21.3 Gencatan Senjata (hudnah)
21.3 Truce (hudna)
Perjanjian gencatan senjata antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir diperbolehkan karena gencatan senjata Nabi ﷺ dengan kaum Quraisy pada tahun Hudaibiyah. Namun, kebolehan gencatan senjata itu dibatasi dengan adanya maslahat yang menuntut jihad atau penyebaran dakwah. Hal ini karena sampai kepada Rasulullah ﷺ sebelum keberangkatan beliau ke Hudaibiyah bahwa telah terjadi kesepakatan antara penduduk Khaibar dan penduduk Makkah untuk menyerang kaum Muslimin. Beliau segera, begitu kembali dari Hudaibiyah, bergerak untuk menyerang Khaibar, dan demikian pula beliau bergegas mengirim utusan kepada para raja dan pemimpin untuk mengajak mereka masuk Islam, yang menunjukkan bahwa gencatan senjata Hudaibiyah dilakukan demi maslahat yang berkaitan dengan jihad dan penyebaran dakwah. Setelah beliau mengadakan gencatan senjata dengan kaum Quraisy, beliau dapat membebaskan diri untuk memerangi Khaibar dan untuk berdakwah kepada para raja dan pemimpin. Gencatan senjata tidak diperbolehkan tanpa adanya maslahat ini, karena gencatan senjata berarti meninggalkan peperangan yang wajib, dan itu tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan ia menjadi sarana untuk berperang, sebab pada saat itu ia menjadi peperangan secara kiasan. Allah ﷻ berfirman:
The armistice treaty between Muslims and disbelievers is permitted due to his (saw) truce with Quraysh in the year of Hudaybiyya. However the permissibility of a truce is restricted to the existence of benefit for which the jihad or spreading of the da’wah requires it. This is because it reached the Messenger of Allah (saw) before his travelling to Hudaybiyya that an agreement had been made between the people of Khayber and Makkah upon invading the Muslims. He hastened directly upon his return from Hudaybiyya to invade Khayber and similarly hastened to send messengers to the kings and leaders inviting them to Islam which indicates that the truce of Hudaybiyya was for a benefit related to jihad and spreading the da’wah. After coming into a truce with Quraysh he was able to free himself for fighting Khayber and for performing the da’wah to the kings and leaders. The truce is not allowed in the absence of this benefit since a truce is leaving the obligated fighting which is not allowed except in the situation it occurs as a means to fighting as at this point it becomes fighting metaphorically. Allah (swt) said: