengakar kuat dalam pikiran. Hal ini tidak disyaratkan untuk ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan tidak berkaitan dengan budaya Islam sebab bersifat universal. Umat Islam harus terus bersungguh-sungguh menekuni jalan mempelajari ilmu pengetahuan, karena ilmu merupakan salah satu sarana kehidupan. Namun perlu dicatat, dalam pengajaran ilmu pengetahuan, hasilnya harus sejalan dengan pandangan Islam agar memperkuat ‘aqīdah (keyakinan) dan tidak menggoyahkan keyakinan manusia terhadapnya. Apabila suatu teori atau hukum ilmiah bertentangan dengan teks Al-Qur’an yang pasti maknanya dan keotentikannya, maka teori itu tidak diambil, begitu pula topik pembelajaran tersebut tidak diadopsi, karena bersifat spekulatif (zanni) sedangkan Al-Qur’an bersifat pasti (qat’i). Misalnya, teori Darwin tentang asal-usul manusia bertentangan dengan teks Al-Qur’an mengenai penciptaan Adam , sehingga teori ini ditolak karena bertentangan dengan Al-Qur’an. Meskipun Islam tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, perlu diperhatikan bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak boleh bertentangan dengan ‘aqīdah Islam.
It is required, when taking from non-Islamic cultures that it is not taken except after becoming satisfied that the Islamic culture has been consolidated and has become deep rooted in the minds. This is not stipulated for sciences because sciences do not have a bearing on the Islamic culture since they are universal. It is essential that Muslims continue to persevere with utmost effort in the path of learning sciences since they are from the means of life. It should be noted however, with regards to the teaching of sciences that its results should concur with the viewpoint of Islam so that it strengthens the ‘aqīdah (creed) and not shake peoples conviction in it. When a scientific theory or law contradicts the text of the Qur’ān which is definite in meaning and authenticity then it is not taken and nor is any topic of learning adopted since it is speculative (zanni) and the Qur’ān is definite (qat’i). For example, Darwin’s theory regarding the origin of human beings contradicts the text of the Qur’ān with respect to the creation of Adam , therefore, this theory is rejected because it contradicts the Qur’ān. Even though Islam did not make the Qur’ān a basis of acquiring scientific knowledge however it must be noted that these sciences should not contradict the Islamic ‘aqīdah (creed).
Singkatnya, akidah Islam harus dipegang sepenuhnya ketika menerima budaya dan ilmu pengetahuan, dengan menjadikan kepribadian Islam sebagai landasan dasar dalam mengambil budaya apa pun, serta memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak bertentangan dengan kepribadian Islam ketika mengambil ilmu. Kepatuhan inilah yang akan menjaga keberadaan kepribadian Islam pada diri kaum Muslimin dan membuat budaya Islam memengaruhi budaya-budaya lain serta memastikan kelangsungannya sebagai budaya Islam yang berbeda dari budaya-budaya lain di dunia. Namun, ketika kepatuhan ini hilang dan kaum Muslimin lalai terhadapnya, mereka akan mengambil budaya-budaya lain atas dasar selain Islam. Mereka tidak lagi menjadikan akidah Islam sebagai tolok ukur dalam mengambil ilmu pengetahuan. Hal ini akan menimbulkan bahaya yang nyata terhadap kepribadian Islam, bahkan terhadap seluruh umat Islam, jika terus berjalan di jalur ini selama satu generasi atau lebih.
In short, the Islamic ‘aqīdah (creed) must be adhered to completely when provided with cultures and sciences by making the Islamic personality the basic premise in acquiring any culture making sure that the sciences do not contradict the Islamic personality when acquiring scientific knowledge. It is this adherence which will maintain the presence of the Islamic personality in the Muslims and make the Islamic culture affect other cultures and ensure its continuation as an Islamic culture which is distinguished from the rest of the cultures of the world and when this adherence vanishes and the Muslims become negligent regarding it they will acquire other cultures on a basis other than Islam. They will not take the Islamic ‘aqīdah (creed) as a benchmark when taking the sciences. This will lead to the presence of an evident danger on the Islamic personality, infact on the whole Muslim Ummah if it continues in this path for a period of a generation or more.