Hikmah diturunkannya Al-Qur'an secara bertahap
The Wisdom in respect to the Qur’aan being revealed in instalments
Allah Ta'ala telah menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur'an secara bertahap dan tidak sekaligus, dalam dua ayat:
Allah Ta’Aalaa has explained the Hikmah (wisdom) for the revelation of the Qur’aan in instalments and not all at once in two Aayah:
a) Ayat Pertama:
a) The First Aayah:
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?" Demikianlah (Kami menurunkannya) agar Kami memperkuat hatimu dengan itu, dan Kami telah membacakannya secara tartil (berangsur-angsur dan teratur). (Al-Furqan: 32)
And those who disbelieve say: "Why was the Qur'an not revealed to him all at once?" Thus [it is] that We may strengthen thereby your heart. And We have spaced it distinctly (Al-Furqaan 32).
b) Ayat Kedua:
b) The Second Aayah:
Dan Al-Qur'an telah Kami turunkan secara berangsur-angsur (dalam beberapa bagian) agar engkau membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan, dan Kami telah menurunkannya secara bertahap. (Al-Isra' 106)
And a Qur'an which We have divided (into parts), in order that you might recite it to men at intervals. And We have revealed it by stages (Al-Israa’ 106).
Dua ayat ini menunjukkan bahwa hikmah Al-Qur'an diturunkan secara bertahap, bukan sekaligus, adalah:
These two Aayah indicate that the Hikmah (wisdom) for the Qur’aan to have been revealed in parts and not all at once are:
1) Untuk menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah ﷺ melalui turunnya Al-Qur'an secara bertahap sepanjang masa kenabian. Beliau telah mengalami gangguan dan penolakan dari kaumnya ketika menyampaikan dakwah kepada mereka, sehingga Wahyu yang turun pada waktu-waktu yang berbeda menjadi penopang dan pertolongan terbesar baginya, yang membuatnya merasa bahwa Allah Ta'ala selalu bersamanya. Hubungan yang berkesinambungan itu, yang berlangsung dalam kurun waktu atau jeda tertentu, memperkuat tekadnya dan membantunya menanggung kesulitan serta rintangan yang dihadapinya, serta terus melanjutkan dakwah.
1) To strengthen and consolidate the heart of the Messenger of Allah (saw) through the revelation of the Qur’aan in parts throughout the mission of Prophethood. He had been exposed to harm and denial from his people whilst he carried the Da’wah to them and so the Wahi that descended at different times was his greatest support and assistance making him feel that Allah Ta’Aalaa was always with him. That consecutive connection over periods or intervals strengthened his determination and helped him to bear what he faced in terms of hardship and obstacles and to continue the Da’wah.
2) Penguatan dan peneguhan hati juga terjadi melalui makna-makna ayat yang tercermin dalam hukum-hukum (Ahkaam) yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut. Ketika peristiwa-peristiwa terjadi, Al-Qur'an diturunkan untuk menjelaskan hukum dari setiap peristiwa itu. Dengan demikian, hal ini menjadi penolong bagi Rasulullah ﷺ dalam memahami Al-Qur'an dan dalam meneguhkan pemahaman tersebut di dalam fu'aad-nya (hatinya/akalnya). Hal itu karena kata "fu'aad" dalam bahasa Arab menunjukkan makna hati, sebagaimana juga menunjukkan Al-'Aql (akal).
2) The strengthening and consolidating of the heart is also by the meanings of the Aayaat represented in the Ahkaam that the Aayaat contain within them. As the incidents occurred the Qur’aan would be revealed to explain the Hukm of each incident. This therefore acted as an assistance to the Messenger (saw) in respect to understanding the Qur’aan and to consolidate this understanding within his ‘Fu’aad’ (heart/’Aql). That is because the word ‘Fu’aad’ indicates the meaning of heart (in the Arabic language) just as it also indicates Al-‘Aql (the mind).
3) Orang-orang Arab sebelum Islam meyakini suatu akidah yang telah mengakar kuat dalam diri mereka, sementara mereka mengikuti adat dan tradisi yang mereka warisi dari generasi sebelumnya. Mereka sangat kaku berpegang pada akidah dan adat-istiadat ini, sehingga mereka membutuhkan waktu untuk yakin terhadap akidah dan agama yang baru. Mereka memerlukan pendekatan secara bertahap untuk meninggalkan apa yang selama ini mereka yakini dan telah menjadi kebiasaan mereka. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menurunkan Al-Qur'an secara berangsur-angsur agar sampai ke telinga mereka dari waktu ke waktu, menjelaskan kebatilan keyakinan mereka agar mereka meninggalkannya, serta menjelaskan akidah Islam agar mereka menerimanya.