12.10 Hadis Qudsi
12.10 The Ḥadīth Qudsi
Hadīts Qudsi adalah apa yang diriwayatkan kepada kita sebagai riwayat Ahad (riwayat yang disampaikan oleh perawi tunggal) dengan sanadnya yang kembali kepada Tuhannya. Itu adalah ucapan-Nya, karena disandarkan kepada-Nya, dan hal ini terdapat pada sebagian besar kasus. Penyandaran kepada-Nya kemudian merupakan penyandaran asal-usul, karena Dialah yang pertama kali mengucapkannya. Ia disandarkan kepada Nabi ﷺ karena beliaulah yang menyampaikan tentang Allah, berbeda dengan Al-Qur'an yang tidak disandarkan kepada siapa pun selain kepada-Nya. Maka dikatakan:
The Hadīth Qudsi is what has been transmitted to us as Isolated (Ahaad) reports about him with its isnād going back to his Lord . It is His speech for it is attributed to Him which is present in the majority of cases. The attribution to Him then is an attribution of origination because he is the one who spoke it first. It is attributed to the Prophet because he is the one informing about Allah which is contrary to the Qur’ān which is attributed to no one except to Him . So it is said:
"Allah berfirman"
“Allah said”
Dan dalam hadis qudsi disebutkan:
And in the hadīth qudsi it is said:
"Rasulullah ﷺ meriwayatkan dari Tuhannya."
‘The Messenger of Allah narrates from his Lord'.
Perawi hadis qudsi memiliki dua karakteristik. Pertama, ia boleh berkata:
The narrator of the hadīth qudsi has two characteristics, first is that he may say:
Rasulullah ﷺ bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya
“The Messneger of Allah said about what he narrated from his Lord”
Kedua, ia boleh berkata:
Secondly, he may say:
"Allah berfirman tentang apa yang diriwayatkan oleh Rasulullah ﷺ dari-Nya" Keduanya memiliki makna yang sama.
“Allah said concerning that which the Messenger of Allah narrated from Him” They have the same meaning.
Perbedaan antara Al-Qur'an dan hadits Qudsi adalah bahwa lafal dan maknanya berasal dari Allah ﷻ yang datang melalui wahyu yang jelas. Adapun hadits Qudsi, lafalnya berasal dari Rasulullah ﷺ dan maknanya berasal dari Allah melalui ilham atau mimpi. Lafal Al-Qur'an adalah mukjizat yang diturunkan melalui perantaraan Jibril. Hadits Qudsi bukan mukjizat dan tidak memiliki perantara. Perbedaan antara Al-Qur'an, hadits Qudsi, dan hadits-hadits selain hadits Qudsi adalah bahwa Al-Qur'an adalah lafal yang diturunkan oleh Jibril kepada Nabi ﷺ. Hadits Qudsi adalah makna pemberitahuan dari Allah ﷻ melalui ilham atau mimpi, lalu Nabi ﷺ menyampaikannya kepada manusia dengan kata-katanya sendiri. Adapun hadits-hadits lainnya, sama seperti hadits Qudsi, maknanya berasal dari Allah dan lafalnya dari Rasulullah ﷺ, namun tidak disandarkan kepada Allah ﷻ. Penamaan hadits yang disandarkan kepada Allah ﷻ sebagai hadits Qudsi adalah penamaan secara istilah.
The difference between the Qur’ān and the hadīth Qudsi is that the wording and the meaning are from Allah which has come via the clear revelation. As for the hadīth Qudsi, the wording is from the Messenger and the meaning is from Allah through ilham (inspiration) or sleep. The Qur’ān's wording is a miracle revealed via the medium of Jibreel. The hadīth Qudsi is not a miracle and is without any medium. The difference between the Qur’ān, hadīth Qudsi and ahadīth which are not ahadith Qudsi is that the Qur’ān is the wording brough down by Jibreel to the Prophet .The hadīth Qudsi is the meaning of notification of Allah through ilham (inspiration) or sleep. So the Prophet informed people of it with his own words. As for the rest of the ahadīth they are like the hadīth Qudsi in that the meaning is from Allah and the wording is from the Messenger but it is not attributed to Allah . The designation of the hadīth attributed to Allah as the hadīth Qudsi is a terminological designation.