Kitab 'Al-Waadih Fee Usool ul-Fiqh' beserta kedua jilidnya telah diselesaikan pada hari Jumat tanggal 20 bulan Ramadhan yang penuh berkah tahun 1411 Hijriah. Maka segala puji bagi Allah atas karunia dan nikmat-Nya yang membantuku untuk menyelesaikannya, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad ﷺ, Nabi-Nya dan penutup para Rasul-Nya, serta kepada keluarga dan para sahabat Nabi ﷺ.
The book ‘Al-Waadih Fee Usool ul-Fiqh’ with both of its parts was completed on the day of Jumu’ah on the 20 th of the blessed month of Ramadhaan in the year 1411 Hijrah. So all praise belongs to Allah for His favour and blessings which helped me to complete it and prayers and peace be upon Muhammad His Nabi and seal of His Messengers, and upon the Prophet’s family and companions.
Al-Haqeeqah dan Al-Majaaz (Harfiah dan Majasi)
Al-haqeeqah And Al-majaaz (literal And Metaphorical)
Jika sebuah lafaz (kata) telah disebutkan dalam teks syar'i dan lafaz tersebut mengandung kemungkinan dua makna, yaitu makna haqiqah (hakiki/literal) dan makna majaz (kiasan/metaforis), maka makna haqiqiy lebih kuat daripada makna majazi.
If a Lafzh (wording) has been mentioned within a Shar’iy text and that Lafzh is open to the possibility of two meanings, where one is the Haqeeeqah (literal) and the other the Majaaz (metaphorical), then the Haqeeqiy (literal) meaning outweighs the Majaaziy (metaphorical).
Contoh:
Example:
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Atau kalian telah menyentuh wanita dan kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah (Al-Maa'idah 6).
Or you made contact with women and you find no water, then perform Tayammum (Al-Maa’idah 6).
Lafazh ‘Laamastum’ (menyentuh/bersentuhan) memiliki dua kemungkinan makna; yang pertama adalah makna Haqeeqah, yaitu sentuhan dengan tangan, dan yang kedua adalah makna Majaaz, yaitu bersetubuh. Selama tidak ada Qareenah (petunjuk penghubung atau konotasi) dalam teks yang memalingkan makna dari makna Haqeeqiy (harfiah) ke makna Majaaziy (kiasan), maka makna Haqeeqiy lebih diutamakan daripada makna Majaaziy. Oleh karena itu, menyentuh wanita asing, sebagaimana dipahami dari ayat tersebut, membatalkan wudhu. Inilah pendapat yang diambil oleh Asy-Syaafi'iy. Namun Al-Imaam Abu Haneefah mengambil makna Majaaziy dan menganggap lafazh ‘Laamastum’ berarti ‘Jaama'tum’ (bersetubuh). Beliau berhujah dengan hadits-hadits dari Rasulullah ﷺ yang menjelaskan bahwa beliau mencium istri-istrinya lalu shalat tanpa mengulang wudhu setelah sentuhan atau kontak fisik tersebut. Adapun makna Haqeeqah, maka Al-Haqeeqah Asy-Syar'iyah dalam teks-teks syariat lebih diutamakan daripada Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah (makna harfiah secara bahasa) dan Al-Haqeeqah Al-'Urfiyah (makna harfiah secara kebiasaan), sebagaimana telah disebutkan dalam contoh di awal pembahasan ini.
The Lafzh ‘Laamastum’ (made contact/touch) is open to two possible meanings; the first is the Haqeeqah which is the touch by the hand and the other is the Majaaz meaning which is sexual intercourse. As long as there is no Qareenah (linking indication or connotation) within the text to take or divert the meaning away from its Haqeeqiy (literal) meaning to the Majaaziy (metaphorical) meaning, then the Haqeeqiy outweighs the Majaaziy. Consequently, the touching of the foreign woman – as taken from the Aayah – breaks the Wudoo’. This was the opinion taken by Ash-Shaafi’iy however Al-Imaam Abu Haneefah took the Majaaziy meaning and considered the Lafzh ‘Laamastum’ to mean ‘Jaama’tum’ (had sexual intercourse). He supported his opinion with Ahaadeeth of the Messenger of Allah (saw) which explained that he touched his women (wives) and performed the Salaah without making Wudoo’ again after the touch or coming into physical contact. As for the Haqeeqah (literal meaning), then Al-Haqeeqah Ash-Shar’iyah within the Shar’iyah texts outweighs the Haqeeqah Al-Lughawiyah (linguistic literal meaning) and the Haqeeqah Al-‘Urfiyah (customary literal meaning) as was mentioned within an example at the beginning of this subject area.
Abu Sufyaan Muhammad Hussein Abdullah 20 Ramadhan 1411 H Bertepatan dengan 05/04/1991 M Yordania
Abu Sufyaan Muhammad Hussein Abdullah 20th Ramadhaan 1411 AH Corresponding to 05/04/1991 CE Jordan