Dia berkata, "Rasul adalah utusan Allah yang membawa syariat baru atau yang diperbarui, yang ia serukan kepada manusia, sedangkan nabi diutus oleh Allah untuk menegaskan syariat terdahulu." Dengan demikian, Musa ʿalaihissalām adalah seorang nabi karena ia menerima wahyu berupa syariat, dan seorang rasul karena syariat tersebut diperuntukkan bagi misinya. Sebaliknya, meskipun Harun ʿalaihissalām juga seorang nabi karena ia menerima wahyu berupa syariat, ia bukan seorang rasul karena syariat yang diwahyukan kepadanya tidak diperuntukkan bagi misinya, melainkan bagi misi Musa ʿalaihissalām. Demikian pula, Muhammad ﷺ adalah seorang nabi dan seorang rasul karena ia menerima wahyu berupa syariat, yang diperuntukkan bagi misinya ﷺ.
Says, ‘The messenger is sent by Allah with a revived or new Sharī’ah which he calls people to, whereas the prophet is sent by Allah to affirm the former Sharī’ah.’ Thus, Musa was a prophet because he was inspired with a Sharī’ah and a messenger because this Sharī’ah was for his mission. On the other hand, although Aaron was also a prophet because he was inspired with a Sharī’ah, he was not a messenger because the Sharī’ah, which was revealed to him was not for his mission, rather it was for the mission of Musa . By the same token, Muhammad was a prophet and a messenger because he was inspired with a Sharī’ah, which was for his mission.
Risalah adalah perantara antara Allah dan para hamba untuk menjelaskan dan memaparkan cara memenuhi kebutuhan dunia dan akhirat. Hikmah menuntut diutusnya para rasul, karena mereka membawa hukum-hukum dan manfaat bagi manusia.
The message is the mediation between Allah and the slaves in order to explain and clarify the method of satisfying the needs of this world and the hereafter. Wisdom necessitates the sending of messengers as they bring laws and benefits for people.
Dengan demikian, pengutusan para rasul memang benar-benar terjadi. Allah mengangkat rasul-rasul dari kalangan manusia dan mengutus mereka sebagai pembawa kabar gembira tentang surga dan pahala bagi orang-orang beriman dan taat. Mereka juga menjadi pemberi peringatan tentang neraka dan hukuman bagi orang-orang kafir dan durhaka, serta menjelaskan kebutuhan dan keperluan manusia di dunia maupun di akhirat. Semua itu terjadi karena akal tidak mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, dan tidak mampu memahami hakikat dirinya sendiri maupun urusan-urusannya.
Thus, the sending of Messengers has actually occurred. Allah appointed messengers from amongst mankind and sent them as bearers of glad tidings of paradise and reward to the people of belief and obedience. They were warners of the hell fire and punishment to people of disbelief and disobedience and they clarified the needs and requirements of this world and the hereafter for man. All because the mind is incapable of either deciding the good and bad or able to comprehend man himself and his affairs.
Allah memperkuat para nabi dan rasul dengan mukjizat-mukjizat yang bertentangan dengan kebiasaan. Mukjizat adalah sarana dari Allah yang tidak hanya bertentangan dengan kenyataan yang berlaku, tetapi juga ditampilkan oleh orang yang mengaku sebagai nabi ketika ia menantang orang-orang kafir yang tidak mampu mencapai sesuatu yang serupa. Seandainya seorang rasul tidak didukung oleh mukjizat, tentu tidak perlu menerima pengakuannya, karena tidak dapat dibedakan antara seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi dengan nabi yang sebenarnya. Oleh karena itu, mukjizat menguatkan kebenaran nabi dan meyakinkan manusia, sebab manusia biasa tidak mampu mencapai perbuatan semacam itu.
Allah consolidates the prophets and messengers with miracles which oppose the norm. The miracle is a tool from Allah that not only opposes the reality, but is rendered by the claimant of prophethood when he challenges the disbelivers who are incapable of achieving anything similar. If the messenger was not supported by a miracle it would not be necessary to accept his claim, since no distinction could be made between an impostor claiming prophethood and a genuine prophet. Hence, the miracle substantiates the prophet's truthfulness and convinces the people since an ordinary man can not achieve such a feat.
Nabi yang pertama adalah Adam ۔ sedangkan nabi yang terakhir adalah Muhammad ﷺ. Kenabian Adam ۔ dapat dibuktikan melalui tiga sumber yang berbeda: Pertama, melalui Al-Qur'an. Allah (SWT) berfirman,
The first prophet was Adam whilst the last prophet was Muhammad . The prophethood of Adam can be proven through three different sources: Firstly through the Quran. Allah says,