3.2 Tulisan Al-Qur’an
3.2 The Qur’ānic Script
Rasm Al-Qur'an bersifat tawqifi dan tidak boleh menyalahinya. Dalilnya adalah bahwa Nabi ﷺ memiliki para penulis wahyu yang menuliskannya, dan mereka benar-benar menuliskan Al-Qur'an sesuai dengan rasm ini, dan Rasulullah ﷺ menyetujui tulisan mereka. Masa beliau ﷺ berakhir dengan Al-Qur'an yang tertulis dalam rasm tersebut, tanpa terjadi perubahan atau perbedaan. Meskipun para Sahabat menuliskan Al-Qur'an, tidak diriwayatkan dari seorang pun bahwa ia menyelisihi tulisan ini, hingga 'Utsman menjadi Khalifah. Lalu beliau menyalin lembaran-lembaran yang tersimpan pada Hafshah, Ummul Mu'minin, menjadi mushaf-mushaf sesuai rasm tersebut, dan memerintahkan agar mushaf-mushaf lain yang tersisa dibakar. Termasuk yang berasal dari rasm Al-Qur'an dan berbeda dari kaidah penulisan Arab dalam kitab-kitab lain adalah penyimpangan dari kaidah penulisan Arab itu. Tidak ada alasan untuk hal ini selain bahwa bentuk rasm tersebut bersifat tawqifi, bukan konvensi. Misalnya, tidak dipertanyakan mengapa kata ar-Ribā dalam Al-Qur'an ditulis dengan huruf wawu dan alif, bukan dengan huruf ya dan alif. Juga tidak dipertanyakan mengapa ada tambahan alif pada kata mi'ah tetapi tidak pada kata fi'ah, mengapa ada tambahan ya pada kata bi'ayyikum, dan alif tambahan pada kata sa'aw dalam Surah al-Hajj tetapi tidak ada pada kata sa'aw dalam Surah Saba'. Mengapa alif ditambahkan pada kata 'ataw tetapi tidak ada pada 'ataw dalam Surah al-Furqan. Alif juga ditambahkan pada kata āmanū tetapi dihilangkan pada kata ba'aw, ja'aw, dan fa'aw dalam Al-Qur'an. Alif ada pada kata ya'fu allazī tetapi tidak ada pada kata ya'fu 'anhum dalam Surah an-Nisā'. Demikian pula, tidak selayaknya dipertanyakan apa maksud penghapusan huruf tertentu pada sebagian kata tetapi tidak pada kata serupa lainnya. Seperti menghilangkan alif pada kata Qur'ān dalam Surah Yūsuf dan az-Zukhruf namun mempertahankannya di tempat lain, dan mempertahankan alif setelah wawu pada kata samāwāt dalam Surah Fuṣṣilat namun menghilangkannya di tempat lain. Mengapa alif pada kata Al-Mi’aad tetap ditulis, sedangkan pada kata yang sama dalam Surat al-Anfal dihilangkan? Begitu pula, mengapa alif pada kata sirajan ada di setiap tempat kata ini disebutkan dalam Al-Qur’an, kecuali dalam Surat al-Furqan? Perbedaan penulisan satu kata yang sama antara satu surat dengan surat lain, padahal tidak ada perbedaan makna, dengan jelas menunjukkan bahwa hal ini bergantung pada cara pengucapan kata tersebut dan bukan pada ijtihad atau pemahaman. Segala sesuatu yang bergantung pada pendengaran semata adalah tauqifi (berdasarkan ketetapan). Demikian pula, perbedaan urutan surat-surat dalam Al-Qur’an memang diriwayatkan, tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan perbedaan tulisan Al-Qur’an dari tulisan yang dicatat pada masa Rasulullah ﷺ. Juga tidak ada riwayat yang menyebutkan perbedaan urutan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan bahwa tulisan Al-Qur’an bersifat tauqifi. Hal ini jelas dari pengakuan Rasulullah ﷺ terhadap tulisan tersebut, kesepakatan para Sahabat mengenai masalah ini, dan adanya perbedaan penulisan satu kata yang sama antara satu surat dengan surat lain meskipun lafaz dan maknanya sama. Semua ini merupakan bukti jelas bahwa tulisan Mushaf adalah tulisan tauqifi, yang wajib diikuti tanpa kecuali. Menulis Mushaf dengan tulisan selain itu dilarang. Bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang yang ummi tidak menjadi pertimbangan, karena beliau memiliki para penulis wahyu yang dapat menulis, dan mereka menggambarkan tulisan itu kepada beliau. Jangan pula dilupakan bahwa beliau dapat mengenali bentuk-bentuk huruf sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa hadis. Para penulis beliau juga menulis surat atas nama beliau dengan tulisan Arab biasa yang beliau kirimkan kepada raja-raja dan pemimpin, dan tulisan ini berbeda dengan tulisan yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an pada saat diturunkannya. Namun, kewajiban mengikuti tulisan Utsmani Al-Qur’an hanya berlaku khusus untuk penulisan Mushaf. Adapun penulisan Al-Qur’an dalam bentuk kutipan, untuk tujuan pengajaran, atau untuk alasan lain, hal itu diperbolehkan, karena persetujuan Rasulullah ﷺ dan kesepakatan para Sahabat berkaitan dengan Mushaf semata, dengan mengecualikan selainnya. Tidak ada qiyas dalam perkara ini, sebab ini adalah masalah tawqifi yang tidak memiliki ‘illah (alasan).
The Qur’ānic script is tawqeefi and it is not allowed to go against it. The evidence for this is that the Prophet used to have scribes who wrote down the revelation and they actually wrote down the Qur’ān according to this script and the Messenger approved of their writing. His period came to an end with the Qu’ran in the same script in which no change or alteration occurred. Even though the Sahaba wrote the Qur’ān, it has not been reported from anyone that he differed with this writing until 'Uthman became the Khalifah and he transcribed the sheets that had been preserved with Hafsa , the mother of the believers into mushafs according to that script, and he ordered that any remaining Mushafs be burned. What also came from the Quranic script that is different from the Arabic script in other books was the deviation from the Arabic script, and there could be no reason for this other than the form of the script being Tawqeefi and not conventional. For example it is not asked why the word arRiba in the Qur’ān is written with the letters waw and alif and not with the letters ya and alif. It is also not asked why there is an additional alif in the word mia’a but not in the word fia’a, why the additional ya in the words bi’ayeekum and the extra alif in the word sa’aw in Sura al-Hajj but absent from the word sa’aw in Sura Saba. Why is the alif added to the word ‘ataw but missing from ‘ataw in Sura al-Furqan. The alif is also added in the word aamano but omitted from the words ba’ao, ja’ao and fa’ao in the Quran. It is added in the word ya’afo allazee but absent from the word ya’afo anhom in Sura an-Nisa. Likewise it should not be said what is the sense of deletion of certain letters in some words but not in other similar words. This is like omitting the alif from the word Qura’an in Sura Yusuf and az-Zukhruf but keeping it in other places, and keeping the alif after the waw of the word samawat in Sura Fussilat but omitting it in others. So why is the alif in the word Al-Mi’aad kept but omitted from the same word in Sura al-Anfal also why the alif in the word sirajan exists wherever this word is mentioned in the Qur’ān except in Sura al-Furqan. This difference in the writing of a single word between one Sura and another, even though there is no difference in the meaning clearly suggests that this depends on the hearing of the words and not on Ijtihād or their understanding. Anything that depends on the hearing as such is i. Likewise, a difference in the order of the Sura’s (chapters) in the Qur’ān was reported, but there was no reported difference in the Quranic script from the script writing recorded in the presence of the Messenger of Allah . Nor was there any difference reported in the order of the Ayahs (verses) in the Qur’ān, indicating that the Quranic script is Tawqeefi. This is clear from the Messenger of Allah’s acknowledgement of this writing, the consensus of the Sahaba on this issue, and the existence of differences in the writing of a single word between one Sura and another despite the same wording and meaning. All this is clear evidence proving that the script in which the Mushaf has been written is Tawqeefi script, which must be adhered to without fail. Writing the Mushaf in any other script is prohibited. That the Messenger of Allah was illiterate is not considered for he had scribes who could write and they described the script to him, not to forget that he could recognise the forms of letters as reported in some ahadith. His scribes also wrote letters on his behalf in normal Arabic script which he sent to the kings and leaders, this script being different from the script used to write the Qur’ān whilst it was being revealed. However the obligation to follow the ‘Uthmani script of the Qur’ān is specific only to the writing of the Mushaf. As for the writing of the Qur’ān by way of quotation or for teaching purposes or for any other reasons this is permissible because the approval of the Messenger and consensus of the Sahaba is in concern to the Mushaf alone to the exclusion of everything else. There is no Qiyas on this matter because this is an issue of Tawqeefi without an Illah (reason).