50. Yang Mutawatir
50. The Mutawaatir
Tawaatur secara bahasa adalah berturut-turutnya sesuatu satu demi satu dengan jeda waktu di antaranya, dan termasuk darinya firman Allah Ta'ala: "Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami secara berturut-turut" (QS. Al-Mu'minun: 44), yang bermakna satu demi satu dengan jeda waktu. Tawaatur adalah kesinambungan. Adapun khabar mutawaatir dalam terminologi ulama usul, yaitu berita (khabar) yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang jumlahnya mencapai batas yang menghasilkan keyakinan (ilm) atas apa yang mereka beritakan; keyakinan itu tidak akan terjadi karena ucapan kelompok tersebut, dan tidak disebut mutawaatir kecuali jika mereka yakin atas apa yang mereka sampaikan, dan tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Pengetahuan mereka harus berdasarkan pendengaran dan penyaksian, bukan berdasarkan perkiraan. Harus ada kelompok yang memenuhi syarat-syarat ini pada masa Sahabat, masa Tabi'in, dan masa Tabi'ut Tabi'in, sehingga kedua sisi dan pertengahan khabar tersebut setara. Dengan demikian, hadis mutawaatir adalah hadis yang diriwayatkan pada ketiga masa tersebut oleh kumpulan besar orang yang secara lazim mustahil bersepakat untuk berdusta, dan tidak ada pertimbangan sama sekali pada masa selain ketiga masa itu dalam periwayatan hadis.
The tawaator linguistically is the succession of the things one after the other with a time limit in between, and of this is the saying of Allah Ta'ala: Then sent We Our Messengers in succession…) 44 Surat Al Mu'minoun, means one after one with time limit. The tawaator is the recurrence, and al khabar al mutawaatir in the terminology of the usoul scholars is the report (khabar) transmitted by a group which reach in their multitude the extent of the certainty (ilm) which occurred for their saying, the certainty would not occur for the saying of this group and it would not be mutawaatir unless they are certain of what they told, and not in any doubt about it. Their knowledge must be based on the hearing and the witnessing not on the figuring out, there must be a group that fulfills these conditions in the era of the Sahaabah, the era Taabi'ine and the Taabi'y al Taabi'ine, so the two sides and the middle of the khabar are equal. Accordingly, the mutawaatir report is what was narrated in the three eras by a large gathering that their collusion to lie is normally impossible, and no consideration at all for any era other then those three in the narration of the Hadeeth.
Hadits mutawatir diriwayatkan secara pasti dari Nabi ﷺ, sehingga menunjukkan pengetahuan yang yakin, dan wajib mengamalkannya dalam segala aspek, baik sunnah berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuan. Salah satu hadits mutawatir adalah sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka," yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Shalat lima waktu, jumlah rakaatnya, serta apa yang datang mengenai tata cara shalat, puasa, dan haji termasuk sunnah mutawatir dalam bentuk perbuatan.
The mutawaatir Hadeeth is decisively transmitted from the prophet (SAW), so it denotes the certainty knowledge, and acting according to it in all aspects is a must, whether it is of the saying, acting, or approving Sunnah. One of the mutawaatir ahaadeeth is the saying of the prophet (SAW): And whoever fabricates a lie on my behalf let him occupy his place in hell fire" narrated by Al Bukhari and Muslim. The five prayers, the number of their rak'ah and also what came about the method of the prayer, the sawm and the hajj are of the acting mutawaatir Sunnah.