Oleh karena itu, disyaratkan dalam mengambil adab (budaya) bahwa ia harus nyata dan bukan khayalan atau teori belaka. Dan hendaknya ia dipelajari untuk diamalkan ketika kenyataannya terjadi dalam kehidupannya, bukan untuk tujuan mengetahui keindahannya atau demi sekadar kepuasan intelektual.
Therefore, it is stipulated in adopting the culture that it be real and not fanciful or theoretical. And that it should be studied in order to act upon it when its reality occurs in his life not for the purpose of knowing its beauty or for the sake of mere intellectual gratification.
Ini adalah metode Islam dalam belajar, yaitu pengkajian yang mendalam dan keyakinan terhadap apa yang dicapai melalui pengkajian, atau keyakinan terhadap apa yang sedang dikaji, lalu mengadopsinya secara realistis untuk diterapkan di medan pertempuran kehidupan. Apabila syarat-syarat metode pengkajian ini terpenuhi, maka seorang Muslim yang telah membina dirinya dengan budaya Islam akan memiliki pemikiran yang mendalam dengan kepekaan yang tajam, dan mampu memecahkan persoalan-persoalan hidup. Hal ini memastikan bahwa Muslim secara alami menempuh jalan kesempurnaan, dengan kemauan dan pilihan sendiri, dan ia tidak akan menyimpang darinya selama ia berjalan sesuai dengan metode ini, karena pemikiran-pemikiran Islam yang ia adopsi dari budaya ini bersifat merangsang, efektif, berpijak pada kenyataan, benar, serta menghasilkan solusi yang tepat dan berdaya guna bagi persoalan-persoalan. Selain menyalakan semangat orang yang dibina olehnya, budaya ini juga memberi Muslim kemampuan luar biasa untuk menghadapi persoalan hidup dengan solusi, sebesar atau sekecil apa pun, semudah atau sesulit apa pun persoalan itu. Dengan demikian, terbentuklah dalam dirinya sebuah mentalitas (‘aqliyya) yang hanya dapat merasa puas ketika akal telah yakin dan hati dipenuhi ketenteraman. Pada saat yang sama, terbentuk pula dalam dirinya sebuah watak keislaman (nafsiyya) yang dipenuhi keimanan yang sempurna. Melalui mentalitas (‘aqliyya) dan watak (nafsiyya) inilah seseorang memiliki sifat-sifat utama yang dituntut Islam dari seorang Muslim, dan melalui keduanya pula ia mengatasi segala kesulitan yang menghadang di jalannya. Hal ini disebabkan oleh apa yang kita lihat dalam substansi budaya Islam ini berupa pemikiran yang mendalam dan tercerahkan, serta karena pemikiran-pemikiran tersebut berlandaskan ‘aqīdah (akidah).
This is the method of Islam in study which is an in-depth study and belief in what is arrived at by study or belief in what is being studied and realistically adopting it to apply it in the battlefield of life. If the conditions of the method of study are met then the Muslim who has cultured himself with the Islamic culture will have deep thinking with a sharpened sensitivity and be able to solve lifes problems. This ensures the Muslim naturally follows the path of perfection, willingly and with choice, He will not deviate from it as long as he proceeds according to this method because the Islamic thoughts he adopts from this culture are stimulating, effective, based on reality, true and effective solutions for problems. In addition to setting the one cultured by it aflame with zeal, it gives the Muslim an extraordinary ability to face the problems of life with solutions however great or small, easy or difficult they may be. Thus, a mentality (‘aqliyya) forms within him which can only be content when the mind is convinced and the heart is filled with tranquillity. At the same time an Islamic disposition (nafsiyya) is formed within him which is filled with a belief which is consummate. And through this mentality (‘aqliyya) and disposition (nafsiyya) the person is characterised by excellent qualities which Islam demands from the Muslim and through this mentality (‘aqliyya) and disposition (nafsiyya) he overcomes all the difficulties that stand as obstacles in his way. This is due to what we see in the substance of this Islamic culture in terms of deep and enlightened thoughts and due to them being based on the ‘aqīdah (creed)
yang merupakan pemahaman manusia tentang hubungannya dengan Allah ﷻ. Jadi, kebudayaan Islam bersumber dari Allah ﷻ atau disimpulkan dari apa yang berasal dari Allah ﷻ, yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Ia memiliki aspek intelektual karena merupakan sebuah pemikiran, dan sekaligus memiliki ruh karena mewujudkan hubungan dengan Allah ﷻ ketika seseorang mengadopsinya sebagai sesuatu yang datang dari Allah ﷻ. Dengan demikian, kebudayaan ini memastikan bahwa siapa pun yang dibentuk olehnya memiliki pemikiran yang mendalam dan tercerahkan, disertai semangat yang menyala-nyala. Ia menyerahkan dirinya kepada Allah ﷻ di jalan Islam dengan mencari Keridhaan Allah ﷻ. Selain itu, Anda akan mendapati bahwa orang yang dibentuk oleh kebudayaan Islam mengetahui apa yang ia inginkan dan tahu bagaimana menyelesaikan persoalan hidup, karena ia telah mempelajari kebenaran yang dengannya ia menghadapi medan pertempuran kehidupan. Maka, ia pun menceburkan diri ke dalam ujian dan cobaan hidup. Ia telah dianugerahi bekal terbaik, yaitu pemikiran yang tercerahkan, takwa (takut kepada Allah ﷻ), dan ilmu yang menyelesaikan segala persoalan. Inilah kebudayaan yang menghimpun segala yang baik.
which represents man’s comprehension of his relationship with Allah . So, the Islamic culture is either from Allah or deduced from that which is from Allah in terms of the Qur’ān and Sunnah. It has an intellectual aspect in terms of it being a thought, and at the same time it has a spirit (ruh) in terms of realising the relationship with Allah when he adopts the culture in its capacity as coming from Allah . Thus, it ensures that anyone cultured by it has deep and enlightened thought with a burning, fiery enthusiasm. He sells himself to Allah in the path of Islam seeking the Good Pleasure of Allah . Also, you will find that the one cultured by the Islamic culture knows what he wants and knows how to solve the problems of life because he has learnt the truth with which he faces the battlefield of life. Thus, he plunges into the trials and tribulations of life. He has been endowed with the best of provisions which is the enlightened thought, taqwa (fear of Allah ), and knowledge which solves all problems. This is the culture which brings together all that is good.