Dalil Kedua: As-Sunnah An-Nabawiyah Ash-Syarifah
The Second Daleel: As Sunnah An Nabawiyah Ash Shareefah
Definisi As-Sunnah:
Definition of As-Sunnah:
As-Sunnah secara bahasa berarti: jalan yang ditempuh (atau cara yang diikuti), dan asal maknanya berasal dari penggunaan bangsa Arab itu sendiri.
As-Sunnah linguistically means: The path that is trodden (or the way that is followed) and its origin comes from their (the Arabs) usage:
"Aku menempa sesuatu dengan batu asah" (yaitu seperti membuat jalan dengan memahat).
‘I forged something with a grindstone’ (i.e. like carving a path).
Dalam kasus ini, saya melewatkan sesuatu melalui batu asah (grindstone) hingga terbentuk sebuah ‘sannan’, yakni sebuah tariq (jalur) di dalamnya (yaitu seperti mengukir jalur).
This is in the case where I passed a thing through it (the grindstone) until a ‘Sannan’ i.e. a Tareeq (path) was effected within it (i.e. like etching a path).
Makna As-Sunnah menurut pandangan para ‘Ulama Ushul al-Fiqh:
The meaning of As-Sunnah in the view of the ‘Ulamaa of Usool ul-Fiqh:
Sunnah adalah segala yang bersumber dari Rasulullah ﷺ selain Al-Qur'an, berupa perkataan (Qawl), perbuatan (Fi'l), atau persetujuan (Taqrir), yakni sikap diam beliau ﷺ terhadap suatu ucapan atau perbuatan.
The Sunnah is all that was issued or came from the Messenger (saw) other than the Qur’aan, represented in a Qawl (speech), a Fi’l (action) or Taqreer (approval, consent, silence).
Berdasarkan definisi ini, pembagian intrinsik Sunnah ada tiga: As-Sunnah Al-Qawliyah, As-Sunnah Al-Fi'liyah, dan As-Sunnah At-Taqreeriyah.
Based on this definition the intrinsic divisions of the Sunnah are three: As-Sunnah Al-Qawliyah, As-Sunnah Al-Fi’liyah and As-Sunnah At-Taqreeriyah.
1 - As-Sunnah Al-Qawliyah:
1 - As-Sunnah Al-Qawliyah:
Sunnah Qawliyah adalah segala yang diucapkan, dinyatakan, atau disabdakan (Nataqa) oleh Rasulullah ﷺ yang berkaitan dengan Tasyri' (penetapan hukum). Istilah 'Hadits' diberikan untuk ini, sementara sebagian ('Ulama) menyamakan Hadits dengan Sunnah yang meliputi ketiga kategori Sunnah.
The Sunnah Al-Qawliyah is all that the Messenger (saw) uttered or stated or said (Nataqa) related to the Tashree’ (legislation). The name ‘Hadeeth’ has been given for this whilst some (‘Ulamaa) have made the Hadeeth synonymous with the Sunnah comprising of all three categories of the Sunnah.
Perkataan-perkataan (aqwaal) Rasulullah (saw) yang berkaitan dengan Tasyrī' (penetapan hukum) jumlahnya banyak dan merupakan bagian terbesar dari Sunnah. Di antaranya adalah sabda beliau ﷺ: "Pembunuh tidak mewarisi" (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i), dan "Jika dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya" (HR. Muslim), serta: "Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ: "Jihad apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim (atau tidak adil)"" (HR. An-Nasa'i dengan sanad yang shahih).
The Aqwaal (statements) of the Messenger (saw) related to the Tashree’ (legislation) number many and represent the majority of the Sunnah. They include his Qawl (speech) (saw): “The killer does not inherit” (Abu Daawood and An-Nasaa’iy) and “If two Khaleefahs are given the Bai’ah then kill the latter of them” (Muslim) and: “A man asked the Nabi (saw): “Which Jihaad is the best?” He said: “The word of truth before the oppressive (or unjust) Sultaan (ruler)”” (An-Nasaa’iy with a Saheeh Isnaad).
2 – Sunnah Fi'liyah:
2 – As-Sunnah Al-Fi’liyah:
As-Sunnah Al-Fi'liyah adalah perbuatan-perbuatan Nabi ﷺ yang bersifat khusus atau spesifik terkait Tasyri' (syariat), seperti shalat beliau, dan seperti yang diriwayatkan Jabir (ra): "Rasulullah ﷺ melempar Jamrah (kerikil) pada hari An-Nahr (penyembelihan) di waktu Dhuha, adapun setelahnya (tanggal 11, 12 dan 13), maka ketika matahari telah tergelincir." (Diriwayatkan oleh al-Khamsah). Juga seperti yang diriwayatkan 'Amir bin Rabi'ah (ra) ketika ia berkata: "Aku melihat Nabi ﷺ bersiwak ketika beliau sedang berpuasa, sebanyak yang tidak bisa aku hitung." (HR. Al-Bukhari).
As-Sunnah Al-Fi’liyah are his actions that are particular or specific to the Tashree’ (legislation) like his Salaah and like what Jaabir (ra) narrated: “The Messenger of Allah (saw) threw the Jamrah (pebbles) on the day of An-Nahr (sacrifice) at Duhaa, as for after (11th, 12th and 13th), then when the sun has gone down” (Related by the five). It is also like what ‘Aamir Bin Ar-Rabee’ah (ra) related when he said: “I saw the Nabi (saw) use Miswaak whilst he was fasting so many times that I cannot count” (Al-Bukhaari).
Dan terdapat amalan-amalan yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ yang telah ditetapkan bahwa amalan tersebut khusus baginya, dan amalan-amalan tersebut tidak berlaku bagi selain beliau. Contohnya adalah Al-Wishaal (puasa bersambung) beliau, di mana beliau ﷺ berpuasa terus-menerus tanpa berbuka atau bersahur. Ibnu ‘Umar (rah) berkata: “Rasulullah ﷺ melarang Al-Wishaal (puasa bersambung).” Para sahabat berkata kepada beliau: “Engkau sendiri berpuasa bersambung?” Maka beliau ﷺ menjawab: “Aku tidak seperti kalian. Aku diberi makan dan diberi minum (yakni diberi nutrisi oleh Rabbku).” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini adalah riwayat Al-Bukhari). Contoh lain adalah kekhususan beliau ﷺ dalam menikahi lebih dari empat istri sekaligus. Hal-hal ini khusus bagi Rasulullah ﷺ, dan tidak boleh mengikuti (atau meneladani) beliau dalam hal-hal tersebut.
And there are actions which the Messenger of Allah (saw) undertook which have been established to be specific to him and these actions are not for other than him. This is like the Wisaal (continuation thhrough) of his fasting where he (saw) would continue his fast without Iftaar or Suhoor. Ibn ‘Umar (rah) said: “The Messenger of Allah (saw) forbade Al-Wisaal (continuation of fasting)”. They said (to him): “You continue your fast” and he (saw) replied: “You are not like me. I am fed and given drink (i.e. nourished)” (Agreed upon and this is the version of Al-Bukhaari). Another example is the specification of combining more than four wives in marriage at one time. These matters are specific to the Messenger (saw) and it is not permissible to follow (or emulate) him in respect to them.
3 – As-Sunnah At-Taqreeriyah:
3 – As-Sunnah At-Taqreeriyah:
Ini adalah Sukoot (diam) Rasulullah ﷺ terhadap suatu ucapan atau perbuatan yang terjadi di hadapan beliau ataupun tidak di hadapan beliau namun dengan sepengetahuan beliau atas terjadinya perbuatan tersebut. Diamnya beliau ini menunjukkan bolehnya ucapan atau perbuatan tersebut, karena Rasulullah ﷺ tidak akan diam terhadap perkara yang Baatil (batil/tidak sah) atau perkara Munkar (yang dilarang). Contohnya adalah diamnya beliau ﷺ terhadap para pemuda Habasyah yang bermain tombak di dalam Masjid beliau di Al-Madinah, serta diamnya beliau ﷺ terhadap ‘Aa’ishah, Ummul Mukminin (ra), yang menonton mereka selama mereka melakukan hal itu.
This is the Sukoot (silence) of the Messenger (saw) upon a statement or action that took place or happened in his presence or in his absence but with his knowledge of its occurrence. This silence indicates the permissibility of the statement or the action because the Messenger of Allah (saw) does not remain silent over the Baatil (falsehood/falsity/invalid matter) or a Munkar (a prohibited matter). An example of this is his silence (saw) in respect to the Abyssinian youths playing with spears inside his Masjid in Al-Madinah in addition to his silence in respect to ‘Aa’ishah, the mother of the believers (ra), watching them whilst they were engaged in that.
Hujjiyat As-Sunnah An-Nabawiyah:
Hujjiyat As-Sunnah An-Nabawiyah:
Sunnah Rasulullah ﷺ merupakan hujjah (dalil yang sah) dalam agama, salah satu dalil dari adillah (sumber-sumber dalil) bagi hukum-hukum syariat, dan sesungguhnya merupakan dalil kedua setelah Al-Qur'anul Karim. Kehujjahan (keabsahan sebagai dalil) Sunnah telah ditunjukkan dan diisyaratkan dalam:
The Sunnah of the Messenger of Allah (saw) is a Hujjah (valid proof) in the Deen, a Daleel from the Adillah (sources of evidence) for the Ahkaam and indeed represents the second Daleel (source of evidence) after the Qur’aan Al-Kareem. The Hujjiyah (validity of proof) of the Sunnah has been guided to and indicated in:
1 – Al-Qur’aan Al-Kareem:
1 – Al-Qur’aan Al-Kareem:
Al-Qur'an telah menjelaskan dan menegaskan bahwa Sunnah berasal dari Wahyu, terutama Sunnah Al Qauliyah. Allah Ta'ala berfirman tentang Rasul-Nya ﷺ:
The Qur’aan has explained and made clear that the Sunnah is from the Wahi (divinely inspired revelation) and especially the Sunnah Al Qawliyah. Allah Ta’Aalaa said in respect to His Messenger (saw):
Dan dia tidak berbicara menurut keinginannya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (An-Najm: 3-4).
And he does not speak from his (own) desire. It is only (divine) revelation that is inspired (An-Najm (3-4).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
And Allah Ta’Aalaa said:
Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Al-Hasyr: 7)
And whatever the Messenger brings to you take it and whatever he forbids you from abstain from it (Al-Hashr 7).
Itu seraya memahami bahwa Rasulullah ﷺ datang dengan Sunnah sebagaimana beliau datang dengan Al-Qur’an. Dan Allah Ta’ala berfirman:
That is whilst understanding that the Messenger (saw) came with the Sunnah just as he came with the Qur’aan. And Allah Ta’Aalaa said:
Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu." (Āli ‘Imrān: 31)
Say if you love Allah then follow me; Allah will love you and forgive you your sins (Aali ‘Imraan 31).
Ayat-ayat ini oleh karena itu menunjukkan bahwa Sunnah berasal dari Allah dan menuntut agar Sunnah ini diikuti.
These Aayaat therefore indicate that the Sunnah is from Allah and demand that this Sunnah be followed.
2 – Al-Ijmaa’:
2 – Al-Ijmaa’:
Para Sahabat telah sepakat secara ijmak setelah wafatnya Rasulullah ﷺ atas kewajiban mengambil hukum-hukum (Ahkaam) yang dibawa oleh Sunnah An-Nabawiyah, dan mereka tidak membedakan antara suatu hukum yang terdapat atau disebutkan dalam Al-Qur'an dengan suatu hukum yang terdapat dalam Sunnah, karena keduanya menurut pandangan mereka wajib untuk diikuti. Contohnya adalah: "Adanya ijmak atas rajam terhadap Zaani Al-Muhsin (pezina yang sudah menikah)" yang didasarkan pada Sunnah Qauliyah dan Sunnah Fi'liyah yang berasal dari Rasulullah ﷺ. Contoh-contoh yang menunjukkan ijmak mereka dalam perkara ini sangat banyak, tidak terhitung jumlahnya.
The Sahaabah have agreed by consensus after the passing of the Messenger of Allah (saw) upon the obligation of taking the Ahkaam that the Sunnah An-Nabawiyah brought and they did not differentiate between a Hukm found or mentioned in the Qur’aan and a Hukm found within the Sunnah, as both in their view were obligatory to follow. Examples of this include: ‘There consensus upon the stoning of the Zaani Al-Muhsin (adulterer)’ which was based upon a Sunnah Qawliyah and a Sunnah Fi’liyah that came from the Messenger (saw). The examples indicating their Ijmaa’ upon this matter are so many that they are innumerable.
3) Dalil Aqliy (bukti rasional):
3) Ad-Daleel Al-‘Aqliy (rational evidence):
Dalil Aqli (bukti rasional dan intelektual) telah menuntun kepada dan menunjukkan bahwa Rasul Muhammad ﷺ adalah orang yang datang membawa mukjizat, yaitu Al-Qur'an dari Allah. Hal ini merupakan dalil yang qath'i (pasti) bahwa beliau adalah Rasulullah ﷺ yang diutus kepada kita. Iman kepada kerasulannya menuntut kewajiban untuk taat kepadanya, mengikuti keputusannya, dan menerima segala yang beliau bawa; tanpa semua itu, iman tersebut tidak akan bermakna. Hal ini juga karena Al-Qur'an, yang merupakan mukjizat, menuntut beliau untuk memutuskan dan menghukumi dengan segala yang telah diturunkan oleh Allah Ta'ala:
The Daleel Al-‘Aqliy (rational and intellectual evidence) has guided to and indicated that the Messenger Muhammad (saw) is the one who came with the miracle which is the Qur’aan from Allah. This represents a Qat’iy (definite) evidence that he is the Messenger of Allah (saw) sent to us. The Imaan (belief) in his Messengership necessitates the obligation of obedience to him, following his judgement and accepting all that he brought and without all of that, this Imaan would hold no meaning. It is also because the Qur’aan, which is a miracle, demands from him to rule and judge by all that Allah Ta’Aalaa had revealed:
Dan putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan Allah (Al-Maa’idah 49).
And judge between them by what Allah has revealed (Al-Maa’idah 49).
Sunnah beliau termasuk dari apa yang Allah Ta'ala wahyukan, yang Dia Ta'ala ilhamkan kepadanya dalam makna, kemudian beliau ﷺ mengungkapkannya dengan perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau.
His Sunnah is from that which Allah Ta’Aalaa has revealed, which He Ta’Aalaa inspired to him in meaning and then he (saw) expressed it in his words, actions and consent.