3.3 Mukjizat Al-Qur’ān
3.3 The Miracle Of The Qur’ān
Al-Qur'an adalah ungkapan yang diturunkan kepada junjungan kami Muhammad ﷺ dengan apa yang menunjukkan maknanya. Jadi, Al-Qur'an adalah lafaz dan makna sekaligus. Makna saja tidak disebut Al-Qur'an, dan lafaz tidak mungkin tanpa makna, sebab dasar penyusunan ungkapan adalah untuk menunjukkan makna tertentu. Oleh karena itu, Al-Qur'an telah digambarkan sebagai uraian tentang lafaznya. Dengan demikian, Allah ﷻ berfirman tentangnya bahwa ia berbahasa Arab ketika Dia berfirman:
The Qur’ān is the expression revealed to our master Muhammad with what indicates its meanings. So the Qur’ān is the wording (lafz) and meaning (ma'na) together. The meaning alone is not called the Qur’ān and the wording cannot possibly have any meaning because the basis of composing expressions is to indicate a specific meaning. This is why the Qur’ān has been described as a description of its wording. Thus, Allah said about it that it is in Arabic when He said:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya sebagai Al-Qur'an dalam bahasa Arab. [TMQ Yoosuf: 2]
“Verily, We have sent it down as an Arabic Qur’ān” [TMQ Yoosuf: 2]
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya sebagai Al-Qur'an dalam bahasa Arab. [TMQ Yoosuf: 2]
“Verily, We have sent it down as an Arabic Qur’ān” [TMQ Yoosuf: 2]
Dan Dia berfirman
And He said
"Sebuah Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci; sebuah Al-Qur'an dalam bahasa Arab" [TMQ Fussilat: 3]
“A Book whereof the Verses are explained in detail;- A Qur’ān in Arabic ” [TMQ Fussilat: 3]
Dan Dia berfirman
And He said
"Sebuah Al-Qur'an berbahasa Arab, tanpa kebengkokan sedikit pun" [TMQ Zumar: 28]
“An Arabic Qur’ān, without any crookedness” [TMQ Zumar: 28]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (wahai Muhammad ﷺ) Al-Qur’an dalam bahasa Arab” [TMQ Shurā: 7]
“We have revealed unto you (O Muhammad (saw)) a Qur’ān in Arabic” [TMQ Shurā: 7]
Sesungguhnya Kami menjadikannya sebuah Al-Qur'an dalam bahasa Arab. [TMQ Zukhruf: 3]
“We verily, have made it a Qur’ān in Arabic” [TMQ Zukhruf: 3]
Bahasa Arab adalah wadah lafal-lafal Al-Qur'an, bukan deskripsi maknanya, sebab maknanya adalah makna manusiawi dan bukan makna Arab. Al-Qur'an diturunkan untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk bangsa Arab. Adapun firman-Nya:
Arabic is the depiction of the Qur’āns’ words and not a description of its meanings, because its meanings are human meanings and not Arabic meanings. It is for the humankind and not for the Arabs only. As for His saying:
"Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) sebagai hukum yang berbahasa Arab (hukman 'arabiyyan)" [TMQ Ra’d: 37]
“And thus have We sent it down (the Qur’ān) down to be an Arabic judgement (hukman 'arabiyyan)” [TMQ Ra’d: 37]
Artinya, ia adalah hikmah yang diterjemahkan ke dalam bahasa orang Arab, dan bukan hikmah yang berbahasa Arab. Di sini kata 'Arab' hanyalah sifat bagi lafaznya dan tidak berarti lain. Lafaz Al-Qur'an tidak boleh disifati kecuali dengan bahasa Arab. Ia tidak memiliki sebutan lain selain Arab, baik secara harfiah maupun kiasan. Oleh karena itu, tidak benar jika dikatakan bahwa tulisan sebagian maknanya dalam bahasa lain adalah Al-Qur'an. Bahasa Arab Al-Qur'an tidak dapat diperdebatkan; lafaz-lafaznya hanya berbahasa Arab. Al-Qur'an adalah mukjizat Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun ada mukjizat-mukjizat lain yang terjadi melalui tangan Nabi Muhammad ﷺ yang berbeda dengan Al-Qur'an, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an itu sendiri dan dalam kitab-kitab Sunnah yang sahih, beliau ﷺ tidak menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat tersebut; tantangan beliau hanya dengan Al-Qur'an. Karena itu kami mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang dengannya kenabian beliau ﷺ telah dibuktikan sejak Al-Qur'an diturunkan hingga Hari Kiamat. Al-Qur'an membuat orang Arab tidak mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya, dan ia menantang mereka untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya. Allah ﷻ berfirman dalam tantangan-Nya kepada mereka:
It means that it is a wisdom translated into the language of the Arabs and not that it is an Arabic wisdom. Here the word 'Arabic' is a description of wording and nothing else. It’s (i.e The Qurans’) wording are not to be described except in Arabic. It has no other designation other than Arabic, whether literally or metaphorically. That is why it is not correct to say that the writing of some of its meanings in another language is Qur’ān. The Arabic language of the Qur’ān is indisputable; its wordings are only in Arabic. The Qur’ān is the miracle of the Prophet Muhammad . Even though there are other miracles of the Prophet which took place at his hands different to that of the Qur’ān, as mentioned in the Qur’ān itself and the Sahih works of the Sunnah, the he did not challenge the people with, the challenge was only by the Qur’ān. That is why we say that the Qur’ān was the miracle of the Prophet Muhammad with which his Messengership has been proven ever since the Qur’ān was revealed until the Day of Judgement. The Qur’ān rendered the Arabs incapable of bringing something like it, and it challenged them to bring something like it. He said in His challenge to them:
"Dan jika kamu meragukan Al-Qur'an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surat yang semisal dengannya dan panggillah saksi-saksimu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." [TMQ Baqarah: 23]
“And if you are in doubt concerning that which We have sent down to Our slave, then produce a sura of the like thereof and call your witnesses besides Allah, if you are truthful” [TMQ Baqarah: 23]
Dan Dia berfirman:
And He said:
Katakanlah: "Maka datangkanlah sebuah surat yang semisal dengannya, dan panggillah siapa saja yang dapat kalian panggil selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar." [TMQ Yūnus: 38]
“Say: “Bring then a sura like unto it, and call upon whomsoever you can, besides Allah, if you are truthful” [TMQ Yūnus: 38]
Atau mereka berkata, "Dia (Nabi) telah mengada-adakannya (Al-Qur'an)." Katakanlah, "Maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang serupa dengannya, dan panggillah siapa saja yang kalian sanggup, selain Allah, untuk membantu kalian, jika kalian orang-orang yang benar." [TMQ Hūd: 13]
“Or they say,”He (the Prophet) forged it (Qur’ān). Say: “Bring you then ten forged suras like unto it, and call whomsoever you can, other than Allah (to your help), if you speak the truth” [TMQ Hūd: 13]
Tantangan-Nya kepada mereka mencapai titik di mana Dia memberitahu mereka bahwa mereka tidak akan mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya. Dia berfirman:
His challenge to them reached a point where He told them that they will not be able to bring something like it. He said:
{Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain."} [TMQ Isrā’: 88]
“Say: “If the mankind and the jinns were together to produce the like of this Qur’ān, they could not produce the like thereof, even if they helped one another” [TMQ Isrā’: 88]
Maka mereka yang ditantang oleh Al-Qur'an tidak mampu mendatangkan sesuatu yang menyerupai Al-Qur'an. Ketidakmampuan mereka untuk memenuhi tantangan ini telah dibuktikan melalui riwayat-riwayat mutawatir, dan sejarah tidak mengetahui serta tidak ada seorang pun yang meriwayatkan bahwa mereka (orang-orang Arab) pernah mendatangkan sesuatu yang menyerupainya.
So those challenged by the Qur’ān were unable to being something like the Qur’ān, their inibility to meet this challenge has been proven via recurrent reports (mutawatir) and history has no knowledge of and nor has anybody narrated a report that they (the Arabs) did bring something like it.
Tantangan ini tidak khusus bagi mereka yang diajak bicara pada masa itu; sebaliknya, ia merupakan tantangan terbuka hingga hari Kiamat, karena yang diperhitungkan adalah keumuman lafaz (lafz) dan bukan kekhususan sebab (sabab). Oleh karena itu, Al-Qur'an menantang seluruh umat manusia sejak diturunkannya hingga hari Kiamat untuk mendatangkan yang serupa dengannya. Maka Al-Qur'an bukanlah mukjizat bagi bangsa Arab yang hidup pada masa Rasulullah ﷺ saja, dan tidak pula hanya bagi bangsa Arab, melainkan ia adalah mukjizat bagi seluruh umat manusia. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara satu kabilah dengan kabilah lainnya, karena seruannya ditujukan kepada seluruh umat manusia. Allah berfirman:
This challenge is not specific to those who were addressed; rather it is an open challenge until the day of Judgement because the consideration is for the generality of the wording (lafz) and not the specificity of the cause (sabab). So the Qur’ān challenges the whole of mankind since it was revealed and until the Day of Judgement to bring something like it that is why the Qur’ān is not a miracle for the Arabs who lived in the days of the Messenger only, and nor is it only for the Arabs, rather it is a miracle for the whole of mankind, In this regard there is no difference between one tribe and another because his address is to the whole of mankind. He said:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (wahai Muhammad ﷺ), melainkan untuk seluruh umat manusia" [TMQ Saba: 28]
“We have not sent you (O Muhammad (saw)), except to all of mankind” [TMQ Saba: 28]
Dan karena ayat-ayat tantangan itu bersifat umum ('amma), mereka berkata:
And because the verses of the challenge are general ('amma), they say:
“Dan panggillah siapa saja yang kalian mampu selain Allah” [TMQ Yūnus: 38]
“And call upon whomsoever you can, besides Allah” [TMQ Yūnus: 38
Ini mencakup seluruh umat manusia, dan karena Al-Qur’ān memberi tahu kita tentang ketidakmampuan manusia dan jin, Allah berfirman:
It includes the whole of mankind, and because the Qur’ān informs us of the inibility of mankind and jinn, He said:
Katakanlah: "Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya." [TMQ Isrā’: 88]
“Say: “If the mankind and the jinns were together to produce the like of this Qur’ān, they could not produce the like thereof” [TMQ Isrā’: 88]
Ketidakmampuan orang Arab untuk menghasilkan sesuatu yang serupa dengan Al-Qur'an ini, dan ketidakmampuan seluruh manusia untuk membawa sesuatu yang serupa dengannya, merupakan perkara yang melekat pada Al-Qur'an itu sendiri. Orang-orang Arab, ketika mendengarkan Al-Qur'an, mereka mendekatinya dan terpikat oleh keajaiban kefasihannya, bahkan al-Walid bin al-Mughira, yang pernah mendengar Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an, berkata kepada orang-orang:
The Arab's inibility to produce something similar to this Qur’ān, and all the people's inibility to bring something similar to it is a matter intrinsic to the Qur’ān itself. The Arabs, when they would listen to the Qur’ān, they would approach it and they were taken by the magic of its eloquence, even al-Walid ibn al-Mughira, who had heard the Prophet reciting the Qur’ān, said to the people:
"Demi Allah! Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih mengetahui syair daripada aku, atau yang lebih memahami wazan (rajaz)-nya atau qasidah-nya (puisi Arab kuno dengan struktur tiga bagian yang baku) daripada aku! Aku bersumpah! Dalam ucapan yang ia katakan terdapat kemanisan dan keindahan, dan di dalamnya terdapat keanggunan dan kefasihan. Puncaknya segar, hijau, dan rimbun, dan bagian terendahnya melimpah dan berlimpah (dengan hujan). Sesungguhnya ia adalah yang tertinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya."
‘By Allah! There is not a man amongst you who is more well-versed in poetry than me, or has more knowledge of its poetic meter (rajazihi) or qasida (ancient Arabic poem with rigid tripartite structure) than me!. I swear! In the saying that he says there is a sweetness and beauty and in it there is grace and elagence. At it’s highest is fresh green and leefy and at its lowest it is copiuos and abundant (with rain). Verily it is the highest and nothing is higher than it’,
Meskipun demikian, al-Walid tidak beriman dan tetap bertahan dalam kekufurannya. Maka, aspek kemukjizatan itu berkaitan dengan hakikat Al-Qur'an itu sendiri, karena orang-orang yang telah mendengarnya, dan orang-orang yang akan mendengarnya hingga Hari Kiamat, tercengang dan terpukau oleh kekuatan kefasihannya hanya dengan mendengarkannya, meskipun hanya satu kalimat.
This despite the fact that al-Walid did not believe and persisted with his kufr. So the aspects of the miracle relate to the nature of the Qur’ān itself because those who have heard it and those who will hear it until the Day of Judgement are baffled and bewildered by the power of its eloquence by just simply listening to it, even if it is just one sentence:
"Milik siapakah kerajaan pada hari ini?" [TMQ Fussilat: 16]
“And whose is the kingdom this day?” [TMQ Fussilat: 16]
Pada Hari Kiamat, seluruh bumi akan digenggam oleh Tangan-Nya [TMQ al-Zumar: 67]
“On the Day of Resurrection the whole of the earth will be grasped by His Hand” [TMQ al-Zumar: 67]
“Jika engkau khawatir akan adanya pengkhianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian (mereka) kepada mereka (agar kalian) berada pada posisi yang setara.” [TMQ alAnfāl: 58]
“If you fear treachery from any people throw back (their covenant) to them (so as to be) on equal terms” [TMQ alAnfāl: 58]
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan taatlah kepada-Nya! Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat dahsyat. Pada hari kamu melihatnya, setiap wanita yang menyusui akan melalaikan bayi yang disusuinya, dan setiap wanita yang hamil akan melahirkan kandungannya, dan kamu akan melihat manusia seperti orang mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” [TMQ al-Hajj: 1]
“O mankind! Fear your Lord and be dutiful to Him! Verily, the earthquake of the Hour (of Judgement) is a terrible thing. The Day you shall see it, every nursing mother will forget her nurseling, and every pregnant one will drop her load, and you shall see mankind as in a drunken state, yet they will not be drunken, but severe will be the Torment of Allah” [TMQ al-Hajj: 1]
Dan dengan demikian sebuah ayat atau ayat-ayat Al-Qur'an akan dibacakan. Kata-kata, gaya bahasa, dan tujuannya sepenuhnya memikat dan menguasai emosi orang tersebut.
And thus an ayah or ayāt of the Qur’ān would be recited. Its words, style and purpose completely captivates and seizes the emotions of the man.
Mukjizat Al-Qur'an paling jelas tampak pada kefasihannya, kemurniannya, dan keindahan bahasanya yang luar biasa. Hal ini ditunjukkan oleh gaya bahasa Al-Qur'an yang bersifat mukjizat. Gayanya memiliki kejelasan (Wuduh), kekuatan (Quwwah), dan keindahan (Jamal) yang tidak dapat ditandingi oleh manusia. Gaya bahasa (uslub) adalah penyusunan makna dalam kata-kata yang beragam, atau cara pengungkapan untuk menonjolkan makna dengan ungkapan-ungkapan kebahasaan. Kejelasan gaya bahasa berasal dari terpancarnya makna yang dimaksudkan untuk diungkapkan dalam frasa yang digunakan untuk mengungkapkannya:
The miracle of the Qur’ān is clearest in its fluency, purity and eloquence of an astonishing level. This is indicated in the miracilous style of the Qur’ān. Its style has clarity (Wuduh), intensity (Quwwah) and beauty (Jamal) that man cannot match. Style (uslub) is the arrangement of meanings in assorted words or it is the manner of expression to highlight meanings with lingusitic expressions, and the clarity of the style comes from the projection of the meanings intended to be expressed in the phrase with which they are expressed:
"Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur'an ini, dan buatlah kegaduhan di tengah-tengah (bacaan)nya agar kalian dapat mengalahkan (bacaan itu)." [TMQ Fussilat: 26]
“And those who disbelieve say: “Listen not to this Qur’ān, and make noise in the midst of its (recitation) that you may overcome” [TMQ Fussilat: 26]
Intensitas (Quwwah) dari gaya bahasa tercermin dari pilihan kata yang sesuai dengan makna yang ingin disampaikan. Dengan demikian, makna yang halus diungkapkan dengan kata yang halus, makna yang bersifat emosional diungkapkan dengan kata yang emosional, makna yang dibenci diungkapkan dengan kata yang menunjukkan kebencian, dan seterusnya...
The intensity (Quwwah) of the style is represented by the choice of words compatible to the meaning they give. Thus, the delicate meaning is expressed with the delicate word, and the emotive meaning is expressed with the emotive word and the loathed meaning is expressed with the loathed word and so on and so forth...
"Dan mereka akan diberi minum di sana segelas (minuman) yang bercampur dengan Zanjabil (jahe, dan sebagainya), dan ada sebuah mata air di sana yang disebut Salsabil." [TMQ ad-dahr: 17-18]
“And they will be given to drink there a cup (of wine) mixed with Zanjabil (ginger, etc), and a spring there, called Salsabil” [TMQ ad-dahr: 17-18]
"Sesungguhnya Neraka Jahannam itu adalah tempat pengintaian, tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas (ath-Thaghun, yaitu mereka yang melanggar batas-batas yang ditetapkan Allah). Mereka akan tinggal di dalamnya selama berabad-abad." [TMQ An-Naba: 21-23]
“Truly, Hell is a place of ambush, a dwelling place for the Taghun (Those who transgress the limits set by Allah). They will abide therein for ages” [TMQ An-Naba: 21-23]
"Sesungguhnya itu adalah pembagian yang sangat tidak adil" [TMQ Najm: 22]
“That indeed is a division most unfair” [TMQ Najm: 22]
"Sesungguhnya suara yang paling buruk dari segala suara adalah suara keledai" [TMQ Luqmaan: 19]
“Verily, the harshest of all voices is the voice (braying) of the ass” [TMQ Luqmaan: 19]
Adapun keindahan uslub (gaya bahasa) terdapat pada pemilihan kata-kata yang paling murni dan terbaik, yang sesuai dengan makna yang disampaikannya serta dengan kata-kata dan makna-makna yang menyertainya dalam ungkapan.
As for the beauty of the uslub (style) this is to be found in the choice of the most pure and best phrases fitting with the meaning they conveyed and with the words and meanings, which accompany them in the expressions
Mungkin (sering kali) orang-orang yang kafir berharap seandainya mereka dahulu adalah orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang, dan biarkan mereka dilalaikan oleh angan-angan (palsu). Kelak mereka akan mengetahui.
“Perhaps (often) will those who disbelieve wish that they were Muslims. Leave them to eat and enjoy, and let them be preoccupied with (false) hope. They will come to know”
Orang yang menelaah Al-Qur'an akan menemukan ketinggian yang luhur, yang di dalamnya gaya bahasa Al-Qur'an dicirikan dengan kejelasannya, kekuatannya, dan keindahannya. Simaklah kejelasan, kekuatan, dan keindahan ini:
The one who examines the Qur’ān will find a lofty elevation in which the style of the Qur’ān is characterised in terms of its clarity, intensity and beauty. Listen to this clarity, intensity and beauty:
Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang memberi penerangan (dari Allah), dengan memalingkan lehernya karena sombong, untuk menyesatkan (orang lain) dari jalan Allah. [TMQ al-Hajj: 8- 9]
“And among men is he who disputes about Allah, without knowledge or guidance, or a Book giving light (from Allah,- Bending his neck in pride, and leading (others) too (far) astray from the Path of Allah” [TMQ al-Hajj: 8- 9]
"Kedua golongan yang berseteru ini (orang-orang beriman dan orang-orang kafir) saling bertengkar tentang Tuhan mereka; maka adapun orang-orang yang kafir, akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api. Di atas kepala mereka akan dituangkan air yang mendidih. Dengan air itu akan meleleh atau hancur apa yang ada di dalam perut mereka, begitu pula kulit mereka. Dan bagi mereka disediakan cambuk-cambuk dari besi (untuk menyiksa mereka). Setiap kali mereka hendak keluar darinya karena sangat menderita, mereka akan dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa api yang membakar."" [TMQ al-Hajj: 19-22]
“These two opponents (believers and disbelievers) dispute with each other about their Lord; then as for those who disbelieve, garments of fire will be cut out for them, boiling water will be poured down over their heads. With it will melt or vanish away what is within their bellies, as well as their skins. And for them are hooked rods of iron (to punish them). Every time they seek to get away therefrom, from anguish, they will be driven back therein, and (it will be) said to them: “Taste the torment of burning” [TMQ al-Hajj: 19-22]
"Wahai manusia! Telah dibuat sebuah perumpamaan, maka dengarkanlah ia (dengan saksama): Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka berkumpul untuk itu. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan kuasa merebutnya kembali dari lalat itu. Lemahlah yang menyembah dan yang disembah." [TMQ al-Hajj: 73]
“O mankind! A similitude has been coined, so listen to it (carefully): Verily! Those on whom you call besides Allah, cannot create (even) a fly, even though they combine together for the purpose. And if the fly snatched away a thing from them, they wouldhave no power to release it from the fly. So weak are (both) the seeker and the sought” [TMQ al-Hajj: 73]
Al-Qur'an adalah suatu jenis ungkapan (tiraz) yang khas. Susunan katanya (nazm) tidak mengikuti metode syair yang berwazan dan berqafiyah (As-shi'r al-mawzun al-muqaffa), tidak pula mengikuti metode prosa bebas (An-nathm al-mursal), tidak juga mengikuti metode an-nathr al-muzdawij (yang memiliki kemiripan ganda dengan prosa berirama dan prosa bebas), atau an-nathr al-masjooh (prosa berirama). Ia merupakan gaya yang unik, yang belum pernah dijumpai oleh bangsa Arab sebelumnya. Bangsa Arab, karena pengaruh luar biasa yang ditimbulkan Al-Qur'an terhadap mereka, tidak mengetahui dari aspek mana Al-Qur'an mencapai sifat mukjizatnya (i'jaz). Maka mereka mulai mengatakan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
The Qur’ān is a special genre (tiraz) of expression. Its arrangement of words (nazm) does not follow the standard method of metrical and rythmic poetry (As-shi'r al-mawzun al-muqaffa), nor is it according to the method of free prose (An-nathm al-mursal), nor is it on the method of an-nathr al-muzdawij (has dual resemblance to rhymed and free prose) or an-nathr al-masjooh (rhymed prose). It is a unique style, which the Arabs had never come across before. The Arabs, due to the extraordinary effect that the Qur’ān had on them did not know from what aspect did the Qur’ān reach this wondrous nature (i'jaz). So they started to say, as has been mentioned in the Qur’ān:
"Ini sungguh sihir yang nyata" [TMQ Yūnus: 76]
“This is indeed clear magic” [TMQ Yūnus: 76]
Mereka mulai mengatakan bahwa ini adalah perkataan seorang penyair dan bahwa dia adalah seorang tukang tenung. Karena itulah Allah membantah mereka ketika Dia berfirman:
And they began to say that these were the words of a poet and that he is a soothsayer. That is why Allah replied to them when he said:
"Itu bukan perkataan seorang penyair; sedikit sekali kalian beriman! Dan bukan pula perkataan seorang dukun; sedikit sekali kalian mengambil pelajaran!" [TMQ Haaqqah: 41-42]
“It is not the word of a poet, little is that you belive! Nor is it the word of a soothsayer, little is that you remember!” [TMQ Haaqqah: 41-42]
Fakta bahwa Al-Qur'an memiliki genre yang khas dan struktur yang unik jelas terlihat dalam segala aspek. Maka Anda akan mendapati Al-Qur'an berfirman:
The fact that the Qur’ān is of a special genre and a unique structure is clear in every respect. So you will find the Qur’ān saying:
(Allah) akan menghinakan mereka dan memberikan kemenangan kepadamu atas mereka, dan menyembuhkan hati kaum mukmin [TMQ Tawba: 14]
“(Allah) will disgrace them and give you victory over them and heal the breasts of a believing people” [TMQ Tawba: 14]
Dan disebutkan
And it says
"Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebajikan (al-birr) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai" [TMQ Imrān: 92]
“By no means shall you attain peity (al-birr) unless you spend (in Allah's Cause) of that which you love” [TMQ Imrān: 92]
Ini adalah prosa yang mendekati puisi, sebab jika dua kalimat ini disusun, maka keduanya akan menjadi dua bait syair dengan cara berikut:
This is prose that is close to poetry, for if the two verses were arranged then they would be two verses of poetry in the following manner:
Wayukhzihim wayansurkum alaihim wayashfi sodoora qawmin mu’mineen. Lan tanalo el-birra hatta tunfiqo mimma tohibboon. Catatan: teks ini berupa transliterasi ayat Al-Qur'an, dan pada teks sumber tidak ada terjemahan bahasa Inggris yang dapat diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia. Jika Anda mengirimkan teks terjemahan bahasa Inggris dari ayat tersebut, saya akan menerjemahkannya.
Wayukhzihim wayansurkum alaihim wayashfi sodoora qawmin mu’mineen. Lan tanalo el-birra hatta tunfiqo mimma tohibboon.
Namun ayat-ayat ini bukan puisi, melainkan sejenis prosa yang khas. Ketika Anda menemukan Al-Qur'an menyebut jenis prosa seperti ini,
However these verses are not peotry, but rather a type of prose which is unique. When you find the Qur’ān saying this type of prose
"Demi langit dan at-Tariq (yang datang pada malam hari, yaitu bintang yang bersinar terang); dan tahukah kamu apakah at-Tariq (yang datang pada malam hari) itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus; Tidak ada seorang pun melainkan ada penjaga atasnya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan! Dia diciptakan dari air yang memancar — yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada." [TMQ Taariq: 1-7]
“By the heaven, and at-Tariq (the night-comer, that is, the bright star); and what will make you to know what at-Tariq (night-comer) is? (It is) the star of piercing brightness; There is no human being but has a protector over him (or her). So let man see from what he is created! He is created from a water gushing forth - . Proceeding from between the back-bone and the ribs” [TMQ Taariq: 1-7]
Yang ini berbentuk prosa, dan sama sekali jauh dari puisi dalam segala aspek. Anda juga menemukan kalimat yang berbunyi:
Which is prose, and far from poetry in every respect. You also find it saying:
"Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan agar ditaati dengan izin Allah. Dan sekiranya mereka (orang-orang munafik), ketika mereka menzalimi diri mereka sendiri, datang kepadamu (Muhammad ﷺ) lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." [TMQ Nisā’: 64]
“We sent no Messenger, but to be obeyed by Allah's leave If they (hypocrites), when they had been unjust to themselves, had come to you (Muhammad (saw)) and begged Allah's forgiveness, and the Messenger had begged forgiveness for them: indeed, they would have found Allah All-Forgiving, Most Merciful” [TMQ Nisā’: 64]
"Tidak, demi Tuhanmu, mereka tidak akan beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam setiap perselisihan di antara mereka, dan mereka tidak mendapati dalam diri mereka rasa keberatan terhadap keputusanmu, serta menerimanya dengan penuh kepasrahan." [TMQ Nisā’: 65]
“But no, by your Lord, they can have no imān, until they make you the judge in all disputes between them, and find in themselves no resistance against your decisions, and accept them with full submission” [TMQ Nisā’: 65]
Ini juga memperpanjang bagian tersebut dan gaya prosanya dalam ucapannya:
It also lengthens the passage and style in prose in its saying:
Demi matahari dan sinarnya di pagi hari; dan demi bulan apabila mengikutinya; dan demi siang apabila menampakkannya; dan demi malam apabila menutupinya. [TMQ Shams: 1-4]
“And by the sun and its brightness; And by the moon as it follows the sun; And by the day as it shows up (the sun's) brightness; And by the night as it conceals it (the sun)” [TMQ Shams: 1-4]
Ia juga memendekkan kalimat dan ritme (nafas) dalam prosa, meskipun keduanya sama-sama merupakan contoh prosa dalam bentuk paragraf. Terkadang Anda akan mendapatinya kreatif dalam prosa bebas, sehingga ia pun bebas dalam tuturan. Demikianlah yang dikatakan:
It also shortens the passage and breath (nafas) in prose, even though both are examples of prose in the form of passage. At times you will find it creative in free prose, thus it will be free in speech. So it says:
“Wahai Rasul! Janganlah engkau dibuat sedih oleh orang-orang yang bergegas dalam kekafiran, yaitu dari mereka yang berkata: ‘Kami beriman,’ dengan mulut mereka, padahal hati mereka tidak beriman. Dan di antara orang-orang Yahudi ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan kebohongan dan sangat suka mendengarkan kaum lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah ucapan dari tempat-tempatnya; mereka berkata: ‘Jika kamu diberi ini, maka ambillah, tetapi jika kamu tidak diberi ini, maka waspadalah!’ Dan barang siapa yang Allah kehendaki untuk ditimpakan fitnah (kesesatan), engkau tidak dapat berbuat apa pun untuknya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang tidak Allah kehendaki untuk menyucikan hati mereka; bagi mereka ada kehinaan di dunia dan di akhirat mereka ada azab yang besar.” [TMQ Mā’idah: 41]
“O Messenger! Let not those who hurry to fall into disbelief grieve you, of such who say: “We belive” with their mouths but their hearts have no faith. And of the Jews are men who listen much and eagerly to lies - listen to others who have not come to you. They change the words from their places; they say,”If you are given thsi, take it, but if you are not given thsi, then beware!” And whomsoever Allah wants put in fitna (error), you can do nothing for him agisnt Allah. Those are the ones whose hearts Allah does not want to purify; for them there is a disgrace in this world, and in the Hereafter a great torment” [TMQ Mā’idah: 41]
Anda akan mendapatinya kreatif dalam prosa berirama, maka ia akan berbicara dalam prosa berirama. Maka ia berkata:
You will find it creative in rhymed prose, thus it will speak in rhymed prose. So it says:
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad ﷺ)! Bangunlah dan berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan tinggalkanlah perbuatan dosa (berhala)! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan bersabarlah demi (memenuhi perintah) Tuhanmu.” [TMQ Muddathir: 1-7]
“O you (Muhammad (saw)) enveloped (in garments)! Arise and warn! And your Lord (Allah) magnify! And your garments purify! And keep away from ar-rujz (the idols)! And give not a thing in oreder to have more (or consider not your deeds of Allah's obedienceas a favour to Allah). And be patient for the sake of your Lord” [TMQ Muddathir: 1-7]
Anda akan mendapatinya lebih unggul dalam izdiwaj (prosa dengan rima yang berurutan namun berbeda).
You will find it superior in izdiwaj (prose with successive but different rhyms) so it says:
"Hirs untuk memperbanyak harta duniawi telah melalaikan kalian, hingga kalian mengunjungi kuburan-kuburan. Sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui. Sekali lagi, sekali-sekali tidak! Kelak kalian akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Seandainya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Sungguh, kalian benar-benar akan melihat api yang menyala-nyala!" [TMQ Takaathur: 1-6]
“The mutual rivalry for piling up of wordly things diverts you. Until you visit the graves. Nay! You shall come to know! Again, Nay! You shall come to know! Nay! If you knew with a sure knowledge. Verily, you shall see blazing fire!” [TMQ Takaathur: 1-6]
Anda akan mendapatinya memanjangkan pernikahan, sebagaimana Al-Qur'an menyatakan:
You will find it lengthening the izdiwaj, so the Qur’ān states:

"Celakalah manusia (yang kafir)! Betapa ingkarnya dia! Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani Dia menciptakannya, lalu menentukan baginya kadar (kejadian)nya; kemudian jalan (kehidupan) dimudahkan baginya; kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur; kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali tidak! Manusia belum melaksanakan apa yang Dia perintahkan kepadanya. Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit) dengan melimpah, kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan di bumi itu biji-bijian, dan anggur serta sayur-sayuran, dan zaitun serta pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rumput-rumputan." [TMQ Abasa: 17-31]
“Be cursed (the disbelieving) man! How ungrateful he is! From what thing did He create him? From nutfa (semen) He craeted them, and then set him due proportion; Then He makes the Path easy for him; Then He causes him to die, and puts him in a grave; Then, when it is His Will, He will resurrect him (again). Nay, but (man) has not done what He commanded him. Then let man look at his food. That We pour forth water in abundance, and We split he earth in clefts, and We cause therin the grain to grow. And grapes and clover plants (green fodder for the cattle). And olives and date-palms. And gardens, dense with many trees. And fruits and Abba (herbage etc)” [TMQ Abasa: 17-31]
Saat melanjutkan dengan suatu rima, teks akan beralih ke jenis prosa berima yang lain. Maka ketika melanjutkan rima dalam contoh berikut:
Whilst proceeding on a certain rhyme it will move to another type of rhyme prose. So while prooceeding in rhyme in the following:
"Maka apabila sangkakala ditiup, maka itulah hari yang sulit, bagi orang-orang kafir tidaklah mudah." [TMQ Muddathir: 8-10]
“Then, when the Trumpet is sounded; Truly, that Day will be Hard Day. Fra from easy for the disbelievers” [TMQ Muddathir: 8-10]
Ia akan meninggalkannya pada ayat berikutnya, sehingga disebutkan:
It will abandon it in the verse immediately after it, so it says:
"Biarkanlah Aku (yang akan mengurus) orang yang Aku ciptakan sendirian itu (yaitu al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi)! Lalu Aku berikan kepadanya harta yang melimpah! Dan anak-anak yang selalu bersamanya! Dan Aku mudahkan serta lapangkan kehidupannya! Setelah semua itu, ia masih ingin agar Aku menambahnya; Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras kepala. Aku akan membebaninya dengan azab yang berat!" [TMQ Muddathir: 11-17]
“Leave Me Alone (to deal) with whom I created Alone (that is, al-walid ibn al-Mughira al-Makhzumi)! And then granted him resources in abundance. And children to be by his side! And made life smooth and comfortable for him! After all that he desires - that I should give more; Nay! Verily, he has been stubborn and opposing Our Ayaat (signs/proofs). I shall oblige him to face a severe torment!” [TMQ Muddathir: 11-17]
Kemudian ia akan berpindah dari rima ini ke jenis lain pada bait yang langsung mengikutinya, sehingga disebutkan:
Then it will move from this rhyme to another type in the verse that immediatley follows it, so it says:
Sesungguhnya dia berpikir dan merencanakan; Maka celakalah dia, bagaimana dia merencanakan! Kemudian dia berpikir lagi; Lalu dia mengerutkan dahi dan memasang wajah masam; Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. [TMQ Muddathir: 18-23]
“Verily, he thought and plotted; So let him be cursed, how he plotted! Then he thought;Then he frowned and he looked in bad tempered way; Then he turned back and he was proud” [TMQ Muddathir: 18-23]
Dengan cara ini, telitilah seluruh Al-Qur'an, niscaya engkau tidak akan mendapatinya mengikuti sesuatu pun dari cara yang terkenal di kalangan bangsa Arab, baik dalam syair maupun prosa dengan berbagai jenisnya, dan tidak pula menyerupai satu pun ucapan orang Arab atau bangsa lainnya.
In this manner examine the whole Qur’ān, you will not find it adhering to anything from the well-known way of the Arabs in terms of poetry or prose in their various types, and nor does it resemble any saying from the sayings of the Arabs or any other people.
Maka Anda akan mendapati gayanya jelas, kuat, dan indah, yang menyampaikan makna dengan cara ungkapan yang melukiskan makna itu dengan gambaran yang paling tepat. Ketika maknanya halus, Anda akan menemukan ia berkata:
Then you will find its style is clear, intense and beautiful which renders meanings in a manner of expression which depicts the meanings in the most accurate of depictions. When the meaning is delicate you find it saying:
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (takut kepada Allah) akan ada kemenangan (surga); kebun-kebun dan buah anggur. Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Dan piala yang penuh (berisi minuman)." [TMQ Naba: 31-34]
“Verily, for the Muttaqun (Godfearing), there will be a success (Paradise); Gardens and grapeyards. And maidens of equal age. And a full cup (of wine)” [TMQ Naba: 31-34]
Your message is "Using delicate words and soft, flowing sentences." It is a text to translate, so here is the Indonesian translation: "Dengan kata-kata yang halus dan kalimat-kalimat yang lembut serta mengalir."
Using delicate words and soft, flowing sentences.
Dan ketika maknanya kuat dan tegas, seseorang akan mendapati ungkapan yang berbunyi:
And when the meaning is forceful, one will find it saying:
"Sesungguhnya Neraka Jahannam adalah tempat pengintaian, tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas (Ath-Thaghun), yaitu orang-orang yang melanggar batas-batas yang ditetapkan Allah. Mereka tinggal di dalamnya selama berabad-abad. Di sana mereka tidak merasakan kesejukan, dan tidak pula minuman, kecuali air yang mendidih dan nanah yang kotor, sebagai balasan yang setimpal (sesuai dengan kejahatan mereka)." [TMQ Naba: 21-26]
“Truly, Hell is a place of ambush, a dwelling place for the Taghun (Those who transgress the limits set by Allah). They will abide therein for age, nothing cool shall they taste therin, nor any drink. Except boiling water, and dirty wound discharges. An exact recompense (according to their evil crimes)” [TMQ Naba: 21-26]
Demikianlah, ia menggunakan kata-kata yang agung dan kalimat-kalimat yang kuat. Dan ketika maknanya menyenangkan, ia menggunakan kata-kata yang menyenangkan pula, maka ia berkata:
Thus using grand words and strong sentences. And when the meaning is pleasant it uses pleasant words, so it says:
"Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke singgasana, dan mereka tersungkur di hadapannya dalam keadaan sujud." [TMQ Yoosuf: 100]
“And he raised his parents to the throne and they fell down before him prostrate” [TMQ Yoosuf: 100]
Dan ketika maknanya tercela, ia disertai dengan kata yang sesuai untuk makna tersebut, maka dikatakan:
And when the meaning is objectionable it comes with the appropriate word for this meaning, so it says:
"Apakah untuk kalian anak laki-laki dan untuk-Nya anak perempuan? Itu tentu pembagian yang sangat tidak adil." [TMQ Najm: 22]
“Is it for you the males and for Him the females? That indeed is a division most unfair” [TMQ Najm: 22]
Dan dikatakan:
And it says:
"Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." [TMQ Luqman: 19]
“And lower your voice. Verily, the harshest of all voices is the voice (braying) of the ass” [TMQ Luqman: 19]
Penyampaian makna disertai dengan gaya ungkapan yang melukiskan makna tersebut, dengan memperhatikan kata-kata yang memiliki irama yang menggetarkan jiwa ketika memahami dan menangkap maknanya. Karena itu, bagi pendengar yang memahaminya, gaya ini menimbulkan rasa takjub dan kerendahan hati yang mendalam, disebabkan kedalaman maknanya dan keindahan ungkapannya, sampai-sampai sebagian ahli sastra Arab yang fasih hampir bersujud di hadapannya, meskipun mereka kafir dan keras kepala.
The rendering of meaning had been accompanied with this manner of expression which depicts the meanings, giving attention to words which have the rhyme that moves the soul when conceiving the meanings and comprehending them. That is why it evokes in the listener who comprehends, due to the depth of its meanings and the eloquence of its expression a deep sense of awe humility until some of the eloquent Arab thinkers almost prostrated before it despite their disbelief and obstinacy.
Maka sungguh, orang yang menelaah kata-kata Al-Qur’an dan kalimat-kalimatnya akan mendapati bahwa Al-Qur’an memberi perhatian, dalam merangkai huruf-huruf, pada bunyi yang keluar dari tempat artikulasinya. Maka huruf-huruf yang berdekatan dalam artikulasinya ditempatkan saling berdekatan dalam suatu kata atau kalimat. Dan ketika terdapat jarak antara titik-titik artikulasi, keduanya dipisahkan dengan suatu huruf yang menghilangkan keganjilan peralihan itu. Pada saat yang sama, hal itu membuat suatu huruf terasa enak diucapkan dan ringan didengar ketika diulang, seperti refrain dalam musik. Al-Qur’an tidak mengatakan “kal ba'iq a-mudfiq” melainkan “kasayyib”. Dan tidak mengatakan “al-hu'khu'” melainkan “sundusu khudrin”. Ketika diperlukan penggunaan huruf-huruf yang letaknya berjauhan satu sama lain untuk suatu makna yang sesuai dengannya dan tidak ada yang lain yang memberikan makna itu seperti kata “deeza”, maka tidak ada gunanya menggunakan kata “zalima” atau “ja'ira” sebagai gantinya, meskipun maknanya sama. Selain ketepatan penggunaan ini, huruf yang berulang secara harmonis jelas terlihat pada ayat-ayat dengan frekuensi tertentu. Ayat Kursi, misalnya, memiliki huruf lam yang diulang di dalamnya sebanyak 23 kali secara indah, dengan pengaruh pada pendengaran sedemikian rupa sehingga membuat orang menajamkan telinga dan ingin mendengar lebih banyak.
Then, indeed the one who scrutinises the words of the Qur’ān and its sentences will find that the Qur’ān gives attention to, when placing letters together, the sounds that come out from their places of articulation. So the letters close to each other in articulation are placed close to each other in a word or sentence. And when there is a gap betwen the points of articulation, they are separated with a letter which eliminates the strangeness of the transition. And at the same time it makes a letter pleasant in articulation and light on the ears to be repeated like the chorus in music. It does not say 'kal ba'iq a-mudfiq' but 'kasayyib'. Nor does it say 'al-hu'khu'' but 'sundusu khudrin'. And when it is necessary to use letters which are placed distanced from each other in a meaning which befits it and nothing else gives that meaning like the word 'deeza', there is no point in using the word 'zalima' or 'ja'ira' in its place even though the meaning is one. In additon to this precision in usage, the letter which is in chorus is clearly found in verses with some frequency. The Verse of the Throne (ayatul kursiyy) for example has the letter lam repeated in it 23 times in a pleasant manner which has an impact on the hearing such that it makes people prick up their ears and want to hear more.