19.1 Ketaatan (at-ta'ah)
19.1 Obedience (at-ta’ah)
Ketaatan merupakan perkara mendasar bagi tegaknya disiplin dalam negara, dan termasuk manifestasi paling penting yang menunjukkan disiplin umum dalam negara dan umat. Karena itu, Al-Qur'an menekankan ketaatan dalam banyak ayat, meskipun telah ada wahyu, mukjizat, risalah, dan kepribadian Rasulullah ﷺ, yang dengan sendirinya sudah cukup untuk menumbuhkan ketaatan. Ayat-ayat datang memerintahkan ketaatan, yaitu ketika sesuatu wajib dilaksanakan, yakni perintah yang mewajibkan pelaksanaannya; dan datang pula melarang ketaatan, yaitu ketika sesuatu tidak diperbolehkan, yakni larangan yang mewajibkan untuk tidak melakukannya; serta menganggap memiliki perangai seperti itu sebagai sesuatu yang harus dijauhi oleh seorang Muslim. Kita dapati bahwa Al-Qur'an, ketika menyebut tentang ketaatan, berfirman:
Obedience is a fundamental matter for the existence of discipline in the State, and from the most important manifestation to indicate the general discipline in the State and Ummah. Due to this, the Qur’an emphasised obedience in many ayat despite the existence of revelation, miracles, the message and the Messenger (saw)’s personality which by themselves are enough to create obedience. The ayat came commanding obedience i.e. when it is obligatory to exist, a command which obliges its fulfilment, and it came prohibiting obedience i.e. when it is not permitted to exist, a prohibition which obliged its non-performance, and it considered that possessing such manners as something that the Muslim must put himself far away from. We find that the Qur’an, when it refers to obedience, saying:
"Taatilah Allah dan Rasul-Nya" [TMQ 3:32]
“Obey Allah and the Messenger” [TMQ 3:32]
Dan:
And:
"Ikutilah aku dan taatilah perintahku" [TMQ 20:90]
“Follow me and obey my command” [TMQ 20:90]
Dan:
And:
“Dengar dan taatilah” [TMQ 64:16]
“Hear and obey” [TMQ 64:16]
Dan:
And:
"Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." [TMQ 4:13]
“Whoever obeys Allah and His Messenger, He will admit him into gardens underneath which rivers flow” [TMQ 4:13]
Dan:
And:
"Barangsiapa menaati Rasul, sungguh ia telah menaati Allah." [TMQ 4:80]
“Whoever obeys the Messenger has obeyed Allah” [TMQ 4:80]
Dan:
And:
“Barangsiapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah” [TMQ 4:69].
“Whoever obeys Allah and the Messenger, they are among those whom Allah has granted favour” [TMQ 4:69].
Allah telah memerintahkan ketaatan yang tidak terbatas dalam ayat ini; ketaatan itu datang tanpa batasan. Kita dapati bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan ketaatan kepada para penguasa dan gubernur dalam segala keadaan, kecuali jika yang diperintahkan adalah dosa. Dari Ibnu Abbas (ra), dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
So Allah has commanded unrestricted obedience in this ayat; obedience came without restriction. We find that the Messenger (saw) commands obedience to the rulers and governors in all situations except if what was commanded was a sin. From ibn Abbas (ra) from the Prophet (saw) who said:
"Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dari amirnya, hendaklah ia bersabar atasnya, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun dari manusia yang keluar (memberontak) dari kekuasaan (sultan) sejengkal pun lalu mati dalam keadaan demikian, kecuali ia mati dalam keadaan jahiliyah."
“Whoever dislikes something from his Amir should be patient about it for verily, none among the people will go out/rebel from the authority (sultan) by even a hand span and die upon that except that he dies a death of ignorance (jahiliyyah).”
Rasulullah ﷺ menganggap kegagal-taatan kepada Amir sebagai memisahkan diri dari jamaah. Abu Rija Al-‘Attardi meriwayatkan dan berkata: "Aku mendengar Ibnu Abbas (ra) menceritakan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
The Messenger (saw) considered the failure to obey the Amir as separation from the community. Abu Rija Al-‘Attardi related and said: “I heard ibn Abbas (ra) (narrating) from the Prophet (saw) who said:
"Barangsiapa melihat pada amirnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar. Sesungguhnya, barangsiapa memisahkan diri dari jamaah (walaupun) sejengkal lalu mati, maka kematiannya adalah kematian jahiliyah." (Diriwayatkan oleh Muslim).
“Whoever sees in his Amir something he dislikes, let him be patient. For, verily, whoever separated from the community by (even a) hand span and dies, his death is one of ignorance” (narrated by Muslim).
Di antara hal-hal yang dibaiatkan kaum Muslimin kepada Nabi ﷺ adalah ketaatan. Dari Junadah bin Abu Umayyah, ia berkata: "Kami masuk menemui Ubadah bin Ash-Shamit ketika ia sedang sakit, lalu kami berkata: Semoga Allah menyembuhkanmu. Sampaikanlah kepada kami sebuah hadits yang dengannya Allah (SWT) akan memberi manfaat kepadamu, dari apa yang engkau dengar dari Nabi ﷺ." Ia berkata:
Among what the Muslims pledged the Prophet upon was obedience. From Junadah bin Abu Umayyah who said: “We entered upon Ubadah bin As-Samit when he was ill and said: May Allah improve your health. Relate (to us) a hadith for which Allah (swt) will benefit you from what you heard from the Prophet (saw). He said:
Nabi ﷺ mengajak kami, lalu kami memberikan bai'at kepada beliau. Beliau bersabda: Di antara syarat yang beliau ambil dari kami adalah bahwa kami berjanji untuk mendengar dan taat dalam hal-hal yang kami sukai maupun yang kami benci, dalam keadaan mudah maupun sulit, meskipun orang lain didahulukan atas kami, dan bahwa kami tidak menentang para pemegang kekuasaan, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata (kufr buwah) yang kalian miliki bukti yang jelas tentangnya dari Allah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
The Prophet (saw) invited us and we gave him a pledge (bay’ah). He said: Among what he took as condition(s) upon us is that we pledged to hear and obey in what we find pleasing and what we dislike, in our ease and hardship, even if others are preferred over us and that we do not dispute the authority of those who possess it ,he said, except if you see open disbelief (kufr buwah) for which you have clear proof from Allah” (Narrated by Al-Bukhari
Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut berasal dari perintah untuk taat, hanya saja ketaatan ini dibatasi oleh batas-batas Islam. Kemudian datang pula hadits-hadits lain yang melarang ketaatan dalam perkara maksiat kepada Allah (SWT). Beliau ﷺ bersabda:
The ayat and ahadith came from commanding obedience, except that this obedience is restricted by the limits of Islam, there came other ahadith prohibiting obedience in (matters of) disobedience to Allah (swt). He (saw) said:
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta" (diriwayatkan oleh Ahmad).
“No obedience to the created in disobedience to the Creator” (narrated by Ahmad).
Dan Nafi' meriwayatkan dari Abdullah (ra) dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
And Nafi’ related from Abdullah (ra) from the Prophet (saw) who said:
"Mendengar dan taat itu wajib bagi seorang Muslim dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
“Hearing and obedience is obliged upon the Muslim man in whatever he likes or dislikes except if he is commanded with a sin. If he is commanded with a sin, there is no hearing or obeying” (Narrated by Al-Bukhari).
Namun, Allah (SWT) memerintahkan ketaatan ini ketika ia untuk tata tertib umum. Adapun ketika ketaatan ini bertentangan dengan Islam atau dengan cara yang berlawanan dengan jalan Allah (SWT), maka Islam telah melarang ketaatan tersebut. Oleh karena itu, Allah (SWT) secara tegas melarang kita dari sebagian (jenis) ketaatan ketika Dia berfirman:
However, Allah (swt) commanded with this obedience when it is for the general discipline. As for when this obedience is contrary to Islam or in a way opposite to the way of Allah (swt), then Islam has prohibited obediece. Due to this, Allah (swt) explicitly forbade us from some (types of) obedience when He said:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati sekelompok (fareeqa) dari orang-orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman." [TMQ 3:100]
“O you who believe, if you obey a party (fareeqa) of those given the Book they will turn you disbelievers after your belief” [TMQ 3:100]
Dan:
And:
Jangan engkau taati orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, sehingga ia mengikuti hawa nafsunya dan urusannya menjadi sia-sia. [TMQ 18:28]
“Do not obey the one whose heart we have made neglectful of Our Remembrance so he followed his desire and his affair was lost” [TMQ 18:28]
Dan:
And:
"Jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." [TMQ 6:116]
“If you obey most of those in the earth, they will misguide you from the way of Allah” [TMQ 6:116]
Dan:
And:
"Janganlah kamu menaati orang-orang kafir" [TMQ 25:52]
“Do not obey the disbelievers” [TMQ 25:52]
Dan:
And:
"Janganlah engkau menaati orang-orang yang mendustakan (kebenaran)" [TMQ 68:8]
“Do not obey those who give lie (to the Truth)” [TMQ 68:8]
Dan:
And:
"Janganlah engkau menaati orang yang berdosa atau orang yang kafir di antara mereka" [TMQ 76:24]
“Do not obey the sinful or disbeliever among them” [TMQ 76:24]
Dan:
And:
“Janganlah engkau menuruti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina” [QS. 68:10].
“Do not obey each swearing (maheen)” [TMQ 68:10].
Semua ayat ini melarang menaati orang-orang (yang memiliki) sifat-sifat tertentu. Siapa pun yang menyelidiki (orang-orang atau sifat-sifat tersebut) akan mendapati bahwa mereka jelas bertentangan dengan Islam dan berbeda dengan jalan Islam. Allah (swt) telah menjelaskannya kepada kita agar kita menekuni pembinaan ketaatan dalam diri kita, yakni menegakkan disiplin yang bersifat umum. Dan agar disiplin ini tetap jauh dari bidang-bidang yang, jika ketaatan terjadi di dalamnya, akan membahayakan entitas (yakni Negara). Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim, ketika ia menyambut perintah Allah (swt) untuk taat, juga menghindari menaati orang-orang yang Allah (swt) telah larang (kita) untuk menaati mereka.
All these ayat prohibit obeying persons (with specific) attributes. Anyone investigating (these persons or attributes) will find them clearly against Islam and in a way other than the way of Islam. Allah (swt) has clarified them to us so that we devote ourselves in developing the obedience in ourselves i.e bring in place a general discipline. And so as to keep this discipline far away from the areas where, if obedience occurs, it would be harmful to the entity (i.e. of the State). Therefore, it is obliged upon the Muslim that, when he responds to Allah’s (swt) command of obedience, to also avoid obeying those whom Allah (swt) has prohibited (us from) obeying them.