2. Akidah Islam
2. The Islamic Aqidah
Akidah Islam adalah iman (keyakinan positif) kepada Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan Hari Kiamat, serta kepada al-qadā' wa'l-qadar, yakni yang baik dan yang buruk berasal dari Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. Makna iman adalah pembenaran yang pasti [tasdiq jazim] yang sesuai dengan kenyataan dan lahir dari dalil, karena pembenaran yang tidak memiliki dalil bukanlah iman. Tidak ada pembenaran yang pasti kecuali atas dasar dalil. Dengan demikian, jika tidak ada dalil, maka tidak ada kepastian [jazm]; yang ada hanyalah pembenaran terhadap suatu berita di antara berita-berita, dan itu tidak dianggap sebagai iman. Oleh karena itu, pembenaran berdasarkan dalil mutlak diperlukan agar sesuatu bersifat pasti, yaitu agar ia menjadi iman. Keberadaan dalil dengan demikian mutlak diperlukan bagi segala sesuatu yang ingin menjadi bagian dari iman, sehingga keberadaan dalil menjadi syarat dasar bagi iman, baik dalil itu sahih maupun rusak.
The Islamic ‘aqīdah (creed) is imān (positive belief) in Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, His Angels, His Books, His Messengers and the Day of Resurrection and in al-qadā’ wa‘l-qadar, the favourable and unfavourable being from Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. The meaning of imān is definitive confirmation [tasdeeq jazim] which conforms to the reality and results from evidence, because confirmation which has no evidence is not imān. There can be no definitive confirmation except on the basis of evidence. Thus if there is no evidence there can be no definitiveness [jazm]; it will be confirmation only of a report from amongst the reports, and will not be considered imān. Hence, confirmation on the basis of evidence is indispensable for something to be definitive, that is, for it to constitute imān. The presence of evidence is thus indispensable for everything all that seeks to be (a part of) imān, making the presence of evidence a foundational condition for imān, irrespective of it being sound or corrupt.
Dalil bisa bersifat aqli atau naqli (secara harfiah: yang diriwayatkan). Yang menentukan sifat dalil adalah perkara yang hendak diteliti, untuk memastikan apakah seorang Muslim wajib beriman padanya atau tidak. Jika perkara itu dapat dipersepsikan oleh indra, maka dalilnya pasti bersifat aqli dan bukan naqli. Jika perkara itu tidak dapat dipersepsikan oleh indra, maka dalilnya bersifat naqli. Karena dalil naqli sendiri ditetapkan melalui indra, yaitu bahwa ia memang merupakan dalil, maka ia pun termasuk dalam persepsi indra. Dengan demikian, penggolongan suatu dalil naqli sebagai bukti yang layak untuk diimani selalu bergantung pada pembuktian bahwa ia memang dalil, melalui dalil aqli.
Evidence [dalīl] can be either rational [aqlī] or textual [naqlī: lit. transmitted]. What determines the nature of the evidence is the subject to be examined to confirm whether or not the Muslim should have imān in it. If the subject is sensorially perceivable by the senses, its evidence will definitely be rational and not textual. If it is not sensorially perceivable then its evidence will be textual. Since the textual evidence itself is established through the senses, i.e, that it is evidence, it too falls under sense-perception. Then the categorisation of evidence as a textual proof fit for imān is invariably dependent upon proving it as evidence through rational proof.
Ketika meneliti perkara-perkara yang dituntut oleh 'aqīdah Islam untuk diimani, seseorang mendapati bahwa iman kepada Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ dicapai melalui dalil rasional, karena objeknya, yaitu keberadaan Pencipta bagi makhluk-makhluk yang nyata dan dapat dipersepsi, dapat dipersepsi dan dapat dijangkau oleh indera. Berbeda dengan itu, iman kepada malaikat dicapai melalui dalil tekstual, karena keberadaan malaikat tidak dapat dipahami oleh indera; baik malaikat itu sendiri maupun sesuatu yang menunjukkan keberadaan mereka tidak dapat dipersepsi secara indrawi. Adapun iman kepada Kitab-kitab, maka perlu diteliti: jika yang dimaksud adalah iman kepada Al-Qur'an, maka dalilnya bersifat rasional, karena Al-Qur'an dapat dipersepsi secara indrawi sebagaimana kemukjizatannya [i'jāz], di setiap zaman. Jika yang dimaksud adalah iman kepada kitab-kitab lain seperti Taurat, Injil, dan Zabur, maka dalilnya bersifat tekstual, karena fakta bahwa kitab-kitab ini berasal (sebagai wahyu) dari Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ tidak dapat dipersepsi di setiap zaman: ia hanya dapat dipersepsi selama masa hidup para Rasul yang kepadanya kitab itu diturunkan, melalui mukjizat yang mereka bawa. Mukjizat-mukjizat ini berakhir pada akhir masa mereka; yakni, mukjizat tersebut tidak dapat dipersepsi secara indrawi setelah masa orang-orang yang menyertai mereka. Namun, yang ada adalah kabar yang menginformasikan bahwa kitab-kitab itu berasal dari Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ dan diturunkan kepada para Rasul, dan kabar itu telah diriwayatkan. Maka dalilnya bersifat tekstual, bukan rasional, karena akal tidak mampu memahami secara indrawi di setiap zaman kemukjizatannya sebagai firman Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
Upon examining the matters that the Islamic ‘aqīdah (creed) demands imān in, one finds that imān in Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, is achieved through rational proof, because its subject: the existence of a Creator for the tangible perceivable beings, is perceivable and accessible by the senses. As opposed to this, imān in the angels is achieved through textual proof because the existence of angels cannot be appreciated by the senses, neither the angels themselves nor anything that indicates their existence is sensorially perceivable. As for imān in the Books, they are examined: if what is meant is imān in the Qur’ān, then its evidence is rational because the Qur’ān is sensorially-perceivable as is its miraculousness [i’jāz], in all ages. If it is imān in the other Books such as the Taurāh, the Injīl and the Zabūr, then its evidence is textual because the fact that these Books are (revelation) from Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ is not perceiveable in all ages: it was only perceivable during the life of the Messengers to whom it was revealed, through the miracles they brought. These miracles terminated at the end of their time; i.e they are not (sensorially) perceivable after the time of those who accompanied them. Rather the report informing that they were from Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ and were revealed onto the Messengers was transmitted. So their evidence is textual and not rational because of the intellect’s inability to comprehend in all ages their miraculousness sensorially that they were the speech of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
Iman kepada seluruh Rasul itu sebanding dengan ini: bukti iman kepada Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersifat rasional, karena fakta bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ dan bahwa Al-Qur'an itu disampaikan kepada kita oleh Muhammad ﷺ dapat diindera; dengan demikian, pengamatan terhadap Al-Qur'an mengantarkan pada kesadaran bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasulullah ﷺ. Hal ini berlaku di setiap zaman dan bagi setiap generasi. Adapun iman kepada seluruh Nabi yang lain, buktinya bersifat tekstual, karena bukti kenabian mereka adalah mukjizat-mukjizat mereka yang tidak dapat diindera kecuali oleh mereka yang hidup pada masa para nabi itu. Adapun orang-orang yang datang setelah mereka hingga masa sekarang dan hingga tegaknya Hari Kiamat, mereka tidak dapat mengindera mukjizat-mukjizat itu, sehingga tidak ada bukti yang dapat diindera secara inderawi mengenai kenabian mereka; maka bukti kenabian mereka bukanlah rasional, melainkan tekstual. Bukti kenabian junjungan kita Muhammad ﷺ, yaitu mukjizatnya, dapat diindera dan dapat dijangkau oleh panca indera: yaitu Al-Qur'an; maka buktinya bersifat rasional. 14 Akidah Islam Adapun bukti Hari Kiamat bersifat tekstual, karena Hari Kebangkitan tidak dapat diindera. Tidak ada sesuatu yang dapat diindera yang menunjukkan hal itu; maka tidak ada bukti rasional baginya, melainkan buktinya bersifat tekstual. Adapun al-qadā' wal-qadar, buktinya bersifat rasional, karena al-qadā' berkaitan dengan dua hal: pertama, apa yang ditetapkan dari sistem yang ada, dan buktinya bersifat rasional karena terkait dengan Sang Pencipta; dan kedua, perbuatan manusia yang berasal darinya atau menimpanya tanpa kehendaknya. Ini adalah sesuatu yang dapat dijangkau panca indera dan dapat diindera; maka buktinya bersifat rasional. Al-qadar adalah sifat-sifat benda yang diaktifkan oleh manusia, seperti terbakar oleh api dan terpotong oleh pisau. Sifat-sifat ini dapat diakses oleh indra dan dapat dipersepsi secara indrawi. Dengan demikian, dalil atas al-qadar bersifat rasional.
Imān in all of the Messengers is comparable to this: the evidence for the imān in the Messenger Muhammad صلى الله عليه وسلم is rational because the fact that the Qur’ān is the speech of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ and that it was conveyed to us by Muhammad صلى الله عليه وسلم is accessible to the senses; thus one’s perception of the Qur’ān leads to the realisation that Muhammad صلى الله عليه وسلم is the Messenger of Allah صلى الله عليه وسلم. This is viable in all ages and for all generations. As for the Imān in all the other Prophets, its evidence is textual because the evidence of their prophethood are their miracles which are not perceivable to other than those who lived in their times. As for those who came after them until the present and until the establishment of the Hour, they cannot perceive those miracles and thus no sensorially-perceivable proof of their prophethood is available regarding them; thus the evidence of their prophethood is not rational but textual. The evidence of the prophethood of our Master Muhammad صلى الله عليه وسلم, his miracle, is perceivable by and accessible to the senses: the Qur’ān; thus the evidence is rational. 14 The Islamic ‘Aqīdah As for the evidence for the Day of judgement, it is textual, because the Day of Resurrection is not sensorially perceivable. Nothing accessible to the senses indicates it; thus no rational proof is available for it, rather its proof is textual. As for al-qadā’ wa‘l-qadar its evidence is rational because al-qadā’ is associated with two matters: first, that which is determined of the existing system and its evidence is rational since it is linked with the Creator, and the second matter being man’s action that originate from him or occur to him against his will. It is a thing accessible to the senses and is sensorially perceivable; thus its evidence is rational. Al-qadar is the attributes of things, activated by man, such as burning by fire and cutting of a knife. These attributes are accessible to the senses and are sensorially-perceivable. Thus the evidence of al-qadar is rational.
Berikut ini adalah pembahasan mengenai jenis dalil yang diperlukan dalam ‘aqīdah Islam. Adapun dalil spesifik bagi setiap unsur ‘aqīdah, maka dalil atas keberadaan Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ tampak pada segala sesuatu. Bahwa hal-hal yang dapat dipersepsi oleh indera dan dapat dipahami adalah ada, itu adalah perkara yang pasti. Bahwa hal-hal tersebut bergantung pada selain dirinya, itu juga perkara yang pasti. Dengan demikian, bahwa hal-hal itu diciptakan oleh Pencipta adalah perkara yang pasti, karena keadaan membutuhkan mereka menunjukkan bahwa mereka diciptakan: kebutuhan mereka menunjukkan adanya sesuatu sebelum mereka, maka mereka bukan azali [azalī]. Di sini tidak boleh dikatakan bahwa sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain, bukan pada “ketiadaan”, sehingga hal-hal itu saling melengkapi tetapi secara keseluruhan bersifat mandiri. Hal ini tidak boleh dikatakan, sebab objek dalil di sini adalah sesuatu yang spesifik, seperti sebuah pena, sebuah kendi, atau selembar kertas, dan lain sebagainya; dalil ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa pena, kendi, atau kertas ini diciptakan oleh Pencipta. Jelas bahwa sesuatu sebagaimana adanya bergantung pada selain dirinya, terlepas dari “yang lain” tempat ia bergantung itu. Bahwa “yang lain” tempat sesuatu itu bergantung adalah berbeda dari sesuatu itu, telah pasti melalui pengamatan indera. Ketika sesuatu bergantung pada “yang lain”, maka ditetapkan bahwa ia tidak azali; dengan demikian ia diciptakan. Juga tidak boleh dikatakan bahwa sesuatu sebagaimana adanya adalah materi dan bergantung pada materi, sehingga ia bergantung pada dirinya sendiri dan bukan pada sesuatu selain dirinya, dan dengan demikian (pada hakikatnya) ia mandiri. Hal ini tidak boleh dikatakan, sebab sekalipun kita mengakui bahwa sesuatu itu adalah materi dan bergantung pada materi, ketergantungan oleh materi itu adalah ketergantungan pada sesuatu selain materi, bukan ketergantungan pada materi itu sendiri. Hal ini terjadi karena suatu entitas materi saja tidak dapat memenuhi ketergantungan entitas materi lain; melainkan diperlukan sesuatu selain materi agar ketergantungan ini dapat terpenuhi, sehingga materi bergantung pada sesuatu yang lain, dan tidak bergantung pada dirinya sendiri. Sebagai contoh, air untuk berubah menjadi uap membutuhkan panas. Bahkan jika kita menerima bahwa panas adalah materi dan air adalah materi, keberadaan panas saja tidak cukup bagi air untuk berubah; diperlukan jumlah panas tertentu agar perubahan itu terjadi. Maka air bergantung pada jumlah panas tertentu ini. Besarnya jumlah tersebut ditetapkan oleh selain air dan selain panas, yaitu oleh selain materi, dan materi dipaksa untuk berperilaku sesuai dengannya. Dengan demikian, materi bergantung pada sesuatu yang menentukan besarannya baginya, sehingga ia bergantung pada selain materi. Oleh karena itu, ketergantungan materi pada yang bukan materi adalah fakta yang pasti; maka materi itu membutuhkan, karena diciptakan oleh Sang Pencipta. Dengan demikian, segala sesuatu yang dapat dipersepsi dan dipahami oleh indra adalah ciptaan Sang Pencipta.
This has been regarding the type of evidence required for the Islamic ‘aqīdah (creed). As for the specific evidence for each element of the ‘aqīdah (creed), then the evidence for the existence of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ is exhibited in everything. That sensorially-perceivable comprehensible things exist is a definite matter. That these things are dependent on things other than themselves is also a definite matter. Thus that they are created by a Creator is a definite matter since their being in need means that they are created: their neediness indicates to the existence of something before them; so they are not eternal [azalī]. It should not be said here that a thing is dependent on some other thing, not on a ‘non-thing’, therefore things are complementary to each other but in their totality they are independent; this should not be said because the subject of the evidence here is a specific thing such as a pen, a jug or a piece of paper etc; the evidence is intended to prove that this pen or jug or piece of paper is created by a Creator. It is clear that the thing as it is, is dependent on something other than itself, irrespective of that ‘other’ on which it depends. That this ‘other’ on which the thing depends is other than the thing is definite through sensorial observation. When a thing is dependent on some ‘other’, it is established as not eternal: thus it is created. Nor should it be said that a thing as it is, is matter and is dependent on matter, thus being dependent on itself and not on something other than itself, and thus (in reality) is independent. This should not be said because even if we concede that a thing is matter and depends on matter, this dependence by matter is dependence on something other than matter not dependence on matter itself. This is so because an entity of matter alone cannot complement the dependence of another entity of matter; rather something other than matter is needed for this dependence to be complemented, and thus matter is dependent on something else and not on itself. For example, water in order to transform into vapour needs heat. Even if we conceded that heat is matter and water is matter, the mere availability of heat is not adequate for water to transform; a specific amount of heat is needed for transformation to take place. So water is dependent on this specific amount of heat. The magnitude of this amount is imposed by other than the water and other than the heat, that is, by other than matter, and matter is compelled to behave according to it. Thus matter is dependent on that which determines the magnitude for it and so it is dependent on other than matter. Hence the dependence of matter on non-matter is a definite fact; thus matter is needy, being created by a Creator. Therefore all sensorially perceivable comprensible things are created by a Creator.
Sang Pencipta harus bersifat kekal tanpa permulaan, karena jika Ia tidak kekal, Ia akan menjadi makhluk, bukan Pencipta; dengan demikian, menjadi Pencipta mutlak memerlukan sifat kekal. Pencipta pasti bersifat kekal. Setelah meneliti hal-hal yang mungkin dianggap sebagai Pencipta, jelas bahwa satu-satunya wujud yang mungkin menjadi Pencipta adalah Materi, Alam, atau Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
The Creator has to be eternal with no beginning, because if He were not eternal, He would be a creation not a Creator; thus being a Creator invariably requires being eternal. The Creator is necessarily eternal. Upon examining the things that might be considered as being the Creator, it is clear that the only beings which could possibly be the Creator are Matter, Nature or Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
Adapun materi sebagai Pencipta, maka hal ini salah karena apa yang telah dijelaskan (di atas) bahwa materi bergantung pada Zat yang menetapkan baginya ukuran-ukuran/kadar-kadarnya agar perubahan benda-benda dapat terjadi; karena itu materi tidak azali, dan sesuatu yang tidak azali tidak mungkin menjadi Pencipta. Adapun Alam sebagai Pencipta, maka ini pun salah, karena Alam adalah kumpulan benda-benda serta sistem yang mengatur benda-benda tersebut sehingga setiap benda di alam semesta berperilaku sesuai dengan sistem ini. The Islamic Personality Vol.1 15
As for matter being the Creator, then this is false because of what has been explained (above) that matter is dependent on the one who determines for it the proportions/magnitudes in order for the transformation of things to occur; hence it is not eternal and that which is not eternal cannot be a Creator. As for Nature being the Creator, then this too is false, because Nature is the collection of things and the system that regulates them such that every thing in the universe behaves in accordance with this system. The Islamic Personality Vol.1 15
Peraturan ini tidak berasal dari sistem semata, karena tanpa hal-hal yang diatur tidak akan ada sistem. Juga tidak berasal dari hal-hal itu, karena keberadaan semata dari hal-hal tersebut tidak serta-merta dan secara spontan menghasilkan sebuah sistem; dan keberadaan mereka tidak menyebabkan mereka diatur tanpa adanya pengatur. Tidak pula berasal dari gabungan hal-hal tersebut dengan sistem, karena pengaturan tidak terjadi kecuali sesuai dengan keadaan tertentu yang memaksa baik sistem maupun hal-hal tersebut. Keadaan tertentu dari hal-hal dan sistem inilah yang membuat pengaturan menjadi mungkin. Keadaan tertentu itu dibebankan kepada hal-hal dan sistem, dan pengaturan hanya dapat terjadi sesuai dengannya. Maka, ia tidak berasal dari hal-hal, atau dari sistem, atau dari gabungan keduanya; karenanya ia berasal dari sesuatu selain mereka. Dengan demikian, Alam, yang tidak dapat berfungsi kecuali sesuai dengan keadaan yang dibebankan kepadanya, bersifat bergantung, dan oleh karena itu ia tidak kekal, dan sesuatu yang tidak kekal tidak dapat menjadi Pencipta. Kita menyimpulkan bahwa Pencipta adalah Dia yang memiliki sifat wajib, yaitu Kekal. Dialah Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
This regulation does not come from the system alone, because without the things to be regulated there would be no system. Nor does it come from the things because the mere existence of things does not inevitably and spontaneously result in a system; nor does their existence cause them to be regulated without a regulator. Nor does it come from the sum of the things and the system, because regulation does not happen except in accordance with a specific situation that compels both the system and the things. This specific situation of the things and the system is what makes regulation possible. The specific situation is imposed on the things and the system and regulation can happen only in accordance with it. It does not come from the things or from the system or from the sum of the two; hence it comes from something other than them. Thus Nature, which cannot function except in accordance with a situation that is imposed on it, is dependent, and thus it is not eternal and that which is not eternal cannot be a Creator. We conclude then that the Creator is He who has a necessary attribute of being Eternal. He is Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ .
Keberadaan Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ kemudian dapat dirasakan dan dipahami melalui indera, karena ketergantungan benda-benda yang dapat dirasakan dan dipahami kepada Yang Mahakekal menunjukkan adanya Sang Pencipta. Ketika manusia merenungkan secara mendalam makhluk-makhluk ciptaan Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, meneliti alam semesta dengan saksama, dan berusaha memahami waktu dan tempat, ia akan melihat bahwa dirinya hanyalah partikel yang sangat kecil dibandingkan dengan dunia-dunia yang bernyawa ini. Ia juga akan melihat bahwa banyak dunia ini semuanya berfungsi sesuai dengan cara-cara tertentu dan hukum-hukum yang telah ditetapkan; dari sini ia akan sepenuhnya menyadari keberadaan Sang Pencipta ini, memahami Keesaan-Nya, dan Keagungan serta Kekuasaan-Nya akan tampak jelas baginya. Ia akan menyadari bahwa segala yang ia saksikan, yaitu pergantian siang dan malam, perubahan angin, keberadaan lautan, sungai, dan benda-benda langit, tidak lain adalah bukti-bukti yang nyata dan tanda-tanda yang jelas akan keberadaan Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ serta Keesaan dan Kekuasaan-Nya. Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ berfirman,
The existence of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ then is perceivable and comprehensible by way of the senses, because the dependence on the Eternal by the perceivable comprehensible things indicates the existence of the Creator. When man deeply reflects on the creatures of Allahالله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ and examines closely the universe and attempts to comprehend time and place, he will see that he is a very minuscule particle in relation to these animated worlds. He will also see that these many worlds are all functioning in accordance with specific ways and established laws; from this he will fully realise the existence of this Creator and comprehend His Unity and His Grandeur and Capability shall be made plain to him. He will realise that all he witnesses of the contrast between day and night, of the change of the winds, the existence of the seas, rivers and celestial orbits, are nothing but rational proofs and expressive signs of the existence of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ and of His Unity and Power. He الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ says,
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dalam silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, air yang diturunkan Allah dari langit sehingga dengannya Dia menghidupkan bumi setelah matinya dan menebarkan di dalamnya segala jenis binatang, serta dalam perubahan arah angin dan awan yang tunduk di antara langit dan bumi, terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal. [TMQ Baqarah: 164]
“Behold! In the creation of the Heavens and the Earth, in the alteration of the Night and the Day, the ship which sails upon the sea with that which is of use to man, the water which Allah sends down from the sky, thereby reviving the earth after its death, and dispersing all kinds of beasts therein, and (in) the ordinance of the winds, and the clouds obedient between Heaven and Earth: are signs for people who have sense.” [TMQ Baqarah: 164]
Dan,
And,
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka sendiri yang menjadi pencipta? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak yakin (dengan sungguh-sungguh).” [TMQ Tur: 35-36]
“Were they created of nothing, or are they themselves the Creators? Or did they create the Heavens and the Earth? Nay! They have no (firm) conviction.” [TMQ Tur: 35-36]
Dengan demikian, akal lah yang memahami keberadaan Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, dan akal adalah sarana yang ditempuh untuk sampai kepada iman. Oleh karena itu, Islam mewajibkan penggunaan akal dan menjadikannya sebagai dasar penetapan [hakm] terkait iman kepada keberadaan Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. Dengan demikian, bukti keberadaan Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ bersifat rasional.
Thus it is the intellect which comprehends the existence of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ and it is the means taken to arrive at imān. Hence Islam obligated the use of the intellect and deemed it the evidence [hakm] regarding imān in the existence of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. Thus the proof of the existence of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ is rational.
Adapun mereka yang berpendapat bahwa alam itu qadīm [azali] dan kekal tanpa permulaan, serta mereka yang mengklaim bahwa materi itu kekal, tidak memiliki permulaan; mereka mengatakan bahwa alam tidak bergantung pada selain dirinya, melainkan berdiri sendiri, karena semua hal yang ada di alam ini hanyalah bentuk-bentuk berbeda dari materi; semuanya adalah materi. Ketergantungan sebagian darinya pada bagian lain sebenarnya bukanlah ketergantungan. Ketika sesuatu bergantung pada dirinya sendiri, hal itu bukanlah ketergantungan, melainkan kemandirian dari selain dirinya. Dengan demikian, materi itu kekal tanpa permulaan, karena ia berdiri sendiri; yakni alam itu kekal, berdiri sendiri, dan tidak bergantung pada selain dirinya.
As for those who advocate the timelessness [qadm] of the world and that it is eternal with no beginning, and those who claim that matter is eternal, having no beginning; they say that the 16 The Islamic ‘Aqīdah world is not dependent on other than itself but is self-sustained because all the things that exist in this world are (simply) different forms of matter; they are all matter. The dependence of some part of it upon another part is not (in reality) dependence. When something depends on itself this is not dependence but independence from other than itself. Thus matter is eternal, having no beginning, because it is self-sustained, that is, the world is eternal, self-sustained and independent of other than itself.
Pertama, hal-hal yang ada di dunia ini tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan atau memunculkan (sesuatu) dari ketiadaan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama; "sesuatu" itu tidak mampu menciptakan atau memunculkan dari ketiadaan. Jika ada benda lain yang melengkapinya dalam satu atau beberapa aspek, ia tetap, bersama benda lain atau benda-benda lain itu, tidak mampu untuk menciptakan atau memunculkan. Ketidakmampuannya untuk menciptakan atau memunculkan dari ketiadaan dapat diamati dengan jelas. Ini berarti bahwa ia tidak azali, karena sesuatu yang azali tidak boleh bersifat tidak mampu; ia harus bersifat mampu menciptakan dan memunculkan dari ketiadaan, yakni benda-benda yang diciptakan harus bergantung padanya agar ia dapat dianggap azali. Oleh karena itu, dunia tidak azali dan tidak pula tanpa permulaan waktu, sebab ia tidak mampu menciptakan atau memunculkan. Ketidakmampuan sesuatu untuk menciptakan dari ketiadaan merupakan bukti pasti bahwa ia tidak azali. Kedua, adalah apa yang telah kami tegaskan bahwa sesuatu bergantung pada suatu kadar tertentu yang tidak dapat ia lampaui dalam proses melengkapi kebutuhan yang lain. Penjelasannya sebagai berikut. Jika A bergantung pada B, B bergantung pada C, C bergantung pada A, dan seterusnya, maka saling ketergantungan mereka merupakan bukti bahwa masing-masing dari mereka tidak azali. Saling melengkapi atau terpenuhinya kebutuhan satu sama lain tidak terjadi secara tanpa aturan, melainkan sesuai dengan proporsi tertentu, yaitu sesuai dengan tatanan tertentu. Fakta bahwa ia tidak dapat melaksanakan pelengkapan ini kecuali sesuai dengan tatanan ini, dan bahwa ia tidak mampu berfungsi menyelisihinya, menunjukkan bahwa benda yang melengkapi tidak melengkapi secara mandiri, melainkan melengkapi menurut tatanan yang dibebankan kepadanya dan dipaksa untuk mengikutinya oleh selain dirinya. Maka yang saling melengkapi dan yang dilengkapi keduanya bergantung pada yang menetapkan bagi keduanya tatanan khusus yang menjadi cara terjadinya saling melengkapi itu. Keduanya tidak mampu bertindak melawan tatanan ini, dan pemenuhan kebutuhan pun tidak dapat terjadi kecuali sesuai dengan tatanan ini. Oleh karena itu, yang menetapkan tatanan atas keduanya adalah yang mereka butuhkan. Dengan demikian, segala sesuatu secara keseluruhan, meskipun saling melengkapi, tetap membutuhkan selain dirinya sendiri, yaitu membutuhkan yang memaksa mereka untuk tunduk pada tatanan khusus tersebut. Misalnya, air agar dapat berubah menjadi es membutuhkan panas. Maka mereka mengatakan bahwa air adalah materi, suhu adalah materi, dan es adalah materi. Dengan begitu, agar materi berubah menjadi bentuk lain, ia membutuhkan materi, yaitu membutuhkan dirinya sendiri dan bukan selain dirinya; padahal kenyataannya justru sebaliknya. Sesungguhnya agar air berubah menjadi es, ia membutuhkan panas dengan tingkat suhu tertentu, bukan sekadar panas. Panas adalah sesuatu, dan sifat air yang tidak berubah kecuali pada tingkat panas tertentu adalah sesuatu yang lain, berbeda dari panas itu sendiri. Artinya, besaran (suhu yang dibutuhkan) yang ditetapkan atas panas agar ia dapat memengaruhi dan agar air dapat dipengaruhi, tidak berasal dari air; jika tidak, air tentu akan memilih untuk dipengaruhi sesuai kehendaknya. Besaran itu juga tidak berasal dari suhu; jika tidak, suhu tentu akan memilih pengaruhnya sesuai kehendaknya. Artinya, besaran itu tidak berasal dari materi itu sendiri; jika tidak, materi tentu akan memilih untuk memengaruhi dan dipengaruhi sesuai kehendaknya. Besaran itu pasti berasal dari sesuatu selain materi. Maka materi membutuhkan yang menetapkan baginya besaran khusus yang ia perlukan untuk dapat memengaruhi atau dipengaruhi. Yang menetapkan besaran itu baginya adalah sesuatu selain dirinya. Maka materi bergantung pada selain dirinya sendiri, sehingga ia tidak azali, karena sesuatu yang azali dan tidak berawal tidak membutuhkan apa pun selain dirinya sendiri: ia tidak bergantung pada yang lain; segala sesuatu bergantung padanya. Oleh karena itu, ketiadaan kemandirian pada materi merupakan bukti yang pasti bahwa ia tidak azali, dan dengan demikian ia adalah makhluk ciptaan. Kepribadian Islam Jilid 1, hlm. 17
"Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia; begitu pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan" [TMQ-Imrān: 18]
“Allah witnesses that there is deity save He; as do the angels and those endued with knowledge, standing firm on justice” [TMQ-Imrān: 18
Dan
And
"Akan tetapi, kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan Hari Akhir, para malaikat, Kitab-kitab, dan para Nabi..." [TMQ-Baqarah: 177]
“Rather, righteousness is to believe in Allah and the Last Day, the angels, the Book and the Messengers...” [TMQ-Baqarah: 177]
Dan
And
"Dan orang-orang yang beriman: masing-masing (dari mereka) beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya..." [TMQ-Baqarah: 286]
“And the believers: each one (of them) believes in Allah, His angels, His books, and His messengers...” [TMQ-Baqarah: 286]
Dan
And
"Dan barang siapa yang mengingkari Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya." [TMQ-Nisā': 136]
“And whosoever denies Allah, His angels, His books, His messengers, and the Last Day, has gone far, far astray” [TMQ-Nisā': 136]
Mengenai bukti iman terhadap Kitab-kitab, kasus Al-Qur’an berbeda dari seluruh kitab yang diturunkan lainnya. Bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ dan bahwa ia adalah firman Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ merupakan bukti rasional. Hal ini karena Al-Qur’an adalah realitas yang dapat ditangkap oleh indera, dan akal dapat memahami fakta bahwa ia diturunkan dari Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. Al-Qur’an adalah ujaran berbahasa Arab dalam kata-kata dan kalimat-kalimatnya. Bangsa Arab memang menghasilkan wacana, yaitu puisi dalam berbagai jenisnya dan prosa dalam berbagai jenisnya. Wacana mereka terpelihara dalam kitab-kitab, dihafal, dan diriwayatkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, Al-Qur’an itu either berasal dari gaya ungkap mereka, diucapkan oleh seorang Arab yang fasih, atau berasal dari gaya ungkap yang berbeda, diungkapkan oleh selain orang Arab. Bangsa Arab either mampu menghasilkan yang serupa dengannya atau tidak mampu, meskipun ia adalah wacana berbahasa Arab. Jika bangsa Arab menghasilkan yang serupa dengannya, maka mereka mampu mendatangkan yang serupa dengannya, dan itu adalah ucapan manusia seperti mereka. Jika mereka gagal menghasilkan yang serupa dengannya, padahal ia adalah wacana berbahasa Arab, dan mereka adalah orang-orang yang paling menguasai bahasa Arab dan paling fasih di antara bangsa Arab, maka ia bukanlah ucapan manusia. Setelah meneliti Al-Qur’an dan wacana bangsa Arab, seseorang akan mendapati bahwa Al-Qur’an adalah gaya ungkap yang unik, yang tidak pernah didahului oleh apa pun yang pernah diucapkan bangsa Arab. Mereka tidak pernah menghasilkan sesuatu yang termasuk dalam kategori Al-Qur’an, baik sebelum diturunkannya, maupun sesudahnya, bahkan tidak dalam bentuk meniru atau memparodikan gayanya. Hal ini membuktikan bahwa bukan bangsa Arab yang menghasilkan wacana ini, sehingga ia adalah wacana dari selain mereka. Telah ditetapkan melalui jalur periwayatan mutawatir yang menunjukkan kepastian dan keyakinan bahwa orang-orang Arab tidak mampu mendatangkan semisal Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an telah menantang mereka untuk melakukannya. Al-Qur’an berfirman kepada mereka:
Regarding the evidence of imān in the Books, the case of the Qur’ān is different from all other revealed Books. The evidence that the Qur’ān is (revealed) from Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰand that it is the speech of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ is a rational evidence. This is because the Qur’ān is a sensorially perceivable reality and the intellect can comprehend the fact that it is (revealed) from Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. The Qur’ān is Arabic speech in its words and sentences. The Arabs did produce discourse. From it is poetry in its various types and from it is prose in its various types. Their discourse is preserved in books and had been memorised and transmitted from generation to generation. Thus the Qur’ān is either from their modes of expression, being uttered by an eloquent Arab, or it is from a different mode of expression, having being expressed by someone other than the Arabs. The Arabs are either capable of producing the like of it or are incapable of this despite the fact that it is an Arabic discourse. If the Arabs produced the like of it then they are capable of bringing the like of it and it would be the speech of humans like themselves. If they failed to produce the like of it despite the fact that it is an Arabic discourse and that they were the most well-versed in the Arab tongue and the most eloquent of the Arabs, it would not be the speech of humans. Upon examining the Qur’ān and the discourse of the Arabs, one finds the Qur’ān to be a unique mode of expression, unprecedented by anything the Arabs have said. They never produced anything that belonged to the category of the Qur’ān, neither before its revelation, nor after it, not even by way of imitation or parody of its style. This proves that it was not the Arabs who produced this discourse and thus it is the discourse of other than them. It has been established through concurrent transmission [tawātur] which bespeaks definiteness and certainty that the Arabs were incapable of producing the like of the Qur’ān although it challenged them to do so. The Qur’ān addressed them:
"Dan jika kamu ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surat semisal dengannya, dan panggillah saksi-saksimu (jika ada) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." [TMQ-Baqarah: 23]
“And if you are in doubt concerning what We have revealed unto Our slave, then produce a chapter of the like thereof; and call your witnesses (if there are any) besides Allah, if you are truthful” [TMQ-Baqarah: 23]
Dan
And
Atau apakah mereka berkata, "Dia telah membuat-buatnya!" Katakanlah: "Maka datangkanlah sebuah surah yang semisal dengannya, dan panggillah siapa saja yang dapat kalian ajak selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar!" [TMQ Yunus: 38]
“Or do they say, ‘He forged it!’ Say: ‘Bring you then a chapter like unto it, and call (to your aid) whomsoever you can besides Allah, if it be you speak the truth!’” [TMQ Yunus: 38]
Dan
And
Ataukah mereka mengatakan, "Dia telah mengada-adakannya!" Katakanlah, "Maka datangkanlah sepuluh surah yang serupa dengannya, yang diada-adakan, dan panggillah siapa saja yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar!" [TMQ Hud: 13]
“Or do they say, ‘He forged it!’ Say, ‘Bring you then ten chapters like unto it, forged, and call (to your aid) whomsoever you can besides Allah if you speak the truth!’” [TMQ Hud: 13]
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain." [TMQ-Isrā': 88]
“Say: ‘If mankind and Jinn combined (efforts) to produce the like of this Qur’ān they could not produce the like thereof, even if they backed up each other with help and support’” [TMQ-Isrā': 88]
Meskipun menghadapi tantangan yang nyata ini, mereka tetap gagal mendatangkan yang semisalnya. Jika telah terbukti bahwa Al-Qur'an tidak dihasilkan oleh bangsa Arab dan bahwa bangsa Arab gagal mendatangkan yang semisalnya, maka telah terbukti bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ dan bahwa ia adalah firman Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. Hal ini karena mustahil bagi siapa pun selain bangsa Arab untuk menghasilkannya, sebab ia adalah tuturan berbahasa Arab, dan karena ia membuat bangsa Arab tidak mampu (menandinginya). Tidak boleh dikatakan bahwa ia adalah firman Muhammad صلى الله عليه وسلم, karena Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah salah seorang dari bangsa Arab. Jika bangsa Arab yang jenius terbukti tidak mampu, maka beliau صلى الله عليه وسلم sendiri juga terbukti tidak mampu karena beliau termasuk bangsa Arab. Selain itu, setiap orang tunduk pada cara ungkap, baik dari segi kata maupun kalimat, yang berlaku pada zamannya, atau pada tuturan yang diriwayatkan dari orang-orang sebelumnya. Ketika berkreasi dalam ungkapan, ia hanya menggunakan kata-kata dan ungkapan untuk menyampaikan makna baru atau dalam gaya bahasa yang baru; tidak mungkin baginya mengungkapkan (semisal) apa yang belum pernah mendahuluinya atau belum pernah ia rasakan. Hal ini tampak jelas dalam gaya Al-Qur'an, bahwa ungkapan di dalamnya, baik dari segi kata maupun kalimat, tidak dikenal oleh bangsa Arab pada masa Nabi صلى الله عليه وسلم maupun sebelum masa beliau.
Despite this stark challenge they failed to produce the like of it. If it is proved that the Qur’ān was not produced by the Arabs and that the Arabs failed to produce the like of it, then the Qur’ān is proved to have come from Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ and that it is the speech of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. This is because it is impossible for any one other than the Arabs to have produced it, because it is an Arabic discourse, and because it rendered the Arabs incapable (of matching it). It should not be said that it is the speech of Muhammad صلى الله عليه وسلم since Muhammad صلى الله عليه وسلمis one of the Arabs, and if the Arabs as a genius are proved incapable, then he صلى الله عليه وسلم himself is proved incapable because he is one of the Arabs. Moreover, everyone is subject to the mode of expression, with respect to words and sentences, prevailing in his age or by the discourse reported from those who came before him. When being creative in expression, he only uses words and expressions to convey novel meanings or in new figures of speech; it is not possible for him to express (the like of) what has not preceded him or he has never sensed. It is evident in the style of the Qur’ān that the expression in it with respect to the words and sentences was not known by the Arabs in the time of the Prophet صلى الله عليه وسلم nor before his time.
Sebagai manusia, mustahil baginya untuk menghasilkan sesuatu yang serupa dengan apa yang belum pernah ia indera, karena hal ini merupakan kemustahilan secara akal. Mustahil bagi Muhammad ﷺ untuk menghasilkan gaya ungkapan Al-Qur'ān, baik dari segi kata maupun kalimatnya, karena ia belum pernah mengindera hal itu. Oleh karena itu, Al-Qur'ān adalah firman Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, dan Muhammad ﷺ datang membawanya dari Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ. Hal ini terbukti secara akal ketika Al-Qur'ān diturunkan, dan terbukti secara akal pula sekarang, karena Al-Qur'ān terus membuat manusia tidak mampu mendatangkan yang serupa dengannya. Ketidakmampuan ini terbukti secara indrawi dan dapat dipahami secara indrawi oleh seluruh umat manusia.
"Barang siapa dengan sengaja meriwayatkan sesuatu yang dusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap menempati tempatnya di neraka," ﷺ Note: the ﷺ is placed after the Prophet's mention in the translated sentence, as the original quotation attributes the words to him. [Reported by al-Bukhari and Muslim]
“He who intentionally reports something false concerning me, let him reside in his place in the fire,” [Reported by al-Bukhari and Muslim]
Jika ucapan Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Al-Qur'an, tidak terlihat adanya kemiripan apa pun di antara keduanya, yang membuktikan bahwa Al-Qur'an bukanlah ucapan Muhammad ﷺ; ia adalah ucapan Allah (SWT).
If the speech of Muhammad صلى الله عليه وسلم is compared with the Qur’ān, no similarity whatsoever is seen between the two, proving that the Qur’ān is not the speech of Muhammad صلى الله عليه وسلم; it is the speech of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
Perlu dicatat bahwa semua penyair, penulis, filsuf, dan pemikir dari kalangan manusia memulai karyanya dengan gaya yang masih memiliki kelemahan; gaya mereka secara bertahap membaik hingga mencapai puncak kemampuan mereka. Dengan demikian, gaya mereka naik turun antara kuat dan lemah, selain munculnya beberapa pemikiran yang remeh dan ungkapan yang klise dalam tulisan mereka. Namun kita mendapati bahwa gaya Al-Qur’ān sejak hari turunnya ayat pertama,
It is noteworthy that all poets, writers, philosophers and thinkers from the sons of man commence in a style that has some weakness; their style gradually improves until they reach the peak of their potential. Thus their style fluctuates in strength and weakness, apart from the occurrence of some frivolous thoughts and trite expressions in their texts. Yet we find that the style of the Qur’ān from the day of the revelation of the first ayah,
"Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan," [TMQ-Alaq: 1]
“Recite! In the name of your Lord and Cherisher, Who Created,” [TMQ-Alaq: 1]
Hingga hari diturunkannya ayat terakhir,
Until the day of the revelation of the last ayah,
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba yang masih belum dipungut, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." [TMQ-Baqarah: 278]
“O you who believe! Fear Allah, and give up what remains of your demand for usury, if you are indeed believers.” [TMQ-Baqarah: 278]
…berada pada puncaknya secara merata dalam hal kefasihan dan retorika, keagungan gagasan, dan kekuatan ungkapan. Anda tidak akan menemukan di dalamnya satu pun ungkapan yang klise atau satu gagasan yang remeh; ia adalah satu kesatuan yang utuh hingga bagian yang paling kecil, dan keseluruhannya, dari segi gaya, seperti satu kalimat tunggal. Inilah bukti bahwa ia bukanlah ucapan manusia, yang ucapannya rentan terhadap perbedaan dalam ungkapan dan makna, melainkan benar-benar firman Tuhan semesta alam الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
was uniformly at its peak with respect to eloquence and rhetoric, sublimity of thoughts and the vigour of expressions. You will never find in it a single trite expression or one frivolous thought; it is one homogeneous piece, to the smallest detail; its entirety is, in respect of style, just like a single sentence. This is the proof that it is not the speech of human beings, whose speech is susceptible to divergence in expressions and meanings, but it is indeed the speech of the Lord of the Worlds الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ.
Hal ini berkaitan dengan Al-Qur'an sebagai salah satu Kitab yang diturunkan, yang wajib diimani dalam Islam. Dalil tentang kitab-kitab lain yang diturunkan itu bersifat tekstual (naqli), bukan rasional (aqli). Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ berfirman,
This is regarding the Qur’ān as one of the revealed Books in which Islam requires imān. The proof of the other revealed Books is textual, not rational; Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ says,
"Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Kitab yang telah Dia turunkan kepada Rasul-Nya, serta kepada Kitab yang telah Dia turunkan sebelumnya" [TMQ-Nisā': 136]
“O you who believe! Believe in Allah and His Messenger and the Book which He has sent to His Messenger and the Book which He sent afore” [TMQ-Nisā': 136]
Dan
And
"Tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan para Malaikat, dan Kitab, dan para Nabi…" [TMQ-Baqarah: 177]
“But it is righteousness to believe in Allah and the Last Day, and the Angels, and the Book, and the Messengers…” [TMQ-Baqarah: 177]
Dan
And
Kepadamu Kami turunkan Kitab dengan benar, membenarkan apa yang sebelumnya dari Kitab-Kitab itu dan menjaganya. [TMQ-Ma'idah: 48]
“To you We sent the Book in Truth, confirming that which came before it, and controlling over it” [TMQ-Ma'idah: 48]
Dan
And
Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan dengan penuh keberkahan, yang membenarkan (wahyu-wahyu) yang datang sebelumnya.
“And this is a Book which We have sent down, bringing blessings, and confirming (the revelations) which came before it”
Dan
And
"Al-Qur'an ini tidaklah mungkin dibuat oleh selain Allah; sebaliknya, ia adalah pembenar bagi apa yang ada sebelumnya," [TMQ Yunus: 37]
“This Qur’ān is not such as can be produced by other than Allah; rather it is a confirmation of that which went before it,” [TMQ Yunus: 37]
Dengan pengetahuan Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, sesuatu terjadi sebagaimana adanya; demikianlah Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ mengetahui bahwa sesuatu akan ada sebelum ia ada, dan Dia الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ mengetahui bahwa sesuatu pernah ada ketika ia telah ada, dan Dia الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ mengetahui bahwa sesuatu tidak lagi ada ketika ia tidak lagi ada. Maka bagaimana pengetahuan Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ berubah seiring perubahan segala sesuatu? Pengetahuan yang berubah seiring perubahan hal-hal yang baru adalah pengetahuan yang baru, dan sesuatu yang baru tidak berada pada Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, karena yang dihubungkan dengan yang baru itu sendiri juga baru. Sebagian kalangan Mutakallimin menjawab hal ini dengan mengatakan: sudah jelas bahwa pengetahuan kita bahwa Zaid akan datang kepada kita berbeda dengan pengetahuan kita bahwa ia benar-benar telah datang; perbedaan ini disebabkan oleh pembaruan pengetahuan; namun hal ini berlaku pada manusia, karena manusialah yang pengetahuannya diperbarui, sebab sumber pengetahuannya, yakni penginderaan dan pemahaman, diperbarui. Adapun pada Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ
With the knowledge of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ a thing unfolds as it is; thus Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ knows that a thing will be before it is and He الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ knows that a thing was when it was and He الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ knows that a thing no longer is when it no longer is. So how does the knowledge of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ change with the change in things? The knowledge that changes with the change of recent things is a recent knowledge and a recent thing does not lie in Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ because that with which the recent is associated is itself recent. Others amongst the Mutakallimin replied to this by saying: it is self-evident that our knowledge that Zayd will come to us is other than our knowledge that he has indeed come; this distinction is due to the renewal of the knowledge; but this is applicable to man because it is he whose knowledge is renewed because the source of his knowledge, sensation and comprehension, is renewed. But with Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ
Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman; masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata: "Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasul-Nya." [TMQ-Baqarah: 285]
“The Messenger believes in what has been revealed to him from his Lord, as do the believers; each one (of them) believes in Allah, His angels, His Books, and His Messengers; We make no distinction (they say) between one and another of His Messengers” [TMQ-Baqarah: 285]
Dan
And
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrāhim, Ismā'il, Is'hāq, Ya'qūb, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Mūsa dan 'Isā, dan apa yang diberikan kepada seluruh Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada Allah." [TMQ-Baqarah: 136]
“Say: ‘We believe in Allah, and in that which has been sent down to us, and that which was sent down to Ibrāhim, Ismā'il, Is’hāq, Ya’qūb, and the Tribes, and that which was given to Mūsa and ‘Isā, and that which was given to (all) the Prophets from their Lord: we make no difference between any of them and we submit to Allah” [TMQ-Baqarah: 136]
Adapun dalil keimanan kepada Hari Akhir – Hari Kiamat – adalah dalil naqli, bukan dalil aqli, karena Hari Kiamat tidak dapat dijangkau oleh akal. Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ berfirman,
As for the evidence for the imān in the Last Day - the Day of Resurrection – it is textual evidence and not rational evidence because the Day of Resurrection is not perceivable by the mind. Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ says,
"…dan agar engkau memberi peringatan kepada Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya; dan orang-orang yang beriman kepada negeri akhirat, mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an)…" [TMQ-An’ām: 92]
“…and so that you may warn the Mother of Cities and her surroundings; and those who believe in the Hereafter, believe in it (this Qur’ān)…” [TMQ-An’ām: 92]
Dan
And
"...maka orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat, hati mereka mengingkari (untuk mengetahui), dan mereka menyombongkan diri." [TMQ Nahl: 22]
“...so those who believe not in the Hereafter, their hearts refuse to know, and they are arrogant” [TMQ Nahl: 22]
Dan
And
"…dan orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat, bagi mereka perumpamaan yang buruk." [TMQ Nahl: 60]
“…and those who believe not in the Hereafter, Thiers is the similitude of evil.” [TMQ Nahl: 60]
Dan
And
{Dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami telah menyediakan bagi mereka azab yang pedih} [TMQ-Isrā’: 10]
“And those who believe not in the Hereafter, We have prepared for them a Grievous Penalty” [TMQ-Isrā’: 10]
Dan
And
"Maka apabila sangkakala ditiup dengan sekali tiupan (yang pertama). Dan bumi serta gunung-gunung diangkat dari tempatnya, lalu keduanya dihancurkan dengan sekali hantaman. Maka pada hari itu terjadilah peristiwa (besar) itu. Dan langit terbelah, karena pada hari itu ia menjadi rapuh dan terbelah-belah. Dan para malaikat berada di segala penjuru langit; dan pada hari itu delapan malaikat memikul 'Arsy Tuhanmu di atas mereka. Pada hari itu kamu akan dihadapkan (untuk dihisab), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi." [TMQ Hāāqah: 13-18]
“ Then when the Trumpet will be blown with one blowing (the first one). And the earth and the mountains shall be removed from their places, and crushed with a single crushing. Then on that Day shall the (Great) Event befall. And the heaven will be rent asunder, for that Day it (the heaven) will be frail and torn up. And the angels will be on its sides, and eight angels will, that Day, bear the Throne of your Lord above them. That Day shall you be brought to Judgement, not a secret of you will be hidden.” [TMQ Hāāqah: 13-18]
And the Messenger of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ said,
And the Messenger of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ said,
"Iman adalah beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, perhitungan amal-Nya atas kalian, para rasul-Nya, dan beriman kepada kebangkitan (ba'ts),"
“Imān is to have imān in Allah, His Angels, His Books, His summoning you to account, His messengers and to have imān in the Resurrection [ba’th],”
Ini adalah perkara-perkara yang wajib diimani, dan jumlahnya lima: iman kepada Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta beriman juga kepada al-qadā' dan al-qadar. Tidak ada seorang pun yang dianggap memiliki iman dalam Islam atau disebut sebagai seorang Muslim kecuali ia beriman kepada kelima perkara ini dan juga kepada al-qadā' dan al-qadar. Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ berfirman,
These are the matters that one must have imān in and they are five: imān in Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ , His Angels , His Books, His Messengers and the Last Day, and to have imān also in al-qadā' and al-qadar. None is deemed to have belief (imān) in Islam or to be a Muslim unless he has imān in all of these five matters and also in al-qadā’ and al-qadar. Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ says,
"Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta Kitab yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya dan Kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Dan barangsiapa mengingkari Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya."
“O you who believe! Believe in Allah and His Messenger and the Book which He has sent to His Messenger and the Book which He sent afore. And whosoever denies Allah, His angels, His books, His messengers, and the Last Day, has gone far, far astray”
Al-Qur’an dan hadis secara eksplisit menyebutkan lima perkara ini, dengan menamai masing-masing secara jelas beserta maknanya. Penyebutan eksplisit dan pasti, dengan nama dan makna, tentang apa yang menjadi rujukan iman pada perkara lain tidak ditemukan sebagaimana ia ditemukan pada kelima perkara ini. Nash-nash yang bersifat pasti (qath'i), baik dari segi periwayatannya maupun dari segi penunjukannya, hanya ditemukan pada kelima perkara ini, dan tidak pada yang lain.
The Qur’ān and the hadīth mention these five matters explicitly, clearly naming each of them and the meaning of each. The explicit and definitive mention by name and with meaning of the referent of imān in any other matter is not found, as it is found for these matters. The texts which are definitive [qat'i] both in their transmission and in their indication are found with these five matters, and none else.
Memang benar bahwa iman kepada al-qadar disebutkan dalam hadits Jibril, dalam beberapa riwayatnya, di mana disebutkan,
It is true that imān in al-qadar was mentioned in the hadīth of Jibrīl, in some narrations of it, where it says,
“…beliau bersabda: ‘dan bahwa engkau beriman kepada al-qadar, baik yang baik maupun yang buruk darinya...’”, Diriwayatkan oleh Muslim, diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, namun hadis ini merupakan khabar āhād.
“…he said ‘and that you believe in al-qadar, both the good and the bad of it...’”, Reported by Muslim, Narrated by Umar ibn al-Khattab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, but this hadīth is a solitary report [khabr āhād].
Selain itu, yang dimaksud di sini dengan ‘al-qadar’ adalah ilmu Allah سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, bukan persoalan yang diperselisihkan, yaitu al-qadā’ wa‘l-qadar. Keimanan terhadap al-qadā’ wa‘l-qadar dengan nama ini dan dengan makna yang menjadi bahan perselisihan tidak pernah disebutkan dalam nash yang tegas. Namun, makna istilah tersebut merupakan bagian dari akidah, dan beriman kepadanya adalah wajib. Istilah itu tidak dikenal dengan nama dan makna ini pada masa Sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُ; tidak ada nash yang shahih menyebutkannya dengan nama dan makna ini. Istilah itu baru menjadi terkenal pada awal masa Tabi‘in. Sejak saat itu ia dikenal dan menjadi bahan pembahasan. Orang-orang yang memperkenalkan dan menjadikannya bahan pembahasan adalah kaum Mutakallimūn [para ahli ilmu kalam Islam]. Istilah itu tidak ada sebelum munculnya ‘Ilm ul-Kalam [ilmu kalam Islam], dan tidak pernah dibahas dengan nama ‘al-qadā’ wa‘l-qadar’ serta dengan makna yang sama, kecuali oleh kaum Mutakallimūn setelah berakhirnya abad pertama Hijriyah.
Moreover, what is intended here by ‘al-qadar’ is the knowledge of Allah الله سُبْحَانَهُۥ وَتَعَالَىٰ, not the controversial issue of al-qadā’ wa‘l-qadar. The issue of imān in al-qadā’ wa‘l-qadar by this name and with the referent that is a subject of controversy was never mentioned in a definitive text. Yet the referent of the term is part of the aqeedah (creed) and imān in it is obligatory. It was never known by this name and with this referent at the time of the Sahābah (Companions) رَضِيَ اللهُ عَنْهُ; no rigourously authenticated [sahīh] text mentions it by this name and with this referent. Rather it became famous only at the beginning of the era of the Tabi'īn. It became known and became a subject of discussion since that time. Those who introduced it and made it a subject of discussion are the Mutakallimūn [Muslim Scholastics]. It never existed before the emergence of ‘Ilm ul-Kalam [Islamic Scholasticism], and was never discussed under this name ‘al-qadā’ wa‘l-qadar’ and with the same referent except by the Mutakallimūn after the end of the first century Hijri.