3 – Dalaalat al-Iltizaam (penunjukan makna yang menyertai secara wajib):
3 – Dalaalat ul-Iltizaam (indication of an accompanying necessary meaning:
Dalaalaat Ul-alfaazh (Dalālāt al-Alfāzh)
Dalaalaat Ul-alfaazh (the Indications Of The Alfaazh)
Lafaz-lafaz (kata-kata) dari segi dalalatnya (petunjuk yang ditunjukkannya) terhadap makna terbagi menjadi tiga kategori:
The Alfaazh (wordings) in respect to their Dalaalaat (the indications they indicate to) in terms of meanings are divided into three categories:
1 – Dalaalat ul-Mutaabaqah (petunjuk kesesuaian/korespondensi):
1 – Dalaalat ul-Mutaabaqah (indication of conformity/correspondence):
Itu adalah dalalah (penunjukan) lafzh (kata) atas makna lengkapnya (atau perkara yang dinamai), seperti dalalah lafzh 'insaan' atas makhluk yang berbicara dan terkenal (dari penamaannya). Lafzh tersebut datang sesuai dengan maknanya tanpa penambahan atau pengurangan. Ini berkaitan dengan lafzh mufrad (tunggal). Adapun kalimat, yakni murakkab (susunan), contohnya adalah firman Allah Ta'ala:
It is the Dalaalah (indication) of the Lafzh (wording) upon its complete naming (or the named matter) like the Dalaalah of the Lafzh: ‘Insaan’ applied upon the well-known speaking animal/creature (of its naming). The Lafzh (wording) came in conformity to its meaning without any addition or deduction. This is in respect to the Mufrad (singular) Lafzh. As for the sentence, meaning the Murakkab (construct), an example is the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Cambuklah mereka delapan puluh kali cambukan (An-Nur 4).
Lash them with eighty lashes (An-Noor 4).
Lafaz-lafaz (Alfaazh) dalam makna tekstualnya (Mantooq) menunjukkan suatu makna yang tidak terbuka untuk Ta'wil (penafsiran) dan tidak memerlukan Ijtihad. Oleh karena itu, apabila lafaz tersebut sesuai dan selaras dengan makna secara sempurna tanpa penambahan maupun pengurangan, maka itulah Dalaalah Al-Mutaabaqah. Dalaalah Al-Mutaabaqah termasuk dalam kategori Dalaalah Al-Mantooq (petunjuk yang ditunjukkan oleh lafaz secara tekstual). Dengan demikian, makna diambil dari lafaz-lafaz yang tertulis secara tekstual, dan tidak melampaui itu.
The wordings (Alfaazh) in their Mantooq (expressed explicit meaning) guide to a meaning that is not open to Ta’weel (interpretation) and does not require Ijtihaad. Consequently, if the Lafzh corresponds and conforms to the meaning completely without addition or deduction then it is the Dalaalah Al-Mutaabaqah. The Dalaalah Al-Mutaabaqah is from the category of the Dalaalah Al-Mantooq (what is indicated by the expressed wording). The meaning is therefore taken from the expressed Alfaazh (wordings) and not beyond that.
2 – Dalaalat ut-Tadammun (dalālah tadammun, petunjuk secara keseluruhan/inklusif):
2 – Dalaalat ut-Tadammun (the indication of inclusion):
Itu adalah dalalah lafzh terhadap sebagian dari yang disebutkan. Seperti dalalah lafzh "himar" (keledai) terhadap binatang. Hal itu karena lafzh tersebut menunjukkan sebagian dari apa yang termasuk di bawah sesuatu yang disebutkan, yaitu binatang, yang mencakup keledai, manusia, kuda, singa, dan sebagainya… Dalalatut-tadammun juga termasuk dalam kategori dalalah manthuq, dan manthuq adalah apa yang dipahami dari lafzh pada tempat pengucapan atau pengungkapannya (yaitu ketika diucapkan).
It is the Dalaalah of the Lafzh indicating a part of the named matter. That is like the Dalaalah (indication) of the Lafzh ‘Himaar’ (donkey) in respect to the animal. That is because the Lafzh (wording) guides to a part of what falls under the named thing and that is the animal that includes the donkey, the human, the horse, the lion and so on… The Dalaalat ut-Tadammun is also of the Mantooq category of Dalaalah and the Mantooq is that which is understood from the Lafzh in the place of its pronunciation or expression (i.e. when it is said).
3 – Dalaalat al-Iltizaam (penunjukan makna yang menyertai secara wajib):
3 – Dalaalat ul-Iltizaam (indication of an accompanying necessary meaning:
Ini adalah dalalah lafzh atas makna yang menyertainya secara pasti, seperti dalalah singa yang menunjukkan keberanian atau burung unta yang menunjukkan kepengecutan. Penyair berkata dalam menggambarkan seseorang:
It is the Dalaalah of the Lafzh upon its necessary accompanying meaning like the Dalaalah (indication) of a lion indicating bravery or the ostrich indicating cowardice. The poet said in his description of a person:
"Asad 'Alayya Wa Fi-l-Huroob Na'aamah" (Seekor singa menyerangku, sedangkan dalam peperangan ia seekor burung unta)
‘Asad ‘Alayya Wa Fi-l-Huroob Na’aamah’ (A lion against me whilst in the wars an ostrich)
Yang dimaksud di sini dengan lafaz ‘Asad’ (singa) dan lafaz ‘Na’aamah’ (burung unta) bukanlah dua jenis hewan dari berbagai jenis hewan yang hidup di bumi sebagaimana yang mereka tunjukkan. Melainkan, makna yang dimaksud darinya adalah ‘keberanian’ dan ‘kepengecutan’. Makna-makna ini tidak diambil dari lafaz ‘Asad’ (singa) atau ‘Na’aamah’ (burung unta), melainkan diambil dari makna-makna lafaz tersebut.
It is not intended here by the Lafzh ‘Asad’ (lion) and the Lafzh ‘Na’aamah’ (Ostrich) what they have indicated to as being two kinds from amongst the kinds of animals that live upon the earth. Rather, the intended meaning of them is ‘courage’ and ‘cowardice’. These meanings are not taken from the Lafzh (worded expression) of ‘Asad’ (lion) or ‘Na’aamah’ (Ostrich) but rather they have been taken from the meanings of these wordings.
Dalaalat al-Iltizaam karena itu merupakan makna yang ada dalam pikiran, yang secara pasti menyertai makna dari lafzh.
The Dalaalat ul-Iltizaam therefore represents the meaning that is in the mind that necessarily accompanies the meaning of the Lafzh.
Dari Dalaalat ul-Iltizaam, Dalaalat ul-Ishaarah, Dalaalat un-Nass, Mafhoom Al-Muwaafaqah, Mafhoom Al-Mukhaalafah, dan Dalaalat ul-Iqtidaa’.
From the Dalaalat ul-Iltizaam the Dalaalat ul-Ishaarah, Dalaalat un-Nass, Mafhoom Al-Muwaafaqah, Mafhoom Al-Mukhaalafah and Dalaalat ul-Iqtidaa’.
Memahami Dalaalaat (petunjuk-petunjuk) ini dari nash-nash Syar'iyyah adalah hal yang sangat penting bagi seorang Mujtahid, sebagaimana air penting bagi kehidupan. Hal itu karena penggalian Ahkaam (hukum-hukum) dari nash-nash, termasuk Dalaalaat (petunjuk-petunjuk) ini, memerlukan kajian yang cermat dan tepat, pemeriksaan yang menyeluruh, serta kedalaman.
Understanding these Dalaalaat (indications) from the Shar’iyah texts is essential to the Mujtahid like water is essential to life. That is because the deduction of the Ahkaam (rulings) from the texts, including these Dalaalaat (indications), requires a precise and accurate study, thorough examination and depth.
Sebagai contoh, berkaitan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
For example, in respect to the statement of the Messenger of Allah (saw):
Pada kambing yang digembalakan secara bebas (di padang rumput) terdapat zakat yang wajib dibayarkan.
In (respect to) the free-grazing sheep there is Zakaah (due)
Mantuq (makna tersurat) menunjukkan dan menuntun kepada kewajiban zakat atas domba yang digembalakan di padang rumput (merumput bebas/alami). Hukum tersebut dipahami dari Mantuq hadis dan dapat dipahami oleh mujtahid maupun non-mujtahid. Adapun Mafhum Al-Mukhalafah (makna sebaliknya), yaitu tidak wajibnya zakat atas domba yang diberi pakan, maka hanya mujtahid yang memahami Dalalat al-Iltizam (makna yang dipahami secara keharusan) yang dapat memahaminya.
Its Mantooq (expressed meaning) indicates and guides to the obligation of Az-Zakaah upon the sheep that live upon the pastures (naturally/free grazing). That Hukm (ruling) is understood from the Mantooq of the Hadeeth and can be understood by the Mujtahid and the non-Mujtahid. As for the Mafhoom Al-Mukhaalafah (opposing meaning) which is the non-obligation of the Zakaah upon the sheep that are foddered, then only the Mujtahid who comprehends the Dalaalat ul-Iltizaam (necessarily understood meaning) can understand that.