Tawaatur Al Qur’aan
Tawaatur Al Qur’aan
Makna linguistik dari At-Tawaatur adalah At-Tataabu' (berurutan, berkesinambungan).
The linguistic meaning of At-Tawaatur is At-Tataabu’ (successiveness, consecutiveness).
Makna istilahi (terminologis) dari At-Tawaatur adalah: periwayatan suatu jamaah dari suatu jamaah, dari suatu jamaah, yang mustahil terjadi kesepakatan atau persekongkolan untuk berdusta (yaitu kemungkinan adanya persekongkolan untuk berdusta telah dihilangkan).
The Istilaahi (terminological) meaning of At-Tawaatur is: The transmission of a group (Jamaa’ah) from a group from a group in which it is impossible for there to be any collusion or connivance upon a lie (i.e. that the possibility for a lie to be colluded is eliminated).
Tawatur ini terjadi dalam hal periwayatan Al-Qur'an, yang telah dijamin oleh Allah Ta'ala untuk dijaga dan dipelihara.
This Tawaatur occurred in respect to the transmission of the Qur’aan which Allah Ta’Aalaa has guaranteed to be protected and safeguarded.
Allah Ta'ala berfirman:
Allah Ta’Aalaa said:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (yaitu Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya (Al-Hijr 9).
Verily it is We Who revealed the Dhikr (i.e. the Qur'an) and verily We will safeguard it (Al-Hijr 9).
Pemeliharaan Al-Qur'an berlangsung sebagai berikut:
The preservation of the Qur’aan took place as follows:
1) Setiap kali ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau membacakannya kepada para sahabatnya, dan mereka kemudian menghafalkannya persis sebagaimana mereka menerimanya dari beliau. Mereka lalu membacakan ayat-ayat tersebut dalam salat mereka, dan pada saat yang sama beliau memerintahkan para penulis wahyu (yang telah dipilih) untuk menuliskannya di atas kulit dan lembaran kulit binatang, di antara bahan-bahan lain yang digunakan untuk menulis pada masa itu. Kemudian, sebelum wafat ﷺ, beliau membacakannya (secara utuh) kepada Jibril (as).
1) Every time Aayaat of the Qur’aan Al-Kareem were revealed upon the Messenger of Allah (saw) he would recite them to his companions and they would then memorise it exactly as they received it from him. They would then recite the Aayaat in their Salaah and at the same time he would command (the selected) recorders of the Wahi to write them upon skins and hides amongst other materials that were written upon at that time. Then prior to his passing (saw) he recited it (in its entirety) to Jibreel (as).
2) Ketika Rasulullah ﷺ wafat, seluruh Al-Qur'an telah ditulis di atas berbagai media dan telah dihafal di dalam dada para Sahabat (rah). Oleh karena itu, jumlah orang yang telah menghafalnya telah mencapai tingkat Tawatur untuk setiap ayat dari ayat-ayat Al-Qur'an.
2) When the Messenger of Allah (saw) passed away the whole Qur’aan had been written on materials and had been memorised within the breasts of the Sahaabah (rah). Therefore, the number of those who had memorised it had reached the level of Tawaatur for every Aayah from the Aayaat of the Qur’aan.
3) Pada masa Abu Bakar (ra), penyusunan dan pengumpulan Al-Qur'an diselesaikan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan (tawqeefiy) oleh Allah, persis sebagaimana ia telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh sebuah panitia yang dipimpin oleh orang yang paling banyak menjaga hafalannya, yaitu Zaid bin Tsabit (ra), yang termasuk salah seorang penulis wahyu ketika diturunkan. Maka ayat-ayat dan surat-surat (Surah) pun disusun dan diatur. Ayat-ayat dan surat-surat itu dikumpulkan lalu diikat dengan tali. Kemudian Abu Bakar (ra) menamainya Al-Mushaf, dan Mushaf ini diterima oleh umat berdasarkan kesepakatan (ijma') atasnya, sementara seluruh isi di dalamnya telah ditetapkan melalui jalur tawatur (riwayat yang pasti).
3) At the time of Abu Bakr (ra) the ordering and gathering together of the Qur’aan was completed in accordance to what was Tawqeefiy (set by Allah) exactly as it had been transmitted from the Messenger of Allah (saw). This was undertaken by a committee led by the one who had most preserved it, Zaid Bin Thaabit (ra), who had been one of the writers of the Wahi as it descended. And so its Aayaat and Suwar (Soorahs) were ordered and organised. The Aayaat and Suwar were put and brought together and then tied by string. Then Abu Bakr (ra) gave it the name of Al-Mushaf and this Mushaf has been adopted by the Ummah by way of a consensus (Ijmaa’) upon it whilst all that is in it has been affirmed by way of Tawaatur (definite reports).
Akan tetapi, barangsiapa tidak memiliki kemampuan, maka hendaklah ia berpuasa tiga hari (berturut-turut). Kata "berturut-turut" (متتابعات) tidak termasuk Al-Qur'an, karena kata tersebut tidak diriwayatkan secara tawatur dan tidak dituliskan dalam Mashahif (bentuk jamak dari Mushaf) yang disalin pada masa 'Utsman bin 'Affan (ra).
But whoever does not have the means, then he should fast for three (consecutive) days Is not considered to be Qur’aan because the word ‘consecutive’ (متتابعات (was not transmitted by way of Tawaatur and it was not written in the Masaahif (plural of Mushaf) which were copied at the time of ‘Uthmaan Ibn ‘Affaan (ra).
Akhirnya, tidak pernah ada sebuah kitab di dunia ini yang menerima perhatian, kepedulian, dan kajian sebanyak yang diterima oleh Al-Qur'an Al-Karim.
Finally, there has never been a book in this Dunyaa that has received the amount of care, attention and study as the Qur’aan Al-Kareem received.
Tujuan dari sifat mukjizat dan ketiadaan tandingannya
The purpose of the miraculous nature and inimitability
Tujuan dari i'jaz (sifat mukjizat dan ketidakmampuan untuk ditandingi) adalah untuk meyakinkan manusia bahwa orang yang datang membawa mukjizat itu adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah Ta'ala (kepada mereka).
The purpose behind the ‘I’jaaz (miraculous nature and inimitability) is to convince the people that the one who came with the Mu’jizah (miracle) is a Messenger who has been sent by Allah Ta’Aalaa (to them).