Aspek-aspek kemukjizatan dan keunikan yang tak tertandingi (I'jaaz) dari Al-Qur'an
The aspects of the miraculous nature and inimitability (I’jaaz) of the Qur’aan
Sebagian ulama Muslim memandang hal-hal berikut sebagai sebagian aspek mukjizat Al-Qur'an:
Some of the ‘Ulamaa of the Muslims regarded the following to represent some of the miraculous aspects of the Qur’aan:
1) Al-I’jaaz Al-‘Ilmy (kemukjizatan ilmiah yang terkandung di dalamnya atau pengetahuan ilmiah):
1) Al-I’jaaz Al-‘Ilmy (miraculous nature of the knowledge it contained or scientific knowledge):
Hal ini berkaitan dengan disebutkannya dalam Al-Qur'an beberapa pengetahuan atau fakta ilmiah yang belum ditemukan pada masa turunnya wahyu. Misalnya firman Allah Ta'ala:
This relates to the Qur’an mentioning some knowledge or scientific based facts which had not been discovered at the time of the revelation. This is like the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Dan Kami telah mengirimkan angin yang mengawinkan, lalu Kami turunkan air dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.
And We have sent the fertilizing winds and sent down water from the sky and given you drink from it. And you are not its retainers (Al-Hijr 22).
Hal itu karena baru ditemukan kemudian bahwa angin membantu penyerbukan tumbuhan dan tanaman.
That is because it was only discovered later that the winds assist the fertilisation of plants and vegetation.
2) Al-I'jaaz Al-Ikhbaariy (kemukjizatan dari segi apa yang diberitakannya):
2) Al-I’jaaz Al-Ikhbaariy (miraculous nature of what it informed):
Hal ini tampak dalam pemberitaan tentang kenyataan-kenyataan yang akan terjadi di masa depan lalu benar-benar terjadi. Contohnya seperti firman Allah Ta'ala:
This manifests in its informing about realities that will happen in the future and then actually happened. This is like the speech of Allah Ta’Aalaa:
Bangsa Romawi telah dikalahkan. Di negeri yang terdekat. Namun mereka, setelah kekalahan itu, akan meraih kemenangan. Dalam beberapa tahun, antara tiga sampai sembilan tahun (Ar-Room 2-4).
The Romans have been defeated. In the nearest land. But they, after their defeat, will be victorious. Within three to nine years (Ar-Room 2-4).
Ini juga mencakup pemberitahuan (ikhbaar) tentang peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang berkaitan dengan umat-umat terdahulu, yang tidak diketahui oleh bangsa Arab pada masa itu, seperti kisah Nuh (as), misalnya.
This also includes the Ikhbaar (informing) about the incidents and realities related to the previous nations which the Arabs at that time had no knowledge of, like the story of Nooh (as) for example.
3) Al-I'jaaz Al-Bayaaniy (kemukjizatan gaya bahasa):
3) Al-I’jaaz Al-Bayaaniy (miraculous nature of style of speech):
Hal ini tampak dalam gaya Al-Qur'an dalam penyampaian makna-maknanya yang membuat orang-orang Arab terheran-heran dan bingung. Setelah menilai dan membandingkan antara Al-Qur'an dengan apa yang mereka ketahui tentang syair dan tutur kata yang fasih, mereka mendapati bahwa Al-Qur'an bukanlah jenis yang sama. Hal itu karena Al-Qur'an datang dengan gaya yang unik, dan sifat mukjizat serta keunggulannya yang tiada tandingan ini diakui oleh salah seorang musuh dakwah Islam, Al-Walid bin Al-Mughirah, ketika ia berkata: "Kita telah mengenal syair secara keseluruhan, rajaznya, hijaznya, dan qaridnya (jenis-jenis khusus syair), isinya dan ragamnya, dan ia (Al-Qur'an) bukanlah syair." Kemudian ia berkata: "Kita telah melihat para tukang sihir dan sihir mereka, sementara ia tidak menghembuskan mantra atau meniupkan simpul... Demi Allah, sesungguhnya ia adalah tutur kata yang paling manis, dihiasi keindahan dan pesona. Akarnya subur dan cabangnya berbuah..." (As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam).
This is manifested in the style of the Qur’aan in its provision of meanings which made the Arabs baffled and perplexed. After evaluating and measuring between it and what they had known in respect to poetry and eloquent speech they found that it wasn’t of the same kind. This is because it had come in a unique style and this miraculous nature and inimitable quality was remarked upon by one of the enemies of the Islamic Da’wah, Al-Waleed Ibn Al-Mugheerah, when he said: “We have known poetry in its entirety, its Rajaz, Hajaz and Qareed (specificities of Poetry), its content and its extent, and it (the Qur’aan) is not poetry”. Then he said: “We have seen magicians and their magic whilst he does not put spells on them or blow knots... By Allah it is the sweetest of speech, adorned with beauty and charm. Its root is abundant and its branches are fruitful...” (As-Seerah An-Nabawiyah, Ibn Hishaam).
Sudut pandang:
Point of view:
Definisi Al-I’jaaz (sifat mukjizat berupa ketidakmampuan ditandingi) tidak berlaku pada I’jaaz Al-‘Ilmiy dan Al-I’jaaz Al-Ikhbaariy, karena menurut pendapat saya keduanya sama sekali tidak mewakili Al-‘I’jaaz. Hal itu disebabkan oleh dua alasan:
The definition of Al-I’jiaaz (miraculous nature of inimitability) does not apply upon the ‘I’jaaz Al-‘Ilmiy and Al-I’jaaz Al-Ikhbaariy as they are not, in my opinion, representative of the Al-‘I’jaaz at all. That is for two reasons:
1) Ayat-ayat yang memuat hukum-hukum ilmiah serta berita tentang masa lalu dan masa depan merupakan sebagian dari Al-Qur'an. Menurut pendapat mereka, ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat mukjizat, sedangkan sisa ayat dan surah lainnya tidak mengandung i'jaz ini. Padahal Al-Qur'an adalah mukjizat secara menyeluruh pada tingkat yang sama, dan Allah Ta'ala menantang orang-orang Arab untuk mendatangkan atau membuat surah yang serupa dengannya, seperti Surah Al-Ikhlas atau An-Nas misalnya, yang bebas dari hal-hal yang mereka anggap sebagai sisi kemukjizatan dan keistimewaan Al-Qur'an yang tak tertandingi.
1) The Aayaat that comprise of the scientific laws and the news of the past and future represent some of the Qur’aan. They are therefore according to their opinion miraculous Aayaat whilst the remainder of the Aayaat and Suwar do not contain this ‘I’jaaz. This is despite the Qur’aan being miraculous throughout at the same level whilst Allah Ta’Aalaa challenged the Arabs to bring or reproduce a Soorah like it, like Soorah Al-Ikhlaas or An-Naas for example, which are free from the matters that they considered to be angles for the miraculous or inimitable nature and character of the Qur’aan.
2) I'jaz merupakan penegasan dan pembuktian atas ketidakmampuan manusia untuk menghasilkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya hingga Hari Kiamat. Selama umat manusia mampu menemukan sebagian hukum-hukum alam semesta dan mampu berbicara tentang masa lalu dan masa depan, bahkan jika mereka tidak jujur, dan selama jutaan buku telah ditulis dalam bidang-bidang ini, maka keberadaan hal-hal tersebut dalam Al-Qur'an Al-Karim tidak menunjukkan i'jaz pada masa kita sekarang. Padahal hakikat sebenarnya dari i'jaz justru menunjukkan ketidakmampuan manusia yang terus-menerus selamanya.
2) The ‘I’jaaz represents the confirmation and proving of the inability of man to reproduce the thing that is beyond his ability until the Day of judgement. As long as humankind is capable of discovering some of the laws of existence and are capable of speaking about the past and the future and even if they are untruthful and in the case where millions of books have been written in these subject areas, then the presence of these matters within the Qur’aan Al-Kareem does not indicate the I’jaaz in our current time. This is contrary to the true reality of the I’jaaz which indicates the continual inability of humankind forever.
Tidak! Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar, yang berjalan dan terbenam. Demi malam ketika ia berlalu, dan demi subuh ketika ia bernafas. Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu adalah ucapan utusan yang mulia (At-Takwir 15-19).
But nay, I swear by the retreating stars. Those that run [their courses] and disappear. And by the night as it closes in. And by the dawn when it breathes. [That] verily it is a word [conveyed by] a noble messenger (At-Takweer 15-19).
Ketika Anda mendengarnya, Anda merasakan bisikan atau gumaman dari huruf ‘Seen’ yang berulang (di akhir setiap ayat) dan kelembutan iramanya yang selaras sempurna dan sesuai dengan makna yang tergambar dalam ketenangan malam, fajar Subuh, dan memudarnya cahaya bintang-bintang. Dan ketika Anda mendengar firman Allah Ta'ala:
When you hear this you sense and feel the whisper or murmur of the repeated ‘Seen’ (at the end of each Aayah) and the smoothness of its rhythm that is in complete harmony and fitting to the meaning manifested in the calmness of the night, the dawn of Fajr and the fading light of the stars. And when you hear the speech of Allah Ta’Aalaa:
Ketika mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar dari neraka itu suara yang mengerikan, sementara neraka itu mendidih. Hampir-hampir ia meledak karena marah. Setiap kali sekelompok orang dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?" (Al-Mulk 7-8).
When they are thrown into it, they hear from it a [dreadful] inhaling while it boils up. It almost bursts with rage. Every time a company is thrown into it, its keepers ask them, "Did there not come to you a warner?" (Al-Mulk 7-8).
Ketika ini didengar, orang yang mendengarkannya merasakan ketakutan dan kegelisahan, sambil mampu membayangkan dan memvisualisasikan kenyataan mengerikan dari Jahannam (neraka), semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari siksanya. 3) Dengan lafaz, susunan, dan irama yang tersusun ini, Al-Qur’an memuat berbagai makna yang sangat banyak dan beragam, termasuk hukum-hukum untuk menata dan mengatur hubungan di antara manusia serta hubungan antarnegara. Berkumpulnya makna-makna yang banyak dan beragam ini di dalam lafaz dan susunan yang dibangun dengan sangat presisi itulah merupakan salah satu wujud dari manifestasi i’jaz Al-Qur’an Al-Karim.
When this is heard the one listening to it feels terror and alarm whilst being able to picture and visualise the terrifying reality of Jahannum (hellfire), may Allah Ta’Aalaa provide us with refuge from its torment. 3) With these worded expressions, compositions and rhythms the Qur’aan contains a host and great variety of meanings including the rulings to organise and regulate the relationships amongst the people and the relationships between states. The coming together of these many and various meanings within precisely built wordings and compositions is therefore a manifestation from the manifestations of the I’jaaz of the Qur’aan Al-Kareem.
Oleh karena itu, i'jaz (keajaiban yang tak tertandingi) Al-Qur'an Al-Karim terletak pada gaya yang mencakup lafal, susunan, dan makna, sedangkan ia tidak terletak pada informasi yang diberikannya tentang umat-umat terdahulu maupun masa depan, sebagaimana ia juga tidak terletak pada hukum-hukum ilmiah. Bangsa Arab menyadari i'jaz gaya Al-Qur'an, tetapi mereka tidak memahami hakikat sebenarnya dari gaya tersebut; seandainya mereka memahaminya secara utuh, tentu mereka mampu menirunya.
The I’jaaz (miraculous inimitable nature) of the Qur’aan Al-Kareem is therefore within the style that incorporates wordings, compositions and meanings whilst it does not lie in the information that it provides about the previous nations or of the future just as it isn’t found within scientific laws. The Arabs perceived the I’jaaz of the style of the Qur’aan but did not comprehend the true reality of this style, as had they fully comprehended it, they would have been able to imitate it.